Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Memutuskan Untuk Berdamai


__ADS_3

William menjadi posesif semenjak Marien hamil. Seperti yang ayah mertuanya katakan, Marien tidak boleh pergi ke kantor terlebih dahulu selama keadaannya masih hamil muda. Jika memang ada pekerjaan mendesak barulah Marien boleh pergi. Itu pun tidak boleh lama dan harus bersama dengan William jika tidak, tidak boleh sama sekali.


Selama dia tidak boleh melakukan banyak kegiatan itulah membuat Marien selalu di rumah. Dia tidak tahu jika ayahnya datang setiap hari untuk bertemu dengannya dan meminta maaf padanya. Meski tidak ketemu, Gavin tetap berusaha mencari tahu di mana Marien dan William tinggal karena dia sangat ingin bertemu dengan Marien dan meminta maaf lagi dengannya.


Gavin yang datang ke kantor William untuk mencari keberadaan William tentu saja tidak bisa ditolak untuk Steve. Bagaimanapun dia tidak bisa bersikap tidak sopan pada ayah mertua bosnya karena apa yang dia lakukan bisa mempengaruhi reputasi bosnya. Jangan sampai orang-orang bergunjing dan berkata jika William Archiles membenci ayah mertuanya padahal tidaklah demikian.


"Tolong katakan padaku di mana Marien dan William tinggal. Aku ingin bertemu dengan putriku!" pinta Gavin pada Steve yang kebetulan hendak pergi untuk melakukan tugas yang diperintahkan oleh bosnya.


"Aku tidak bisa mengatakan hal itu secara tiba-tiba tanpa persetujuan bosku jadi aku tidak bisa membantu!" ucap Steve yang tidak bisa mengambil tindakan sembarangan.


"Tolonglah, aku tahu kau pasti tahu di mana mereka tinggal. Tolong katakan padaku di mana rumah mereka!" Gavin masih meminta hal yang sama karena dia tahu Steve pasti bisa membantu.


"Maaf, aku tidak bisa melakukannya. Aku akan bertanya pada bosku. Aku rasa jika Nona Bersedia, dia pasti akan menghubungimu jadi jangan memaksa aku!" pinta Steve.


"Baiklah, tolong sampaikan pada Marien jika aku sangat merindukan dirinya dan ingin meminta maaf pada dirinya."


"Akan aku sampaikan padanya nanti jadi kembalilah!" Steve melangkah pergi sebelum Gavin melontarkan permohonannya lagi. Dia harus bergegas karena William memintanya membeli sesuatu yang diinginkan oleh Marien.


Meski tidak bisa bertemu dengan putrinya lagi hari ini tapi dia sangat berharap Steve menyampaikan pesannya pada Marien dan sangat berharap Marien mau bertemu dan memaafkan dirinya. Sudah beberapa saat berlalu, dia semakin tenggelam di dalam kesedihan karena kedua putrinya tidak ada. Alexa masih saja marah dan belum juga mau bertemu dengannya.


Hari-Harinya semakin terasa hampa karena dia hanya seorang diri saja. Biasanya akan ada kedua putrinya di rumah meski akibat kejadian waktu itu, Marien sudah jarang pulang namun masih ada Alexa tapi kini, tidak ada siapa pun lagi. Rasa penyesalan semakin dia rasakan. Seharusnya dia bahagia di hari tuanya bersama dengan kedua putrinya tapi dia justru harus sendirian seperti itu.


Gavin pergi setelah Steve pergi, dia akan pergi ke penjara lagi untuk berusaha agar dia bisa bertemu dengan Alexa dan berbicara dengannya. Dia harap membuahkan hasil tapi seperti yang sudah-sudah, Alexa belum mau bertemu dengannya. Lagi-Lagi Gavin harus menelan pil pahit karena dia tidak bisa menemui putrinya.


Steve yang sudah datang setelah membeli makanan hanya bertemu dengan William saja karena Marien sedang beristirahat di dalam kamar. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar karena William tidak mengijinkannya banyak berjalan.


"Sir, Gavin Douglas datang ke kantor mencarimu," ucap Steve saat memberikan makanan yang bosnya inginkan.

__ADS_1


"Apa yang dia katakan padamu?"


"Dia ingin bertemu dengan Nona Marien dan berbicara dengannya. Tuan Douglas juga ingin tahu rumah ini agar dia bisa datang untuk bertemu dengannya. Bagaimana, Sir? Apa kau mau mengijinkan Tuan Douglas bertemu dengan Nona Marien?"


"Aku akan membicarakan hal ini pada Marien. Dia mau atau tidak, itu adalah keputusannya. Jika dia datang lagi, katakan padanya untuk tidak mencari di kantor agar tidak mencolok!" ucap William.


"Baik, Sir. Aku sudah memintanya untuk pergi dan menunggu kabar."


"Baiklah!" William berjalan pergi karena dia ingin memberikannya makanan pada Marien.


Steve pun pamit pergi, karena tugasnya sudah selesai. William masuk ke dalam kamar sambil membawa makanan. Marien sedang membaca buku dan mempelajari banyak hal apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh ibu hamil.


"Apa Steve mendapatkan apa yang aku inginkan?" tanya Marien seraya meletakkan buku yang sedang dia baca.


"Yeah, tapi makanan ini sangat asam. Apa kau sanggup memakannya?"


"Aku akan menyuapimu," William duduk di sisi Marien, sup yang panas ditiup dengan perlahan barulah diberikan pada Marien.


"Bagaimana rasanya, Sayang. Apa kau menyukainya?"


"Yes, ternyata enak."


"Tapi sepertinya sup ini cukup pedas," William bahkan menciumnya lalu menjauhkan dari hidungnya karena dia tidak suka dengan aroma sup itu.


"Kau yakin ingin menghabiskan ini?" dia seolah tidak yakin dengan istrinya.


"Tentu saja, aku ingin lagi nanti karena ini sangat enak."

__ADS_1


"Baiklah, selera makanmu jadi berubah," William kembali menyuapi istrinya makan. Marien tersenyum, meski suaminya jadi cerewet dan banyak aturan tapi dia tidak keberatan karena perhatian William untuk kebaikannya dan bayi mereka.


"Steve berkata ayahmu datang ke kantorku untuk mencari kita," dia harus mengatakan hal ini pada istrinya agar istrinya tahu.


"Benarkah?" Marien terkejut karena ayahnya sampai mencari keberadaan mereka di kantor William.


"Ayahku tidak mengacau di sana, bukan?" tanyanya.


"Tidak, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal ini. Dia datang hanya untukĀ  mencari keberadaanmu karena dia ingin bertemu denganmu. Bagaimana, kau ingin bertemu dengannya atau tidak?"


Marien menunduk, tatapan matanya justru tertuju pada perutnya, Meski belum terlihat tapi dia harus memikirkan permasalahan itu dengan baik karena dia tahu ayahnya tidak akan berhenti dan dia pun tidak bisa membiarkan hubungan mereka terus seperti itu untuk waktu yang cukup lama.


"Kenapa kau diam saja, apa kau tidak mau pergi menemui ayahmu?"


"Bukan begitu, tentu saja aku mau. Perseteruanku dengan ayahku sudah cukup lama, aku pun tidak suka memendam kebencian begitu lama apalagi pada ayahku sendiri. Seburuk-buruknya perlakuan ayahku, dia tetaplah ayahku. Meski dia mengabaikan aku tapi dia masih bersedia membesarkan aku dan memberikan pendidikan yang terbaik untukku. Dia pun masih memberikan aku kepercayaan di perusahaannya. Jika tidak ada ayahku, aku rasa aku tidak akan bisa seperti ini. Seandainya dia menelantarkan aku, mungkin akan berbeda karena aku benar-benar tidak akan memaafkan dirinya," Marien mengangkat wajah dan menatap suaminya dengan senyuman tipis menghiasi wajahnya.


"Kau tahu aku bukan wanita pendendam, aku lebih suka hidup dengan damai. Semua yang terjadi telah berlalu, Alexa sudah mendapatkan ganjarannya dan menyesal. Ayahku pun sudah menyesal jadi aku pikir sudah saatnya mengakhiri semua ini dan hidup dengan damai. Bagaimanapun kita akan menjadi orangtua sebentar lagi dan mungkin saja kita akan melakukan kesalahan. Jangan sampai akibat ego yang terlalu tinggi, kita justru mendapatkan karma di kemudian hari lalu kita dibenci oleh anak-anak kita akibat sebuah kesalahan yang kita lakukan. Semua orang pasti pernah berbuat salah dan semua orang butuh dimaafkan serta kesempatan kedua. Lagi pula aku harus mengingat kebaikan yang dia berikan padaku setelah ibuku meninggal karena bagaimanapun dia tetap ayah yang bertanggung jawab!"


"Jadi kau sudah mau memaafkan ayahmu?" jujur saja, dia senang dengan pemikiran Marien yang tidak ingin memperpanjang masalah karena memang sudah saatnya mereka bahagia tanpa ada perseteruan dengan siapa pun lagi.


"Sebentar lagi aku akan menjadi ibu jadi aku tidak mau menyimpan kebencian pada siapa pun terlalu lama. Aku ingin menyudahi semuanya lalu berdamai dengan ayahku. Kau tidak keberatan, bukan?"


"Tentu saja tidak, aku senang kau mengambil keputusan yang tepat. Aku tidak melarangmu untuk berdamai dengan ayahmu, kau bisa melakukannya karena sekarang kita sudah harus fokus dengan hidup kita dan rumah tangga kita apalagi kita sudah akan menjadi orangtua."


"Terima kasih, Will. Perasaanku lebih ringan sekarang. Aku akan menghubungi ayahku nanti untuk berdamai dengannya." ucap Marien.


"Baiklah, sekarang habiskan makanannya!" William kembali menyuapi sup yang sedari tadi sudah hampir dingin.

__ADS_1


Merien tersenyum dengan perasaan yang jauh lebih baik. Meski dia belum menghubungi ayahnya tapi perasaannya benar-benar menjadi ringan. Hidup banyak masalah oleh sebab itu, dia tidak mau memupuk masalah agar dia bisa memiliki hidup yang indah bersama dengan keluarga kecilnya.


__ADS_2