
Yang paling senang mendapatkan kabar itu sudah pasti Abraham. Itu adalah kabar yang sudah sangat lama dia nantikan karena dia memang sudah lama menginginkan seorang cucu. Untuk memastikannya, Abraham dan Silvia bergegas pergi. Mereka bahkan memerintahkan William memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Marien dan melarang putranya untuk tidak memberikan obat pada Marien karena Marien tidak boleh mengkonsumsi obat sembarangan yang bisa membahayakan calon bayinya.
Marien kembali berbaring setelah melakukan tes karena kepalanya yang masih sakit. Kehamilan istrinya benar-benar membuat William sangat senang oleh sebab itu dia tidak pergi ke mana pun karena dia ingin menjaga Marien sampai kedua orangtuanya datang bersama dengan dokter yang dia panggil. Tangan William pun tak henti mengusap perut Marien dan dia semakin merasa tidak sabar ingin mengusap perut istrinya yang sudah membesar nanti.
"Aku baik-baik saja, Will. Tidak perlu terlalu khawatir seperti itu!" Ucap Marien karena William terlalu mengkhawatirkan keadaannya. William pun mulai cerewet dengan dengan larangan-laranga yang mulai dia sebutkan satu persatu.
"Aku tidak mau meninggalkanmu, Sayang. Aku takut kau terjatuh saat kau hendak ke kamar mandi. Mulai sekarang aku akan menemanimu dan kau tidak boleh makan sembarangan tanpa aku cicipi terlebih dahulu!"
"Apa? Bagaimana dengan makanan yang ada di rumah?"
"Aku yang akan membuatkannya untukmu dan jika pelayan yang membuatnya maka aku akan mencicipinya. Tidak boleh makan yang terlalu pedas, kau pun tidak boleh makan makanan istan. Jangan pergi ke kamar mandi jika tidak ada perlu. Kau mengerti?"
"Baiklah, tapi aku tidak ingin kau terlalu khawatir. Lagi pula aku sedang berbaring saat ini, tidak akan pergi ke mana pun!"
"Aku ingin menemanimu," kini William berbaring di sisi Marien dan memeluknya.
"Bagaimana jika ayah dan ibumu tiba-tiba datang lalu melihat kita, Will?"
"Tidak perlu khawatir, mereka tidak akan langsung masuk ke dalam kamar. Sekarang katakan padaku, apa kepalamu masih sakit?"
"Hm!" Marien menjawab dengan sebuah anggukan. Kedua matanya terpejam, Marien sedang menikmati kecupan lembut yang diberikan oleh William di dahinya. Kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini, tidak boleh mereka lewati begitu saja meski mereka masih harus menunggu kehadiran bayi mereka beberapa bulan lagi.
"Kau tahu, aku benar-benar bahagia saat ini, Marien."
"Apa hari ini saja kau merasa bahagia?" tanya Marien.
"Tentu saja tidak. Sejak aku mengenalmu, sejak aku memiliki dirimu aku sudah mendapatkan kebahagiaannya meski aku belum menyadarinya waktu itu. Terima kasih sudah tiba-tiba hadir dalam hidupku dan terima kasih sudah membeli aku saat itu!" ucap William.
"Apa? Aku tidak membelimu!"
__ADS_1
"Kau membeli aku, Sayang. Sayu juta dolar. Entah apa yang terjadi jika kita tidak bertemu saat itu, entah kita bisa bersama atau tidak jika kau tidak membeli aku tapi itu adalah kejadian yang sangat aku syukuri dalam hidupku karena kejadian itu aku benar-benar mendapatkan wanita hebat seperti dirimu."
"Aku tidak hebat, Will. Kau selalu memuji aku seperti itu."
"Kau memang pantas dipuji. Pernahkah kau memikirkan hal ini? Jika kita tidak bertemu waktu itu, kira-kira kita akan bertemu dengan cara seperti apa?" tanya William.
"Menurutmu, kita akan bertemu dengan cara apa?" tanya Marien pula.
"Jika tidak di restoran kemungkinan di jalan," ucap William.
"Apa kita akan langsung jatuh cinta saat bertemu?" Marien jadi membayangkan mereka bertemu dengan cara yang berbeda.
"Tentu saja. Dengan cara apa pun kita bertemu, aku pasti akan jatuh cinta pada wanita seperti dirimu."
"Tolong jangan terlalu memuji, aku takut kau terlalu menyanjung aku dan begitu aku membuat sebuah kesalahan, kau justru kecewa karena sebuah kesalahan yang aku lakukan."
"Aku tahu itu! Cukup dirimu saja, aku tidak butuh yang lainnya!"
"Aku senang mendengarnya, Sayang. Sekarang tidurlah, mungkin Mommy dan daddy sebentar lagi akan datang!"
Marien kembali mengangguk dan tersenyum, William mengusap kepalanya dengan perlahan dan kembali mencium dahinya. Kali ini dia ingin Marien beristirahat agar keadaannya segera membaik. Marien tidak tidur sama sekali karena dia sudah terlalu banyak tidur tapi dia ingin berada di dalam pelukan suaminya yang hangat.
Abraham dan Silvia yang sudah datang pun bergegas masuk ke dalam rumah. Silvia membawa begitu banyak vitamin juga makanan untuk Marien. Bagaimanapun ini adalah cucu pertamanya jadi dia ingin Marien menjaga calon bayinya dengan baik. Dokter yang William panggil pun datang bersamaan dengan mereka.
"Will!" ibunya memanggil karena William tidak ada di luar. William yang sedari tadi tidak mau keluar pun mau tidak mau meninggalkan istrinya sebentar.
"Kalian sudah datang?" William keluar dari kamar dan menghampiri kedua orangtuanya.
"Mana istrimu? Mommy ingin melihat keadaan istrimu," tanya ibunya.
__ADS_1
"Di kamar, Mom. Marien hanya bisa berbaring karena dia berkata kepalanya sangat sakit."
"Baiklah, sekarang periksa keadaan menantuku dan berikan obat sakit kepala untuknya!" pinta Silvia pada dokter yang sedari tadi menunggu untuk melakukan tugasnya.
"Untuk sementara kau tidak perlu pergi ke kantor begitu juga istrimu. Marien harus beristirahat di rumah sampai kandungannya cukup besar dan kau harus menemani dan menjaganya. Biarkan saja Steve yang mengurus pekerjaan dan jangan biarkan istrimu terlalu lelah!" ucap ayahnya.
"Aku tahu, Dad. Kau mendadak menjadi cerewet!" ucap William padahal dia pun jadi cerewet.
"Tentu saja, cucu pertamaku sudah hadir jadi kau harus menjaganya dengan baik!" ucap ayahnya.
"Segera perintahkan Samuel untuk menikah maka kau akan memiliki banyak cucu dengan cepat!"
"Adikmu sepertinya sulit!" ucap ibunya.
Mereka masuk ke kamar di mana Marien sedang bersandar dengan nyaman. Marien tersenyum ketika ibu mertuanya menghampiri bersama yang lainnya.
"Bagaimana dengan keadaanmu, Marien?" tanya Silvia.
"Tidak begitu baik, Mom."
"Baiklah, biarkan dokter memeriksa keadaanmu."
Marien mengangguk, sang dokter yang datang pun memeriksa keadaan Marien dengan peralatan yang dia bawa. Sakit kepala yang dia rasakan sudah pasti karena terlalu banyak pekerjaan dan juga keadaannya yang sedang hamil oleh sebab itu, dia harus banyak beristirahat dan tidak boleh banyak berpikir. Beberapa obat untuk Marien pun diberikan, dia memang tidak mual hanya saja tidak begitu berselera makan dan itu hal yang sangat wajar.
Abraham yang sudah sangat ingin memiliki cucu tentu saja sangat senang, dia hampir menari karena kabar gembira itu. Sekarang rasa kesalnya karena putranya menikah secara diam-diam sudah tidak dia rasakan lagi karena dari kejadian itu, dia akan segera memiliki cucu sebentar lagi.
Kabar yang sangat mengembirakan untuk mereka. Marien sangat bahagia namun satu hal yang dia pikirkan saat ini. Apakah dia harus mengatakan kabar gembira itu pada ayahnya? Dia saja belum tahu harus memaafkan ayahnya atau tidak tapi jujur saja, dia tidak suka membenci orang terlalu lama apalagi orang itu adalah ayahnya sendiri. Semoga saja William bisa memberikan solusi untuknya apalagi dia tidak tega pada ayahnya.
Nanti akan dia diskusikan dengan William setelah ibu dan ayah mertuanya pergi. Sekarang, mereka terlihat sangat bahagia dan dia tidak mau mengacaukan kebahagiaan mereka. Bayinya hadir di saat yang tepat karena bayinya hadir setelah perselisihannya dengan Alexa sudah selesai. Dengan begini tidak akan ada yang mencelakai bayinya karena tidak ada yang membencinya lagi.
__ADS_1