Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Pesta Menyambut Cucu Pertama


__ADS_3

Pesta meriah untuk menyambut kehadiran Emely dalam keluarga Archiles akan segera diadakan sebentar lagi. Abraham benar-benar bahagia dan akan membagikan rasa bahagianya pada semua orang karena dia benar-benar mendapatkan cucu perempuan seperti yang dia harapkan.


Michael Smith dan keluarganya sudah datang dari California untuk mengikuti momen bahagia itu. Pesta untuk menyambut kedatangan Emely akan diadakan tak kalah meriahnya dengan pesta pernikahan William dan Marien. Anak perempuan yang pertama kali hadir dalam keluarga Archiles pasti akab disambut bak ratu.


Marien sudah pulang ke rumah setelah beberapa hari menjalani perawatan. Dia tidak perlu repot karena ada yang mengurus bayinya. Pengasuh bayi terbaik dipekerjakan untuk menjaga Emely agar Marien dapat beristirahat dengan total untuk penyembuhannya. Merien dan William bahkan tidak terlibat sama sekali dengan pesta itu karena semuanya diurus oleh Silvia dab Abraham.


Emely menjadi pusat perhatian, setelah digendong oleh Michael Smith, Xiau Yu pun tak ketinggalan untuk menggendongnya. Mereka tampak senang saat menggendong bayi manis nan lucu itu.


"Mom, sekarang giliranku!" pinta Samantha yang juga ingin menggendong Emely.


"Sabar, aku belum puas. Makanya, segera minta Edward dan Jacob untuk segera menikah agar kau pun segera menikah!" ucap Xiau Yu.


"Bagaimana mereka mau menikah, Mom. Yang satu kaku dan dingin, tidak ada satu pun wanita yang berani mendekatinya dan yang satu terlalu santai dengan kelakuan yang membuat sakit kepala. Bagaimana mereka bisa punya pacar dan menikah? Kakak ipar pasti sakit kepala dengan kelakuan kedua putranya!" ucap Silvia.


"Ck, sepertinya perkataan yang harus aku ucapkan sudah kau wakilkan!" ucap Samantha.


"Bukankah sebaiknya kakak ipar meminta Edward untuk segera menikah? Usianya sudah cukup untuk membangun sebuah rumah tangga."


"Nanti aku akan membicarakan hal ini dengan Jhon, dia pasti punya solusi untuk mereka berdua!"


"Segera, kakak ipar. Agar kau bisa menggendong cucu seperti aku!"


"Tentu, akan aku bicarakan dengan Jhon nanti tapi berikan Emely padaku, Mom. Aku ingin menggendongnya!"


"Sabarlah, aku masih ingin menggendongnya!" Xiau Yu masih belum puas karena Emely adalah cicit pertamanya.


"Mengantrilah dengan benar, Kakak Ipar. Aku akan melihat keadaan Marien sebentar."


Silvia keluar dari kamar bayi dan melangkah menuju kamar putranya. Dia lupa jika dia harus membantu Marien memakai pakaian karena Marien belum bisa banyak bergerak. Sebuah gaun sudah berada di atas ranjang saat Silvia masuk ke dalam kamar, suara air pun terdengar dari kamar mandi.


"Marien, apa kau belum selesai mandi?" tanya Silvia sambil berteriak.


"Belum, sebentar lagi!" yang menjawab justru Willian karena dia sedang membantu istrinya untuk mandi. Marien masih kesulitan untuk berjalan oleh sebab itu dia takut istrinya akan terjatuh.


"Ternyata ada kau, apa perlu Mommy bantu?" tanya Silvia.


"Tidak perlu, Mom. Aku yang akan membantu Marien."


"Baiklah jika begitu, Mommy akan keluar jika begitu!"

__ADS_1


"Mommy tidak perlu khawatir, aku yang akan membantu Marien!" ucap William lagi .


"Baiklah, Mommy akan keluar sekarang!" karena sudah ada yang membantu Marien jadi dia memilih untuk keluar.


William membantu istrinya dan membersihkan tubuhnya dengan perlahan. Dulu Marien yang membantunya mandi tapi sekarang, dia yang memandikan istrinya..


"Apa masih sakit?" tanya William.


"Tentu, ini baru satu minggu. Jangan katakan kau sudah menginginkan jatah!" ucap Marien.


"Apa? Aku tidak segila itu. Aku hanya ingin tahu saja apakah masih sakit atau tidak!"


"Aku hanya bercanda, Will. Memang masih sakit, sebab itu aku butuh waktu agar bisa segera pulih."


"Tidak apa-apa, jangan memaksa dirimu. Aku ingin kau fokus menyembuhkan dirimu dan aku ingin kau beristirahat dengan baik sampai keadaanmu benar-benar pulih."


"Aku tahu, Will. Tapi bolehkan aku pergi ke penjara? Aku ingin menemui kakakku dan mempertemukannya dengan Emely. Dia sudah sangat ingin bertemu dengan Emely jadi aku sudah boleh pergi, bukan?"


"Tidak, Sayang. Tidak boleh!" tolak William.


"Kenapa? Aku hanya pergi sebentar saja. Aku ingin mempertemukan Emely dengannya saja karena dia sangat penasaran dan ingin melihat bayi kita. Jadi boleh, bukan? Hanya sebentar saja, please," pinta Marien memohon.


"Baiklah, tapi minggu depan jika keadaanmu sudah lebih pulih dari pada ini. Aku akan membiarkan kau pergi menjenguknya bersama Emely tapi tidak boleh lama!"


"Tentu tapi pergi denganku. Lagi pula adan sesuatu yang hendak aku sampaikan pada kakakmu dan Steve."


"Apa yang hendak kau sampaikan padanya?" tanya Marien penasaran.


"Ini rahasia dan kau akan tahu nanti. Steve adalah asisten yang sudah lama bekerja denganku. Dia adalah asisten yang sangat setia dan aku belum memberikan hadiah di hari pernikahannya jadi aku pikir, aku harus memberikannya hadiah untuk mereka berdua. Aku rasa mereka akan senang nanti, jadi bagaimana jika kita jadikan kejutan untuk kakakmu dan Steve nanti."


"Wah, aku sudah tidak sabar untuk tahu kejutan yang hendak kau berikan padanya. Mereka pasti senang mendapatkan hadiah pernikahan yang tak terduga darimu."


"Sudah pasti, Steve adalah orang kepercayaanku jadi dia pantas mendapatkannya!"


"Aku pun sudah tidak sabar untuk tahu hadiah apa yang akan kau berikan!"


"Bersabarlah, Sayang. Tunggu satu minggu kemudian barulah kau akan tahu, Sayang."


"Baiklah, baik. Aku akan menahan rasa penasaranku ini selama satu minggu dan semoga aku tidak dihantui rasa penasaran sehingga membuat aku tidak tenang!"

__ADS_1


"Kau pasti bisa, jadi tahanlah. Hanya satu minggu saja, tidak terlalu lama."


"Baiklah, baik. Sepertinya kau sudah harus membawa aku keluar, aku sudah kedinginan!"


"Seperti keinginanmu, Sayang!" William membawa Marien keluar di dalam gendongannya setelah mengeringkan tubuh Marien. William pun membantu Marien mengeringkan rambut istrinya lalu memakaikan pakaian.


"Apa pestanya akan lama?" tanya Marien ketika William membantu Marien memakai pakaian dalamnya yang bagian atas.


"Sepertinya akan lama tapi tidak perlu khawatir, jika kau lelah akan ada ruangan istirahat untukmu!"


"Baiklah, jangan membuat yang lain lama menunggu jadi segera bantu aku memakai gaun itu!" pinta Marien.


"Tentu, sepertinya kau tidak sabar seperti Mommy dan Daddy!"


"Aku memang sudah tidak sabar agar minggu depan cepat datang!" ucap Marien.


William terkekeh, dia jadi ingin melihat istrinya dalam keadaan tidak sabar selama satu minggu. Mendadak dia jadi ingin melihat Marien merengek untuk meminta sesuatu padanya karena selama ini Marien tidak pernah merengek untuk meminta sesuatu padanya. William jadi membayangkannya dan mengharapkannya.


"Sepertinya dua minggu lagi barulah aku akan memberitahu Steve dan kakakmu akan hadiah yang akan mereka dapatkan!" ucap William sengaja.


"Apa? Kenapa jadi begitu lama?"


"Aku berubah pikiran!"


"Ayolah, satu minggu sudah lama jadi jangan semakin lama dan jangan membuat aku mati penasaran!"


"Tidak akan, kau tidak akan mati penasaran jadi tenang saja!"


"Semoga aku bisa tahan!" ucap Marien.


"Aku harap kau tidak tahan!" William menaikkan resleting gaun yang di pakai oleh Marien lalu sedikit merapikan gaunnya yang sedikit kusut.


"Sepertinya ada yang kau rencanakan!" Marien berputar sedikit hingga berhadapan dengan suaminya, "Katakan! Kau sengaja ingin membuat aku penasaran, bukan?"


"Tidak, aku hanya berencana saja!" kedua tangan sudah melingkar di pinggang Marien, mereka berdua saling tatap dengan tatapan penuh cinta.


"Bukankah


 itu sama saja?"

__ADS_1


"Beda, Sayang," William menarik Marien mendekat, "I love you, Honey," kecupan lembut mendarat di bibir istrinya. Mereka berpelukan untuk sesaat sebelum mereka sibuk karena pesta sebentar lagi akan dimulai. William kembali membantu istrinya sampai akhirnya mereka dipanggil oleh Silvia.


Pesta akan diadakan di sebuah hotel mewah, mereka pun bergegas pergi tentu dengan sang bintangnya, Emely Archiles. Pesta yang diadakan dengan sangat meriah untuk menyambut kehadiran Emely, menantu serta cicit pertama di keluarga mereka.


__ADS_2