Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Terpancing


__ADS_3

Silvia terkejut saat putranya pulang ke rumah tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Dia kira putranya tidak akan pulang dalam waktu dekat karena sedang sibuk meski dia tidak tahu apa yang sedang William sibukkan selama ini dan tidak tahu apa yang dia lakukan. Begitu kembali, William menyapa mereka lalu pergi mandi. Dia dan suaminya sampai dibuat heran.


Mereka sedang membuat makan malam bersama. Memang itu yang selalu mereka lakukan untuk mengisi waktu dan kepulangan William yang secara tiba-tiba, sepertinya mereka harus membuat menu tambahan.


"William tinggal di mana selama ini, apa kau tahu?" tanya Silvia pada suaminya. Karena William belum membeli rumah dengan alasan belum mau, tentu dia jadi ingin tahu di mana putranya tinggal.


"Mana aku tahu. Kau tanyakan padanya, jangan tanya padaku. Mungkin saja dia sudah membeli rumah!" ucap Abraham.


"Model cel*na dalam, kau tidak bisa diandalkan!"


"Hei, apa maksudmu? Lagi pula kita sudah tua, jadi jangan memanggil aku seperti itu!"


"Aku lebih suka memanggilmu dengan sebutan itu, jangan banyak protes!"


"Ck, jadi apa maksudmu aku tidak bisa diandalkan?"


"Tentu saja, cari tahu apa yang putramu lakukan. Jangan sampai aku yang melakukannya!" ucap Silvia.


"Tidak perlu melakukan hal itu, putramu bukan anak kecil yang harus kau mata-matai lagi!"


"Ayolah, mungkin dia sudah punya pacar dan menyembunyikannya dari kita."


"Rasa ingin tahumu terlalu besar. Sangat bagus jika dia memiliki pacar baru."


"Tua bangka, apa kau tidak kau mau segera memiliki menantu dan cucu?" Silvia menarik telinga suaminya karena dia terlalu banyak membantah.


"Hei, lepaskan telingaku!" Abraham memegangi tangan istrinya yang masih menarik telinganya.


"Hm, bisakah kalian bermesraan setelah aku pergi?" ucap William yang sudah berada di dapur.


"Segera cari pengganti Fiona agar kau bisa bermesraan!" Silvia melepaskan telinga suaminya lalu mendekati putranya.


"Bagaimana dengan harimu, Will?" tanyanya sambil mendorong William menuju meja makan.


"Baik, aku bahkan tidak pernah memiliki hari yang begitu baik setelah perpisahanku dengan Fiona."


"Oh, yeah? Apa telah terjadi hal yang bagus?" tanya ibunya curiga. Biasanya seseorang yang patah hati akan sedih dan murung tapi putranya tidak sama sekali.


"Tentu saja, Mom. Setelah dikhianati oleh Fiona, aku menemukan sesuatu yang sangat berharga!"

__ADS_1


"Apa itu? Apa kau mendapatkan bisnis bagus atau kau sudah membalas pengkhianatan Fiona?" mendadak rasa penasaran muncul di hati.


"Bukan itu, tapi anggap saja demikian!"


"Baiklah, sekarang katakan pada Mommy di mana kau tinggal selama ini? Apa kau membeli rumah?"


"Tidak, aku tinggal dengan seseorang."


"Siapa?" ibunya jadi semakin penasaran.


"Mommy banyak bertanya, aku menyewa sebuah rumah kecil untuk aku tinggali!" dusta William.


"Kau tidak mengatakan apa pun, tentu saja Mommy ingin tahu. Dengan keadaanmu ini, Mommy khawatir kau sendirian di luar sana."


"Tidak perlu mengkhawatirkan aku, Mom. Steve selalu membantu aku. Aku hanya ingin memperbaiki diriku saja agar aku tidak tertipu lagi untuk yang kedua kalinya."


"Baiklah, sekarang katakan kenapa kau tiba-tiba pulang?"


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Daddy."


"Aku tidak mau berbicara denganmu!" tolak ayahnya.


"Tentu saja sampai kau menikah dan memberikan aku cucu!"


"Dad, cucumu tidak akan jadi dalam satu malam. Lagi pula kakiku sedang seperti ini jadi tunggu kedua kakiku sembuh baru aku membuatkannya untukmu!"


"Dari perkataanmu ini, sepertinya sudah ada wanita spesial. Tebakan Mommy benar, bukan?"


"Tidak ada!" dusta William, "Ikut aku, Dad. Ada yang ingin aku bicarakan!" pinta William seraya mendorong kursi rodanya pergi.


"Ck, mengganggu kesenangan orangtua saja!" gerutu Abraham yang mau tidak mau mengikuti putranya keluar.


Silvia menggeleng namun dia semakin penasaran dengan keadaan putranya yang terlihat sangat menikmati kehidupannya di luar sana juga perkataan-perkataannya yang mencurigakan. Semua orang pasti akan terpuruk saat patah hati dan dikhianati tapi keadaan William sangat berbeda. Dia tidak terlihat murung atau apa pun. Tidak mungkin William tidak merasa terpukul atau apa pun setelah dikhianati oleh Fiona apalagi mereka sudah menjalin hubungan begitu lama.


Rasa penasarannya semakin tinggi apalagi dia curiga William memang menyembunyikan sesuatu darinya. Jangan katakan ada seseorang yang memberi William semangat. Mungkin saja seorang sahabat atau mungkin saja William sedang dekat dengan wanita yang lain. Rasa penasaran semakin menjadi. Haruskah dia mengikuti William secara diam-diam?


Silvia kembali melanjutkan membuat makanan sambil memikirkan banyak hal. William mungkin bisa menipu ayahnya tapi tidak dengan dirinya. Sepertinya dia memang harus mencari tahu, awas saja jika ada rahasia lagi yang disembunyikan oleh William.


"Mom, aku mau pergi!" William kembali setelah berbicara dengan ayahnya.

__ADS_1


"Kenapa begitu cepat? Mommy belum selesai membuat makanan."


"Aku akan makan di luar, Mom. Maaf tidak bisa makan bersama, aku akan pulang lagi lain kali untuk makan dengan Mommy dan Daddy!" Marien pasti sudah menunggunya untuk makan malam jadi dia tidak bisa lama.


"Baiklah, jangan terlalu lama baru pulang jika tidak Mommy akan mencarimu!" ancam ibunya.


"Aku tahu, aku akan pulang nanti seminggu sekali!"


"Baiklah, bawa pacar barumu!" Silvia mengatakan perkataan itu untuk memancing.


"Pasti!" William pun terpancing.


"A.. ha! Ternyata kau sudah memiliki pacar baru!" ucap ibunya. William mengumpat dalam hati, sial. Dia jadi terpancing oleh perkataan ibunya.


"Mom, aku hanya terpancing perkataanmu saja!" William mulai berkilah.


"Tidak perlu menipu. Siapa wanita itu? Kenapa tidak kau ajak pulang?"


"Tidak ada, sudah aku katakan. Aku pergi dulu!" sebaiknya dia pergi karena dia tahu ibunya tidak akan berhenti.


"Kau tidak bisa menipu Mommy, William. Awas saja kau!" teriak ibunya karena William sudah pergi.


William memilih pulang karena dia tahu Marien pasti sedang menunggunya. Gara-Gara perkataan ibunya dia jadi terpancing. Sebaiknya dia berhati-hati mulai sekarang agar tidak terpancing lagi.


Marien yang sudah menunggu sedari tadi sangat cemas. Jujur saja dia tidak bisa berkonsentrasi sedari tadi karena dia sangat mengkhawatirkan William yang belum kembali apalagi William pergi dengan Zack, perasaan khawatirnya bisa membuatnya gila apalagi William tidak memberi kabar.


Marien mondar mandir di dalam rumah, tak hentinya dia melihat jendela lalu kembali melangkah sana sini. Dia sudah seperti alat kebersihan otomatis yang bergerak sana sini lalu berhenti. Kenapa dia begitu mengkhawatirkan William? Semoga saja si tua bangka itu tidak melakukan apa pun pada William.


Dia menunggu cukup lama dan begitu terdengar suara pintu diketuk dari luar, Marien sudah berlari menuju pintu dan membukanya. Senyuman menghiasi wajahnya, pria yang dia tunggu akhirnya pulang juga. Perasaannya menjadi lega karena William baik-baik saja karena dia khawatir Zack berbuat jahat pada William.


"Akhirnya kau kembali juga." Marien sudah berada di belakang William untuk mendorongnya masuk.


"Maaf membuatmu khawatir, Honey."


"Pria itu tidak mendorongmu jatuh, bukan? Dia tidak berbuat jahat padamu, bukan?"


"Tidak, mana mungkin dia berani!"


"Jika dia berani, maka Alexa akan aku buat babak belur sebagai balasannya!" ucap Marien seraya menutup pintu.

__ADS_1


William terkekeh, istri yang dia sembunyikan begitu mengkhawatirkan dirinya dan menyambutnya dengan senyuman. Untuk sekarang dia belum bisa mengatakan kebenarannya pada ayah dan ibunya tapi dia harap ibunya tidak mengetahui pernikahan rahasianya sebelum mereka memiliki perasaan satu sama lain agar Marien tidak canggung atau merasa bersalah pada kedua orangtuanya. Besok, dia harap piknik yang mereka lakukan meninggalkan sebuah kesan untuk mereka berdua.


__ADS_2