Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Gugup


__ADS_3

Marien sangat heran karena William tak melepaskan pandangannya sedari tadi pada dirinya. Rasanya jadi tidak nyaman karena saat dia melangkah ke kanan, tatapan mata William mengikuti begitu juga saat berjalan ke kiri. Marien bahkan berpaling dan melotot tapi William justru memperlihatkan senyumannya.


Aneh, apa ada sesuatu di punggungnya sehingga William melihatnya seperti itu? Rasanya sangat ingin bertanya tapi dia justru takut mempermalukan diri sendiri akibat salah paham. Lupakan, dia harus membiasakan diri dengan tatapan pria itu meski terkadang membuat jantungnya berdebar.


Marien mengambil makanan yang sudah jadi lalu membawanya ke meja makan karena saat itu mereka memang hendak makan malam. Setelah meletakkan makanan itu dia kembali mengambil yang lainnya dan lagi-lagi, dia bisa merasakan jika William sedang menatapnya.


"Maaf membuatmu lama menunggu!" ucap Marien yang meletakkan makanan ke atas meja.


"Tidak, tidak perlu meminta maaf. Jika kedua kakiku ini bisa digunakan, aku pasti akan membantumu!"


"Kau pasti bisa, tapi apa kau sudah mencari dokter untuk mengobati kedua kakimu?" Marien menarik kursi untuk duduk.


"Sedang aku lakukan!" lagi-lagi William menjawab hal yang sama.


"Jangan menunda, aku harap kedua kakimu sudah sembuh sebelum kita berpisah agar kau bisa melakukan aktifitasmu dengan mudah."


"Tentu, aku juga sudah tidak sabar untuk bisa berjalan lagi."


"Baiklah, sekarang sebaiknya kita makan sebelum dingin!" Marien mengambilkan makanan untuk William sebelum mengambil untuk dirinya sendiri.


"Terima kasih, Marine. Aku sangat senang kau begitu perhatian padaku."


"Tidak perlu berterima kasih, apa yang aku lakukan adalah tugasku sebagai istrimu. Aku rasa kita sudah membahas hal ini sebelumnya."


"Benar, oleh sebab itu aku ingin membuatmu jatuh cinta padaku!" ucap William tanpa ragu.


"Apa?" Merien terkejut sampai membuat makanan yang ada di atas sendok jatuh ke atas piring.


"Apa kau bilang?" Marien berpaling dan melihat ke arah William yang terlihat santai saja padahal dia baru saja mengucapkan perkataan yang mengejutkan dirinya.


"Apa kau tidak mendengarnya?" William meraih tangannya dan memberikan kecupan seperti biasanya. Marien jadi salah tingkah, rasanya sangat ingin menarik tangannya tapi dia seperti tidak bisa melakukannya.


"Ja-Jangan bercanda, Wiil. Jangan sampai aku tersedak tulang ikan!" ucap Marien.

__ADS_1


"Jangan mengalihkan pembicaraan, kita tidak sedang makan ikan!"


"Bagaimana jika kita makan saja, a-aku?" Marien memalingkan wajahnya yang merona. Apa yang terjadi dengan William? Kenapa dia berbicara seperti itu?


"Bagaimana menurutmu tentang aku, Marien? Kita sudah bersama selama beberapa waktu, kau pasti sudah bisa menilai aku jadi bagaimana pandanganmu tentang aku?"


"Aku tidak pandai menilai seseorang, William. Aku takut salah!"


"Tidak apa-apa, aku tidak akan marah jadi katakan saja apa pendapatmu tentang aku."


"Menurutku?" Marien melihat ke arahnya dan terlihat enggan.


"Katakan saja, tidak apa-apa," ucap William.


"Tidak ada yang salah denganmu, bagiku kau sempurna meski kedua kakimu sedang mengalami kelumpuhan. Semua manusia memiliki kekurangan tapi jika kita bisa menerima kekurangan yang ada menurutku kekurangan itu akan tertutupi sehingga terlihat menjadi sempurna. Maaf, aku tidak pandai menilai orang karena aku juga memiliki banyak kekurangan jadi jangan marah. Lagi pula kedua kakimu bisa disembuhkan jadi tidak perlu mengkhawatirkan hal itu."


"Terima kasih, aku juga tidak sempurna dan hanya kau yang menganggap aku sempurna. Terima kasih, jadi mulai sekarang keputusanku sudah bulat."


"Membuatmu jatuh cinta padaku lalu membuat pernikahan kita menjadi nyata!"


"A-Apa?" Marien terlihat gugup, apalagi William kembali mengangkat tangannya lalu mengecupnya.


"Apa kau mau, Marien?"


"Ja-Jangan bercanda dengan perkataan itu!" Marien menarik tangannya yang masih berada di dalam genggaman tangan William, "Aku tidak pantas untukmu karena aku bukan siapa-siapa. Kau bisa mencari wanita lain yang lebih baik jadi jangan memilih aku karena aku tidak pantas!" ucap Marine.


"Siapa bilang kau tidak pantas, aku juga tidak pantas untuk wanita baik seperti dirimu. Kita sama-sama memiliki kekurangan tapi kita bisa saling melengkapi agar kekurangan yang kita miliki menjadi sempurna. Bukankan lebih baik jika hubungan kita menjadi nyata dan tidak terikat kontrak lagi?"


"Wait.... Wait, aku mendadak menjadi tulalit dengan pembicaraan ini yang secara mendadak. Sepertinya otakku perlu nutrisi agar aku bisa mencerna pembicaraan ini dengan baik!" ucap Marien yang sesungguhnya sedang mengalihkan pembicaraan.


Marien menyendok makanannya dan menikmatinya sambil menunduk. Ada apa dengan William? Kenapa tiba-tiba saja dia berbicara seperti itu? Apa mantan pacarnya kembali dan menghina dirinya? Marien melirik ke arah Wiliam yang sedang memperhatikannya dirinya, baiklah. Mendadak dia merasa ada yang aneh. Marien bahkan beranjak dari tempat duduk lalu mendekati William untuk menyentuh dahinya.


"Tidak panas!" ucapnya yang kembali ke tempat duduk.

__ADS_1


"Apanya? Apakah otakmu sudah memiliki nutrisi sekarang?"


"Be-Belum, makananku belum habis. Cepat makan, setelah ini aku mau mandi dan berendam!"


"Wah, ini terdengar seperti sebuah undangan untukku. Aku sudah lama tidak berendam!"


"Enak saja, aku tidak!" Marien melotot dengan tatapan galak namun dia buru-buru berpaling dan kembali makan. Tidak benar, mereka terikat dengan perjanjian sampai satu tahun ke depan tapi kenapa William justru mengajaknya untuk menjalin hubungan serius? Sepertinya ada yang salah dengan pria itu ataukah William sengaja ingin menggoda dirinya?


"A-Aku sudah selesai!" Marien beranjak sambil membawa piring kosongnya ke wastafel, "Makanlah pelan-pelan, aku yang akan membereskannya nanti!" ucap Marien seraya melangkah pergi.


"Mau ke mana?" tanya William.


"Ma-Mandi dulu!" Marien berlari keluar. Dia merasa tidak bisa terlalu lama berdua dengan William di dalam ruangan yang sama.


"Tidak menunggu aku?" Goda William.


"La-Lain kali!" jawab Marien sambil berteriak. Ada apa dengan pria itu? Kenapa mendadak jadi aneh seperti itu? Tunggu, jangan-jangan yang bersama dengannya saat ini bukan William melainkan Alien yang menyamar menjadi William. Marien menghentikan langkah lalu melangkah kembali tapi dia justru berada di balik dinding untuk mengintip apa yang sedang William lakukan dan untuk memastikan pikiran konyolnya.


"Tidak perlu mengintip, aku akan segera pergi ke sana!" ucap William yang sedang makan dan tahu akan keberadaannya.


"Aku tidak mengintip!" Marien kembali berlari menuju kamar. Tidak ada yang aneh. Sepertinya hanya perasaannya saja tapi dia merasa William sedikit berbeda hari ini apalagi dengan ucapannya. Apa William sedang bercanda saja dengan cara menggodanya seperti itu?


Sial, mendadak dia serba salah dengan sikap William. Dua pertanyaan yang William berikan saja belum dia jawab. Semoga saja tidak ada pertanyaan yang lainnya tapi mengenai ucapan William akan pernikahan mereka, apa William tidak bercanda?


Marien masuk ke dalam kamar mandi untuk berendam. Marien bahkan menenggelamkan diri ke dalam bathtub karena dia ingin mendinginkan kepalanya. Hubungan mereka memang baik-baik saja. Menurutnya mereka sudah seperti teman yang cocok apalagi mereka saling berbagi dan saling mendukung satu sama lain. Hubungan mereka yang seperti itu jauh lebih baik dari pada hubungan yang sesungguhnya tapi kenapa William ingin hubungan mereka yang terikat kontrak menjadi nyata?


Jujur saja dia takut, mereka terbawa suasana akibat saling perhatian dan dia takut setelah hubungan mereka menjadi serius, mereka berdua justru berselisih dan tidak bisa seperti saat ini lagi. Marien keluar dari bathtub dan mengusap wajahnya yang basah. Dia membutuhkan napas namun kedua matanya justru melotot karena melihat William yang sudah berada di sisi Bathtub.


"A-Apa yang kau lakukan?" teriak Marien yang kembali menenggelamkan diri ke dalam air sehingga tersisa kepalanya saja.


"Mandi, denganmu!" jawab William tanpa ragu.


"Apa?" Marien melongo seperti orang bodoh. Apa dia tidak salah dengar tapi tunggu, dia tidak sedang bermimpi bukan atau jangan-jangan ada yang merasuki William saat pulang. Kejadian mendadak itu membuatnya pusing bahkan kedua matanya semakin terbuka lebar karena William sedang membuka bajunya. Marien gugup luar biasa. Dia jadi berharap ada sebuah tangan raksasa yang tiba-tiba muncul lalu memindahkan dirinya ke dalam kamar karena dia semakin canggung dengan situasi di antara mereka.

__ADS_1


__ADS_2