Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Gara-Gara Menginginkan Cucu Perempuan


__ADS_3

Pink. Pink dan Pink. Suasana rumah mendadak jadi serba pink dan hal itu membuat Silvia harus memijit pelipisnya karena semua itu ulah suaminya yang mendadak pulang ke rumah dan ingin mengganti dekorasi rumah menjadi serba pink. Entah apa yang merasuki suaminya tapi keadaan rumah mereka sudah seperti rumah seorang putri yang serba pink juga dipenuhi oleh boneka yang berwarna serba pink.


Inilah yang membuatnya meminta William untuk kembali karena dia tahu kenapa suaminya mendadak merombak suasana rumah menjadi serba pink. Dulu mereka sangat menginginkan anak perempuan tapi mereka mendapatkan dua anak laki-laki. Karena Samuel memiliki penyakit OCD yang sangat parah, membuat mereka berdua memutuskan untuk tidak memiliki anak lagi dan sekarang, dia bisa paham kenapa suaminya seperti itu.


Abraham sudah pasti menginginkan cucu perempuan oleh sebab itu hampir semua dibuat menjadi berwarna pink. Mungkin dengan demikian, dia benar-benar akan mendapatkan cucu perempuan seperti yang dia idamkan selama ini.


"Apa kau sudah meminta mereka untuk pulang?" tanya Abraham pada istrinya.


"Sepertinya sebentar lagi mereka akan tiba. Apa semua ini masih belum cukup?"


"Aku belum membeli boneka beruang besar untuk cucuku!" Silvia justru menggeleng mendengar perkataan suaminya.


"Hei, pak tua. Bagaimana jika cucu pertama kita laki-laki?"


"Perempuan, cucu pertama kita harus perempuan!" ucap Abraham.


"Jangan sampai kau menangis saat tahu cucu kita adalah laki-laki!"


"Aku akan menari telanjang tujuh hari tujuh malam di hadapanmu jika cucu kita adalah perempuan!"


"Aku tidak sudi melihatnya!" jawab Silvia dengan cepat. Jangan sampai terjadi karena dia tidak mau melihatnya.


"Pokoknya aku mau cucu perempuan!" Abraham kembali sibuk melakukan apa yang hendak dia lakukan. Silvia hanya bisa menggeleng melihat tingkah suaminya. Semoga saja apa yang diharapkan oleh suaminya dapat terkabul.


William dan Marien sudah tiba, William tidak tahu jika ada kejutan yang sudah disiapkan oleh ayahnya nanti agar dia mendapatkan cucu perempuan.


"Oh my God, apa yang terjadi dengan rumah ini?" teriak William setelah masuk ke dalam dan melihat warna pink di mana-mana. Marien juga terkejut melihat rumah mertuanya yang mendadak berubah. Apa sebentar lagi akan ada pesta atau ada yang lainnya?


"Mom, Dad!" William melangkah masuk ke dalam untuk mencari ayah dan ibunya.


"Jangan tanya Mommy, tanya pada ayahmu itu!" ucap ibunya sebelum putranya bertanya.


"Apa yang sedang Daddy lakukan? Kenapa jadi serba pink seperti ini?"


"Sudah Mommy katakan, tanyakan pada ayahmu!" ucap ibunya.


William melihat rumah yang dipenuhi oleh nuansa pink sambil menggeleng. Belum cukup rasa herannya tapi dia kembali dikejutkan kedatangan ayahnya yang sedang memeluk sebuah boneka berwarna pink super besar bahkan boneka itu lebih besar dari pada tubuh ayahnya.


William dan ibunya tercengang melihat apa yang Abraham bawa, begitu juga dengan Marien. Mereka tak melepaskan pandangan mereka dari Abraham sampai pria tua itu menghilang di dalam sebuah kamar. William dan ibunya saling pandang. Apa sebenarnya yang sedang direncanakan oleh ayahnya?

__ADS_1


"Mom, kepala Daddy tidak terbentur, bukan?" tanyanya.


"Tentu saja tidak!"


"Lalu apa yang terjadi?" sungguh dia tidak pernah melihat ayahnya bertingkah seperti itu.


"William Archiles cepat kemari!" teriak ayahnya.


William yang penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh ayahnya pun bergegas untuk melihat apa yang ayahnya inginkan. Ibunya pun mengikuti begitu juga dengan Marien yang sangat penasaran untuk tahu. Mereka berdiri di depan pintu dan terkejut melihat sebuah kamar yang sudah disulap sedemikian rupa di mana seluruh ruagan itu berwarna pink. Silvia memijit pelipis, sekarang dia jadi tahu kenapa suaminya sibuk sejak kemarin tanpa memperbolehkan dirinya untuk melihat apa yang sedang dia lakukan.


"Dad, kau baik-baik saja, bukan?" tanya William.


"Tentu saja aku baik-baik. Kemari, kenapa kalian berdiri saja di sana?"


"Apa yang sedang kau mainkan ini, Dad? Kenapa semua jadi serba pink seperti ini?"


"Mainkan apa? Aku sedang menyiapkan kamar untuk cucuku!"


"Tapi kita belum mengetahui jenis kelaminnya jadi untuk apa semua ini?"


"Oleh sebab itu kau harus bekerja sama denganku!" ucap ayahnya.


"Bekerja sama bagaimana?" William sungguh tidak mengerti. Dia bahkan melihat ke arah ibunya yang mengangkat bahu begitu tahu putranya ingin bertanya.


Meski tidak mengerti, mereka mengikuti apa yang Abraham katakan. Marien diminta untuk duduk di sebuah kursi yang berwarna pink yang sudah disediakan untuk dirinya.


"Sudah, apa lagi yang Daddy inginkan?" tanya William.


"Sekarang giliran kita dan pilih antara satu!" perintah ayahnya seraya melemparkan sesuatu padanya.


"Apa maksudnya?" William sungguh tidak mengerti namun dia tetap mengikuti apa yang ayahnya perintahkan. Tanpa rasa curiga William mengeluarkan benda yang diberikan oleh ayahnya. Kedua mata William melotot melihat dua gaun ala princess yang dia keluarkan dan kedua gaun itu berwarna pink.


"Dad, apa maksudnya ini?!" teriaknya.


"Wah, sepertinya kita akan menonton pertunjukkan dua princess gagah!" ucap Silvia. Sekarang dia mengerti dengan apa yang suaminya ingin mainkan.


"Apa? Ini sepertinya menarik, Mom," ucap Marien yang juga mulai mengerti.


"Mom, ini bukan untuk bercanda!" William hampir melemparkan kedua gaun yang dia pegang tapi ayahnya segera menahannya.

__ADS_1


"Awas jika kau berani membuangnya!' ancam ayahnya.


"Apa yang ingin Daddy mainkan?" tanya William.


"Aku ingin memiliki cucu perempuan!"


"Apa hubungannya, Dad?" sungguh dia tidak mengerti.


"Aku mendengar jika kita melakukan hal ini maka istrimu akan hamil anak perempuan!"


"Benar sekali!" Silvia memanfaatkan keadaan. Ini kesempatan untuk mengerjai suami dan putranya.


"Mom, jangan ikutan!" cegah William.


"Mommy juga pernah mendengar. Jika kau tiba-tiba berdandan dan memakai gaun-gaun maka dipastikan anakmu adalah perempuan!" ucap ibunya asal.


"Kau dengar, ayo ikut Daddy!" Abraham mulai menarik tangan putranya.


"Mitos konyol dari mana itu, Mom? Dad, aku tidak mau!" teriak William namun dia sudah ditarik pergi bahkan Silvia mengikuti mereka karena dia ingin membantu.


"Ini pancingan, pancingan. kau paham, bukan?" ucap ayahnya.


"Aku tidak percaya dengan yang seperti ini!" teriak William tapi dia sudah ditarik pergi.


Marien menunggu dengan tidak sabar, tak menyangka dia akan melihat hal yang menarik itu padahal dia tidak pernah memikirkannya. Kali ini yang iseng bukan menantu tapi justru dari ayah mertua yang sangat menginginkan cucu perempuan.


Teriakan William terdengar karena dia dipaksa untuk menggunakan gaun princess dan didandani oleh ibunya. Ayahnya berjaga karena William tidak boleh menolak apa yang dia inginkan. Silvia sangat senang. Tidak menduga akan melakukan hal itu, sekarang dia akan mendukung suaminya yang menginginkan cucu perempuan.


Gelak tawa Silvia terdengar, Marien jadi semakin tidak sabar melihat penampilan suaminya. William jadi menyesal datang hari ini, dia bahkan bersembunyi di belakang ibunya karena malu dengan penampilannya namun sang calon kakek yang sangat menginginkan cucu perempuan lagi-lagi menariknya keluar.


Marien terkejut tapi setelah itu, dia tertawa terbahak melihat penampilan suaminya dalam balutan gaun princess yang berwarna pink. William benar-benar berubah menjadi princess gagah. Abraham tidak jadi mengenakannya karena dia pikir cukup putranya saja karena dialah ayah dari bayi yang dikandung oleh Marien.


"Kau sangat keren!" puji Marien.


"Aku sungguh tidak senang mendengarnya!" rasanya malu luar biasa tapi dia tidak bisa menolak permintaan ayahnya.


"Sekarang menari!" printah ayahnya.


"What?" William benar-benar terkejut.

__ADS_1


"Lakukan!" televisi dinyalakan di mana menunjukkan video seorang princes sedang menari dan semua itu sudah disiapkan oleh ayahnya demi mendapatkan cucu perempuan.


Kepala William terasa mau pecah tapi lagi-lagi dia tidak membantah. Jika dia tahu akan seperti ini jadinya, dia akan berpura-pura masih lumpuh sehingga dia tidak bisa menari dan dia tidak perlu bertingkah konyol gara-gara permintaan ayahnya. Tawa Marien dan ibunya terdengar saat dia mulai menari. Sudahlah, untuk mereka akan dia lakukan. Anggap sebagai menebus kesalahan yang telah dia lakukan pada kedua orangtuanya karena sudah menyembunyikan keadaan kakinya dan pernikahannya.


__ADS_2