Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Hari Yang Buruk


__ADS_3

Hari yang buruk untuk Marien akan segera dimulai dimulai. Tanpa ada angin dan hujan tiba-tiba saja sekelompok orang masuk ke dalam perusahaan Marien dengan menggunakan topeng lalu memorak-porandakan perusahaannya malam itu. Semua  alat yang ada dirusak, beberapa barang-barang yang berharga dicuri lalu pintu-pintu dirusak.


Kamera cctv pun dirusak, kaca pintu tak luput dan semuanya dipecahkan. Setelah melakukan hal itu, para penjahat itu pergi. Tidak ada yang tahu akan hal itu tapi ketika pagi sudah tiba, security yang datang pertama kali terkejut dengan apa yang dia lihat.


Security itu panik melihat kerusakan yang ada, Marien adalah orang pertama yang harus dia beri tahu. Para karyawan yang datang untuk bekerja pun terkejut melihat kerusakan yang terjadi. Marien yang belum tahu dihubungi, ponsel yang berbunyi membangunkan dirinya dari tidur nyamannya.


"Ada apa?" tanya Marien yang masih mengantuk.


"Mam, ada yang menghancurkan kantor."


"Apa?" Marien terkejut dan bangun secara cepat, "Apa yang kau katakan?" tanyanya.


"Sepertinya ada perampok. Semua hancur dan beberapa barang berharga hilang!" lapor security yang mendapati keadaan kacau untuk pertama kali.


"Oh, tidak. Aku akan segera pergi ke sana!" Marien mulai panik. Perampok?  Bagaimana bisa? Marien berlari menuju kamar mandi. William sampai terkejut karena pintu lemari yang dibuka dengan tidak sabar. William sangat heran melihat Marien begitu terburu-buru memakai bajunya bahkan Marien menggumamkan sesuatu.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau begitu terburu-buru?" tanya William yang sudah duduk di ranjang dan bersandar di kepala ranjang.


"Aku harus segera pergi, Will. Maaf tidak bisa menyiapkan sarapan dan membantumu mandi tapi aku akan melakukannya nanti jika aku bisa pulang cepat."


"Apa telah terjadi sesuatu yang serius?"


"Aku lihat keadaan dulu nanti aku beri kabar. Maaf, aku terburu-buru!"


"Tidak apa-apa, berhati-hatilah!"


Marien  segera pergi dengan perasaan tak tenang. Perampok mana yang menghancurkan kantornya? Padahal kantor miliknya berada di kawasan yang cukup ramai tapi musibah memang tidak ada yang tahu. Marien pergi menggunakan taksi, dia terkejut dan tertegun di depan kantor yang sudah hancur saat dia sudah tiba.

__ADS_1


"A-Apa yang terjadi?" hanya itu yang bisa dia ucapkan ketika dia melihat kantornya sudah porak-poranda. Tas yang terselempang di bahu hampir terjatuh, Marien melangkah dengan kaki lemas menghampiri para karyawannya yang sedang sibuk membersihkan serpihan kaca yang ada di dalam.


"Apa yang terjadi? Siapa yang melakukannya?" tanya Marien.


"Tidak tahu, Mam. Semua cctv rusak dan beberapa barang penting hilang."


"Tidak mungkin!" Marien masih terlihat linglung seperti tidak mempercayai apa yang sedang terjadi di tempat itu. Marien melihat semua ruangan, perangkat komputer hilang bahkan ruangannya tak luput. Berkas-Berkas berhamburan di atas lantai. Kedua mata Marien berkaca-kaca tapi dia berusaha menahannya.


"Bereskan semua ini dan laporkan hal ini pada polisi!" perintah Marien pada karyawannya yang sedang sibuk.


"Sudah kami lakukan, Mam!"


Marien berusaha menahan diri dan membantu para karyawannya dengan perasaan sedih karena ada yang berbuat jahat seperti itu padanya. Tidak ada bukti apa pun yang tertinggal, para polisi yang datang memeriksa pun beranggapan jika kejadian itu murni perampokan. Cctv yang berada di jalan memang menangkap sekelompok orang yang menggunakan topeng memasuki kantor miliknya bahkan para perampok itu terlihat membawa barang-barang berharga yang diambil.


Marien hanya bisa diam, tidak bisa melakukan apa pun. Dia sangat ingin menangis, sungguh kejadian yang tidak terduga. Marien menahan perasaan sesak yang dia rasakan, dia sungguh tidak menduga kejadian buruk itu harus dia alami. Sekarang, dia mengalami banyak kerugian karena kantornya harus diperbaiki dan dia pun harus membeli beberapa komputer yang hilang agar para karyawannya bisa kembali bekerja namun kesialannya tidak sampai di sana karena kejutan lain sudah menantinya.


Marien memilih pulang ke rumah dan meninggalkan keadaan kantor yang kacau. Dia akan kembali lagi nanti setelah perasaannya tenang. Dia memiliki pulang karena dia membutuhkan William oleh sebab itu begitu tiba, Marien memeluk suaminya dan menumpahkan semua perasaan sesak yang sedari tadi dia tahan setelah melihat kantornya yang porak-poranda.


"Ada apa? Kenapa kau menangis seperti ini?" William sangat heran karena ini kali pertama Marien menangis selama dia mengenalnya. Marien menggeleng, dia ingin seperti itu sebentar. Dia membutuhkan waktu sejenak.


"Katakan padaku apa yang terjadi tapi jika kau belum mau mengatakannya, menangislah agar perasaanmu menjadi lebih baik!" Wiliam mengusap kepalanya dengan perlahan, dia akan menunggu Marien selesai menangis karena dia tahu Marien pasti akan mengatakan padanya apa yang terjadi.


Marien menangis cukup lama dalam pelukan suaminya, dia jadi cengeng namun dia tetaplah wanita lemah yang membutuhkan tempat untuk menumpahkan apa yang dia rasakan saat ini. Entah itu murni perampokan atau ada yang memerintahkan, dia tidak tahu.


"Maaf, aku jadi cengeng!" Marien mengusap air matanya, sungguh hari yang sangat buruk.


"Sudah lebih baik?" William masih mengusap kepalanya untuk menghibur.

__ADS_1


"Yeah, Marien berusaha tersenyum meski sulit.


"Sekarang katakan padaku apa yang terjadi?"


"Kantorku," Marien menghentikan ucapannya sebentar, "Ada yang mengacak kantorku dan mengambil beberapa komputer serta beberapa barang berharga lainnya!"


"Apa?" perkataan Marien cukup mengejutkan.


"Aku tidak tahu kenapa ada yang begitu tega, Will. Semuanya rusak bahkan para perampok itu memorak-porandakan semuanya. Semua berkas berhamburan bahkan ruanganku tidak luput."


"Perampok? Apa kau yakin perampok yang melakukan hal itu?"


"Entahlah, aku tidak tahu tapi polisi yang memeriksa berkata jika itu ulah perampok. Bagaimana ini, Will? Semua kerusakan begitu parah dan aku tidak memiliki cukup uang untuk mengembalikan kantorku seperti semula. Aku juga tidak bisa memecat siapa pun karena para karyawanku tidak bersalah."


"Tidak perlu mengkhawatirkan hal ini, aku akan membantumu."


"Aku tidak mau merepotkan dirimu, Will. Aku akan mencari jalan keluar lainnya."


"Marien," William mengusap wajah Marien dan menghapus air matanya yang tersisa. Marien pasti sangat terpukul dengan kejadian ini dan dia yakin semua yang terjadi bukan ulah perampok yang secara kebetulan mengincar kantor Marien.


"Jangan menanggung beban sendirian. Bukankah sudah ada aku? Kita suami istri jadi kita akan menanggungnya bersama. Meski waktu itu kita hanya mengucapkan janji pernikahan kita begitu cepat, tapi aku tidak lupa jika kita harus bersama dalam suka mau pun duka. Kau selalu mendukung aku, kau pun menjadi penyemangat bagiku. Jadi kau pun harus mengandalkan aku apalagi dalam situasi seperti ini. Jadi, kau mau mengandalkan aku, bukan?"


"Maaf, padahal kau sudah mempercayakannya padaku tapi aku justru mengecewakan!" Marien kembali memeluk suaminya dengan erat.


"Semua bukan salahmu jadi jangan menyalahkan diri seperti ini!"


Marien menjawab dengan anggukan dan dia kembali menangis terisak. William jadi tidak tega bahkan dia jadi kesal karena Marien harus mengalami kejadian yang tidak menyenangkan itu. Tunggu saja, dia akan mencari tahu siapa pelaku yang sebenarnya karena dia yakin kejadian itu bukanlah ulah perampok. Saat dia sudah tahu, dia akan membalas apa yang telah orang itu lakukan sampai membuat Marien menangis seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2