Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
kenyataan Yang Lebih Menyakitkan


__ADS_3

Kenyataan memang tidak selalu manis dan tidak sesuai dengan harapan. Itulah yang didapatkan oleh Marien. Kenyataan yang dia dengar dari ayahnya benar-benar menyakitkan bahkan tidak terduga sama sekali. Akibat perasaan cinta pada istri pertama, membuat ayahnya balas dendam dengan menikah lagi tapi yang jadi korban justru istri kedua dan anak yang lahir kemudian.


Marien pergi dengan sebuah taksi sambil menangis. Rasa kecewa yang dia rasakan benar-benar membuatnya sedih. Dia tidak menduga jika ayahnya begitu tega. Perkataan apa yang pantas dia berikan pada ayahnya? Dia memang putri ayahnya tapi dia tidak dianggap sebagai putri oleh ayahnya. Yang ada di mata ayahnya hanya ada Alexa dan ibunya saja. Ayahnya bahkan begitu tega membiarkan Alexa membenci dirinya hanya karena dia tidak mau dibenci oleh putri kesayangannya.


Sekarang semua sudah terjawab kenapa ayahnya begitu menuruti perkataan Alexa dan kenapa ayahnya mendukung Alexa yang ingin menjual dirinya pada Zack bahkan dia bisa melihatnya jika ayahnya lebih mempedulikan Alexa yang pergi entah ke mana dari pada dirinya.


Marien menghapus air mata yang menetes untuk kesekian kalinya, sang supir taksi melihatnya dari kaca spion sesekali karena Marien sudah seperti putus cinta tapi tujuannya berbeda karena Marien pergi ke makam untuk menjenguk ibunya.


Dia jadi sangat ingin tahu, apakah semasa hidup ibunya tahu akan kepicikan pria yang dia nikahi? Apakah ibunya tahu jika dia dinikahi hanya untuk membalas sakit hati dari istri pertama dan dijadikan kambing hitam? Dia harap ibunya tidak tahu sehingga ibunya tidak meninggal dalam kesedihan.


Marien sudah tiba di makam dan bergegas menuju makam ibunya. Sudah lama tidak berkunjung, untuk sesaat saja dia ingin bersama dengan ibunya agar perasaannya menjadi lebih baik. Dia tidak mau kembali dalam keadaan kacau sehingga suaminya khawatir.


Langkah Marien terhenti di depan makan ibunya. Beberapa daun berada di atas makam dan rumput yang tampak sedikit tinggi karena belum dipotong. Beberapa daun dibersihkan, Marien juga mencabut rumput yang sedikit tinggi dan setelah itu bunga yang dia bawa diletakkan di depan batu nisan.


"Hy, Mom. Apa kabarmu?" tanya Marien basa basi sambil memunguti daun yang tersisa. Pada saat itu, tatapan mata Marien jatuh pada cincin bermata biru yang William berikan di hari pernikahan mereka.


"Aku datang untuk mengatakan sebuah kabar pada Mommy," ucap Marien seraya duduk di depan makam ibunya.

__ADS_1


"Mommy lihat," kini dia menunjukkan cincin yang ada di jari manisnya, "Aku sudah menikah sekarang. Maaf tidak mengatakannya pada Mommy. Aku menikah secara mendadak tapi percayalah padaku jika aku bahagia dengan pernikahanku karena pria yang aku pilih tidaklah salah," ucapnya lagi.


"Maaf tidak mengatakan hal ini lebih cepat tapi lain kali aku akan mengajaknya untuk menemui Mommy dan satu hal lagi yang ingin aku sampaikan pada Mommy. Maaf Mom, mulai sekarang aku tidak akan menjadi anak baik lagi seperti yang Mommy pesankan sebelum Mommy meninggal. Aku tidak mau lagi menjadi anak penurut yang selalu mendengarkan perkataan Daddy dan aku tidak mau lagi menjadi anak baik untuk Daddy karena dia sudah sangat mengecewakan aku. Mungkin aku akan mengecewakan dirimu tapi Daddy, sudah begitu mengecewakan kita dan aku tidak mau peduli lagi dengannya!"


Setelah berkata demikian, Marien bergeser dan duduk di sisi makam ibunya. Tatapan mata menerawang ke atas langit biru. Siapa yang menduga jika ayahnya begitu culas? Hanya untuk melindungi diri agar tidak dibenci justru mengorbankan yang lainnya dan membiarkan sebuah kebencian tumbuh subur.


Marien berusaha tersenyum untuk menghibur diri, namun dia tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Marien menunduk dan menyembunyikan wajahnya di balik lengan karena dia sedang menangis. Untuk hari ini saja, dia ingin menangisi nasibnya yang tidak dicintai oleh ayahnya tapi setelah ini, dia tidak akan menangis lagi untuk ayahnya kecuali kematian ayahnya saja.


Suara isak tangisnya terdengar di makam yang sepi. Padahal dia mengira jika dia bukan putri kandung ayahnya. Entah kenapa dia jadi berharap demikian agar tidak begitu menyesakkan dada karena kenyataan yang dia dengar benar-benar lebih menyakitkan dari apa yang dia bayangkan. Cukup lama Marien menangis sampai perasaannya sedikit membaik. Air mata diusap dengan perlahan, rasanya ingin menertawakan nasibnya yang memiliki ayah tapi seperti tidak memiliki ayah.


"Hidup ini ternyata begitu sulit. Menjadi orang baik salah, menjadi orang jahat pun salah tapi aku yakin Mommy sudah bahagia di sana dan aku harap aku tidak memiliki nasib seperti Mommy. Dinikahi hanya untuk balas dendam." senyum sinis terukur di bibir, tatapan mata kembali tertuju ke atas langit setelah berkata demikian. Apakah dia juga mengalami nasib yang sama seperti ibunya? Dia tidak akan lupa apa alasan William mau menikah dengannya. Selain cek yang dia tawarkan, William mau menikah dengannya juga karena untuk membalas perbuatan Fiona yang menghina dirinya tapi apakah William sama seperti ayahnya?


"Aku pergi dulu, Mom. Aku hanya ingin menyampaikan hal ini saja pada Mommy," Marien beranjak dan membersihkan kotoran yang menempel di bokongnya, "Aku akan datang lagi nanti bersama dengan suamiku agar Mommy mengenalnya!" ucapnya lagi sebelum pergi.


Marien tidak langsung pulang, dia lebih memilih kembali ke kantor untuk melakukan pekerjaannya. Dari pada memikirkan apa yang telah ayahnya lakukan lebih baik dia bekerja dan fokus pada perusahaannya agar lebih maju. Lagi pula masih awal. Jadi bukan waktunya dia bermalas-malasan. Akan dia tunjukkan pada ayahnya, meski dia anak tak dianggap tapi akan dia tunjukkan jika dia bisa sukses lebih dari pada ayahnya.


Gavin masih mencari keberadaan Alexa yang pergi entah ke mana. Demi cintanya pada istri pertama meski dia dikhianati, dia memberikan apa pun yang Alexa mau dan mengabaikan Marien. Dia tahu tindakannya sangatlah salah tapi dia melakukan hal itu untuk menebus kesalahannya pada ibu Alexa yang bunuh diri gara-gara dirinya. Gavin memilih pulang ke rumah, berharap putrinya sudah kembali.

__ADS_1


"Alexa, apa kau sudah kembali?!" teriaknya.


Tidak ada jawaban, Gavin melangkah menuju kamar putrinya dan mencari ke dalam tapi Alexa juga tidak ada. Semua barang-barang masih ada. Tidak mungkin putrinya pergi begitu saja. Curiga jika Alexa pergi mencari Zack, oleh sebab itu Gavin menghubungi Zack Erson untuk mencari keberadaan putri kesayangannya.


"Kau menghubungi aku apa ada kabar baik yang hendak kau sampaikan?" Zack yang mengharapkan kabar baik tentu bertanya demikian.


"Di mana Alexa, kau tahu keberadaannya, bukan?" tanya Gavin tanpa basa basi.


"Sungguh lucu, untuk apa kau menghubungi aku untuk mencarinya. Aku bukan pengasuhnya yang harus selalu tahu di mana pun dia berada!"


"Jadi kau tidak tahu di mana Alexa?"


"Jangan main-main, aku tidak peduli dengannya karena yang aku inginkan adalah kabar apakah William akan memberikan aku keringanan atau tidak?"


"Mintalah keringanan itu sendiri!" Gavin berkata demikian karena dia yakin Marien tidak mungkin mau membantu kakaknya lagi.


"Apa maksudmu berkata demikian?" teriak Zack tapi Gavin sudah mengakhiri percakapan mereka.

__ADS_1


"Sial! Ayah dan anak sama saja, awas kalian berdua!" teriak Zack murka.


Gavin yang tidak menemukan Alexa di tempat Zack, mencoba menghubungi Alexa yang entah pergi ke mana tapi sekarang ponselnya sudah tidak aktif lagi. Ke mana sebenarnya putrinya pergi? Dia harap putrinya segera pulang tapi Alexa tidak akan pulang karena dia pergi demi sebuah tujuan.


__ADS_2