Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Mendapat Jackpot


__ADS_3

Marien terbaring dengan sekujur tubuh sakit luar biasa setelah selesai melakukan hal extreme yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia tidak menduga jika dia benar-benar akan berada di atas untuk malam pertamanya. Sungguh pengalaman yang tak ingin dia ingat lagi dan dia tidak mau lagi karena rasa sakitnya benar-benar menyiksa. Jika bukan karena keadaan William yang berada di bawah pengaruh obat, sudah pasti dia tidak akan pernah mau.


Bagian intimnya masih terasa perih bahkan rasa sakitnya masih terasa saat dia menggerakkan kedua kakinya. Setelah ini jangan katakan dia tidak bisa berjalan akibat malam yang buruk. Mendadak dia membayangkan harus merangkak seperti hantu Sadako. Semoga tidak seburuk yang sedang dia bayangkan.


William yang baru mengetahui itu pun benar-benar terkejut. Dia tahu bagaimana rasanya perawan meski dalam pengaruh obat. Teriakan Marien karena sakit dan air matanya, dia tahu itu bukan tipuan semata apalagi ada bercak darah yang menandakan jika Marien memang belum pernah tersentuh sama sekali.


Dia benar-benar tidak menduga, tapi kenapa Marien selalu mengatakan jika dia sudah pernah? William bergerak mendekati Marien dengan perlahan. Dia bisa melihat betapa tersiksanya Marien dan terjawab sudah kenapa Marien tidak mau berada di atas. Sesungguhnya dia pun tidak menyukai apa yang baru saja mereka lakukan karena Marien harus berkorban untuknya.


William memeluk Marien yang sedang berbaring membelakangi. Tubuh Marien ditarik sedikit namun ringisan Marien yang terdengar akibat rasa perih yang dia rasakan.


"Sakit, jangan tarik aku!" pinta Marien.


"Maaf, maafkan aku!" William meletakkan tangannya ke pinggang Marien dan mengusapnya dengan perlahan.


"Kenapa kau melakukan hal ini, Marien? Kenapa kau berkorban seperti ini untukku padahal kau bisa meninggalkan aku?" jika Marien mau, Marien bisa meninggalkan dirinya dan tak perlu mengalami pengalaman buruk itu.


"Aku tidak bisa, Will. Aku tidak bisa meninggalkan dirimu dalam keadaan seperti ini. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk meredam obat yang menguasai dirimu."


"Tapi kenapa? Kau masih perawan, bukan?" sungguh dia tidak menduga jika Marien belum terjamah oleh siapa pun padahal dia sudah menjalin hubungan sebelumnya. Sekarang terjawab sudah kenapa Marien bertingkah seperti perawan selama ini dan hari ini, dia harus tahu semua jawabannya.


"Apakah aneh, Will? Di usiaku ini apakah aneh jika aku masih perawan?" inilah kenapa dia berbohong, dia takut William menertawakan dirinya.


"Bukan seperti itu, Marien. Aku sangat senang mendapati dirimu yang belum pernah terjamah oleh siapa pun. Ini sebuah keberuntungan untukku tapi aku sungguh tidak menyangka jika kau masih perawan apalagi kau berkata jika kau sudah pernah menjalin hubungan dua kali."

__ADS_1


"Aku menjalin hubungan bukan untuk melakukan sexx. Apakah setiap pasangan harus melakukannya? Waktu itu aku tidak serius dan main-main saja jadi aku tidak mungkin melakukan sesuatu yang bisa merugikan diriku sendiri. Jadi aku tidak akan melakukan tindakan yang diluar batas."


"Jadi sekarang kau serius oleh sebab itu kau memberikannya padaku?" tanya William. Dia berharap jawaban Marien sesuai dengan apa yang dia harapkan dari hubungan mereka berdua.


"Kita sudah sepakat untuk menjadikan hubungan kontrak yang kita jalani menjadi hubungan nyata, oleh sebab itu aku tidak keberatan memberikannya padamu, Will. Aku bukan istri yang sempurna jadi aku harap kau tidak keberatan!"


"Bodoh! Bolehkah aku membalikkan tubuhmu? Aku akan pelan-pelan!" pinta William karena dia ingin memandangi wajah Marien.


"Sebentar!" Marien bergerak sedikit, sakit. Meski begitu dia berbalik dengan perlahan hingga menghadap ke arah William.


"Aku minta maaf, Marien!" William memeluknya, tangannya pun bergerak mengusap pinggang Marien dengan perlahan.


"Maafkan aku karena kau harus mengalami hal ini, Marien. Semua karena keadaanku yang tidak berdaya. Kau harus berkorban untukku dan aku telah memberikan pengalaman paling buruk untukmu. Aku bernar-benar tidak berguna bahkan membahagiakan dirimu saja aku belum bisa!"


"Kau benar-benar wanita paling baik yang pernah aku temui," William memberikan kecupan lembut di dahi Marien setelah berkata demikian. Entah apa yang harus dikatakan untuk keberuntungannya tapi dia seperti mendapat jackpot di meja judi. Setelah dia dicampakkan oleh Fiona, dia justru mendapatkan yang jauh lebih baik dari pada Fiona bahkan jika dibandingkan, Fiona tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Marien.


"Tidak perlu memuji. Bagaimana keadaanmu sekarang, apa pengaruh obat itu masih ada?"


"Jika masih, apa kau masih mau melakukannya lagi, Honey?"


"Oh, tidak. Aku tidak mau lagi. Sakit yang tak tertahankan, aku tidak mau lagi merasakannya!" ucap Marien. Rasa sakitnya saja masih dia rasakan, dia tidak mau lagi merasakan rasa sakit itu lagi.


"Aku hanya bercanda saja, maaf telah membuatmu trauma tapi yang berikutnya adalah giliranku. Aku yang akan berada di atasmu dan percayalah, tidak akan sakit lagi!"

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Marien tidak percaya.


"Tentu saja, aku akan memberikan pengalaman yang jauh lebih baik dan tidak akan kau lupakan."


"Baiklah, aku menantikannya tapi tunggu rasa sakit ini aku lupakan dan tunggu kedua kakimu sembuh!"


"Tentu, aku pun tidak akan membiarkan kau berada di atas lagi dan bekerja keras untukku!"


"Baiklah, tapi bagaimana Fiona bisa tahu rumah ini? Apa dia mengikutimu pulang?" ini yang ingin dia tahu begitu dia pulang.  Entah bagaimana mantan kekasih William bisa tahu, mereka benar-benar belum bisa tenang karena banyaknya musuh.


"Aku rasa, ada campur tangan pihak ketiga di sini yang ikut campur untuk memisahkan kita berdua."


"Benarkah?" Marien menatap William dengan lekat, apakah orang ketiga itu adalah Alexa?


"Padahal aku sudah menyiapkan makan malam romantis untukmu tapi semua jadi kacau gara-gara Fiona. Aku tidak akan mengampuni perbuatannya kali ini. Penghinaan yang dia berikan waktu itu masih bisa aku tahan tapi untuk kali ini, aku sudah tidak bisa lagi menahan diri. Akan aku hancurkan, Fiona dan kekasihnya itu, pasti akan aku hancurkan tidak lama lagi."


"Kita bisa melakukannya besok tapi begitu banyak yang membenci kita, Will. Sebaiknya kita semakin berhati-hati karena kita tidak tahu apa lagi rencana jahat mereka pada kita!"


"Kau benar, tapi kau tidak perlu mengkhawatirkan Fiona. Aku tidak akan membiarkannya setelah ini. Dia tidak akan bisa melakukan apa pun lagi pada kita."


"Baiklah, aku percaya padamu. Sekarang aku ingin beristirahat sebentar. Mungkin rasa sakitnya akan berkurang."


"Maafkan aku!" William kembali mencium dahinya dan mengusap pinggang Marien. Hukuman apa yang pantas Fiona dapatkan? Dia rasa mematahkan kedua kakinya akan menjadi pelajaran berharga yang tidak akan Fiona lupakan. Salahkan dirinya yang bermain api dan sekarang, dia tidak akan bermurah hati lagi pada Fiona apalagi dia harus menyakiti Marien karena ambisi Fiona yang menginginkan hubungan mereka kembali padahal sudah jelas, dia sudah tidak menginginkan Fiona lagi karena dia sudah mendapatkan yang jauh lebih berharga.

__ADS_1


__ADS_2