
Gaun pengantin yang indah sudah melekat di tubuh Marien, dia pun sudah terlihat cantik luar biasa. Kalung berlian pemberian ibu mertuanya melingkar indah di leher, serta beberapa perhiasan lain yang diberikan oleh nenek William dan istri pamannya. Tidak hanya itu saja, sebuah mahkota yang dihiasi oleh tiara sudah bertahta indah di atas kepalanya.
Seluruh keluarga William sudah datang, adik laki-lakinya yang sedang belajar bisnis di London pun sudah kembali. Samuel sedikit aneh karena setiap hari memakai sarung tangan. Itu karena dia memiliki penyakit OCD seperti yang ayahnya derita dulu namun yang dia derita lebih parah. Samuel tidak bisa bersentuhan dengan siapa pun dan dia akan mengalami mual dan pusing. Itu sebabnya William pernah berkata pada Marien untuk tidak menyentuh adiknya. {Nantikan kisahnya nanti dan sedang aku ajuin}
Para sepupu William yang ada di California pun sudah datang, suasana yang cukup ramai namun Marien tidak merasa diasingkan meski tidak ada siapa pun walau sesungguhnya dia memiliki seorang kakak. Jika hubungannya dengan Alexa sangat baik, dia rasa Alexa akan menemaninya di hari bahagianya ini tapi sayang, hubungannya dengan sang kakak tidak seperti hubungan saudara yang lainnya.
Tapi semua itu tidak jadi soal, dia tidak mempermasalahkannya karena dia tidak merasa kesepian. Hari ini adalah hari bahagianya, dia tidak mau mengacaukannya dan dia pun tidak ingin berdebat dengan ayahnya yang bisa membuat suasana hatinya menjadi buruk.
Acara pembaharuan janji pernikahannya akan dimulai setengah jam lagi. Marien beristirahat di sebuah ruangan karena gaun pernikahannya yang ditaburi dengan batu permata terasa cukup berat. Bagaimanapun dia adalah menantu pertama keluarga Archiles dan dia harus terlihat sempurna di hari pernikahannya.
Gavin yang baru datang mencari keberadaan putrinya. Sesungguhnya dia ingin memanfaatkan situasi dengan mengenal banyak pengusaha tapi para tamu yang datang sudah berada di tempat masing-masing untuk menyaksikan pembaharuan janji pernikahan William dan Marien.
Marien mendongak ketika pintu ruangan terbuka. Dia kira William yang datang untuk menemaninya sebentar tapi ketika dia melihat ayahnya yang datang. Marien benar-benar terlihat enggan.
"Untuk apa Daddy ke sini?" Marien bertanya begitu sinis karena dia tidak mau berbicara dengan ayahnya yang bisa merusak suasana hati.
"Daddy ingin melihatmu dan lihatlah?" Gavin melihat perhiasan yang melekat pada tubuh putrinya. Tidak diragukan semua itu asli dan mahal.
"Kau benar-benar memiliki peruntungan yang bagus!" ucap ayahnya.
"Ya, setelah kau dan Alexa ingin menjual aku!"
"Tidak perlu berkata demikian. Bukankah kau tidak akan seberuntung ini jika kami tidak menjodohkanmu dengan Zack waktu itu? Coba kau bayangkan, kau tidak akan bertemu dengan William dan menikah dengannya. Seharusnya kau berterima kasih pada kakakmu karena berkat dia kau bisa seberuntung ini bahkan dia harus sial karena menggantikan dirimu menikahi Zack!"
"Apa?" Marien memandangi ayahnya dengan tatapan kecewa.
__ADS_1
"Teganya kau mengatakan perkataan ini padaku, Dad. Jadi aku harus berterima kasih pada kalian yang hampir menjualku pada tua bangka itu?" sungguh dia tidak mengerti bagaimana cara berpikir ayahnya. Apa karena dia dilahirkan oleh seorang wanita yang hanya dijadikan sebagai pelarian sebab itulah dia pun tidak dianggap seperti ibunya?
"Apa Daddy salah? Daddy tidak salah mengatakannya. Kau bisa bertemu dengan William karena hendak kami nikahkan dengan Zack. Jika tidak, mana mungkin kau bisa berada di hotel itu dan bertemu dengannya! Itulah kenapa seharusnya kau berterima kasih pada Daddy dan Alexa karena berkat kamilah kau bisa bertemu dengan William!"
"Cukup, Dad. Jika bukan karena reputasi keluarga William, aku tidak akan memintamu datang karena lebih baik kau tidak datang!" Marien hampir memekik akibat emosi akan kelakuan ayahnya yang menyebalkan.
"Aku ini ayahmu, Marien. Bagaimanapun kau tetap membutuhkan aku!"
"Mommy benar-benar sudah menikahi pria yang salah. Jika dia masih hidup, aku rasa Mommy tidak mau melihatmu lagi karena kau hanya memanfaatkan dirinya saja!" ucap Marien dengan perasaan kecewa.
"Aku mau memanfaatkan ibumu atau tidak, yang pasti kau adalah putriku jadi kau harus berbakti padaku!"
"Cukup, Dad. Aku memang putrimu tapi aku bukan sumber uangmu. Jika kau ingin memanfaatkan aku karena aku menikah dengan William, jangan harap bisa karena aku tidak sudi dimanfaatkan olehmu. Sebaiknya Daddy keluar dari sini, karena sangat memalukan jika sampai ada salah satu keluarga William yang mendengar percakapan kita!" pinta Marien.
"Jangan memanfaatkan aku dan mempermalukan aku di hadapan keluarga William, Dad. Kau hanya memikirkan keuntungan pribadi tanpa memikirkan yang lainnya. Apa Daddy sudah mengatakan pada Alexa akan kebenarannya? Apa Daddy sudah menjelaskan pada Alexa jika dia salah paham saja padaku?"
"Sudah Daddy katakan, Daddy tidak mau dia membenci Daddy jadi Daddy tidak akan mengatakannya!"
"Kau benar-benar egois, Dad. Suatu saat jika terjadi sesuatu pada Alexa maka orang yang pantas disalahkan adalah Daddy bahkan Daddy memang sudah pantas disalahkan atas kejadian yang Alexa alami selama ini!"
"Daddy melindunginya, jangan mengatakan sesuatu yang buruk tentang kakakmu!"
"Terserah Daddy saja, aku harap jaga sikap dan jangan membuat aku malu di depan keluarga William!"
"Baiklah, baik!" ucap ayahnya.
__ADS_1
Marien mendengus, tak habis pikir apa yang ayahnya pikirkan sehingga membiarkan perselisihan di antara dirinya dan Alexa berlarut. Sebaiknya dia melupakannya untuk sejenak karena ini hari pernikahannya. Dia tidak mau di hari pernikahannya pun dia masih saja memikirkan perseteruan yang tak kunjung usai dan semakin membuatnya muak.
Waktu untuk melakukan pembaharuan janji pernikahan sudah akan dimulai, seseorang ditugaskan untuk memanggilnya. Riasannya kembali diperbaiki agar dia semakin terlihat sempurna karena dialah ratu untuk hari ini. Tidak saja dibalut oleh gaun yang indah tapi Marien juga menggunakan perhiasan-perhiasan yang luar biasa sehingga membuat para wanita yang melihatnya menjadi iri. Bagaimana tidak, dia adalah wanita paling beruntung yang bisa menikahi William. Meski putra Abraham ada dua, tapi yang satu itu tidak bisa didekati oleh sembarangan orang. Entah wanita mana yang akan menjadi menantu kedua Abraham namun butuh nyali yang cukup besar jika ingin mendekati Samuel Archiles.
Musik merdu sudah melantun. Marien dan ayahnya sudah berada di depan pintu. Marien jadi gugup, meski yang dia lakukan adalah pembaharuan janji pernikahan tapi hari ini berbeda dari waktu itu di mana mereka bersumpah setia tanpa ada yang menyaksikan tapi sekarang, banyak tamu yang menyaksikan.
"Ingat, Dad. Jangan membuat malu!" pinta Marien.
"Cukup, Marien. Jangan mempermalukan aku!" ucap ayahnya.
Marien melotot, ekspresinya tampak tidak senang namun dia buru-buru tersenyum karena pintu ruangan mulai dibuka. Para tamu yang hadir menyambut kedatangan mereka. Marien tersenyum sambil melangkah perlahan sedangkan Gavin terlihat bangga.
William sudah menunggu di depan altar. Tidak ada lagi kursi roda, dia terlihat gagah dengan tuxedo putih yang dia kenakan. Senyum Marien semakin manis, perseteruan dengan siapa pun mendadak sirna digantikan oleh kebahagiaan. Setelah Marien sudah mendekati altar, William beranjak untuk menyambutnya.
"Kau terlihat luar biasa, Sayang.," pujinya sambil mengulurkan tangan.
"Thanks, aku bisa seperti ini berkat dirimu!" Marien meletakkan tangannya ke atas telapak tangan William lalu melangkah maju.
"Siap memperbaharui janji pernikahan kita di hadapan mereka semua?"
"Tentu saja, Will. Aku selalu siap."
"Ayo!" William menggandengnya, mereka pun melangkah bersama mendekati seorang pendeta yang akan meperbaharui janji pernikahan mereka.
Marien dan William sudah seperti pengantin baru yang baru saja mengikat janji suci. Acara berjalan begitu khusyuk, tidak ada yang mengacaukan pernikahan mereka. Tepuk tangan para tamu undangan diberikan saat mereka sudah selesai, senyuman penuh kebahagiaan menghiasi wajah kedua pengantin. Meski ayahnya berkata dia tidak akan menikah dengan William jika pada hari itu Alexa tidak menjualnya tapi dia yakin, jika dia dan William berjodoh, mereka pasti akan bertemu, apa pun caranya.
__ADS_1