Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Seperti Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

William kembali lebih awal setelah mendapat kabar dari Marien jika ibunya ingin mereka pulang untuk makan malam bersama. Marien sudah menunggu saat dia kembali, kursi roda sudah jarang dia gunakan sekarang tapi tetap saja, Marien membantunya melepaskan sepatu yang dia kenakan karena itu sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari.


Meski William mencegah tapi Marien tetap melalukannya. Jasnya bahkan dilepaskan oleh Marine sebelum segelas minuman diberikan untuk suaminya.


"Bagaimana dengan harimu?" tanya Marien.


"Seperti biasa. Bagaimana denganmu, Sayang? Apa rumah kita sudah selesai?"


"Kau bisa melihatnya, Will. Semua sudah selesai!"


"Kamar anak kita?" tanya William sambil memeluk pinggang istrinya.


"Sudah siap, tinggal membuatnya saja!" ucap Marien.


"Sepertinya ini undangan untukku, apa kau mulai ketagihan?" goda William.


"A-Apa? Enak saja!" ucap Marien dengan wajah memerah.


"Sayangnya aku tidak bisa menggendongmu karena aku belum boleh melakukannya. Jika bisa, aku pasti sudah membawamu ke kamar dan menghabiskan waktu denganmu."


"Hei, kita harus pulang untuk makan malam."


"Baiklah. Nyonya. Mau mandi denganku, bukan?"


"Aku sudah mandi, Will. Pergilah mandi karena aku sedang membuat makanan yang akan aku bawa nanti untuk di makan bersama. Jangan sampai kita pergi dengan tangan kosong."


"Kau tidak perlu repot, Marien."


"Tidak apa-apa, aku ingin melakukannya."


"Baiklah, segera selesaikan. Setelah itu kita pergi!" Marien mengangguk dan sebelum William pergi, sebuah kecupan lembut mendarat di dahinya.


Marien kembali menyelesaikan makanan yang dia buat. Tidak banyak, hanya dua jenis saja. Tadinya dia bingung mau membawa apa dan karena tidak ada yang dia lakukan jadi dia memutuskan untuk membuat makanan. William pun mandi dengan cepat, karena dia berniat membantu Marien namun satu hal yang belum dia lakukan yaitu memperkenalkan Marien pada asisten pilihan yang telah Steve dapatkan. Dia tidak boleh melupakan Alexa karena wanita itu benar-benar bisa menjadi ancaman bagi Marien.


Menghilangnya Alexa justru berbahaya karena dia tidak tahu apa yang akan Alexa lakukan pada Marien. Dia sudah memerintahkan Steve untuk mencari keberadaan Alexa tapi kakak Marien itu tidak ditemukan. Zack memang mencarinya untuk meminta keringanan tapi bukan pria itu yang dia takutkan karena yang dia khawatirkan adalah Alexa yang sudah pasti masih menyimpan dendam dengan Marien.


Jangan sampai Marien celaka karena wanita yang menyimpan dendam itu padahal semua sudah jelas jika bukan kesalahan Marien dan dia yakin pula, Gavin tidak mungkin mengatakan kebenarannya pada Alexa. Semua jadi rumit hanya karena sikap egois seorang ayah yang takut dibenci oleh putri kesayangannya. Marien yang sedang membuat makanan, sangat heran karena William memperhatikannya dirinya begitu lama. Marien berpaling, menatap suaminya dengan tatapan heran.

__ADS_1


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang aneh?" tanya Marien.


"Tidak, apa kau sudah menanyakan pada ayahmu apakah dia sudah mengatakan pada Alexa akan kebenarannya?"


"Menurutmu Wiil, apa dia akan mengatakannya? Dia begitu takut dibenci oleh putrinya, apa dia akan mengatakan rahasia yang sudah dia tutupi rapat selama puluhan tahun pada Alexa?"


"Bagaimana dengan kakakmu, apa kau tidak tahu di mana dia berada?"


"Entahlah, aku pernah bertanya pada pelayan di rumah tapi mereka berkata tidak tahu karena Alexa tidak pulang sejak hari itu. Entah di mana dia berada saat ini, aku rasa ayahku pun tidak tahu."


"Baiklah, dengarkan aku!" William menarik Marien mendekat, lalu memeluknya.


"Aku khawatir kakakmu akan mencelakai dirimu, Marien. Jadi aku ingin kau berhati-hati saat di luar rumah. Jangan mempercayai siapa pun yang tidak kau kenal. Kau harus mengabari aku jika kau mau pergi dan ingat; jangan pergi dengan orang asing. Kau harus selalu mengajak asisten yang akan aku kenalkan padamu nanti setelah Steve menjemputnya. Jangan pergi tanpa dirinya karena dia bukan asisten biasa.  Aku harap kau tidak berjauhan darinya karena aku takut terjadi sesuatu padamu."


"Kenapa terdengar begitu serius?" tanya Marien yang mulai terlihat cemas.


"Aku hanya ingin kau berhati-hati, Sayang. Alexa bagaikan musuh dalam selimut yang tak terlihat tapi akan menyerang secara diam-diam jadi aku harap kau berhati-hati padanya."


"Aku pasti berhati-hati, Will. Terima kasih sudah mengingatkan aku tapi ngomong-ngomong, apa yang terjadi dengan mantan pacarmu?"


"Tentu saja, aku sudah selesai. Ayo kita pergi agar ibumu tidak terlalu lama menunggu kita."


"Kau benar," William mengusap wajah Marien dengan perlahan, Mereka berdua saling pandang dengan senyuman menghiasi wajah.


"Sudah mau pergi apa belum?" tanya Marien yang juga memeluknya.


"Sebentar lagi!" William mencium bibir Marien dengam mesra. Dia ingin seperti itu untuk sejenak sebelum mereka pergi. Meski mereka bisa melakukannya lain waktu tapi kebersamaan dan sebuah ciuman memang harus mereka lakukan agar hubungan mereka sebagai suami istri semakin mesra.


Mereka pergi setelah menghabiskan waktu mereka berdua. Seperti yang William katakan, seorang wanita yang akan menjadi asisten Marien untuk menjaganya diperkenalkan. Wanita itu sudah terlatih dan sudah memiliki pengalaman menjadi bodyguard selama dua tahun.


Marien senang-senang saja karena dia tahu suaminya mengkhawatirkan keadaan dirinya apalagi sesungguhnya dia pun khawatir dengan Alexa yang dia tahu jika wanita itu pasti tidak akan berhenti membuat ulah. Jika ayahnya mengatakan kebenarannya pada Alexa mungkin Alexa tidak akan mencelakai dirinya, tapi dia yakin ayahnya tidak mungkin mengatakan kebenarannya pada Alexa sehingga kebencian masih berada di dalam hati Alexa. Bisa saja Alexa sedang menyusun rencana untuk mencelakai dirinya saat ini. Oleh sebab itulah, dia harus waspada.


Begitu tiba, mereka disambut oleh keluarga William. Kakak dan Nenek yang sangat ramah, paman dan bibi yang terlihat sangat baik. Marien di terima dengan cepat oleh mereka dan tidak ada satu pun yang bertanya dari keluarga mana dia berasal. Tidak ada pula yang menyinggung silsilah atau apa pun bahkan satu sen yang dia miliki pun tidak ada yang ditanyakan oleh keluarga William.


Marien merasa dia sangat diterima oleh keluarga William. Sang nenek yang sudah tua pun tidak mendapatkan ide untuk mengerjai Marien padahal dia sudah berpikir dengan keras. Mau bagaimana lagi, Marien dan William sudah menikah dan dia tidak memiliki cara bagus untuk memberikan sambutan yang luar biasa untuk Marien. Karena sikap diamnya itulah yang membuat Silvia dan Samantha sangat heran. Apa benar-benar tidak ada sambutan spesial untuk Marien?


"Sepertinya ada yang salah," ucap Samantha.

__ADS_1


"Benar, kau lihat ibu mertuamu? Aku kira dia akan pura-pura menangis lagi seperti yang dia lakukan dulu untuk menyambutmu," ucap Silvia.


"Wah, jangan katakan Mommy benar-benar tidak ingin memberikan sambutan!"


"Apa kau mau bertaruh denganku, Kakak ipar?" tanya Silvia.


"Bertaruh apa?" tanya Samantha pula.


"Aku menebak Mommy kehabisan ide oleh sebab itu tidak ada drama menangis yang bisa dia tunjukkan!"


"Baiklah, masuk akal!"


Mereka berdua saling pandang dan setelah Xiau Yu sudah selesai berbicara dengan Marien, Silvia dan Samantha segera mendekatinya.


"Mom, kau memiliki kesempatan tapi kenapa kau tidak menyambutnya dengan caramu?" tanya Mereka.


"Ck, William dan Marien sudah menikah jadi untuk apa lagi aku melakukan sambutan!" ucap Xiau Yu.


"Bohong, Mommy pasti kehabisan ide, bukan?" tanya Silvia.


"Sembarangan, aku memiliki segudang ide dan akan aku gunakan untuk calon istri Jacob saja nanti!" jawabnya padahal dia memang tidak memiliki ide.


"Tidak perlu menipu, Mommy pasti tidak memiliki ide!" Silvia masih menggoda ibunya.


"Jangan asal, makanan sudah dingin ayo kita makan!" ajak Xiau Yu.


"Jangan pura-pura, Mom!" ucap Samantha.


"Tunggu saja Jacob sudah memiliki pacar, aku pasti akan memberikan sambutan untuknya!"


"Kau dengar kakak ipar, berhati-hatilah. Jangan sampai calon menantumu lari!"


"Ck, semoga Jacob mendengarnya!" ucap Samantha tapi yang akan dilakukan oleh orang tua itu nanti, tidak ada yang tahu.


Silvia mengajak Marien untuk makan di saat Marien sedang berbincang dengan Abraham dan Jhon. Yang mereka bahas adalah bisnis. Meski Abraham adalah ayah mertuanya dan Jhon adalah kakak dari ibu mertuanya tapi Marien tidak terlihat canggung sama sekali. Sungguh, dia sangat beruntung dapat mengenal orang-orang yang baik dan dapat diterima dengan baik karena selama ini dia tidak diperlakukan dengan baik oleh keluarganya sendiri tapi kini, dia disambut dengan baik oleh keluarga suaminya.


Jika Alexa melihatnya, dia yakin Alexa akan iri dan memang kebencian Alexa semakin menjadi karena dia sudah mendengar dari ayahnya yang mengatakan jika William datang bersama dengan kedua orangtuanya dan memberikan uang yang sangat banyak sebagai mahar untuk  pernikahan Marien dan William. Alexa yang memang iri dengan Marien, semakin iri setelah mendengar keberuntungan luar biasa yang Marien dapatkan.

__ADS_1


__ADS_2