Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
First Kiss


__ADS_3

Keranjang yang baru dibeli dan yang akan diisi dengan makanan sudah berada di atas meja dan Marien sedang sibuk membuat makanan yang akan dia bawa untuk piknik. Entah ke mana William akan membawanya pergi yang pasti dia sudah tidak sabar karena ini kali pertama bagi mereka berdua setelah menikah.


Marien bahkan bangun jam lima pagi untuk menyiapkan semuanya karena setelah William bangun, dia akan sibuk menikmati waktu mereka berdua dan dia pun akan sibuk membantu William mandi. Tapi tunggu, kenapa dia jadi begitu menikmati perannya sebagai istri William? Dia memang mengiyakan permintaan William untuk menjadikan hubungan mereka menjadi hubungan yang serius tapi apa seperti ini tidak apa-apa?


Kenapa dia jadi memikirkannya sekarang padahal selama ini dia tidak keberatan dengan hubungan mereka berdua. Sebaiknya lupakan karena terlalu banyak berpikir membuatnya jadi ragu. Jalani saja, jika memang berjodoh dengan William dia pun tidak keberatan.


Marien membuat beberapa makanan sampai keranjang penuh. Buah-Buahan, beberapa alat makan dan minum serta minuman tak luput dia bawa. Dia harap William membawanya ke tempat bagus karena sudah lama tidak bersantai di tempat indah.


Keranjang sudah penuh, waktu pun sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Marien melepaskan celemek yang dia gunakan lalu dia pergi ke kamar untuk membangunkan William. Marien masuk ke kamar secara perlahan tanpa menimbulkan suara berlebih agar William tidak terbangun.


Cukup lama Marien berdiri di sisi ranjang tanpa melepaskan pandangannya dari William. Baiklah, dia sudah memiliki suami yang tampan lalu apa lagi yang perlu dia pikirkan? William pria yang baik, perhatian. Menurutnya selama ini mereka tidak kekurangan apa pun meski mereka berdua sedang berusaha untuk bangkit tapi dia yakin mereka berdua pasti bisa melampaui orang-orang dan ayahnya tidak akan lagi meremehkan suami yang dia nikahi.


Marien sudah merangkak mendekati William. Senyuman menghiasi wajahnya. Di bandingkan pria tua itu, bukankah suami yang dia nikahi jauh lebih baik?


"Will?" Marien sudah berbaring di sisi William dan mengusap wajah suaminya dengan perlahan.


"Hm!" William membuka mata, senyuman manis Marien yang dia dapatkan.


"Jam berapa sekarang?" William menarik Marien mendekat lalu memeluknya.


"Setengah tujuh," Marien memeluknya erat. Suami tampan, gagah meski kedua kaki belum sembuh tidak boleh dia sia-siakan.


"Masih pagi, apa yang kau lakukan?" kepala Marien diusap dengan perlahan, ciuman lembutnya pun mendarat di dahinya.


"Menyiapkan makanan, aku sudah tidak sabar pergi piknik denganmu!"


"Tapi aku lebih suka menghabiskan waktu denganmu di tempat tidur."


"Hei, aku tidak mau berbaring denganmu sampai siang!"


"Baiklah, seandainya kita?" William menghentikan perkataannya.

__ADS_1


"Apa? Apa ada yang kau inginkan?"


"Tentu saja ada, Marien. Aku menginginkan dirimu!" dekapan William semakin erat bertanda dia sangat menginginkan Marien. Bagaimanapun dia lelaki normal. Mereka sudah hidup bersama dan tidur bersama sepanjang malam, mereka pun terkadang mandi bersama dan rasa ingin memiliki semakin dia rasakan.


"Bisakah menunggu untuk hal itu? Aku?" Marien jadi ragu mengatakannya. Bagaimanapun dia belum pernah, jadi dia tidak boleh menyerahkan diri begitu saja.


"Kenapa? Apa karena kedua kakiku ini sehingga kau jijik dan tidak mau?"


"Bukan begitu, Will. Kita pelan-pelan saja, oke? Jangan terlalu terburu-buru!"


"Baiklah, aku tida akan memaksa!"


"Jika begitu sebaiknya segera bangun, mandi dan sarapan dan setelah itu kita pergi!"


"Baik, Nyonya!" sebelum beranjak, William mencium pipi Marien berkali-kali. Rasanya ingin mencium bibirnya sekarang tapi dia akan pelan-pelan.


Membantu William mandi menjadi kegiatan yang berbeda karena semenjak mereka berendam bersama, mereka jadi sering melakukannya meski Marien menggunkan bikini karena dia tidak mau William melihat tubuhnya yang polos. Meski begitu, William dapat melihat bentuk tubuhnya yang indah.


Steve sudah datang saat mereka sedang sarapan. Dia sudah menyiapkan semuanya tanpa Marien tahu. Taman St. James menjadi pilihan. Selain tidak terlalu jauh, mereka bisa menikmati alam yang indah di mana sebuah danau indah berada di sana serta langit biru yang membentang indah karena cuaca sedang bagus.


Marien menghirup udara sejuk yang berhembus, tempat yang sangat bagus untuk menghabiskan waktu berdua tanpa ada yang mengganggu di mana tidak ada Alexa, Zack atau siapa pun yang akan mengganggu waktu mereka berdua.


"Aku sudah membuat makanan, kenapa ada keranjang di sini?" tanya Marien.


"Tidak apa-apa, aku memang meminta Steve menyiapkannya untukmu!"


"Tapi aku sudah membawa banyak!" Marien mengangkat keranjang yang dia bawa.


"Kita nikmati pelan-pelan. Kau tidak berniat cepat kembali, bukan?"


"Wah, sepertinya kita harus menginap di sini!" ucap Marien bercanda sambil meletakkan keranjangnya ke atas tikar.

__ADS_1


"Ide bagus!" William beranjak dari kursi roda dibantu oleh Marien. Tempat yang dipilih oleh Steve sangat rindang karena pepohonan besar serta tidak jauh dari danau. Udara yang berhembus juga menenangkan ditambah suara burung yang berkicau yang ada di atas pohon, tempat yang sangat bagus untuk menghabiskan waktu berdua.


"Kau selalu bersama denganku, apa kedua orang tuamu tidak mencari?"  Mereka sudah duduk bersandar di batang pohon sambil berpelukan.


"Tidak, aku selalu memberi mereka kabar."


"Mengenai hubungan kita?" Marien menunduk, entah kedua orangtua William setuju atau tidak dia jadi mengkhawatirkannya.


"Kenapa? Apa yang kau ragukan? Apa kau berubah pikiran untuk menjadi istriku yang sesungguhnya?"


"Bukan begitu, Will. Aku hanya merasa tidak pantas saja untukmu. Aku khawatir, kedua orangtuamu tidak akan setuju dengan hubungan kita!"


"Tidak perlu khawatir, mereka pasti setuju. Keluargaku bukan orang yang suka memandang rendah orang lain. Asalkan baik dan tulus, mereka pasti akan menerimanya!"


"Benarkah?" Marien mendongak dan memandangi William.


"Yes!" dagu Marien diangkat, mereka berdua saling pandang sesaat.


"Bolehkah aku mencium bibirmu, Marien? Apa kau sudah mendapatkan jawabannya?"


"Tentu!" Marie melingkarkan satu tangannya ke leher William lalu menempelkan bibir mereka berdua untuk sesaat. Kedua mata William terbelalak namun Marien buru-buru berpaling dan menutup bibirnya, wajahnya jadi merona karena dia begitu berani mencium bibir William terlebih dahulu.


"A-Aku sudah menjawabnya!" ucap Marien.


"Tidak cukup!"


"Apa?" Merien berbalik namun dia terkejut ketika William menariknya lalu mencium bibirnya. Semula Marien diam saja namun ******* pelan yang diberikan oleh William di bibirnya membuat Marien terbuai. Kedua mata Marien pun terpejam dan kedua tangan melingkar di di leher William. Merasa Marien mulai membalas ciumannya, William membaringkan Marien dengan perlahan ke atas tikar tanpa melepaskan ciumannya.


Marien menikmati ciuman lembut yang William berikan sambil memeluknya erat. Tidak perlu banyak berpikir apalagi itu ciuman pertama mereka. Ciuman mereka terhenti sejenak kerana mereka harus mengambil napas, usapan lembut pun Marien dapatan di wajahnya serta kecupan lembut William.


"Kau milikku, Marien. Ciuman yang kita lakukan hari ini sebagai tanda jika kau adalah milikku dan nanti, aku akan benar-benar menjadikan dirimu sebagai milikku!"

__ADS_1


"Aku tidak keberatan jika itu kau!"


"Aku senang mendengarnya dan aku tidak akan menyia-nyiakan dirimu, Honey!" William kembali mencium bibir Marien setelah berkata demikian. Ciuman lembut dan mesra yang belum pernah dia berikan pada siapa pun sebelumnya karena dia melakukan dengan perasaan yang sedang meluap di hati dan perasaan yang dia rasakan itu hanya dia rasakan untuk istri yang dia nikahi secara mendadak namun sangat berarti baginya dibandingkan Fiona atau wanita mana pun yang pernah dia pacari dulu. Hari ini, mereka akan melakukan banyak ciuman dan setelah itu mereka berbaring sambil berpelukan untuk menikmati hembusan angin yang sejuk serta alam yang indah.


__ADS_2