
Dua orang yang diperintahkah oleh Alexa untuk mencari tahu tentang William sudah mengintai pagi itu. Alexa yang sangat ingin tahu siapa pria yang dinikahi oleh Marien mengutus dua orang untuk mengintai. Mereka akan mengikuti William dan mencari tahu ke mana pria itu akan pergi.
Alexa sangat berharap hari ini kedua orang yang dia utus mendapatkan petunjuk karena dia sudah tidak sabar untuk meminta bantuan Zack untuk menyingkirkan pecundang itu. Setelah pergi di hari pernikahannya akibat istri pertama yang marah, Zack baru bisa menemui Alexa setelah menyelesaikan permasalahan dengan istri pertamanya.
Dua orang yang Alexa utus tentu saja anak buah Zack. Jika tidak ada pria tua itu dia tidak akan mudah menemukan orang yang bisa bekerja dengan baik apalagi untuk melakukan pengintaian. Kedua anak buahnya tentu saja berada cukup jauh agar tidak ketahuan namun Steve yang sedari tadi berada di mobil untuk menunggu William mulai menyimpan curiga dengan gerak gerik kedua orang yang dia utus karena mereka berdua sangat mencurigakan.
William masih berada di dalam rumah, menghabiskan waktunya dengan Marien. Mereka sedang menikmati sarapan bersama, tentunya sarapan yang dibelikan oleh Steve. Setidaknya pagi ini mereka memiliki waktu lebih banyak untuk menghabiskan waktu berdua di dalam kamar meski pun hanya berbicara saja.
"Jika aku harus berperan sebagai perawatmu, apa perlu menggunakan seragam?" tanya Marien.
"Tidak perlu, tidak perlu terlalu Formal!"
"Baiklah, jika begitu aku tidak perlu membelinya!"
"Memang tidak perlu karena itu tidaklah penting!"
"Apa malam ini kau akan pulang?" Marien kembali bertanya.
"Kenapa? Apa kau tidak bisa tidur karena tidak ada aku?" goda William.
"Hm, ti-tidak!" Marien membuang wajahnya yang merona. Mendadak dia merasa malu karena dia memang tidak bisa tidur semalam.
"Aku juga tidak bisa tidur!" ucap William namun dia terlihat santai saja saat mengatakannya.
"Benarkah?" Marien menatapnya, apa William memgucapkan perkataan-perkataan manisnya untuk menggodanya ataukah ada tujuan lain?
"Yes, aku tidak bisa tidur karena aku mimpi buruk akibat ceramah dari ayah dan ibuku!"
"Sebal, aku kira gara-gara apa!" Marien kembali membuang wajahnya yang semakin memerah.
"Memangnya apa yang kau harapkan?"
"Ti-Tidak ada, sepertinya kita sudah harus pergi. Hari ini banyak yang harus aku kerjakan. Kau tahu kenapa perusahaan itu hampir bangkrut dan memiliki banyak hutang, bukan? Aku baru saja menemukan kecurangan di dalam laporan keuangan dan aku menebak, ada yang bermain curang!" jelas Marien
"Apa orang itu masih bekerja denganmu?"
"Tentu saja tidak, tidak ada pencuri yang masih mau berada di tempat yang sama jadi para pencuri itu sudah berhenti sebelum perusahaan itu mengalami kebangkrutan!"
"Jika kau sudah tahu, katakan padaku. Aku akan mencarinya dan menangkapnya untukmu!" ucap William.
"Apa kau akan melakukannya untukku?" Marien memandanginya dengan ekspresi tidak percaya.
__ADS_1
"Tentu saja, percayalah padaku!"
"Baiklah, aku akan mempercayaimu. Apa kau sudah selesai?"
"Kemari!" William menepuk kedua kakinya lalu mengulurkan tangannya. Marien melangkah mendekat dan duduk di atas pangkuan William. Senyuman tipis menghiasi wajahnya apalagi tangan William sudah berada di wajahnya dan mengusapnya dengan perlahan.
"Apa aku tidak berat?" Marien jadi gugup karena William menatapnya dengan tatapan matanya yang tajam.
"Tidak, aku suka kau duduk di atas pangkuanku seperti ini. Rasanya sedikit berbeda."
"Apanya yang berbeda?"
"Hubungan kita. Aku merasa kita memiliki hubungan spesial, bukan hubungan yang didasari dengan kontrak!"
"Baiklah, sepertinya aku benar-benar harus memanggilmu si pangeran malam!"
"Marien!" William mengangkat dagu Marien dan menatapnya dengan lekat. Jantung Marien berdegup cepat, dia jadi salah tingkah karena William menatapnya begitu lama.
"Bolehkah?" William mendekatkan wajah mereka berdua. Kedua mata Marien melotot, napasnya bahkan tertahan karena jarak wajah mereka yang sangat dekat sehingga membuatnya bisa merasakan hembusan napas William di wajahnya.
"Wiil!" Marien gugup luar biasa, degupan jantungnya terdengar begitu jelas.
"A-Aku?" Marien menjawab dengan napas beratnya.
"Yes, apa boleh?" tanya William.
"A... Akan aku pikirkan!" jawab Marien secara spontan.
"Jadi harus dipikirkan terlebih dahulu?"
"Yes, aku mau memikirkannya dan menjawabnya nanti!" Marien mendorong William lalu beranjak dan melangkah pergi. Marien memegangi hidungnya, dia takut jadi mimisan gara-gara hal itu. William menatap kepergiannya dengan tatapan heran, kenapa harus dipikirkan? Bukankan Marien pernah menjalin hubungan sebelumnya? Dia yakin jika Marien sudah pernah melakukan ciuman sebelumnya dengan kedua mantan kekasihnya.
Marien melangkah menuju tas yang ada di atas meja sambil melihat jari yang baru saja menutup hidung. Beruntungnya tidak mimisan karena itu sangat memalukan jika terjadi.
"Apa sudah mau pergi?" Marien kembali mendekati William. Meski dia malu tapi dia harus mendorong William keluar.
"Tentu, tentang permintaanku tadi!" William meraih tangan Marien lalu mendaratkan kecupannya di sana, "Aku menunggu jawaban darimu, Marien dan aku harap kau segera menjawabnya!"
"A-Akan aku pikirkan!" lagi-lagi Marien berkata demikian.
"Aku menunggu. Sekarang kita pergi, aku akan mengantarmu ke kantor!"
__ADS_1
"Bisa antar aku ke stasiun saja? Aku lupa jika aku harus pergi menemui seseorang!"
"Siapa? Apa kau mau pergi menemui sahabatmu?"
"Bukan, rekan bisnis lainnya!"
"Baiklah!" William mengiyakan karena dia mempercayai Marien.
Steve segera keluar dari mobil setelah melihat mereka berdua. Marien menutup pintu terlebih dahulu sedangkan Steve membantu William. Dia sangat ingin mengatakan pada William jika ada yang mengikuti tapi harus dia urungkan Karena Marien sudah berlari menghampiri mereka.
Sesuai dengan permintaan Marien, William mengantarnya sampai ke stasiun kereta. Sesungguhnya dia ingin membelikan sebuah mobil untuk Marien tapi sepertinya Marien tidak mau. Lagi pula dia sedang berakting menjadi orang miskin, dia tidak boleh lupa meski pada akhirnya Marien akan tahu nanti. Mendadak jadi rumit, Marien pasti akan tahu siapa dirinya saat harus menjadi perawat bohongannya.
"Terima kasih sudah mengantar aku!" Marien mengambil tasnya karena mereka sudah tiba.
"Berhati-hatilah, jangan lupa untuk makan siang berdua denganku!"
"Tentu!" Marien mendekati William lalu memberikan ciuman di pipi, "Semoga harimu menyenangkan!" ucapnya lagi.
"Kau juga!" William pun memberikan kecupan di dahi Marien.
Steve memperhatikan orang-orang yang mengikuti mereka. Dia mengira orang-orang itu akan mengikuti Marien tapi nyatanya tidak karena orang-orang itu justru mengikuti mereka.
"Sir, ada yang mengikuti kita!" ucap Steve. Entah siapa yang melakukan yang pasti orang itu memiliki tujuan.
"Benarkah?" William berpaling untuk melibat ke belakang. Sebuah mobil berwarna silver memang sedang mengikuti mereka.
"Apakah itu orang suruhan Nyonya ataukah?" Steve kembali melihat ke belakang dari kaca spion.
"Dari mana dia mengikuti kita, Steve?"
"Mereka sudah menunggu sejak kau masih di rumah Nona Marien!"
"Jika begitu bukan orang suruhan ibuku dan juga bukan orang yang diutus Fiona karena mereka tidak tahu rumah Marien!" dia yakin ibunya tidak mungkin mengutus anak buah untuk membuntuti dirinya karena dia belum menaruh curiga pada hubungannya dengan Marien tapi jika ibunya sudah curiga, dia rasa ibunya akan melakukan hal itu.
"Jadi, siapa mereka, Sir?"
"Siapa lagi jika bukan saudara Marien, kecoh mereka dan bawa mereka berputar. Ingin bermain denganku maka ajak mereka bermain!" perintah William.
"Baik, Sir!" perintah sudah didapatkan, Steve membawa mobilnya dengan cepat. Anak buah Alexa mengejar tanpa tahu jika mereka akan dikecoh oleh Steve.
William kembali melihat ke belakang, entah apa yang kakak Marien inginkan tapi dia akan membuat orang-orang itu menyesal karena sudah berani mengikutinya.
__ADS_1