
William bangun lebih pagi karena dia ingin pulang ke rumah Marien. Tentunya dia kembali karena ada yang ingin dia bicarakan dengan Marien. Dia pun ingin menghabiskan waktu dengan Marien sebentar sebelum mereka sibuk dengan pekerjaan mereka.
Silvia yang terbangun karena suara mobil melihat keluar jendela. Steve sedang membantu William saat itu. Putranya pergi begitu pagi tanpa berpamitan terlebih dahulu dan sarapan, apakah ada pekerjaan yang begitu penting? Tidak ingin menaruh curiga, Silvia kembali tidur karena memang masih pagi.
Marien tidak tahu sama sekali jika William kembali. Dia masih tidur ketika William masuk ke dalam kamar. William tidak menimbulkan suara yang bisa membuat Marien terbangun. William bahkan berpindah dari kursi rodanya ke atas ranjang dengan perlahan dan setela itu, William berbaring di sisi Marien yang sedang tidur.
Tatapan matanya tak lepas dari wajah cantik Marien yang sedang tertidur dengan pulas. William jadi ingin mengganggu Marien oleh sebab itu, tangannya sudah berada di wajah Marien dan mengusapnya dengan perlahan.
"Hm!" Marien menepis tangan William yang bermain di wajahnya.
William tersenyum, kini dia tidak ragu untuk memeluk Marien. Marien terkejut saat William menariknya lalu mendekapnya. Kedua mata terbuka, Yang Marien lihat pertama kali sudah pasti dada bidang suaminya. Marien bahkan meraba dada William dan mendongak.
"William?" Marien terlihat tidak mempercayai jika William sudah kembali.
"Maaf membangunkan dirimu, Marien."
"Kapan kau kembali?" tanya Marien.
"Baru saja, aku ingin menghabiskan waktu denganmu pagi ini sebelum kita pergi ke kantor."
"Bukankah kau berkata kedua orangtuamu kembali?"
"Yeah, tapi tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Ijinkan aku seperti ini sebentar sebelum kita berbincang!" William mengencangkan pelukannya dan mendaratkan kecupan di dahi Marien seperti yang dia lakukan setiap pagi.
"Kau wangi!" Marien menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan.
"Jadi kau menyukai aroma tubuhku?"
"Hm," Marien menjawab sambil mengesekkan hidungnya ke jas yang digunakan oleh William.
"Jika begitu kau bisa mencium aromanya sampai kau puas karena aku tidak akan melarang!"
"Terima kasih, jadi apa yang terjadi dan apa yang hendak kau bicarakan padaku?"
"Seperti yang aku katakan, kedua orangtuaku tiba-tiba saja kembali. Aku tidak bisa menyembunyikan keadaan kedua kakiku tapi aku masih bisa menyembunyikan pernikahan kita," ucap William.
"Jadi kau tidak ingin mereka tahu?"
__ADS_1
"Tentu saja, Marien," William mengusap kepala Marien dengan peralahan. Tentu saja dia tidak mau kedua orangtuanya tahu oleh sebab itu dia butuh kerja sama dari Marien.
"Dengar, keluargaku menjunjung tinggi pernikahan dan jika sampai ibuku tahu akan pernikahan kontrak yang kita lakukan, ibuku pasti akan memaksa kita untuk menjadi suami istri yang sesungguhnya sekali pun kau menolak. Aku tidak mau ada unsur paksaan tapi jika kau bersedia menjadi istriku yang sebenarnya maka aku tidak akan keberatan kedua orangtuaku tahu akan hubungan kita berdua!"
"Apa? Tapi kita?" menjadi suami istri yang sesungguhnya, dia tidak berpikir jika mereka memiliki hubungan sampai sejauh itu apalagi tidak ada perasaan sama sekali di antara mereka berdua.
"Jika tidak mau maka kau harus membantu aku menyembunyikan hubungan kita berdua agar kedua orangtuaku tidak tahu terutama ibuku. Dia yang paling harus diwaspadai karena ibuku yang paling mudah curiga."
"Baiklah, apa ada yang lainnya? Apa dengan begini kau tidak akan pulang lagi dan tinggal bersama denganku?"
"Tentu saja aku akan pulang. Istriku tinggal di sini jadi aku akan tinggal di sini juga!"
"Bagaimana dengan ibumu, apa dia tidak keberatan?"
"Aku sudah meminta ijin darinya, tenang saja tapi dia meminta aku untuk pulang sesekali. Saat aku pulang nanti, maukah kau berpura-pura sebagai perawat yang membantu aku melakukan aktifitas? Aku tidak mau yang lain selain dirimu. Kau mau, bukan?"
"Apa kau sedang menggombal agar aku mau?" tanya Marien.
"Tentu saja tidak, aku lebih suka dirimu dari pada wanita lain. Lagi pula," William mengusap wajah Marien dan mengangkat dagunya, "Apa kau tidak akan cemburu jika ada wanita lain yang membantu aku mandi lalu dengan sengaja menggelincirkan tangannya?" William sengaja menanyakan hal itu untuk melihat reaksi Marien.
"Ji-Jika begitu, kau harus memberinya sikat!" ucap Marien.
"Apa? Jika begitu pergilah cari yang tangannya licin dan jangan meminta aku berpura-pura untuk mencari perawatmu saat kau pulang!" Marien membuang wajah, dia bahkan hendak berbalik namun William sudah menahannya.
"Kenapa kau terlihat marah? Aku hanya bercanda saja."
"Aku tidak marah!" wajah Marien sedikit merona, kenapa dia jadi malu akan tindakannya?
"Benar, kau tidak marah? Jika kau tidak marah maka aku akan mencari yang memiliki tangan licin!" William masih saja menggodanya.
"Sana, aku tidak akan mencegah!" Marien sudah berbalik, kenapa dia jadi kesal?
"Aku hanya bercanda!" William memeluknya dari belakang, dan menariknya mendekat hingga tubuh mereka begitu merapat.
"Aku bercanda, aku mau istriku saja dan tidak mau yang lainnya!"
"Kau serius pun, sepertinya aku tidak berhak mencegah karena kita hubungan kita hanya sementara. Kau memang harus mencari perawat untukmu karena jika sampai kita berpisah tapi keadaan kakimu masih belum juga sembuh, maka kau sangat membutuhkannya."
__ADS_1
"Hei, kenapa jadi serius? Kau tidak marah, bukan?"
"Tentu saja tidak, untuk apa aku marah?" Marien kembali berbalik, dia tidak mau seperti anak-anak yang marah hanya karena candaan semata meski ada perasaan aneh yang dia rasakan.
"Baiklah, jadi kau sudah setuju bukan mau membantu aku merahasiakan hubungan kita serta menjadi perawatku saat aku harus pulang? Kau tidak perlu khawatir, kedua orangtuaku sangat baik dan tidak akan menakuti dirimu."
"Tentu saja, tapi aku rasa kau harus menyiapkan banyak sabun agar tanganku ini lebih licin!" ucap Marien bercanda.
"Akan aku siapkan!" William memeluknya dengan erat. Marien pun terlihat nyaman dalam pelukannya. Tidak perlu membahas hal yang yang rumit, lagi pula mereka saling mengerti satu sama lain.
"Apa kau sibuk hari ini?" tanya William.
"Apa kau mau mengajak aku makan siang?"
"Yeah, jika kau tidak sibuk."
"Tidak, tentu saja aku tidak sibuk. Apa di restoran biasa?"
"Yes, karena masih pagi aku ingin memelukmu seperti ini sebentar. Lagi pula aku sudah memerintahkan Steve membeli sarapan jadi kau tidak perlu repot!"
"Hm!" Marien mengangguk dengan kedua mata terpejam.
Tangan William mengusap kepalanya dengan perlahan. Sudah dia duga Marien tidak mau hubungan mereka diketahui oleh siapa pun. Tidak jadi soal, hubungan mereka yang seperti itu sudah cukup baik. Jalani saja, jika timbul suatu perasaan di antara mereka suatu saat nanti, dia bisa memberikan penjelasan pada ibunya dan dia yakin ibunya akan mengerti dengan hubungan mereka yang sementara dan kenapa mereka melakukan pernikahan kontrak.
Lagi pula dia tidak mau memaksakan kehendak apalagi terburu-buru. Cukup pengkhianatan yang diberikan oleh Fiona, dan tidak ada yang lainnya.
"Marien," William masih henti memainkan rambut Marien bahkan menciumnya sesekali.
"Hm, apa kau menginginkan sesuatu?" Marien menjawab tanpa membuka kedua matanya.
"Jika suatu saat nanti timbul perasaan di antara kita, apakah kau tetap ingin berpisah denganku?" pertanyaan William membuat Marien membuka kedua mata. Marien bahkan memandangi William dalam diam, kenapa William bertanya seperti itu?
"Kenapa jadi diam? Tidak mustahil akan timbul perasaan di antara kita karena hubungan kita yang seperti ini. Bisa saja aku yang jatuh cinta padamu terlebih dahulu dan bisa saja kau yang jatuh cinta padaku. Apa kau akan tetap mengakhiri hubungan kita setelah masa kontrak kita selesai?" William pun menatapnya lekat, dia ingin tahu apa jawaban dari Marien.
"Aku tidak tahu, aku tidak memikirkan hal itu!"
"Jika begitu pikirkanlah, aku ingin tahu jawaban darimu. Apakah kau tetap ingin berpisah denganku jika kita memiliki perasaan suatu saat nanti ataukah kau ingin bersama denganku dengan hubungan yang lebih serius!"
__ADS_1
Marien hanya mengangguk, entah apa maksud William bertanya demikian tapi dia tidak memikirkan hal itu sebelumnya karena permasalahan yang terjadi beberapa hari belakangan. Sebaiknya dia memikirkan hal ini baik-baik, apakah dia mau tinggal ataukah dia mau pergi?!