
Kabar mengejutkan dan tidak menyenangkan di dapat oleh Steve pagi itu. Kabar itu adalah kabar tentang Zack Erson yang ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa oleh seorang pegawai hotel. Kabar itu tentu saja cukup menghebohkan karena Zack dikabarkan mati akibat diracun tapi pelakunya tidak diketahui karena malam itu Zack Erson bertemu dengan banyak orang untuk membahas bisnis.
Kabar itu akan Steve sampaikan pada William agar bosnya tahu meski pelakunya tidak diketahui. Tidak ada salahnya mereka waspada apalagi segala kemungkinan bisa terjadi pada kematian Zack yang secara tiba-tiba padahal dia pria yang memiliki kekuasaan.
Tidak ada satu orang anak buahnya pun yang tahu siapa pelakunya padahal mereka selalu bersama dengan Zack. Keterangan yang mereka berikan mengatakan jika Zack menjamu beberapa rekan bisnis di hotel dan setelah itu, dia ditemukan tidak bernyawa beberapa jam setelah pertemuan itu selesai dan dia ditemukan di dalam kamarnya.
Para pihak berwajib mencurigai makanan yang Zack konsumsi saat terakhir kali oleh sebab itu, pelaku yang telah membunuh Zack belum diketahui dan masih sedang dicari oleh pihak berwajib.
William sedang berbicara dengan Steve untuk mendengarkan kabar yang diberikan oleh Steve. Sungguh kabar yang sangat mengejutkan, William bahkan terlihat serius dan memikirkan hal itu baik-baik. Kenapa Zack bisa terbunuh? Apa semuanya ada hubungannya dengan Alexa ataukah semua yang terjadi akibat musuhnya. Tidak dipungkiri karena Zack memang memiliki pesaing bisnis yang membenci dirinya tapi pelaku yang melakukan hal itu patut dia curigai.
"Terus cari tahu pelakunya, Steve. Aku juga ingin kau selalu memantau putri pertama Gavin Douglas karena kematian Zack bisa saja campur tangan darinya."
"Baik, Sir. Apa kau akan pergi melayat? Jika kau mau pergi maka aku akan mengosongkan jadwalmu nanti siang," ucap Steve.
"Tidak, tapi kau bisa mewakilkan aku dan cari tahu serinci-rincinya apa penyebab kematiannya dan siapa saja yang dia temui!"
"Baik, Sir!" sesungguhnya Steve juga penasaran kenapa pria seperti Zack begitu mudah terbunuh.
Setelah berbicara dengan Steve, William memikirkan hal ini dengan serius. Yang dia khawatirkan justru keadaan istrinya. Pelaku yang membunuh Zack bisa saja dua pengusaha yang menghentikan kerja sama dengan Marien waktu itu dan akibat sakit hati pada Zack, mereka menyingkirkan Zack dan bisa saja yang lainnya.
"Will, waktunya makan," ucap Marien yang sedang menghampirinya. Marien sangat heran karena William terlihat sedang memikirkan sesuatu dengan serius.
"Ada apa? Apa semuanya baik-baik saja?"
"Kemarilah, Sayang. Ada yang hendak aku bicarakan denganmu!" pinta William.
"Ada apa?" Marien melangkah mendekati suaminya yang terlihat serius sehingga membuatnya jadi serius.
"Apa yang terjadi?" tanya Marien dengan rasa ingin tahu memenuhi hati.
__ADS_1
"Dengar, Sayang. Zack terbunuh di hotel!"
"What?" kedua mata Marien melotot mendengar perkataan William.
"Bagaimana mungkin?" rasanya tidak ingin mempercayai apa yang William katakan tapi dia yakin William tidak sedang bercanda.
"Entah apa yang terjadi, aku sedang meminta Steve untuk memeriksanya dan aku ingin kau berhati-hati!"
"Apa ini perbuatan Alexa, Will? Apa Alexa yang membunuhnya akibat sakit hati karena sudah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Zack?"
"Sepemikiran tapi bisa juga pelaku lain. Ingat dengan dua pengusaha yang menghentikan kerja samanya denganmu waktu itu?"
"Yeah, apa ada hubungannya dengan mereka?"
"Bisa saja mereka berdua pelakunya karena sakit hati. Mungkin saja mereka marah atas ucapan Zack atau perbuatan Zack yang tidak bisa mereka maafkan jadi aku khawatir denganmu karena siapa pun pelakunya, antara Alexa dan kedua pengusaha itu, kau bisa saja dijadikan sebagai target berikutnya. Jika orang lain maka aku tidak perlu sekhawatir ini jadi aku ingin kau berhati-hati!"
"Baiklah, aku pasti akan berhati-hati."
"Tentu, sekarang sebaiknya kita keluar makan karena keluargamu sudah menunggu kita!" ucap Marien. Mereka masih berada di rumah kedua orangtua William karena mereka menginap.
"Kemarilah, aku ingin memelukmu sebentar dan ingin menciummu!" pinta William seraya menarik tangan Marien hingga mereka semakin dekat. Kedua tangannya sudah berada di pinggang Marien, mereka berdua saling tatap dan tersenyum.
"Ingat pesanku, jangan percaya pada orang yang tidak kau kenal dan jangan pulang ke rumah ayahmu jika tidak diperlukan. Kalau ayahmu mendesak, kita pulang bersama. Aku harap tidak ada rahasia yang kau sembunyikan dariku!"
"Aku tahu Will," Marien memeluk suaminya dengan perasaan cemas, "Kapan kita bisa hidup dengan tenang? Rasanya kita tenang sebentar lalu ada lagi gangguan yang harus kita hadapi. Semua gara-gara ayahku, aku rasa dia benar-benar tidak mengatakan kebenarannya pada Alexa. Sepertinya aku harus berbicara dengannya akan masalah ini!"
"Apa kau perlu melakukannya?" tanya William.
"Aku rasa harus, sebelum terlambat. Setidaknya aku harus memberikan peringatan pada ayahku agar dia tidak menyalahkan kita jika terjadi sesuatu pada putri kesayangannya. Jika kematian Zack memang ulah Alexa, aku rasa keluarga Zack tidak mungkin tinggal diam dan aku, tidak mau terseret kasus ini begitu juga denganmu. Aku tidak mau kau terlibat permasalahan yang tidak ada hubungannya sama sekali denganmu jadi kita perlu memberi peringatan untuk ayahku yang pilih kasih itu!"
__ADS_1
"Baiklah, yang kau katakan sangat benar. Tapi bicarakan melalui telepon, jangan pulang ke rumah ayahmu karena bisa saja ada kakakmu!"
"Baiklah, aku juga sedang banyak pekerjaan dan tidak punya waktu untuk pulang!"
"Jangan terlalu lelah, nanti bibit kita tidak jadi!" William sudah mengangkat dagu Marien.
"Kita akan buat lagi!" ucap Marien.
"Sepertinya kau yang mulai ganas dari pada aku!"
"Ssst!" Marien melirik ke arah pintu seperti takut ada yang mendengar.
"I love you!" ucap Willian sebelum memberikan kecupan lembut di bibir Marien. Sebuah ciuman dan ungkapan cinta untuk hubungan mereka akan dia berikan setiap hari agar mereka semakin mesra. Meski mereka belum bisa bernapas lega karena masih ada yang membenci dan iri tapi begitulah kehidupan, tidak ada yang mulus namun mereka pasti bisa melewatinya asalkan bersama. Entah siapa yang telah membunuh Zack yang pasti mereka harus waspada.
"Ayo kita keluar, yang lain sudah menunggu!" ajak Marien.
"Ayo," William merangkul pinggang Marien dan mengajaknya keluar dari kamar. Mereka pergi ke dapur di mana keluarga mereka sudah menunggu mereka untuk sarapan bersama.
"Apa hari ini kau sibuk, Marien?" tanya Silvia.
"Tidak, Mom. Tapi ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Baiklah, nanti siang kita pergi untuk mencari gaun pengantin untukmu dan membeli beberapa barang. Aku juga ingin mengajakmu pergi melihat tempat yang akan kita gunakan untuk acara pesta pernikahan kalian."
"Baiklah, aku akan pulang nanti siang."
"Jangan tinggalkan Marien seorang diri, Mom," pinta William.
"Tidak perlu khawatir, Mommy akan menjaganya dengan baik!" ucap ibunya.
__ADS_1
Marien tersenyum, mendadak dia berdoa dalam hati. Dia berharap tidak bertemu dengan Alexa agar Alexa tidak tahu apa yang sedang dia lakukan sehingga perasaan iri yang ada di hati Alexa tidak semakin bertambah tapi sayangnya, perasaan iri itu semakin bertumbuh subur karena dia sudah mendengar mahar yang ayahnya dapatkan dan siapa suami Marien yang mulai dibanggakan oleh ayahnya.