Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Ditolak


__ADS_3

Seorang hair stylist sudah dipanggil William untuk merapikan rambut Marien yang masih berantakan. Rambut panjang indahnya sudah pasti tidak bisa diselamatkan lagi karena tergunting secara acak-acakan. Yang paling parah adalah bagian atas, rambut bagian atasnya nyaris gundul oleh sebab itu, rambut Marien tinggal sedikit begitu selesai dirapikan bahkan rambutnya benar-benar lebih pendek dari pada rambut William.


Marien melihat penampilannya di depan cermin lalu mengusap rambutnya yang sudah gundul. Beruntungnya tidak sampai licin jika tidak, mungkin dia akan dianggap sedang mengidap kanker. Ternyata seperti itu tidak buruk, rasanya jadi sejuk. Dia pun tidak perlu repot dengan rambutnya. Dalam waktu singkat saja dia jadi menyukai penampilannya yang berbeda tapi tetap saja dia merasa tidak percaya diri.


William sedang mengantar hair stylist yang sudah selesai merapikan rambut Marien. Dia harus membayarnya dan dia keluar untuk melihat sup yang dia buat sudah matang atau belum. Keadaan Marien membuatnya belum bisa makan makanan yang keras sebelum rahangnya benar-benar sembuh. Lagi pula kedua pipinya masih membengkak dan dia belum boleh mengunyah terlalu banyak.


Sup yang dia tinggalkan tadi sudah matang, William mengambil semangkuk sup yang masih panas dan setelah itu William kembali ke kamar. Marien masih duduk di meja rias untuk melihat penampilannya. William menyimpan sup terlebih dahulu dan setelah itu dia menghampiri Marien.


"Bagaimana dengan penampilanku, Will?" tanya Marien yang masih tak henti mengusap kepalanya untuk mengusap rambut pendeknya yang terasa tajam.


"Seperti apa pun dirimu, kau tetap cantik Marien."


"Kau memberikan pujian ini bukan karena iba denganku, bukan?" Marien berpaling agar Willian dapat melihat seluruh penampilannya yang sudah berubah.


"Tentu saja tidak. Kemarilah!" pinta William sambil mengulurkan tangannya.


Marien beranjak dengan perlahan dan meletakkan telapak tangannya ke atas telapak tangan William. Rasanya jadi canggung, itu karena penampilannya. Oleh sebab itulah Marien kembali mengusap kepalanya karena rambutnya tidak pernah sependek itu sebelumnya.


"Lihatlah, kau tetap istriku yang cantik meski penampilanmu sedikit berubah," ucap William.


"Rambutku?" Marien kembali mengusap kepalanya.


"Sebentar lagi pasti akan tumbuh jadi tidak perlu dipikirkan."

__ADS_1


"Aku takut ada yang menertawakan saja saat aku beraktifitas."


"Tidak akan, jika kau malu kau bisa pakai wig dan aku akan membelikannya. Aku sudah  membuatkan sup untukmu, ayo di makan terlebih dahulu sebelum dingin."


"Aku mau mandi terlebih dahulu, boleh bukan?"


"Makan dulu, nanti kita mandi bersama!" William melangkah pergi untuk mengambil sup yang ada di atas meja.


Marien justru melangkah menuju balkon, dia ingin menikmati waktunya di sana. William membawanya pulang setelah mereka berbicara tidak lama. William tidak ingin Marien bertemu dengan ayahnya lagi oleh sebab itu, William tidak membuang waktu.


Sebuah kursi malas menjadi tempat nyaman untuknya menikmati waktu bersama dengan suaminya. Seperti yang William katakan, dia tidak boleh terlalu baik hati oleh sebab itu, Marien tidak mau memikirkan keadaan ayahnya juga keadaan kakaknya. Biarkan saja mereka terlebih dahulu, William membawanya pulang di saat yang tepat karena dia kembali ketika ayahnya belum juga sadarkan diri.


William menghampiri dan duduk di sisi Marien. Beruntungnya Marien istri yang bisa diajak berdiskusi dan selalu terbuka dengannya sehingga tidak ada rahasia di antara mereka karena mereka selalu bertukar pikiran. Seperti yang dia katakan, dia pasti membantu keluarga Marien tapi tidak sekarang.


"Mana Marien, mana putriku?" Gavin bertanya pada perawat yang secara kebetulan berada di ruangan yang Marien tempati tadi.


"Mereka sudah keluar dari rumah sakit, Sir."


"Apa? Tidak mungkin, tidak mungkin!" Gavin seperti orang yang putus asa. Dia harus bisa mendapatkan bantuan dari Marien agar Alexa bisa bebas tapi kenapa Marien justru pergi? Apa Marien benar-benar tidak mau membantunya? Apa Marien benar-benar tidak peduli sama sekali?


"Katakan di mana dia tinggal? Aku ingin pergi menemuinya!" pinta Gavin pada perawat yang sedang membereskan ruangan itu. Dia tidak tahu di mana Marien dan William tinggal. Itu akibat dia tidak peduli pada putri keduanya selama ini. Marien mau tinggal di mana, dia tidak peduli sama sekali.


"Maaf, Tuan. Aku tidak tahu akan hal ini sama sekali!"

__ADS_1


"Tidak mungkin kau tidak tahu, dia adalah pasienmu!" teriak Gavin marah.


"Kau bisa menanyakan alamatnya pada resepsionis!" perawat itu mulai takut dengan watak yang ditunjukkan oleh Gavin.


Gavin melangkah keluar dengan cepat untuk mencari tahu alamat tinggal Marien tapi sayang, pihak rumah sakit tidak bisa membocorkan data pasien apalagi itu rumah sakit milik keluarga William. Gavin sangat marah tapi dia tidak menemukan keberadaan Marien meski dia sudah berusaha mencarinya.


Mau tidak mau, Gavin pergi dari rumah sakit itu dan kali ini dia ingin menjenguk Alexa dan berbicara dengannya. Dia akan meyakinkan Alexa jika dia akan melakukan upaya apa pun untuk membebaskan putrinya tapi ketika dia telah sampai di penjara dengan susah payah, Alexa menolak untuk bertemu dengannya. Tentu hal itu membuat Gavin terkejut karena untuk pertama kalinya, Alexa tidak mau bertemu dengannya dan menolaknya dengan kasar.


"Tolong pertemukan aku dengan putriku, aku ingin berbicara dengannya!" pinta Gavin pada sipir penjara yang baru saja menyampaikan pesan.


"Putri anda tidak mau bertemu denganmu, Sir. Sebaiknya kau kembali lagi nanti!"


"Tidak, aku ingin bertemu dengannya jadi ijinkan aku bertemu dengannya!" Gavin masih memohon agar dia ditemukan pada Alexa. Sang sipir penjara tidak tega oleh sebab itu salah satu dari mereka pergi ke sel tahanan Alexa.


"Ini terakhir kali, apa kau tidak mau bertemu dengan ayahmu?" tanya sipir pada Alexa yang masih menyembunyikan diri di sisi sel untuk merenungkan kesalahannya.


"Katakan padanya, aku tidak memiliki ayah sejak kemarin jadi jangan datang mencari aku lagi dan katakan padanya pula, jangan mempedulikan aku lagi. Mulai sekarang, dia tidak memiliki putri lagi yang bernama Alexa!" ucap Alexa.


"Jadi kau tidak mau bertemu dengan ayahmu?" tanya sang sipir.


"Tidak, dia bukan ayahku lagi!"


Sang sipir pun tidak bisa melakukan apa pun. Apa yang diucapkan oleh Alexa disampaikan pada Gavin. Pria tua itu jatuh terduduk dengan perasaan hancur. Marien pergi dan menghindarinya dan sekarang Alexa pun sudah tidak mau bertemu dengannya lagi dan mengatakan jika dia sudah tidak memiliki ayah. Apakah ini hukuman untuknya yang sudah pilih kasih? Apakah ini hukuman untuknya yang sudah membohongi putrinya?

__ADS_1


Mau tidak mau, Gavin pergi dari penjara dengan perasaan sedih karena dia ditolak oleh putrinya. Tidak hanya kehilangan satu tapi dia sudah kehilangan kedua putrinya. Siapa lagi yang akan bersama dengannya sekarang? Semua yang terjadi memang salahnya dan dia harap dia bisa memperbaiki semuanya tapi apa yang telah terjadi sudah tentu sulit untuk diperbaiki secara utuh.


__ADS_2