
Ponsel yang ditinggalkan oleh Marien di atas meja berbunyi. William melihat benda itu sebentar lalu dia melihat ke arah kamar mandi karena Marien berada di dalam untuk menyelesaikan urusannya. William mengabaikannya karena dia tidak mau menjawab telepon milik Marien sembarangan. Dia khawatir Marien akan marah karena itu adalah privasi meski mereka adalah suami istri.
Setelah panggilan terhenti, William mencoba menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang. Jika dia mencoba berdiri sekarang, apakah dia akan berhasil? Dia mulai ragu karena takut terjatuh. Sebaiknya dia pelan-pelan saja dan berhati-hati. Telapak kakinya sudah menyentuh lantai, William sudah hendak berdiri namun ponsel Marien kembali berbunyi dan mengganggu dirinya.
"Tolong dijawab, Will!" pinta Marien sambil berteriak.
"Oke!" jawab William. Ponsel Marien diambil, nama Gavin Douglas tertera. Kebetulan, dia tidak mau Marien dimanfaatkan lagi oleh ayahnya yang tidak mempedulikan Marien. Lagi pula dia tidak mau Marien sedih karena dia tahu Gavin pasti memiliki tujuan.
"Kenapa baru kau jawab, Marien? Apa kau sudah tidak mau menjawab panggilan dari ayahmu lagi?" tanya ayahnya.
"Marien sedang berada di kamar mandi," ucap William. Gavin terkejut, dia tidak menduga yang menjawab justru William. Sangat bagus, dengan begini dia bisa berbicara secara langsung dengan William.
"Kebetulan ada yang hendak aku bicarakan denganmu, William."
"Maaf, aku sedang sibuk. Aku akan menyampaikan pada Marien jika kau menghubunginya."
"Tunggu, hanya sebentar saja. Aku ingin berbicara denganmu jadi jangan matikan!" pinta Gavin.
"Apa sebenarnya yang kau inginkan? Semenjak kau menyakiti perasaan Marien, aku sudah tidak menyimpan respect lagi pada dirimu meski kau adalah ayah Marien!"
"Apa yang terjadi di antara kami hanya kesalahpahaman saja. Hubunganku dan Marien baik-baik saja apalagi dia adalah putriku."
"Jika begitu tunggulah sampai dia selesai karena tidak ada yang bisa kita bicarakan!"
"Tunggu, William. Marien pasti sudah mengatakannya padamu sebelumnya, tolong berilah keringanan pada putriku agar Zack melepaskan dirinya," pinta Gavin.
"Maaf, siapa yang berbuat siapa pula yang bertanggung jawab. Putrimu yang sudah memerintahkan orang untuk mengacak kantor istriku, apa kau tahu bagaimana sedihnya dia? Marien menangis karena kejadian itu dan di tengah musibah yang dia dapatkan, dua pengusaha tiba-tiba berhenti menjalin kerja sama yang membuatnya semakin sedih dan semua itu gara-gara putri yang kau banggakan itu lalu sekarang kau meminta keringanan? Aku sudah berjanji padanya untuk membalas orang yang sudah membuatnya menangis dan aku sedang melakukannya!"
"Tolong jangan seperti itu, mereka adalah saudara!" ucap Gavin memohon.
"Mereka memang saudara tapi tidak ada hubungannya denganku karena aku tidak bersaudara dengan putrimu, Alexa!"
"Tapi kau adik iparnya!" Gavin mulai emosi.
"Karena dia tidak menganggap Marien sebagai saudara berarti aku bukan adik iparnya dan aku pun bukan menantumu!"
"Marien itu putriku, jangan asal bicara!" teriak Gavin penuh emosi.
__ADS_1
"Jika begitu berbicaralah dengan putrimu jika dia mau!"
"Dari siapa, Will?" teriak Marien yang sudah selesai dan sedang mencuci tangan.
"Ayahmu, ingin berbicara denganmu!" jawab William.
"Matikan!" teriak Marien tentunya teriakannya dapat di dengar oleh ayahnya.
"Kau dengar, dia tidak mau berbicara denganmu lagi karena dia kecewa padamu!" ucap William pada ayah Marien.
"Berikan ponselnya pada Marien!" pinta Gavin tapi suara Marien kembali terdengar.
"Sudah aku katakan, Matikan!" ucap Marien dan setelah itu, Marien merebut ponsel yang ada di tangan William dan mematikan ponselnya tanpa mendengar suara panggilan ayahnya. Gavin sangat kesal, padahal dia ingin berbicara dengan Marien tapi gagal.
"Untuk apa kau berbicara dengan ayahku?" tanya Marien tidak senang.
"Kau yang meminta aku menjawab. Kau tidak lupa, bukan?"
"Baiklah, aku kira dari siapa. Apa yang kau bicarakan dengannya?" Marien duduk di sisi William dan meletakkan ponselnya.
"Bukan hal yang penting, dia meminta bantuanku tapi aku tidak akan mau dimanfaatkan olehnya. Lagi pula mereka telah membuatmu sedih dan kecewa jadi mereka tidak akan mendapatkan apa pun agar mereka tahu jika mereka tidak bisa memanfaatkan dirimu lagi."
"Bagus, kemarilah!" William menarik Marien mendekat dan memeluknya.
"Perutmu baik-baik saja, bukan?" tangan William sudah berada di perut Marien dan memberikan usapan pelan di sana.
"Baik-Baik saja, aku terlalu banyak makan makanan pedas saja!"
"Lain kali jangan mengulanginya lagi!"
Marien mengangguk dan bersandar dengan nyaman di bahu William. Hari ini mereka memang tidak pergi ke mana-mana karena mereka ingin menikmati waktu mereka berdua di rumah dengan melakukan beberapa kegiatan yang menyenangkan agar hubungan mereka semakin dekat dan romantis.
"Marien," William mengusap wajah Marien dengan perlahan dan menyingkirkan rambutnya.
"Hm? Apa ada yang kau inginkan?" tanya Marien.
"Aku menginginkan dirimu, Sayang. Apa benar kau tidak mau berada di atasku lagi? Yang kali ini tidak sakit, aku pastikan itu!"
__ADS_1
"A-Apa kau bilang?" Marien gugup dan merasa malu.
"Mau atau tidak? Aku tidak akan memaksa dirimu jika kau tidak mau."
"A-Aku?" Marien semakin gugup. Mau atau tidak? Dia tidak bisa menjawab. William mengusap wajah Marien kembali lalu dagu Marien diangkat dengan perlahan. Napas hangat William yang membelai wajahnya membuat jantung Marien berdegup cepat. Pikirannya mendadak kosong. dia tidak lagi memikirkan apa pun.
Kedua mata Marien sudah terpejam, bibir William pun sudah menyentuh permukaan bibirnya. Kecupan lembut diberikan, Marien tahu mereka tidak akan berhenti lagi setelah ini. Kedua tangannya pun sudah melingkar di tubuh William saat William mencium bibirnya dengan mesra.
Jantung Marien semakin berdetak cepat, dia bahkan bisa mendengarnya. Apa yang terjadi biarlah terjadi namun sayang sebelum mereka memulai lebih jauh kegiatan mereka, ponsel milik Marien kembali berbunyi.
"Ponselku," ucap Marien ketika William sedang mencium wajahnya.
"Abaikan saja, ini lebih penting!" William tidak akan berhenti apalagi Marien sepertinya tidak keberatan berada di atasnya lagi.
"Tunggu sebentar, Will. Aku sedang menunggu telepon penting. Bagaimana jika yang menghubungiku adalah orang yang aku tunggu sedari tadi."
"Apa telepon itu lebih penting dari pada ini?" tanya William.
"Yes, jadi biarkan aku menjawabnya terlebih dahulu."
"Ck, baiklah. lain kali akan aku tenggelamkan benda itu!" ucap William kesal.
"Aku hanya sebentar saja!" Marien mencium pipi William dan setelah itu dia pergi untuk menjawab telepon penting yang sudah dia tunggu sedari tadi.
William menunggu Marien dengan sabar. Entah siapa yang menghubungi Marien dan dia sangat penasaran. Marien cukup lama berada di balkon dan setelah beberapa saat, Marien berlari masuk ke dalam kamar lalu tanpa mengatakan apa pun, Marien melompat ke arah William.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau sesenang ini?" tanya William.
"Coba tebak. kabar apa yang baru saja aku dapatkan?" tanya Marien.
"Sepertinya ini kabar yang sangat bagus. Jika tidak ,aku yakin kau tidak akan sesenang ini."
"Yeah, baru saja seseorang menghubungi aku dan mengatakan jika Abraham Archiles akan menemui aku besok untuk menandatangani kerja sama kami yang sudah kami sepakati saat itu."
"Wow, sungguh kabar yang luar biasa."
"Aku sangat senang, Will. Semua berkat dirimu, terima kasih."
__ADS_1
"Aku pun senang, Sayang. Selamat untukmu!" William mencium wajah Marien dan memeluknya. Sepertinya sudah saatnya dia memperkenalkan Marien pada kedua orangtuanya. Dia akan memanfaatkan momen ini agar kedua orangtuanya tahu, siapa wanita hebat yang sudah dia nikahi.