Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Mulai Curiga


__ADS_3

Alexa mulai mencari penyebab yang membuatnya harus mengalami kejadian memalukan di hari pernikahannya oleh sebab itu dia mengumpulkan semua anak buah yang waktu itu mendapatkan perintah darinya untuk memberi obat ke dalam minuman Marien dan yang mengantar minuman ketika acara bersulang hendak dilakukan. Dia ingin tahu siapa yang membuat kesalahan dengan memberikan obat yang salah dan dia pun ingin tahu siapa yang begitu berani memberikan minuman yang dipenuhi obat padanya.


Tujuh orang yang seharusnya bertugas menjadi empat orang sedangkan yang tiga entah pergi ke mana. Tentunya tanpa mereka duga yang tiga orang itu sudah disingkirkan oleh anak buah Steve sebelum mengambil peran dari ketiga orang tersebut.


"Apa hanya ada kalian? Mana yang lain?" tanya Alexa.


"Kami tidak tahu," jawab salah satu dari anak buahnya.


"Sial, siapa di antara kalian yang mengantar minuman?" tanya Alexa. Keempat anak buahnya justru saling melihat karena tidak ada satu pun dari mereka yang merasa mengantar minuman.


"Jawab!" bentak Alexa penuh emosi.


"Tidak ada satu pun dari kami yang mengantar minuman!" jawab anak buahnya.


"Sial!" kedua tangan mengepal erat, sudah dia duga ada yang aneh. Jangan katakan jika ketiga orang lainnya sudah diganti tanpa dia ketahui. Sekarang jadi masuk akal, kenapa dia bisa mengalami hal yang memalukan. Pasti ketiga orang itu telah menukar minuman yang seharusnya diberikan kepada Marien dan menukar obat yang seharusnya dia berikan pada Marien menjadi obat pencahar dan memberikan obat itu padanya.


"Pergi, aku tahu sekarang!" perintah Alexa.


Dia benar-benar sudah tahu jawabannya tapi siapa pelaku yang telah menukar obat tersebut? Jujur saja dia curiga pada suami Marien. Sungguh dia yakin jika pria itulah pelaku yang melakukannya. Tapi siapa sebenarnya pria itu? Alexa mengambil ponsel, dia akan memerintahkan seseorang untuk mencari tahu siapa suami Marien. Selain namanya saja, dia benar-benar tidam tahu siapa pria itu. Jangan katakan Marien merahasiakan siapa pria yang dia nikahi itu namun sayangnya, Marien pun tidak tahu apalagi dia tidak berusaha mencari tahu.


Bagi Marien yang memiliki hubungan singkat dengan William tentu dia tidak akan melewati batas. Baginya cukup tahu jika William adalah pria yang baik. Dia bahkan tidak mencari tahu apa yang William lakukan setiap hari di luar karena dia tidak mau tahu lebih jauh yang bisa menimbulkan rasa penasaran sehingga membuatnya melanggar perjanjian.


karena hari itu adalah akhir pekan, Marien dan William berada di rumah. Marien sedang memijit kaki William meski dia tidak bisa merasakan apa pun. Mungkin saja dengan pijatan yang dia berikan bisa membuat William bisa merasakan sedikit sentuhan. Meski mustahil tapi tidak ada salahnya mencoba.


"Bagaimana?" Marien memandangi William sejenak dan setelah itu dia kembali memijat.


"Buang-Buang tenagamu saja, sebaiknya kau duduk di sisiku!" William menepuk ranjang yang ada di sebelahnya.


"Hei, tidak boleh berkata demikian. Mungkin saja ada hasilnya meski kau menganggapnya mustahil."


"Baiklah, tapi aku ingin memelukmu jadi kemarilah!" William sudah mengulurkan tangan ke arah Marien.

__ADS_1


Marien merangkak mendekat untuk duduk di sisi William namun dia harus berhenti sejenak karena ponsel William berbunyi.


"Jawab terlebih dahulu, aku mau ambil air minum," Marien turun dari atas ranjang. William mengumpat, siapa yang mengganggu dirinya? Ponsel diambil, nama Fiona tertera. William melihatnya dengan tatapan sinis, untuk apa lagi wanita itu mencari dirinya? William tidak menjawab dan meletakkan ponselnya kembali tapi ponselnya terus berbunyi tanpa henti.


Cukup, dia mulai kesal. Entah apa mau Fiona mencarinya lagi tapi akan dia blokir setelah ini. William menjawab tanpa melihat lagi karena dia sudah yakin jika itu pasti Fiona yang tidak tahu diri dan masih saja ingin mengganggu dirinya.


"Aku sudah tidak butuh dirimu lagi!" ucap William dengan sinis.


"Oh, jadi kau sudah tidak membutuhkan ibumu lagi. Bagus!" ucap ibunya.


"What, Mom?" William melihat ponselnya, celaka. Ternyata ibunya. Dia kira Fiona masih menghubungi tapi ternyata dia salah.


"Apa? Jika sudah tidak butuh Mommy lagi ya sudah. Pantas saja kau meminta kami untuk tidak pulang, ternyata kau sudah tidak butuh!"


"Jangan salah paham, Mom. Aku kira Fiona yang menghubungi aku," jelasnya.


"Apa kau tidak melihat?"


"Aku terbawa emosi, jadi jangan salah paham. Ada apa Mommy menghubungi aku?"


"Mommy salah paham, sungguh!" William memijit pelipis, seharusnya dia melihat terlebih dahulu.


"Will, Steve mencarimu?" Marien tiba-tiba muncul dari balik pintu, William terkejut begitu juga dengan Silvia yang dapat mendengar suara Marien.


"Maaf, aku akan mengatakan kau sedang sibuk!" Marien kembali menutup pintu.


"Suara siapa itu, William?" tanya ibunya.


"Bu-Bukan siapa-siapa," jawab William.


"Jangan berbohong, siapa yang memanggilmu dengan begitu akrab. Bukankah kau berkata hubunganmu dengan Fiona sudah berakhir. Jangan katakan jika itu adalah seorang pelayan karena Mommy tidak akan percaya."

__ADS_1


"Te-Teman!" dusta William.


"Teman, Mommy tahu kau tidak seakrab itu pada seorang wanita jadi jangan menipu!"


"Mom, tidak perlu curiga seperti itu. Katakan ada apa Mommy mencari aku?"


"Tidak ada, Mommy hanya ingin mengatakan padamu jika kami sudah mau pulang dua hari lagi jadi apa ada yang kau inginkan sebagai oleh-oleh?"


"Apa? Sudah aku katakan jangan pulang terlalu cepat!"


Silvia jadi curiga dengan permintaan putranya. Ada apa ini? Tidak biasanya William seperti itu. Mendadak dia curiga jika ada yang disembunyikan oleh putranya. Sebaiknya dia pulang karena dia sangat ingin tahu.


"Kenapa, kau seperti menyimpan rahasia?" tanya ibunya.


"Bukan begitu, Mom. Nikmati waktu kalian berdua di sana, tidak perlu terburu-buru!"


"Baiklah, baik!" Silvia mengiyakan perkataan putranya karena dia akan pulang secara mendadak.


"Tapi kau tidak masalah tinggal sendirian di sana."


"Tentu saja, nikmati waktumu dan Daddy," William jadi lega karena ibunya bersedia untuk lebih lama di California.


Silvia yang sudah selesai berbicara dengan putranya semakin curiga dengan permintaan putranya serta suara wanita yang dia dengar tadi. Dia semakin yakin ada rahasia yang disembunyikan oleh William oleh sebab itu, dia memutuskan untuk segera kembali untuk tahu apa yang sebenarnya disembunyikan oleh William.


Marien yang sudah mengambil barang yang dititipkan oleh Steve pun masuk ke dalam kamar. Tadinya dia mengira ada yang penting tapi ternyata Steve hanya ingin menitipkan beberapa barang yang diinginkan oleh William saja. Agar tidak mengganggu William, Marien masuk dengan hati-hati tapi ternyata William sedang menunggunya.


"Hm. Steve menitipkan barang ini untukmu," ucap Marien sambil mengangkat paper bag yang dia bawa.


"Simpan saja di sana dan kemarilah," William kembali mengulurkan tangannya karena dia ingin memeluk Marien.


Paper bag yang dia bawa disimpan sebelum Marien naik ke atas ranjang. Marien berbaring di sisi William yang langsung memeluk dirinya.

__ADS_1


"Maaf aku mengganggu saat kau menelepon."


"Tidak apa-apa, tidak perlu dipikirkan," rambut yang menutupi dahi Marien disingkirkan sebelum ciuman mendarat di sana. Mereka berdua saling pandang sebelum saling memeluk sama lain. Semoga saja ibunya tidak cepat kembali karena dia tidak mau semuanya kacau. Marien tidak mungkin mau terikat terlalu lama dengannya dan dia pun tahu jika ibunya tahu, hubungan mereka yang satu tahun itu bisa berubah dalam sekejap mata jadi dia harap ibunya tidak kembali tapi sayangnya, ibunya yang penasaran sudah mengajak ayahnya untuk kembali.


__ADS_2