
William menyelesaikan terapinya lebih cepat dari pada sebelumnya karena dia ingin pulang lebih cepat dari pada Marien. Steve pun sudah menjalankan perintah. Seorang pelayan didatangkan untuk membersihkan rumah yang tidak teralu besar dan seorang koki didatangkan untuk membuat makan malam.
Saat Marien pulang semuanya pasti sudah siap. Dia akan mendapatkan kejutan tak terduga dari suaminya tapi sayang, rencana mereka akan terganggu karena seseorang yang masih berusaha memperbaiki hubungan. Tentu saja Fiona. Setelah pergi dari menemui William waktu itu, ada yang mengikuti dan setelah dia kembali dari bertemu dengan ibu William, ada yang mencegatnya pula.
Tentu saja orang-orang yang mencegatnya adalah anak buah Alexa. Mereka membawa Fiona lalu menghubungkan Fiona dengan Alexa. Mereka memang tidak bertatap muka namun Alexa memberitahu di mana William tinggal dan memberikan rencana gila pada Fiona jika dia menginginkan William kembali.
Seperti yang Alexa duga, suami adiknya bukanlah orang sembarangan. Dia sungguh tidak menduga jika Marien bisa menikah dengan penguasa di kota itu. Rasa iri yang dia rasakan membuatnya memanfaatkan Fiona yang ternyata mantan kekasih William setelah dia selidiki.
Ternyata dia mendapatkan cara untuk memisahkan adiknya dari William. Si mantan pacar bisa dia manfaatkan oleh sebab itulah, ide gila diberikan pada Fiona dan alamat tinggal William dan Marien diberikan. Fiona yang mendapatkan informasi serta ide gila pun merasa mendapatkan angin segar. Tentu dia tidak menyia-nyiakan kesempatan dan dia akan beraksi malam itu juga.
Untuk menyambut kepulangan istrinya, William sudah mandi sendiri dan terlihat rapi. Dia sudah tidak sabar apalagi makanan sudah siap di atas meja. William melihat jam yang melingkar di lengan, waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Marien pasti sudah akan kembali jadi dia meminta pelayan dan koki yang memasak untuk pergi agar tidak mengganggu mereka. Steve pun diminta untuk pergi, ini adalah malam mereka berdua jadi dia tidak mau ada yang mengganggu.
William menunggu dengan tidak sabar, setengah jam lagi oleh sebab itu ketika suara pintu berbunyi, William segera membuka pintu. Dia kira itu adalah istrinya namun ekspresi wajahnya berubah setelah melihat Fiona sudah berdiri di depan pintu.
"Apa yang kau lakukan di sini? Dari mana kau tahu rumah ini?" tanya William dengan nada tidak senang.
"Itu tidak penting, William!" Fiona menerobos masuk ke dalam tanpa mempedulikan apa pun.
"Keluar dari rumah ini, William. Jangan sampai aku memerintahkan seseorang melemparmu keluar!" teriak Wiliam marah.
__ADS_1
"Dengan keadaanmu itu, aku bertaruh kau tidak akan bisa melakukan apa pun!"
"Apa maksud dari perkataanmu itu? Sekarang pergi, jangan membuat istriku melihatmu karena aku tidak mau dia salah paham!"
"Aku tidak peduli, William. Kau memaksa aku sehingga aku harus melakukan perbuatan nekat seperti ini!"
"Sungguh konyol, siapa yang memaksa dirimu? Kau yang berkhianat dan mencampakkan aku dengan perkataan pedasmu itu tapi sekarang kau bertingkah seolah-olah kau adalah korban yang sudah aku selingkuhi dan aku campakkan. Jangan memainkan trik murahan jadi pergi karena aku tidak akan memaafkan dirimu dan jangan harap aku masih mau dengan wanita licik seperti dirimu!"
"Apa pun yang mau kau katakan William, aku tidak peduli karena aku mau memperbaiki hubungan kita. Aku memang salah, aku begitu bodoh membela Ridz dan memanfaatkan dirimu, seharusnya aku tidak melakukan hal itu oleh sebab itu maafkan aku. Aku akan menebus kesalahanku jadi maafkan aku dan kembalilah padaku. Tinggalkan istrimu, kita mulai lagi dari awal!" pinta Fiona, dia yakin William pasti mau jika dia bujuk baik-baik tapi jika tidak, maka dia terpaksa menggunakan cara curang seperti yang wanita asing itu katakan padanya.
"Kau sungguh lucu, Fiona. Meninggalkan istriku demi sampah seperti dirimu?" William tersenyum sinis, beraninya Fiona meminta hal demikian? Apa dia mengira dia begitu berharga?
"Siapa dirimu meminta aku meninggalkan dirinya? Bahkan ibuku tidak meminta aku melakukannya meski aku belum mempertemukan mereka tapi beraninya kau meminta hal ini padaku? Memangnya siapa kau? Jangan menganggap dirimu terlalu tinggi apalagi kau bukan siapa-siapa lagi bagiku! Apa kau pantas disandingkan dengan istriku? Kau lebih pantas menjadi kotoran yang menempel di sepatunya jadi jangan menganggap dirimu terlalu tinggi, kau sudah bukan siapa-siapa. Lagi pula aku tahu kenapa kau ingin kembali denganku, kau pasti sudah diambang batas karena perusahaan kekasihmu itu sudah akan hancur tidak lama lagi!"
"Apa? Dari mana kau tahu?" Fiona menatapnya tajam. William benar-benar sulit dia ajak bicara. Apa dia benar-benar harus menggunakan cara licik itu? Jika memang terpaksa maka dia akan melakukannya.
"Bagaimana menurutmu. Fiona? Sudah aku katakan aku akan mengambil apa yang aku berikan padamu jadi sudah pasti aku akan melakukannya!"
Kedua tangan Fiona mengepal, sudah dia duga semua yang terjadi ulah William tapi dia tidak peduli dengan perusahaan Ridz lagi karena yang paling penting dia bisa kembali pada William. Kali ini dia tidak akan mengambil langkah yang salah dan menyia-nyiakan pria itu karena dibandingkan dengan apa pun, William lebih baik dan bisa memberikan kehidupan yang dia inginkan.
__ADS_1
"Aku tidak peduli dengannya lagi, William. Yang aku inginkan adalah dirimu. Aku ingin hubungan kita kembali lagi seperti semula jadi maafkan aku," Fiona masih memohon hal yang sama.
"Sudah aku katakan, percakapan kita hanya berputar di tempat. Aku pun sudah mengatakan padamu, sampah yang sudah aku buang tidak akan aku ambil kembali lagi jadi pergilah!" William membawa kursi rodanya pergi. Dia harap Fiona segera pergi agar Marien tidak melihat mereka sehingga membuat Marien salah paham.
"Aku tidak akan pergi!" teriak Fiona seraya mengejar William serta mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Pergi, aku akan memerintahkan Steve untuk melemparmu!" jika dia tahu Fiona akan mengacau, dia tidak akan memerintahkan Steve untuk pergi tapi dari mana Fiona bisa tahu rumah itu? Pasti ada campur tangan dari pihak ketiga, sungguh sial. William hendak mengambil ponsel karena dia hendak menghubungi Steve namun pada saat itu, Fiona menyemprotkan sesuatu ke wajahnya. Tidak saja satu kali tapi beberapa kali.
"Apa yang kau berikan padamu?!" teriak Willam marah.
"Kau yang memaksa aku untuk melakukan hal ini, William. Seandainya kau mau kembali padaku dan menceraikan istrimu itu, maka aku tidak akan melakukan perbuatan kotor ini!" ucap Fiona. Dia pun kembali menyemprotkan cairan aneh yang ada di dalam botol beberapa kali di sekitar mereka.
"Keluar dari rumah ini sekarang juga!" teriak William murka. Mendadak dia merasa tubuhnya menjadi aneh. Cairan yang disemprotkan oleh Fiona membuat dia merasa aneh, aroma dari cairan itu pasti mengandung sesuatu.
"Tidak!" Fiona melangkah menuju pintu dan menguncinya. Sudah sejauh ini, rencananya untuk mendapatkan William tidak boleh gagal.
William mulai terpengaruh apalagi Fiona menyemprotkan cairan itu tepat di wajahnya. Dia mulai terlihat aneh dengan napas memburu. William menatap Fiona dengan tajam, ja*ang sialan itu sungguh berani melakukan perbuatan licik itu padanya, tidak akan pernah dia maafkan jika dia bisa lepas dari situasi di mana dia tidak berdaya sama sekali.
"Kau harus menjadi milikku lagi, William!" Fiona melepaskan pakaiannya satu persatu, dia tidak boleh gagal. William mengumpat dan memaki namun Fiona tidak peduli. Fiona melucuti pakaiannya yang tersisa. Kini dia sudah polos tanpa sehelai benang pun, rencananya pasti berhasil karena hanya ada mereka berdua saja di rumah itu.
__ADS_1