Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Tidak Mudah Diusir


__ADS_3

Setelah mendapatkan ijin, Steve lebih leluasa mendatangi Alexa tapi yang sangat ingin Alexa temui adalah adiknya. Ayahnya datang dua hari sekali tapi Marien justru tidak datang lagi karena dia tidak diijinkan oleh mertuanya untuk pergi ke penjara. Tidak sebelum kandungannya sukup besar dan kuat.


Meski Alexa sudah mendengar keadaan adiknya semenjak persidangan tapi dia sangat merindukan adiknya. Tidak bertemu dengan Marien cukup membuatnya sangat ingin tahu bagaimana dengan keadaan Marien saat ini. Apakah dia baik-baik saja, ataukah tidak. Sesungguhnya yang dia cemaskan hanya satu hal, dia takut adiknya membenci dirinya oleh sebab itu adiknya tidak mau datang lagi, Meski dia tahu Merien tidak mungkin membenci dirinya tapi dia takut adiknya tiba-tiba berubah pikiran.


Rasa takut itu justru menghantui dirinya dan membuatnya tidak tenang. Saat ayahnya datang nanti, dia akan meminta bantuan ayahnya. Dia harap ayahnya cepat datang karena dia sudah tidak sabar oleh sebab itu, begitu sipir penjara berkata ada yang datang menjenguknya, Alexa senang luar biasa.


Dia sangat berharap yang datang adalah ayahnya atau adiknya tapi ketika melihat Steve, Alexa justru jadi kesal karena pemuda itu masih saja tidak menyerah dengan niatnya yang jelas-jelas sudah dia tolak. Apa Steve tidak pernah lelah melakukan hal itu? Entah bagaimana caranya mengusir Steve tapi dia sangat ingin berkata kasar agar Steve menyerah supaya pria itu tidak menghabiskan waktunya.


"Kenapa lagi-lagi kau? Apa kau tidak bisa berhenti untuk datang?" tanya Alexa dengan sinis.


"Tentu saja tidak. Aku sudah mendapatkan ijin untuk menjengukmu jadi aku akan datang lagi dan lagi. Ini makanan untukmu. Aku juga membelikannya untuk rekan satu sel yang kau sebutkan waktu itu."


"Apa kau bilang? Apa kau sudah gila?" pekik Alexa tidak percaya.


"Apa ada yang salah?" tanya Steve tidak mengerti.


"Tentu saja, oh astaga. Perkataanku waktu itu jangan kau anggap serius. Aku hanya bercanda saja tapi kenapa kau benar-benar membawanya? Apa kau tidak tahu jika tidak boleh membawa makanan ke dalam sel?"


"Oh, yeah? Apa benar? Aku tidak tahu akan hal ini karena aku pikir kau benar-benar ingin memberikan makanan ini pada sesama rekanmu!"


"Kau benar-benar bodoh, sekarang bagaimana dengan semua makanan ini? Kau membuat aku dalam masalah!" ucap Alexa dengan ekspresi tidak senang. Waktu itu dia asal bicara oleh sebab itu dia meminta Steve membeli makanan dengan uangnya sendiri karena dia pikir Steve tidak mungkin melakukannya tapi dia tidak menduga pemuda itu benar-benar melakukannya. Sekarang, bagaimana dengan semua makanan itu?


"Tidak perlu dipikirkan, aku bisa memberikannya pada orang lain. Bagaimana jika makan bersama saja? Sisanya akan aku berikan pada sipir yang ada di luar sana!"

__ADS_1


"Jangan membuat lelucon, kenapa kau tidak berhenti dan pergi saja?"


"Maaf, aku bukan orang yang pantang menyerah jadi aku tidak akan berhenti bahkan tidak akan ada yang bisa menghentikan aku!" ucap Steve yang memang tidak akan berhenti.


"Aku kehabisan kata-kata. Terserah kau saja, aku benar-benar tidak bisa menghadapi orang seperti dirimu!" terserah pemuda itu, dia benar-benar tidak bisa menghadapinya.


"Ya sudah, ayo makan. Apa ada yang kau inginkan? Akan aku berikan setelah ini."


"Aku ingin kau menghubungi adikku, apa kau bisa melakukannya untukku?" sesungguhnya dia bisa menunggu ayahnya datang tapi dia sudah tidak sabar.


"Tentu asalkan kau tidak menolak kedatanganku lagi setelah ini!"


Alexa menghela napas, ada permintaan sudah pasti ada harga yang harus dia bayar tapi tidak jadi soal karena dia memang tidak bisa menolak meski dia bisa melakukannya. Dia ingin melewati masa tahanannya selama enam tahun dengan menyenangkan agar dia tidak merasa masa enam tahun itu terlalu lama.


"Baiklah, setelah ini kau harus makan denganku!" ucap Steve sambil mengeluarkan ponsel untuk menghubungi bosnya.


William yang kebetulan ada di rumah karena hari ini memang akhir pekan tentu saja segera menjawab panggilan dari Steve oleh sebab itu, suara Marien sudah terdengar sehingga senyuman Alexa sudah menghiasi wajahnya apalagi Steve menghubungi bosnya menggunakan video call sehingga dia bisa melihat wajah adiknya.


"Kakak, apa kabarmu?" tanya Marien.


"Aku baik-baik saja, Marien. Dari pada kabarku, aku lebih mengkhawatirkan kabarmu. Apa kau baik-baik saja? Aku dengar keadaanmu memburuk saat itu, kau dan bayimu baik-baik saja, bukan?" saat mendengar adiknya masuk rumah sakit tentu saja yang dia khawatirkan adalah keadaan Marien dan bayinya.


"Maaf jika telah membuatmu khawatir, kakak. Aku baik-baik saja begitu juga dengan keadaan bayiku," jawab Marien sambil mengusap perutnya.

__ADS_1


"Aku lega mendengarnya, Marien. Aku benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu apalagi kau tidak datang lagi menjenguk aku."


"Maaf, Kakak. Aku tidak diijinkan pergi oleh ayah dan ibu mertuaku karena aku tidak boleh terlalu lelah agar keadaanku dan bayiku baik-baik saja. Mungkin aku akan pergi menjengukmu beberapa bulan lagi," ucap Marien dengan harapan kakaknya tidak marah.


"Tidak perlu memikirkan aku. Cukup jaga kesehatanmu baik-baik, itu sudah cukup untukku karena keadaanmu lebih penting. Lagi pula sudah ada pria yang pantang menyerah ini yang selalu datang membawa makanan untukku jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan aku!" ucap Alexa. Tatapan matanya sudah tertuju pada Steve saat mengatakan hal itu.


Marien terkekeh, Steve benar-benar tidak menyerah mengejar kakaknya tapi itu bagus. Dia yakin kakaknya pasti akan luluh juga dengan kegigihan Steve.


"Steve pria yang baik, Kakak jangan mengusirnya."


"Mengusirnya? Aku rasa aku sudah melakukannya tapi dia bukan pria yang mudah diusir!" kini Marien tertawa mendengar perkataan kakaknya. Bagus, dia puji tekad Steve yang pantang menyerah.


Steve cuek saja meski Alexa menatapnya dengan tajam. Dia tahu Alexa pasti tidak menyukainya tapi seiring berjalannya waktu, dia yakin Alexa mau menerima dirinya. Bukannya dia tidak bisa mencari wanita yang lebih baik. dia bisa melakukannya bahkan dia bisa mendapatkan yang jauh lebih baik tapi entah kenapa dia justru tidak berminat.


Semua orang memang memiliki salah karena tidak ada yang sempurna oleh sebab itu, Alexa pantas mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki diri bahkan dia tidaklah sebaik yang terlihat karena dia juga orang yang memiliki banyak salah juga tidak sempurna. Dari pada menghakimi karena sebuah kesalahan yang dilakukan, bukankah lebih baik memperbaiki diri dan saling menerima kekurangan masing-masing?


"Baiklah, aku akan menunggu kedatanganmu tapi jangan memaksakan diri karena pria ini pasti akan datang lagi dan lagi!" ucap Alexa sebelum mengakhiri percakapannya dengan adiknya.


"Jaga dirimu baik-baik, kak. Aku akan meminta Steve untuk mengantar makanan kesukaanmu nanti."


"Tidak perlu, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Kita bicara lagi karena waktuku tidak banyak!" waktu jenguk hanya setengah jam saja, oleh sebab itu dia tidak bisa berbicara terlalu lama dengan adiknya. Setelah mengetahui keadaan Marien, Alexa mengembalikan ponsel Steve.


Steve sudah sibuk mengeluarkan makanan untuk Alexa, dia pun mengeluarkan makanan untuknya. Alexa menghela napas, entah apa yang akan terjadi selanjutnya sebaiknya dia jalani saja. Lagi pula waktu enam tahun tidaklah cepat.  Steve pasti akan lelah pada akhirnya dan berhenti dengan sendirinya. Sekarang biarkan saja dulu, karena dia percaya Steve pasti akan berhenti dan bosan nantinya.

__ADS_1


__ADS_2