
Kerugian yang harus dia tanggung sungguh banyak. Marien tidak bersemangat karena ini adalah hari paling buruk dalam hidupnya. Makanan sampai tidak disentuh olehnya karena dia tidak berselera makan sama sekali. William sudah membujuk namun Marien memilih langsung pergi setelah selesai membantunya mandi dan membuatkan sarapan. Dia kembali meminta maaf pada William karena tidak bisa menemani tapi tanggung jawabnya sebagai istri sudah dia jalankan.
Marien sudah sangat ingin melihat keadaan kantornya yang kacau balau. Sepertinya hari ini kegiatan mereka harus terhenti karena mereka harus membereskan semua yang telah rusak. Marien memerintahkan para karyawannya untuk membereskan beberapa berkas yang masih bisa diselamatkan lalu dikumpulkan. Semua sibuk tanpa bisa bekerja apalagi tidak ada komputer yang bisa mereka gunakan.
Marien mulai stres, dia hanya bisa terduduk di kursinya yang sudah copot akibat dibanting. Semua jadi kacau tapi kesialan itu tidak sampai di sana karena sang sekretaris masuk ke dalam ruangannya dengan terburu-buru dengan ekspresi khawatir.
"Nona, ada yang menunggumu di telepon," ucap sang sekretaris.
"Siapa?" Marien mengangkat gagang telepon. Dia menyapa dengan sopan namun makian yang dia dapatkan. Lagi-Lagi tanpa ada angin dan hujan, seorang rekan bisnis menghentikan kerja sama mereka tanpa sebab. Tidak saja satu orang, telepon lain pun dia dapatkan dan lagi-lagi kabar tidak menyenangkan dia dapatkan lagi karena seorang pengusaha kembali berniat menarik sahamnya dari perusahaannya. Marien berusaha membujuk namun sia-sia.
Marien terduduk dan tampak linglung, air matanya mengalir dengan perlahan. Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Dia sungguh tidak mengerti karena semua terjadi secara mendadak. Entah harus bagaimana, dia merasa perusahaannya berada di ambang kehancuran. Mendadak dia merasa curiga. Apakah semua yang terjadi ada hubungannya dengan Alexa?
"Nona, apa kau baik-baik saja?" tanya sekretarisnya yang tidak tega melihat keadaan Marien yang terlihat semakin kacau. Setelah dirampok, kini dia pengusaha menghentikan kerja sama mereeka. Sungguh cobaan yang bertubi-tubi.
"Tidak, apa sebenarnya yang sedang terjadi? Kenapa semuanya terjadi secara mendadak?" kedua mata berkca-kaca, Marien menutup wajahnya dengan kedua tangan dan dia berusaha untuk tidak menangis.
"Ini cobaan untuk kita semua, Nona. Setelah ini percayalah akan ada hal besar yang terjadi."
"Aku harap demikian." Marien mengusap air matanya yang tak bisa dia tahan dengan kedua tangan. Kenapa cobaan yang dia dapatkan datang secara bertubi-tubi? Rasanya ingin pulang dan tidur tapi jika dia menyerah lalu bagaimana dengan para karyawannya?
Tidak bisa, dia harus pulang. Dia yakin jika Alexa yang melakukannya. Tidak mungkin ada yang lainnya. Hanya Alexa yang akan melakukan hal itu akibat dendamnya. Memang selama ini dia tidak mengatakan pada ayahnya akan perusahaan yang diberikan oleh William tapi tidak mustahil untuk Alexa mencari tahu.
"Awasi semua yang ada di sini, tetap kumpulkan semua yang bisa digunakan. Aku harus pergi karena ada yang harus aku lakukan!" ucap Marien. Meski dalam perasaan tak menentu tapi dia akan mencari tahu penyebab yang membuatnya harus mengalami kerugian besar dna kehilangan rekan bisnis.
__ADS_1
Sekretarisnya menjawab dengan anggukan, Marien pulang sambil menahan amarah. Dia tidak tahu Jika William datang bersama dengan Steve untuk melihat keadaan. Meski pintu bagian luar sudah diperbaiki tapi dia bisa melihat kerusakan parah yang telah terjadi. Sekretaris Marien menyambut kedatangannya karena dia tahu William adalah suami Marien.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" William melihat tempat itu yang sedang dibenahi namun kekacauan masih terlihat di mana-mana.
"Para perampok itu menghancurkan semuanya, Sir," jawab sekretaris Marien.
"Cari tahu pelakunya, Steve. Panggil beberapa orang untuk memperbaiki semuanya. Aku juga ingin kau menempatkan seorang security agar ada yang bisa menjaga saat malam. Semua komputer yang rusak ganti dengan yang baru. Aku ingin semua sudah kembali seperti semula esok pagi agar Marien tidak melihat kekacauan ini lagi sehingga dia tidak berlarut ke dalam kesedihan!" perintah William.
"Baik, Sir. Akan segera aku kerjakan."
"Mana Marien, apa dia ada di dalam ruangannya?" kini William bertanya pada sekretaris istrinya.
"Nona pergi setelah mendapat dua panggilan."
"Dari pengusaha yang mendadak mengakhiri kerja sama dengan Nona."
"Apa?" William mulai curiga dengan pelaku yang telah menghancurkan perusahaan Marien. Semua terjadi secara mendadak dan bertubi-tubi, Marien pasti sangat sedih. Tadi pagi dia sudah menangis sampai tidak makan dan sekarang, lagi-lagi dia harus mendapatkan kejutan yang lainnya. Marien pasti semakin sedih dengan kejadian tak terduga itu.
"Kau harus mendapatkan pelakunya, Steve. Aku tidak akan mengampuninya!" amarah memenuhi hati, tidak seharusnya Marien mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Yes, Sir."
"Data pengusaha yang menghentikan kerja sama dengan Marien itu, cari tahu dan korek informasi dari mereka lalu hancurkan!" perintahnya lagi. Siapa pun yang telah membuat Marien menangis dan mengalami hal itu, tidak akan dia maafkan.
__ADS_1
Mereka sudah begitu berani berbuat seperti itu tapi yang paling sangat ingin dia hancurkan adalah pelaku utama yang telah melakukannya perbuatan keji itu. Dia pasti akan membalasnya, tunggu saja waktunya tiba nanti.
Marien yang sudah tiba di rumah menendang pintu sampai terbuka. Beberapa pelayan terkejut begitu juga dengan Alexa yang memang ada di rumah. Alexa memandanginya dengan tatapan mencibir, dia tahu kenapa Marien kembali. Marien melangkah mendekati Alexa dengan kemarahan di hati, tebakannya tidak mungkin salah meski dia belum memiliki bukti.
"Mau apa kau?" teriak Alexa namun Marien memberikan sebuah pukulan menggunakan tas yang dia bawa tapi Aleda menahan tasnya. Tidak akan dia biarkan Marien memukulnya sesuka hati tapi tanpa dia duga, Marien sudah melayangkan telapak tangannya sehingga mendarat di wajahnya yang mulus.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?" teriak Alexa lantang.
"Semua yang terjadi adalah ulahmu, bukan? Kau yang telah melakukannya, bukan?" teriak Marien dengan penuh emosi.
"Apa yang kau bicarakan?" teriak Alexa pula.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Aku tahu kau yang telah menghancurkan kantorku dan meminta kedua pengusaha itu menghentikan kerja sama mereka denganku!"
"Apa? Menghentikan kerja sama? Merusak kantormu? Jika ingin menuduh cari alasan yang jelas dan tunjukkan padaku buktinya. Lagi pula aku mana tahu kau memiliki kantor! Bukannya kau hanya pengangguran saja?!"
"Oh, jadi kau ingin bukti? Baiklah, jika itu yang kau inginkan!" Marien melangkah mundur, dia memang tidak memiliki bukti sama sekali saat ini.
"Buktikan padaku jika aku yang melakukannya. Jika sudah ada bukti maka kau boleh memukul aku seperti ini!" teriak Alexa tidak terima.
"Aku tidak terima hal ini, Alexa. Tunggu saja, aku tidak takut padamu. Saat aku sudah mendapatkan buktinya, aku akan membuat perhitungan denganmu!" Marien melangkah pergi, dengan mata yang terasa panas. Dia tidak akan menangis di sana, tidak akan. Dia yakin semua yang terjadi gara-gara Alexa yang tidak akan berhenti melakukan apa pun untuk menghancurkan dirinya.
Marien memilih pulang ke rumah, dia butuh waktu sendiri untuk menumpahkan rasa kesal dan sedih yang ada di dalam hatinya. Perusahaannya terasa berada di ambang kehancuran. Dia benar-benar sudah mengecewakan William. Entah perusahaannya bisa bertahan atau tidak, dia sungguh tidak tahu dan dia harap setelah ini dia bisa menghadapi apa pun yang terjadi.
__ADS_1