Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Sama-Sama Hancur


__ADS_3

Setelah Fiona mendapatkan balasan dari apa yang dia lakukan, Ridz pun tak luput karena hari ini dia pun akan mendapatkan balasannya dari William. Tanpa tahu apa penyebabnya, saham perusahaannya anjlok dalam dalam satu malam. Para pengusaha yang bekerja sama dengannya menarik diri. Mereka membatalkan semua kerja sama dengann Ridz bahkan beberapa dari mereka mulai meminta Ridz untuk mengembalikan modal yang mereka tanamkan ke perusahaan itu.


Kejadian yang mendadak dan tanpa terduga membuat Ridz sakit kepala. Kantornya mendadak di segel oleh polisi dengan alasan sengketa tanah. Para pegawai mulai berdemo meminta Ridz membayar gaji mereka dan yang paling buruk adalah, semua akun bank miliknya di blokir oleh pihak bank.


Apa yang terjadi? Dia sungguh tidak mengerti karena semalam perusahaannya masih baik-baik saja meski memang sedang dalam masalah tapi kejadian itu, mengejutkan dirinya yang tiba-tiba kehilangan semuanya serta dikejar oleh para karyawan dan para pengusaha yang memintanya untuk mengembalikan uang mereka.


Ridz yang mendapatkan kejutan tidak menyenangkan itu tentu saja sangat shock. Dia pun mencari tahu, namun kebangkrutan yang dia alami akibat beberapa proyek yang tidak jalan dan juga kerugian besar yang dia alami beberapa hari yang lalu serta beberapa hal yang lainnya. Tidak terima dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan, Ridz pergi mencari Fiona tapi yang dia dapatkan justru mengejutkan karena Fiona terbaring di rumah sakit dengan keadaan kedua kaki yang sudah di amputasi begitu juga dengan satu tangannya.


Fiona berteriak dengan keras setelah tahu akan keadaannya. Akibat mobilnya yang meledak, seseorang yang kebetulan lewat menolongnya. Hancur, itulah yang sedang dia alami saat ini. Ridz benar-benar terkejut dengan apa yang dia lihat sehingga sebuah pertanyaan muncul di hati, apa yang terjadi dengan Fiona?


"Pergi kalian semua, pergi!" teriak Fiona sambil melempar barang yang dapat dia raih.


"Apa yang terjadi padamu?" Ridz menghampiri Fiona yang tidak berdaya.


"Semua gara-gara kau, semua gara-gara kau mencampakkan aku!" teriak Fiona.


"Apa maksudmu gara-gara aku? Aku mencampakkan dirimu, bukan membuatmu menjadi cacat seperti ini!" ucap Ridz tidak terima karena dia disalahkan.


"Aku dirampok, Ridz. Aku dirampok!" ucap Fiona dengan air mata berderai. Satu kesialan menghampiri lalu kesialan lainnya datang. Rasanya tidak berhenti bahkan dia tidak punya apa-apa lagi.


Ridz jatuh terduduk di kursi yang ada di dekat ranjang. Fiona di rampok? Jika begitu, bukankah dia tidak bisa meminta bantuan Fiona lagi? Padahal dia ingin meminta Fiona menjual perhiasannya untuk menyelamatkan perusahaannya tapi sekarang, tidak ada lagi yang bisa dia harapkan dan dia hancur bersama dengan Fiona.


"Semua gara-gara aku membela dirimu. Semua gara-gara pecundang seperti dirimu!" teriak Fiona tidak terima.


"Jangan menyalahkan aku. Kau yang dirampok jadi tidak ada urusannya denganku!" Ridz yang sedang pusing tak kalah sinisnya. Semua jadi kacau semenjak William mengetahui semua niat jahat mereka. Apakah ini yang dinamakan karma?


"Aku sudah hancur, Ridz. Kau lihat aku? Aku menjadi pecundang sekarang!" Fiona menangis pilu. Dia merasa lebih baik mati. Tangisan Fiona terhenti namun mendadak dia tertawa pelan dan pikirannya kosong karena dia tidak bisa menerima apa yang terjadi padanya.


"Itu karena kesalahan dirimu sendiri, jangan menyalahkan aku!"

__ADS_1


"Yeah, semua karena kesalahanku. Gara-Gara kesalahanku!" Fiona berteriak disusul dengan tawanya yang semakin keras. Fiona berteriak, lalu tertawa dan setelah itu dia kembali berteriak bahkan dia mulia menyerang Ridz.


Fiona melompat ke atas tubuh Ridz yang duduk tidak jauh darinya tanpa mempedulikan rasa sakit. Dia menggigit telinga Ridz hingga membuat pria itu berteriak. Keributan terjadi di ruang rawat inapnya. Beberapa perawat mencoba menenangkan Fiona dan menyingkirkan Fiona dari atas tubuh Ridz namun semakin keras mereka menarik Fiona, telinga Ridz yang masih digigit oleh Fiona ikut tertarik. Ridz berteriak dengan keras, dia berusaha menyingkirkan Fiona namun justru telinganya yang tertarik hingga lepas akibat gigitan Fiona.


Tawa Fiona semakin menjadi, sepertinya dia sudah gila. Fiona bahkan hendak memakan telinga Ridz namun dicegah. Dia diamankan sedangkan Ridz diobati. Gila, Fiona benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Ridz pergi dengan harapan kosong, kejutannya tidak berakhir karena dia mendapatkan kabar jika rumahnya disita bahkan mobil yang dia kendarai pun akan disita.


Setelah Fiona hancur, kini dia yang hancur karena dia sudah tidak memiliki apa pun lagi. Entah Fiona menjadi gila atau apa, yang pasti dia pun sudah tidak memiliki apa pun. Kabar akan kehancuran Ridz sudah sangat dinantikan oleh William.


Tentunya kabar itu langsung dia dapatkan dari Steve. Kabar yang sangat menyenangkan. Meski dia tidak bisa melihat rupa Fiona yang hancur tapi dia sangat puas mendapat kabar jika Ridz sudah tidak memiliki apa pun lagi dan Fiona berada di rumah sakit dalam keadaan cacat serta diduga mengalami kegilaan.


Itu memang ganjaran yang pantas untuk orang-orang yang telah memanfaatkan dirinya. Dua sudah beres tapi masih ada yang lain dan dia pun harus waspada.


"Apa kau sudah menemukan seorang pengawal untuk istriku, Steve?" tanya William.


"Sedang aku cari, Sir. Aku pastikan tidak akan lama."


"Baik, Sir. Akan aku lakukan!"


"Kembalilah bekerja. Setelah selesai antar aku pergi terapi."


Steve mengangguk, lalu melangkah pergi untuk melakukan pekerjaannya. William mengambil ponsel karena dia ingin menghubungi Marien. Dia harap istrinya mendapatkan jawaban bagus dari ayahnya karena Marien memang berencana untuk menghubungi ayahnya untuk memperlihatkan proposal yang sudah selesai dia kerjakan.


Marien memutuskan untuk menghubungi Abraham Archiles yang adalah ayah mertuanya tanpa dia sadari karena dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dia tidak boleh menunda apalagi kesempatannya bisa lewat begitu saja. Meski masih ada tiga hari dari waktu yang diberikan oleh Abraham tapi dia sudah harus mendapatkan.


Meski dia tidak bisa berbicara langsung namun dia sudah membuat janji. Tentunya itu kabar yang menyenangkan karena Abraham setuju untuk menemui dirinya. Marien semakin merasa senang saat William menghubunginya, dia sudah sangat ingin memberikan kabar baik itu pada William.


"Bagaimana, Sayang? Apa kau sudah menghubungi Abraham dan membuat janji dengannya?" tanya William.


"Tentu saja, aku sudah membuat janji. Besok siang aku bisa bertemu dengannya. Aku sangat senang, Will. Semoga ini kesempatan bagus untukku."

__ADS_1


"Bagus, tapi ingat jangan pernah mengatakan jika yang mengerjakan proposal itu bukan kau. Ini akan menjadi rahasia kita berdua saja. Oke?"


"Tentu saja, aku tidak sebodoh itu. Terima kasih, Will. Berkat kau dan aku harap aku tidak mengecewakan dirimu besok."


"Tidak perlu khawatir, kau pasti bisa bekerja sama dengan pria tua itu!" ucap William dengan penuh percaya diri.


"Pria tua? Kenapa kau memanggilnya demikian?"


"Hm yeah. Karena dia memang sudah tua!" jawab William beralasan. Sebelum Marien mendapatkan kerja sama itu, lebih baik Marien tidak tahu jika Abraham Archiles adalah ayah mertuanya. Tunggu Marien mendapatkan kerja sama itu, barulah dia akan memperkenalkan Marien.


"Baiklah," ucap Marien. Meski dia merasa aneh tapi dia menepis rasa curiga itu.


"Jam berapa kau akan pulang, Sayang?"


"Entahlah, ada apa?"


"Aku ingin memperbaiki makan malam kita yang kacau. Kau mau, bukan?"


"Tentu saja. Aku akan segera pulang dan membuat makan malam untuk kita."


"Bagus, tunggulah karena ada hadiah untukmu."


"Hadiah?"


"Yes, ada hadiah untukmu jadi tunggulah."


"Aku menantikannya!' ucap Marien. Senyuman menghiasi wajahnya, bukan karena hadiah yang diucapkan oleh William tapi dia sudah tidak sabar menghabiskan malam romantis dengan suaminya meski hanya makan malam di rumah karena dia ingin membuat kenangan manis bersama dengan William.


William memanggil Steve, sudah saatnya pergi untuk menjalani terapi. Sekarang waktunya memanjakan Marien karena dia pantas mendapatkannya. Hari ini banyak kejadian bagus terjadi. Dua orang yang memanfaatkan dirinya sudah mendapatkan balasan dan sekarang, dia akan memanjakan istri yang sudah menyelamatkan harga dirinya waktu itu karena jika Fiona tidak mengkhianati dirinya maka dia tidak akan bertemu dengan Marien dan menikah dengannya.

__ADS_1


__ADS_2