
Kabar akan kematian Zack juga didapatkan oleh Gavin. Tentunya dia sangat terkejut karena kabar itu sungguh mendadak. Sejak hari itu dia memang sudah tidak pernah bertemu dengan Zack lagi apalagi Alexa belum kembali sampai sekarang tapi itu bagus, dengan begitu tidak ada lagi yang akan mendesak Alexa.
Putrinya pasti sangat senang mendengar kabar itu. Orang yang memukulinya sudah mati dan yang paling penting adalah, Alexa tidak perlu berlutut di bawah kaki William hanya untuk meminta maaf padanya. Sungguh kebetulan yang luar biasa, Gavin pun ayah yang luar biasa karena dia benar-benar tidak mengatakan pada Alexa kebenaran yang dia sembunyikan karena dia berpikir sudah tidak perlu.
Marien yang ingin tahu apakah ayahnya sudah mengatakan pada Alexa akan kebenarannya atau tidak, menghubungi ayahnya siang itu. Dia harap ayahnya sudah meluruskan kesalahpahaman yang terjadi agar Alexa tidak lagi membenci dirinya.
Gavin yang sedang menikmati anggur pemberian dari Silvia menjawab panggilan putrinya dengan antusias, dia berharap ada kabar baik dari Marien dan mengatakan jika ayah mertuanya bersedia bekerja sama dengannya sehingga dia mendapatkan keuntungan dari sana. Bagaimanapun bisnis harus tetap berjalan dengan lancar agar apalagi besannya bukan orang biasa.
"Ada apa, apa ada kabar baik untuk Daddy?" tanyanya.
"Tidak ada, aku hanya ingin bertanya saja pada Daddy jadi jawab yang benar!" pinta Marien.
"Apa yang ingin kau tahu? Apa mertuamu ingin berbisnis denganku?" tanya ayahnya.
"Please, Dad. Aku menghubungimu tidak untuk membahas hal ini!" ucap Marien.
"Jadi apa? Apa yang mau kau bahas?"
"Dad, aku rasa kau tahu apa yang baru saja terjadi dengan Zack!"
"Tentu saja sudah, lalu? Kematiannya tidak ada hubungannya denganku!" ucap ayahnya.
"Bukan itu, Dad. Apa Daddy sudah mengatakan pada Alexa apa yang terjadi? Apa Daddy sudah meluruskan kesalahpahaman di antara kami dan mengatakan yang sebenarnya?"
"Daddy rasa tidak perlu!" ucap ayahnya.
__ADS_1
"Apa maksud Daddy tidak perlu? Aku tidak ingin kebencian kami berlarut-larut, Dad. Segera katakan kebenarannya pada Alexa agar kesalahpahaman di antara kami terselesaikan. Aku tidak mau berseteru lagi dengan Alexa jadi segera katakan padanya jika kematian ibunya tidak ada hubungannya dengan ibuku agar dia berhenti membenci aku dan ibuku!"
"Tidak!" teriak ayahnya.
"Kenapa, Dad? Kau harus melakukannya!" teriak Marien pula.
"Tidak, Marien. Demi apa pun, aku tidak mau dibenci oleh Alexa. Jika dia tahu bahwa aku yang telah menyebabkan ibunya bunuh diri, maka dia akan membenci aku dan aku tidak mau hal itu terjadi!"
"Kau sungguh egois, Dad!" teriak Marien murka.
"Kau mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan persaudaraan di antara kami. Seharusnya sebagai seorang ayah kau meluruskan permasalahan ini tapi kau justru diam saja tanpa mau menghentikan kebencian Alexa padaku. Kenapa, Dad? Apa kau lebih takut dibenci olehnya dari pada persaudaraan kami yang akan hancur nanti? Walau kami memiliki ibu yang berbeda tapi kami adalah darah dagingmu jadi jangan pilih kasih dan membuat kami saling berseteru hanya karena sikap egoismu itu yang takut dibenci oleh Alexa!" sungguh amarahnya memuncak karena dia tidak habis pikir dengan sikap egois ayahnya.
"Daddy hanya ingin menebus kesalahan Daddy saja dengan menyayangi Alexa dan Daddy, tidak ingin dia tahu kebenarannya juga tidak ingin dibenci olehnya!" ucap ayahnya.
Gavin diam, tidak menjawab. Marien kehabisan kata-kata, ternyata tebakannya benar. Sungguh mengecewakan, ayahnya benar-benar menikahi ibunya hanya untuk membalas rasa sakit hatinya akibat dikhianati oleh ibu Alexa. Ayahnya bahkan menyembunyikan semuanya dari Alexa. Dia tidak menduga ayahnya begitu takut akan dibenci oleh Alexa.
"Baiklah, aku sudah tahu semuanya. Kau benar-benar mengecewakan aku, Dad. Kau tidak mau mengatakan kebenarannya pada Alexa, tidak masalah. Teruslah berbohong padanya sampai seumur hidupmu tapi ingat perkataanku ini, suatu saat jika terjadi sesuatu pada Alexa, jangan pernah datang mencari aku. Walaupun kau ayahku, sekali pun kau memohon padaku, aku tidak peduli karena semua yang terjadi di antara aku dan Alexa adalah ulahmu dan kebencian Alexa padaku, semua kau yang menanamkannya bahkan kau pula yang menyiramnya sehingga semakin subur!"
"Bukan begitu, Marien. Kau tidak tahu bagaimana perasaanku!" ucap ayahnya.
"Dan Daddy, tidak tahu bagaimana dengan perasaanku!" ucap Marien dengan perasaan kecewa yang semakin dalam.
"Daddy hanya tidak mau dibenci oleh kakakmu!"
"Cukup, Dad. Ini terakhir kali aku menghubungi Daddy. Jangan mencari aku jika tidak ada yang penting apalagi soal Alexa, aku sungguh tidak peduli. Nikmati saja waktu tenang Daddy, aku yang akan meluruskan permasalahan ini dengan Alexa!"
__ADS_1
"Jangan lakukan, Marien!" teriak ayahnya namun Marien sudah mengakhiri percakapan mereka.
Marien berusaha menahan air mata, itu bukan hal yang baru jadi dia tidak perlu menangis meski rasa kecewa menyesakkan dadanya tapi dia harus menahannya agar dia tidak terlihat menyedihkan. Sudah cukup, jika ayahnya memang tidak mau mengatakannya padan Alexa maka dia yang akan mengatakannya agar kesalahpahaman mereka benar-benar berakhir.
Gavin benar-benar takut dibenci oleh putrinya, putri dari wanita yang dia cintai. Alexa tidak boleh tahu dan dia yakin meski Marien mengatakannya, Alexa pasti tidak akan mempercayai apa yang Marien ucapkan. Lagi pula apa yang akan terjadi? Tidak akan ada yang terjadi apalagi Alexa berkata jika dia sedang pergi berlibur untuk menenangkan diri setelah kehilangan bayinya.
Mungkin dia harus mengatakan pada Alexa, akan kematian Zack agar saat Alexa kembali nanti, dia tidak perlu mengkhawatirkan Zack. Dengan kematian pria tua itu, putrinya benar-benar bebas. Lagi pula dia ingin tahu bagaimana dengan keadaan putrinya saat ini.
"Ada apa, Dad? Sudah aku katakan jangan mengganggu waktu liburanku!" ucap Alexa.
"Daddy hanya ingin kau tahu Alexa, jika Zack sudah meninggal!"
"Benarkah?" Alexa terdengar terkejut.
"Yeah, mulai sekarang kau tidak perlu khawatir lagi. Kau pun tidak perlu berlutut di bawah kaki siapa pun karena tidak ada yang bisa memaksa dirimu lagi untuk melakukan apa yang tidak ingin kau lakukan!"
"Aku sangat senang mendengarnya, Dad. Aku jadi semakin bisa menikmati waktu liburanku sambil meratapi kepergian bayiku!"
"Nikmati saja waktumu, tidak perlu banyak berpikir. Tidak akan ada lagi yang akan menyakiti dirimu apalagi si tua bangka itu sudah mati. Daddy pun tidak akan mengganggu waktu liburanmu jadi nikmatilah."
"Terima kasih, Dad. Aku akan kembali setelah keadaanku lebih baik."
"Nikmatilah waktumu!" ucap ayahnya.
Alexa tersenyum, satu telah tumbang dan tinggal satu lagi. Dia akan menunggu, kabar yang lainnya. Sangat bagus tua bangka itu sudah mati, sekarang tinggal yang lain karena mereka harus menemani kematian bayinya dan dengan kematian mereka, dendamnya benar-benar terbalaskan.
__ADS_1