Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Nama Untuk Putri Kecil


__ADS_3

Selama menunggu kelahiran cucu pertamanya, Abraham memikirkan nama untuk cucunya. Pria tua itu mondar-mandir tidak jelas sembari memikirkan nama yang pantas untuk cucunya. Jenifer, Fiona, Madona, Mariska dan beberapa nama lagi tapi tak satu pun yang dia rasa pantas sandingkan dengan nama Archiles.


Sungguh menyebalkan, dia jadi bingung sendiri dan merasa jika nama belakangnya tidaklah bagus. Entah kenapa namanya bisa seperti itu, sepertinya dia harus mencari tahu silsilah keluarganya. Ck, kenapa gara-gara nama saja sampai harus membuatnya pusing seperti itu?


Selagi Abraham pusing memikirkan nama untuk cucunya, Silvia justru menghubungi ayahnya untuk memberikan kabar itu. Michael Smith sangat senang mendengar kabar itu begitu juga dengan Xiau Yu yang memang sudah menunggu kabar kelahiran Marien.


"Apa Mommy dan Daddy mau datang untuk melihat cucuku nanti?" tanya Silvia. Kedua orangtuanya tentu bisa merasakan kebahagiaan putri mereka yang akan menyambut kelahiran cucu mereka.


"Mungkin kami akan ke sana tapi kami tidak bisa lama."


"Tidak apa-apa, ajak kakak dan kakak ipar. Abraham ingin mengadakan pesta untuk menyambut kelahiran cucu pertama kami jadi datanglah!" pinta Silvia. Abraham memang hendak mengadakan pesta untuk menyambut kelahiran cucu mereka yang mungkin akan mereka lakukan di hari ketujuh. Suaminya sudah berencana mengadakan pesta besar untuk menyambut kehadiran cucu pertama mereka dan dia ingin keluarga besarnya hadir.


"Baiklah jika memang begitu, kami akan segera pergi," ucap ibunya.


"Aku akan menunggu, jangan sampai tidak dan jangan lupa mengajak yang lainnya!" ucap Silvia.


"Mommy akan segera menghubungi kakakmu agar dia bisa segera meluangkan waktu!"


"Baiklah, Mom. Aku sangat senang mendengarnya dan sepertinya sebentar lagi cucuku akan lahir. Aku sudah sangat tidak sabar menantikannya!"


"Nikmati proses menunggunya, Sayang, Mommy juga sudah pernah merasakannya. Sekarang Mommy ingin menghubungi kakakmu dulu untuk mengabarinya agar dia bisa segera meluangkan waktu."


"Oke, Mom. Aku juga ingin menghubungi Samuel untuk mengabarinya akan hal ini karena aku juga ingin dia pulang!"


"Baiklah, sampaiĀ  jumpa di sana!" ucap ibunya.


Setelah berbicara dengan ibunya, Silvia pun menghubungi putra keduanya namun Samuel sedang sibuk sehingga dia tidak bisa menjawab panggilan dari ibunya. Abraham yang sedari tadi memikirkan nama cucunya menghampiri istrinya, sekarang dia membutuhkan pendapat istrinya akan nama cucu yang sudah dia pikirkan dengan susah payah.


"Antara Jesica dan Jenifer, mana yang menurutmu yang lebih bagus?" tanyanya.


"Apa tidak ada yang lain? Aku rasa kau harus memikirkan yang lainnya!" ucap Silvia.


"Apa? Apa kedua nama itu tidak bagus?" tanya Abraham. Dia sudah berpikir dengan keras tapi hanya dua nama itu yang cocok untuk nama cucunya.

__ADS_1


"Cobalah berpikir lagi dengan keras, pak Tua. Aku yakin kau akan mendapatkan nama yang lebih bagus!" ucap Silvia.


"Ck, di saat seperti ini mendadak otakku menjadi buntu!"


"Ayolah, jangan sampai kau tidak mendapatkan nama yang bagus untuk cucumu!" Silvia semakin sengaja menggoda suaminya yang sudah meributkan nama untuk cucu mereka sedari tadi.


"Baiklah, aku akan memikirkannya lagi!" Abraham kembali mencari nama yang bagus untuk cucunya. Silvia tertawa dengan pelan, suaminya benar-benar heboh seperti dulu saat mereka menyambut anak pertama mereka.


Abraham yang masih berpikir, menghentikan langkah saat mendengar suara bayi dari dalam ruangan di mana Marien sedang melakukan persalinan. Abraham memasang telinga baik-baik agar dia yakin dan begitu suara tangisan bayi kembali terdengar, Abraham melompat karena girang.


"Sudah lahir, sudah lahir!" teriaknya. Di bandingkan Marian dan William yang menantikan kelahiran bayi mereka dalam keadaan was-was, si calon kakek justru lebih heboh menantikan kelahiran cucu pertamanya. Abraham ingin kembali melompat tapi Silvia mencegahnya.


"Jangan melompat, awas jika kau mengeluh sakit pinggang setela ini!" teriak Silvia.


"Aku hanya ingin mengekspresikan rasa bahagiaku saja."


"Aku tahu kau bahagia tapi jangan melompat seperti itu!" cegah Silvia lagi.


"Ck, jika aku sedikit lebih muda maka aku akan melompat girang!"


"Menyebalkan. Menjadi tua benar-benar tidak menyenangkan!" ucap Abraham.


"Cucu kita sudah lahir, apa kau sudah mendapatkan nama untuknya?" tanya Silvia.


"Sial, gara-gara mendengar tangisannya aku jadi lupa dengan nama-nama bagus yang baru saja aku pilih!" Silvia terkekeh mendengar perkataan suaminya.


'"Pikirkanlah lagi, jangan sampai kau tidak mendapatkan nama bagus sama sekali!"


"Aku tahu, aku jadi tidak bisa berkonsentrasi gara-gara sudah tidak sabar untuk bertemu dengan cucuku!"


"Ayolah, pak Tua, Kau harus berjuang jika tidak aku yang akan memberinya nama sesuai dengan nama pilihanku!"


"Tidak, kau tidak boleh melakukannya!" cegah Abraham.

__ADS_1


Silvia menggeleng. Semenjak menikah, sifat suaminya benar-benar berubah. Dulu suaminya sungguh arogan dan menyebalkan tapi semua berubah dengan seiring berjalannya waktu. Sifat William tidak mengikuti ayahnya tapi sifat menyebalkan suaminya justru menurun pada Samuel. Mungkin karena Samuel juga mengidap phobia yang seperti suaminya alami sehingga dia pun memiliki sifat yang menyebalkan.


Mereka menunggu beberapa saat sampai akhirnya, Marien dibawa keluar dengan kursi roda karena dia akan dipindahkan ke ruang rawat inap untuk menjalani perawatan nantinya. Marien menggendong bayinya yang manis dan lucu, sedangkan William mendorongnya.


Silvia dan Abraham bergegas menghampiri mereka berdua dengan wajah bahagia. Mereka benar-benar tidak sabar melihat rupa cucu mereka tapi Silvia dan Abraham harus bersabar karena cucu mereka masih berada di dalam gendongan Marien.


Rasa tidak sabar mereka membuat mereka merasa jika ruangan yang mereka tuju sangatlah jauh. Abraham benar-benar memperlihatkan rasa tidak sabarnya oleh sebab itu, begitu cucunya dibaringkan ke ranjang bayi, Abraham langsung menghampiri. Tangan kecil yang berada di dalam pegangan membuatnya benar-benar bahagia. Dia merasa sangat emosional sampai-sampai meneteskan air mata bahagia. Sekian lagi menanti lahirnya perempuan di dalam keluarganya akhirnya dia mendapatkan cucu pertama yang sangat lucu dan menggemaskan.


"Lihat, dia sangat mirip denganku!" ucapnya.


"Tidak!" teriak William dan ibunya.


"Emely sangat cantik, dia sangat mirip denganku!" ucap Abraham lagi yang mendadak mendapatkan nama untuk cucunya.


"Jadi kau sudah memutuskan dan namanya Emely?" tanya Silvia.


"Yes, bagaimana? Emely Archiles, itu cukup bagus. Jika tidak maka aku akan mencari silsilah keluargaku kenapa nama kami seperti itu!" ucap Abraham.


"Tidak perlu, jangan membuang waktumu seperti itu tapi kau harus bertanya apakah mereka setuju atau tidak dengan nama itu!" ucap Silvia. Bagaimanapun Marian dan William berhak memberikan nama untuk putri mereka. Jika mereka tidak setuju, maka tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk hal itu.


"Aku tidak keberatan, Mom. Emely juga nama yang bagus. Aku tidak keberatan dengan nama itu!" ucap Marien.


"Bagaimana denganmu, Will? Kau ayahnya jadi kau berhak!" ucap ibunya.


"Aku juga tidak keberatan. Seperti yang Marien katakan, Emily bukan nama yang buruk jadi aku tidak keberatan sama sekali!"


"Yes, kau dengar itu? Mereka tidak keberatan. Jika begitu namanya adalah Emely!" Abraham sangat senang karena nama yang sudah dia cari dengan susah payah akhirnya disetujui oleh menantu dan putranya.


"Selamat untukmu pak tua," ucap istrinya yang sudah melangkah mendekati Marien, "Bagaimana dengan keadaanmu, Sayang? Apa kau baik-baik saja?" tanya Silvia


"Tentu, Mom. Maaf telah membuat khawatir."


"Tidak jadi masalah, asal kau dan Emely baik-baik saja, itu sudah lebih dari cukup!"

__ADS_1


Marien tersenyum, William memeganti tangannya dan mereka tampak bahagia. Setelah ini, Marien akan menghubungi ayahnya agar ayahnya tahu jika cucunya sudah lahir.


__ADS_2