
Hari yang dinantikan oleh mereka tiba karena hari ini mereka bisa mengetahui jenis kelamin dari bayi yang sedang dikandung oleh Marien. Yang paling heboh sudah pasti Abraham karena memang dia yang paling tidak sabar. Marien dan William santai-santai saja, mau laki-laki atau perempuan, mereka tidak mempermasalahkannya.
Mereka sudah melakukan janji temu dengan dokter kandungan jam dua siang nanti namun Abraham sudah sangat tidak sabar. Pria tua itu berjalan mondar-mandir sambil melihat jam. Sungguh dia sudah sangat tidak sabar agar jam jam dua segera datang. Abraham bahkan berdiri cukup lama di depan jam dinding sambil termenung.
Silvia menggeleng melihat kelakuan suaminya yang bisa menghabiskan waktu cukup lama hanya berdiri di depan jam saja. Abraham tidak pernah seperti itu sebelumnya tapi hari ini, dia benar-benar seperti orang lain tapi dia memang sudah seperti orang lain saat tahu menantu mereka sudah hamil.
"Hei, pak tua. Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Silvia seraya menghampiri suaminya dan berdiri di sisinya.
"Melihat jam, apa lagi? Waktu berjalan begitu lama. Aku jadi ingin memutarnya!"
"Ck, jangan melakukan hal konyol. Kau tidak bisa mengubah apa pun meski kau memutar jam itu!"
"Tapi aku sudah tidak sabar, ini momen berharga yang tidak bisa aku lewatkan begitu saja!" ucap Abraham.
"Baiklah, pak tua. Jangan memutar jamnya, awas jika kau lakukan. Aku akan memukulmu dan kau harus menari sepanjang hari jika sampai kau melakukannya!" ucap Silvia.
"Aku tahu, jangan mengganggu aku karena aku sedang ingin menyendiri menunggu di depan jam ini!"
"Awas, jangan sampai kau kerasukan hanya karena menunggu jam!" Silvia kembali menggeleng karena kelakuan suaminya yang aneh.
"Sudah, jangan ganggu aku! Pergilah dan katakan pada menantu kita untuk bersiap-siap!"
"Baiklah, baik!" Silvia melangkah pergi menuju taman karena dia ingin memanggil menantunya yang sedang menghabiskan waktunya di taman. Marien yang sedang membaca buku untuk mengusir rasa bosan menyimpan bukunya ketika Silvia menghampirinya.
"Apa William sudah pulang, Mom?" tanya Marien.
"Mungkin sebentar lagi. Cuaca begitu panas, apa kau tidak mau masuk ke dalam?"
"Tidak apa-apa, udaranya cukup sejuk di sini."
"Baiklah, sebaiknya kau segera bersiap-siap, ada yang sudah tidak sabar untuk segera pergi agar cepat tahu jenis kelamin bayimu."
"Aku tebak, yang tidak sabar sudah pasti Daddy," ucap Marien.
"Seperti yang kau tahu, sebaiknya kau segera bersiap-siap sebelum dia menjadi patung hiasan di depan jam dinding."
Marien terkekeh, ayah mertuanya sudah pasti tidak sabar dan dia harap, anak pertamanya adalah perempuan agar ayah mertuanya senang. Silvia duduk di samping menantunya, mereka bisa berbincang sebentar sebelum mereka pergi. Lagi pula William belum kembali, jadi biarkan saja si tua bangka itu menghabiskan waktunya di depan jam.
"Mom, bolehkan aku menanyakan sesuatu?"
__ADS_1
"Tentu saja, apa yang ingin kau tahu?"
"Waktu melahirkan, apakah sangat sakit?" tanyanya.
"Sakit, tentu saja sakit tapi semua terbayar setelah bayi kita lahir. Rasa sakit yang kita rasakan mendadak sirna melihat wajah mungil yang lucu. Perjuangan kita pun untuk melahirkan akan terbayarkan dengan kehadiran buah hati kita. Percayalah, perjuangan kita selama melahirkan dan rasa sakit yang kita rasakan saat kita melihat akan terbayarkan ketika melihat wajah buah hati kita yang manis, yang telah hadir di dalam kehidupan kita!" setiap wanita yang sudah melahirkan pasti tidak akan melupakan rasa sakitnya tapi tidak itu saja, rasa bahagia yang dirasakan saat buah hati mereka lahir juga tidak akan dilupakan.
"Thanks, Mom. Aku hanya khawatir saja. Aku takut tidak bisa melewatinya karena ini pengalaman pertamaku."
"Tidak perlu khawatir. Jika kau takut melahirkan secara normal, kau bisa melakukan cara yang lainnya."
"Thanks, Mom. Aku akan berusaha untuk melahirkan secara normal nanti."
"Itu bagus, sekarang ayo masuk ke dalam dan bersiap-siap. Kita langsung pergi setelah William kembali dan jika dia tidak juga kembali, kami akan tetap menemanimu melakukan pemeriksaan."
"Baiklah, jangan sampai membuat Daddy menjadi patung di depan jam dinding," ucap Marie bercanda.
"Biarkan saja dia, percayalah padaku jika dia adalah orang yang paling cepat sebelum kita siap!"
"Mommy benar, aku harap bayiku ini perempuan agar Daddy senang," Marien menunduk lalu mengusap perutnya yang membesar.
"Tidak perlu dipikirkan, jangan menjadi beban untukmu. Kami memang mengharapkan bayi perempuan tapi jika tidak pun, kami akan tetap menerimanya. Bukan berarti kami tidak akan menerima jika bayimu laki-laki. Kami juga tidak mungkin membencimu dan menolakmu hanya karena hal ini saja karena jenis kelamin bukan kau yang menentukan jadi jangan khawatir," ucap Silvia sambil mengusap punggung Marien.
"Aku hanya takut mengecewakan kalian Mom, apalagi Daddy yang sangat mengharapkan mendapat cucu perempuan, sebab itu aku takut mengecewakan dirinya," dibanding yang lain, dia paling takut dan khawatir mengecewakan ayah mertuanya apalagi dia sudah begitu antusias sampai-sampai mendekorasi rumah dengan nuansa pink serta sudah menyiapkan sebuah kamar yang serba pink.
"Tapi kenapa William tidak mengalami phobia, bukankah dia anak pertama?" mendadak dia jadi tertarik akan hal ini.
"Entahlah, aku juga tidak tahu dan beruntungnya tidak karena jika dia sampai mengalami phobia seperti adiknya maka kami akan sulit mendapatkan menantu dan cucu!"
"Mommy benar," Marien tersenyum tipis, jika William memiliki phobia maka ceritanya akan berbeda karena dia tidak akan bisa mengajak William menikah dengan mudah.
"Oke, sudah cukup berceritanya. Ayo kita kita bersiap-siap," ajak Silvia.
Marien mengangguk lalu beranjak. Silvia melangkah bersama dengan menantunya sampai mereka masuk ke dalam rumah. Ternyata William sudah pulang dan sedang berbicara dengan ayahnya yang masih berdiri di depan jam dinding.
"Ayo guys, saatnya pergi!" mendengar perkataan istrinya, Abraham bergerak begitu cepatnya tanpa berkata apa-apa.
Lagi-Lagi Silvia menggeleng dengan tingkah suaminya. Mereka tidak membuang waktu karena ada yang sudah begitu tidak sabarnya. Abraham bahkan sudah menunggu di mobil dan meminta putranya untuk cepat. Dia sudah menahan rasa sabar sedari tadi jadi dia tidak mau menunda lagi.
Mereka pergi ke rumah sakit pribadi milik mereka. Tidak ada yang boleh mengganggu mereka bahkan sebuah ruangan sudah disiapkan khusus untuk Marien. Jika saja dokter yang akan memeriksa Marien tidak memiliki halangan karena adanya operasi, mereka bisa datang kapan saja. Mereka pun bisa memakai dokter yang lain tapi Marien tidak mau karena dia sudah terbiasa dengan dokter itu.
__ADS_1
"Sabarlah, pak tua!" Silvia menenangkan suaminya yang tak tenang saat Marien sedang melakukan pemeriksaan dan William menemani.
"Aku benar-benar sudah tidak sabar!" ucap suaminya.
"Sebentar lagi, kita pasti akan tahu!"
"Jika cucuku perempuan maka aku akan mengadakan pesta untuk mengucap syukur!" dia benar-benar berharap cucunya perempuan.
"Kau bisa melakukan nanti tapi kau harus sabar sebentar!" ucap Silvia.
"Perempuan, perempuan, harus perempuan!" ucapnya sambil menggosong kedua telapak tangan.
"Ck, calon kakek yang ngotot!" ucap Silvia.
Abraham semakin tidak sabar, dia berjalan kian ke mari sampai akhirnya William dan Marien keluar dari ruangan karena sudah selesai.
"Bagaimana, pasti perempuan bukan?" tanyanya tidak sabar.
"Dad!" William menepuk bahu ayahnya dengan ekspresi sedih.
"Apa? Apa tebakanku salah?" tanya ayahnya.
"Sepertinya Daddy harus menunggu tahun depan untuk mendapatkan cucu perempuan!" ucap William.
"Apa? Jadi bayinya laki-laki?"
William memandangi ayahnya dengan ekspresi sedih, tentunya hal itu membuat ayahnya sedih karena dia menebak cucunya adalah laki-laki.
"No, jadi laki-laki?" Abraham jatuh terduduk dengan ekspresi sedih. Sepertinya tidak ada perempuan yang ditakdirkan lahir di dalam keluarganya.
"Jangan sedih seperti itu. Kita pasti akan mendapatkan cucu perempuan nanti!" ucap istrinya.
"Sepertinya di dalam keluarga kita memang tidak ditakdirkan hadirnya seorang perempuan!" ucapnya putus asa.
"Ayolah, Dad. Bukankah sudah aku katakan padamu, kau akan mendapatkan cucu perempuan tahun depan!"
"Jangan membual, bukankah istrimu akan melahirkan tahun depan bagaimana bisa?" Abraham menatap putranya, kok seperti ada yang salah.
"Masih belum sadar?" tanya William.
__ADS_1
"Oh my God, apakah itu berari?" Silvia juga terkejut karena dia sudah mengira mereka akan mendapatkan cucu laki-laki.
"Ya.....hoooo!" AbrahamĀ melompat dari tempat duduk lalu berjoget maju dan mundur untuk mengekspresikan kebahagiaannya. Marien tertawa melihat tingkah mertuanya yang sangat bahagia, sudah dia duga pasti ayah mertuanya yang sangat bahagia dan kabar itu, benar-benar membawa kebahagiaan bagi mereka semua.