
Setelah dari rumah ayahnya, Marien dan William tidak kembali ke rumah atau pergi ke kantor karena ada yang hendak William tunjukkan pada istrinya. Tentunya sebuah kejutan yang belum dia tunjukkan pada Marien. Karena Marien sudah tahu siapa dirinya jadi dia ingin mengajak Marien tinggal di rumah yang jauh lebih baik dari pada rumah yang mereka tempati saat ini.
Waktu itu dia menyembunyikan identitas oleh sebab itu dia bersedia tinggal dengan Marien tapi sekarang, sudah tidak ada alasan lagi untuk mereka tinggal di rumah kecil peninggalan ibu Marien. Sudah saatnya membawa Marien tinggal di rumah yang baru dia beli karena mereka sudah menjadi suami istri yang sesungguhnya dari pernikahan kontra mereka.
William bahkan membawa surat perjanjian pernikahan mereka karena dia ingin merobek surat perjanjian itu bersama-sama dengan Marien. Mulai sekarang dia dan Marien tidak akan terikat dengan kontrak lagi karena mereka sudah sepakat untuk menjadi suami istri yang sesungguhnya.
"Kita mau pergi ke mana?" Marien sangat heran karena William tidak membawa dirinya pulang ke rumah.
"Ingat dengan kejutan yang hendak aku berikan padamu?" tanya William.
"Yes, apa kau ingin mengajak aku pergi piknik?"
"Pakai ini," William mengambil sebuah penutup mata dari saku celana dan memberikannya pada Marien, "Aku ingin kau menutupi kedua matamu dengan ini. Mau, bukan?" tanyanya.
"Wah, apa kau akan memberikan aku kejutan yang besar sehingga kau meminta aku menggunakan penutup mata?" penutup mata sudah diambil, dia tidak akan keberatan memakainya. Kedua mata Marien sudah ditutup, jantungnya jadi berdebar karena dia jadi penasaran dengan kejutan yang hendak Wiliam berikan.
Meski sempat kesal dengan kelakuan ayahnya yang mungkin saat ini sedang bersenang-senang dengan uang yang dia dapatkan, tapi kini saatnya melakukan hal yang menyenangkan bersama dengan suaminya. Beruntungnya ayahnya tidak terlalu membuatnya malu dengan perkataan-perkataannya yang benar-benar memalukan.
"Apa sudah tiba?" Marien semakin berdebar dan berusaha menggenggam tangan William.
"Sedikit lagi!" ucap William.
"Aku jadi ingin tahu, kejutan apa yang hendak kau berikan?"
"Bersabarlah, sebentar lagi kau pasti akan tahu."
"Hm," Marien mengangguk tapi dia masih gugup. Tidak menyenangkan kedua mata tertutup seperti itu dan dia semakin tidak sabar untuk tahu apa yang akan William berikan.
Mobil sudah berhenti, Marien dapat merasakannya. Jantungnya semakin berdebar apalagi William mengajaknya untuk turun dari mobil. Penutup mata masih terpasang, Marien semakin dibuat gugup ketika William memegangi tangannya dan mengajaknya untuk melangkah dengan perlahan.
"Ki-Kita mau ke mana?" tanya Marien.
" Jangan membuka penutup matamu sebelum aku memerintahkan!"
"Kau membuat aku gugup, Will."
__ADS_1
"Setelah ini kau tidak akan gugup lagi!"
Marien dapat mendengar seseorang membuka pintu. Entah di mana mereka saat ini tapi dia menebak mereka berada di sebuah restoran. Marien menghentikan langkah saat dia merasa William berhenti. Rasa gugup itu kembali dia rasakan bahkan dia sudah tidak sabar untuk membuka penutup matanya.
"Will, apa aku sudah boleh membuka penutup mata ini?" tanya Marien.
William tidak menjawab, hal itu membuat Marien kebingungan. Dia bahkan memutar langkah sambil mencari keberadaan suaminya yang dia yakini ada di belakangnya namun penutup mata masih terpasang.
"Ayolah, jangan bercanda. Aku tidak suka dengan situasi seperti ini," ucapnya sambil mencari William dengan kedua tangan. Marien pun masih melangkah sampai akhirnya kedua tangannya menyentuh sesuatu. Merien sedang meraba dada bidang yang tanpa sengaja dia sentuh dan dia rasa itu bukan suaminya yang duduk di kursi roda.
"Apa ini kau, Steve?" tanyanya. Merien melangkah mundur namun tangannya di genggam lalu Marien ditarik mendekat. Marien hampir memaki dan memukul karena dia pikir Steve sudah berlaku kurang ajar namun tidak jadi dia lakukan saat mendengar suara William berbisik di telinganya.
"Kenapa tidak membuka penutup matanya, Sayang?"
"William?" Marien terkejut. Penutup mata ditarik dengan cepat, Marien membuka matanya dan terkejut mendapati suaminya sedang berdiri di hadapannya.
"William?" Marien bahkan memandangi suaminya dari atas sampai ke bawah.
"Yes," William tersenyum, sedangkan Marien masih menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Yes, apa kau tidak terkejut melihat aku?"
"Apanya yang tidak terkejut? Kau sudah mengejutkan aku. Oh, astaga. Apa kakimu benar-benar sudah sembuh?" ini benar-benar kejutan yang tidak terduga. Beruntungnya dia tidak memukul saat dia mengira yang memeluknya adalah Steve tadi.
"Begitulah, tapi aku masih tidak boleh berdiri terlalu lama karena masih ada beberapa terapi yang harus aku jalani."
"Aku benar-benar sangat senang, Will," Marien memeluknya, air matanya bahkan menetes karena dia sangat bahagia melihat keadaan suaminya yang mulai membaik.
"Kau sungguh mengejutkan aku," ucapnya sambil menangis terisak.
"Hei, kenapa kau menangis seperti ini?" tanya William.
"Ini tangisan bahagia karena aku benar-benar bahagia melihat kedua kakimu sudah mulai sembuh meski belum begitu total."
"Aku juga senang!" William memeluk Marien dengan erat. Dia juga tidak menduga jika kedua kakinya yang sudah di vonis tidak bisa digunakan lagi kini dapat sembuh berkat terapi yang dia jalani setiap harinya.
__ADS_1
"Terima kasih sudah bersabar merawat aku selama ini, Marien. Tanpa dirimu, aku benar-benar hanya pecundang!"
"Apa yang kau katakan? Sebaik kita duduk. Bukanlah kau berkata tidak boleh berdiri terlalu lama?"
"Yes, kemarilah!" William menarik Marien menuju ranjang lalu mengajaknya untuk duduk di sana.
"Sejak kapan kedua kakimu mulai sembuh?" tanya Marien.
"Sesungguhnya beberapa minggu yang lalu aku bisa merasakan sakit dan berat badanmu tapi aku bisa berdiri beberapa hari belakangan. Aku tidak mengatakannya padamu karena aku ingin memberikan kejutan padamu."
"Baiklah, ini benar-benar kejutan yang luar biasa!" Marien memeluk suaminya, perasaan bahagia meluap dihati namun dia mulai sadar di mana mereka berada saat ini.
"Tunggu!" Marien melepaskan William dan melihat sekitarnya, "Di mana kita, Will? Ini bukan rumah kita?" tanyanya.
"Mulai sekarang ini rumah kita, Sayang. Selama ini aku membiarkan dirimu tinggal di rumah kecil itu tapi mulai sekarang, kita akan tinggal di sini."
"Apa kau baru membelinya?" Marien masih melihat kamar besar di mana mereka berada saat ini.
"Yes, rumah ini baru aku beli satu minggu yang lalu dan rumah ini untukmu."
"No, rumah kita berdua karena kita akan tinggal di sini mulai sekarang," ucap Marien.
"Yes, kita akan mulai membangun rumah tangga kita di sini dan ini?" kini William mengeluarkan surat perjanjian yang mereka sepakati dulu, "Aku rasa kita tidak memerlukan surat perjanjian ini lagi, bukan?" ucap William seraya memberikan surat perjanjian mereka.
"Memang sudah tidak!" Marien mengambil surat perjanjian itu lalu merobeknya, "Kita tidak memerlukannya lagi dan aku akan merobek milikku nanti!" ucap Marien.
"Kita memang sudah tidak memerlukannya!"
"Jika begitu kita harus segera pindah!" ucap Marien.
"Aku sudah meminta Steve membawa semua barang-barang milik kita ke sini jadi?" William mengangkat dagu Marien dan memberikan kecupan lembut, "Mau menghabiskan waktu denganku di ranjang untuk mengabulkan keinginan Daddy atau melihat-lihat rumah ini. Kau bisa mengubahnya sesuka hatimu."
"Li-Lihat rumah terlebih dahulu!" ucap Marien seraya beranjak.
"Baiklah, apa tidak mau membantu aku?" bagaimanapun dia masih memerlukan banyak tenaga untuk berdiri.
__ADS_1
"Tentu saja!" Marien membantu suaminya untuk berdiri, mereka berdua saling pandang dengan senyuman menghiasi wajah. Merien kembali memeluk suaminya karena dia bahagia. William pun melakukannya, tak menyangka di saat kedua kakinya mengalami kelumpuhan, dia justru menemukan pasangan hidup yang mencintainya apa adanya.