Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Keputusan Sulit


__ADS_3

William sudah kehabisan tenaga. Dia tidak akan bisa melawan Fiona lagi akibat pewangi aneh yang ternyata bercampur sebuah aroma yang mengandung obat per*angsang. Tatapan matanya sayu, napasnya pun memburu. Fiona tersenyum, dia menang. Dengan begini William akan menjadi miliknya kembali.


William hanya bisa mengumpat dan memaki tanpa bisa menggerakkan tubuhnya akibat obat yang semakin menguasai dirinya. Dia bahkan tidak bisa menyingkirkan tangan Fiona yang sedang membuka pakaiannya. Inilah titik paling lemah yang harus dia hadapi karena dia tidak bisa melakukan apa pun.


"Aku tidak akan mengampunimu setelah ini, Fiona. Aku bersumpah tidak akan mengampuni dirimu!' ucap William. Dia benar-benar marah. Seharusnya dia mematahkan kedua kaki Fiona waktu itu tapi siapa yang menduga Fiona akan melakukan hal gila seperti itu? Dia pun tidak menduga Fiona yang dia kenal sebagai wanita lugu adalah wanita hina yang bisa melakukan apa saja.


"Kau tidak akan bisa melakukannya karena aku akan mengandung anakmu setelah ini dan istrimu itu, tidak akan bisa melakukan apa pun bahkan kedua orangtuamu pun tidak!" kancing kemeja William sudah terlepas, kini tinggal melepaskan yang lainnya.


"Singkirkan tangan kotormu dariku!" teriak William.


"Tidak akan, aku tidak akan berhenti!" Fiona melepaskan pengait celana William kali ini karena dia harus segera melakukannya.


William masih saja mengumpat dan memaki. Dia harap Steve kembali atau Marien sebelum Fiona melakukan apa yang dia mau. Jangan sampai tujuan Fiona tercapai, dia tidak sudi memiliki anak dengan Fiona dan dia pun tidak mau kehilangan Marien karena hal ini.


Celana panjang William sudah diturunkan lalu celana yang tersisa. Meski William sedang duduk di kursi roda dia tidak peduli. Fiona sudah sangat yakin tujuannya tercapai namun pintu yang tiba-tiba terbuka mengejutkan dirinya apalagi wanita yang ada di depan pintu tentunya adalah Marien. Karena Fiona mencabut kuncinya oleh sebab itu Marien bisa masuk.


Marien terkejut mendapati Fiona berada di dalam rumahnya dalam keadaan telanjang namun yang semakin membuatnya terkejut adalah, William yang sudah tanpa busana dan terlihat tidak berdaya. Aroma aneh tercium, Marien buru-buru menutup hidungnya. Keadaan William yang sangat aneh membuatnya curiga, pasti Fiona menggunakan cara licik.


"Ma-Marien," William memanggil Marien dan berharap Marien tidak salah paham.


"Apa yang kau lakukan pada suamiku?" teriak Marien seraya melangkah mendekati Fiona.


"Sialan, kenapa kau begitu cepat kembali?!" teriak Fiona.


"Jadi kau datang untuk menjebak suamiku? Sungguh wanita murahan!" Marien sudah berlari ke arah Fiona. Dia tidak menduga akan mendapatkan pemandangan tidak menyenangkan itu.


"William adalah kekasihku sejak awal dan kau yang merebutnya!"


"Tutup mulut busukmu itu!" Marien melemparkan tasnya ke arah Fiona. Wanita itu menghindar namun itu hanya untuk mengalihkan perhatiannya karena Marien sudah melompat ke arahnya. Fiona terkejut apalagi dia jatuh ke atas lantai dengan Marien berada di atasnya.


Marien yang marah dengan pemandangan itu tentu melampiaskan amarahnya dengan memukul Fiona. Rambut Fiona dijambak, dan setelah itu wajah Fiona dipukul tanpa ragu. Fiona berteriak akibat rasa sakit di rambut dan wajahnya namun dia tidak bisa menghentikan pukulan Marien yang sedang marah. Marien pun tak ragu membenterkan kepala Fiona ke atas lantai. Amarah benar-benar sudah menguasai dirinya.


"Hentikan, hentikan!" teriaknya namun Marien terus memukul.


"Beraninya kau menggoda suamiku, apa yang kau lakukan padanya, Hah?" teriak Marien yang masih memukul.

__ADS_1


William berusaha mengumpulkan kekuatan, dia sangat ingin membantu tapi dia tidak berdaya sama sekali. Pengaruh obat semakin kuat saja. Dia benar-benar berada di dalam masalah sekarang karena meskiĀ  dia terbebas dari Fiona namun pengaruh obat itu tidak mudah untuk dihilangkan.


William terjatuh dari atas kursi rodanya, dia berusaha menarik tubuhnya untuk mengambil pakaiannya. Marien yang marah masih tak henti memukul Fiona sampai wajahnya babak belur. Fiona tak berdaya di atas lantai saat Marien menyudahi pukulannya tapi bukan berarti dia sudah selesai menghajar wanita tidak tahu diri itu.


"Sungguh wanita yang picik!" Marien menendang bokong Fiona yang sudah berbaring miring. Dia masih bisa mengendus aroma yang sangat aneh dari ruangan itu. Sepertinya Fiona menggunakan cara licik untuk menjebak William. Dilihat dari keadaan William semua orang juga bisa tahu.


Marien berlari ke arah William untuk membantunya namun William berusaha menepis tangan Marien. Tidak, dia tidak mau menyakiti Marien dan menjadikan Marien sebagai pelampiasan apalagi dia dalam pengaruh obat.


"Menjauh dariku, Marien. Aku tidak mau menyakiti dirimu!" ucapnya.


"Bodoh, aku tidak mungkin meninggalkan dirimu dalam keadaan seperti ini!"


"Tapi aku tidak mau menjadikan kau sebagai pelampiasan jadi pergi!"


"Jangan banyak berpikir, aku mau membuang sampah terlebih dahulu!" Marien kembali berjalan mendekati Fiona yang sedang berusaha merangkak untuk mengambil bajunya.


"Aku tidak terima hal ini, aku tidak terima!" ucap Fiona dengan wajah babak belur.


"Aku belum selesai denganmu!" Marien kembali menjambak rambut Fiona. Dia tidak akan memaafkan wanita itu karena sudah melakukan perbuatan yang tidak terpuji sama sekali.


"Lepaskan!" teriak Fiona namun Marien Justru berusaha menarik rambutnya karena dia akan melemparkan Fiona keluar dari rumahnya.


"Lepaskan, sakit!" teriak Fiona. Marien sudah menariknya keluar dari pintu rumah dan setelah itu, Marien melemparkannya keluar dengan sekuat tenaga. Fiona hanya bisa berteriak saat tubuhnya berguling di atas lantai.


"Pergi dari sini, jika aku melihat wajahmu lagi maka percayalah, aku akan memukulmu lagi!" ucap Marien. Dia terlihat marah, benar-benar marah. Begitu rendahnyakah harga diri wanita itu sampai membuatnya harus melakukan perbuatan tidak terpuji seperti itu?


"Berikan bajuku!" teriak Fiona.


"Kau menelanjangi dirimu sendiri, aku rasa kau tidak akan malu jika berjalan dalam keadaan telanjang!" Marien masuk ke dalam dan menutup pintu setelah berkata demikian.


"Sialan, berikan bajuku padaku!" Fiona berusaha memukul daun pintu. Tidak mungkin dia pergi dalam keadaan telanjang. Mau ditaruh di mana mukanya? Reputasinya bisa hancur. Pintu kembali terbuka, Fiona mengira Marien akan memberikan bajunya tapi hanya tasnya saja yang dia dapatkan.


"Pergi jika tidak aku akan lapor polisi!" ancam Marien.


"Sialan kau!" teriak Fiona. Meski dia berteriak atau apa pun, Marien tidak memberikan bajunya bahkan pintu dikunci agar Fiona tidak bisa masuk ke dalam untuk mengambil bajunya.

__ADS_1


Marien menghampiri William yang sudah semakin tidak bisa menahan diri lagi akibat pengaruh obat. Tangan Marien di genggam, William sudah tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Aku menginginkan dirimu, Marien. Aku menginginkan dirimu!" ucapnya.


"Tidak, Will. Bagaimana jika berendam air dingin saja?" Marien berusaha mengangkat tubuh William agar dia kembali ke kursi roda.


"Itu tidak akan berhasil, Marien. Air dingin tidak bisa meredakan pengaruh obat ini!"


"Sial, apa yang harus aku lakukan?" Marien mulai panik apalagi keadaan William semakin memprihatinkan.


"Tusuk aku sekarang lalu bawa aku ke rumah sakit!"


"Untuk apa? Apa kau sudah gila?"


"Hanya ini satu-satunya jalan, Marien. Atau kau ingin berada di atasku?" tanya William.


Marien terdiam dalam keadaan bimbang. Apakah dia harus melakukan hal itu? Marien mendorong William ke dalam kamar dengan pikiran kacau. Dia tidak mungkin melukai William tapi apa dia bersedia melakukan hal itu?


"Marien, berikan aku sebuah gunting atau apa pun. Cepat!" pinta William.


"Tidak!" Marien justru memeluknya dan menangis. Entah keputusannya benar atau salah, dia tidak tahu. Yang pasti dia tidak bisa membiarkan William melukai dirinya sendiri.


"Aku tidak punya pilihan, Marien. Obat ini bisa membunuhku sebentar lagi, cepat lakukan agar aku bisa menahannya!"


"Bodoh, aku tidak mungkin membiarkan kau terluka, William."


"Lalu, kau ingin melihat aku mati?"


"Aku yang akan berada di atasmu!" teriak Marien, "Hanya itu yang bisa aku lakukan walau ini adalah keputusan sulit yang harus aku ambil!"


"Tidak, aku tidak mau kau melakukannya!"


"Aku sudah memutuskan!" Marien mencium bibir William terlebih dahulu. Dia tidak bisa melakukan yang lainnya selain melakukan hal itu. William yang sudah menahan diri sedari tadi tentu sudah tidak bisa menahannya lagi saat Marien mencium bibirnya.


Bibir Marien dil*mat dan dicium dengan penuh na*su bahkan tangan William sudah bermain di dalam baju Marien. Dia tidak akan bisa memadamkan api gai*rahnya lagi dan Marien pun benar-benar bersedia. Agar dia bisa melakukannya\, Marien membantu William berbaring di atas ranjang. Itu adalah pengalaman pertamanya\, pengalaman pertama yang paling buruk karena dia harus melakukannya seorang diri.

__ADS_1


Marien berteriak karena sakit saat harus kehilangan keperawanannya. William terkejut apalagi Marien melakukannya sambil menangis. Tubuh bagian bawahnya terasa mati rasa tapi dia harus menuntaskannya. Rasa nyeri di bagian itu dan rasa nyeri di bagian pinggang benar-benar menyiksa apalagi dia harus bergerak sendiri.


Malam pertama yang begitu menyiksa, dia tidak akan melupakannya tapi dia tidak keberatan sama sekali meski William di dalam pengaruh obat, meski itu adalah pengalaman pertama yang paling tidak menyenangkan.


__ADS_2