
Steve sudah membuat janji dengan seorang dokter dan mereka akan bertemu siang ini karena mulai hari ini, William akan mengobati kedua kakinya yang lumpuh. Bagaimanapun dia sudah tidak sabar untuk mengobati kedua kakinya karena banyak hal yang ingin dia lakukan tentunya dengan istrinya.
Dia tidak mau merepotkan Marien lebih lama dengan membantunya Mandi karena dia tahu Marien harus mengeluarkan banyak tenaga untuk melakukan hal itu. Marien memang tidak mengeluh namun dia akan berbaring di ranjang setelah selesai membantunya. Marien melakukan hal itu untuk beristirahat sebentar apalagi pinggangnya memang terasa nyeri.
Melihat itu tentu saja membuat William tidak tega oleh sebab itu dia harus cepat sembuh agar Marien tidak perlu selalu membantunya. Marien masih berbaring di sisi ranjang saat William mendekatinya dan mengusap pinggangnya. Apa yang Marien lakukan padanya tidak akan dia lupakan bahkan akan dia bayar sampai seumur hidup karena dia akan mencintai wanita sebaik Marien sampai mati.
"Apa kau baik-baik saja?" tangan William masih mengusap pinggang Marien dengan perlahan.
"Tentu, aku hanya butuh istirahat sebentar, Will. Tidak perlu khawatir."
"Mulai besok aku akan mandi sendiri, aku tidak tega melihatmu seperti ini."
"Tidak apa-apa, Will. Sudah aku katakan aku hanya butuh istirahat sebentar!"
"Baiklah, aku pijatkan pinggangmu agar lebih baik!"
Marien mengangguk tanda setuju, kedua mata sudah terpejam dan tangan William sedang sibuk memijat pinggangnya namun tangannya justru semakin masuk ke dalam baju Marien. punggung Marien diusap dengan perlahan, bolehkah dia melepaskan baju itu? Mendadak sesutu bergejolak di dalam dirinya.
"Mau apa?" tanya Marien yang sudah membuka kedua mata.
"Melepaskan bajumu lalu bercinta denganmu!" goda William.
"A-Apa?" Marien terkejut dengan wajah memerah.
"Kenapa? Apa tidak boleh?"
"Tentu saja tidak. Lagi pula aku tidak mau di atas!" Marien mengatakan perkataan itu tanpa pikir panjang karena kedua kaki William yang lumpuh sudah tentu dia yang harus bermain di atas dan dia tidak mau karena dia belum pernah sama sekali. Lagi pula tidak lucu pengalaman pertamanya harus dia lakukan sendiri.
"Wah... wah, jadi kau tidak mau berada di atas? Aku tidak menduga kau sampai memikirkannya, Marien."
"Bu-Bukan begitu!" Marien semakin malu setelah menyadari perkataan bodohnya. Apa yang sebenarnya dia bicarakan? Berada di atas? Fantasi liarnya sungguh memalukan.
__ADS_1
"Jadi kau tidak mau karena kau tidak mau berada di atas?" William masih menggodanya.
"Tidak.. Tidak, maksudku bukan begitu. Astaga, apa yang kita bicarakan? Sebaiknya aku mandi agar kita tidak terlambat!" Marien beranjak dengan cepat lalu melangkah pergi dengan terburu-buru menuju kamar mandi. Bodoh... Bodoh, perkataannya sungguh memalukan.
William tersenyum, tapi yang dikatakan oleh Marien sangat benar karena kedua kaki yang tidak bisa dia gunakan. William memukul pahanya, sial. Entah kapan dia bisa kembali berjalan seperti dulu lagi. William mengambil ponsel, dia ingin menghubungi Steve tapi sebelum dia melakukannya, Steve sudah menghubunginya terlebih dahulu.
"Sir, siang ini kau sudah bisa menjalankan terapi!" ucap Steve.
"Bagus, aku memang ingin menanyakan hal ini padamu. Mulai hari ini, selalu kosongku waktuku saat siang agar aku bisa fokus untuk menjalani terapi. Segala pertemuan diganti menjadi pagi jadi kau harus merombak semua jadwalku!" perintah William.
"Baik, Sir. Akan segera aku lakukan!" ucap Steve.
"Bagus!" inilah yang dia tunggu, dia akan menjalani terapi dengan serius agar kedua kakinya cepat sembuh. William menyimpan ponselnya saat Marien keluar dari kamar mandi. Marien melihatnya sejenak sebelum melangkah menuju lemari untuk mengambil baju.
"Siapa yang menghubungimu?" tanya Marien basa basi.
"Steve. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Honey. kemarilah!"
"Mau bicara apa?"
"Dengar, Steve sudah mendapatkan dokter untukku dan aku akan mulai menjalani terapi siang ini."
"Benarkah?" kedua mata Marien berbinar mendengarnya, "Itu berita yang sangat bagus, Will. Aku senang mendengarnya karena kau memang sudah harus bisa menyembuhkan kedua kakimu dan kau sudah tidak sabar melihatmu berjalan. Meski aku tidak bisa menemanimu, tapi aku akan mendukungmu."
"Terima kasih, Honey!" kedua tangan Marien diraih lalu William memberikan kecupan lembutnya.
"Tidak kau temani pun, aku akan menjalani terapi dengan baik. Bagiku kau adalah penyemangat, Marien. Tapi aku sudah tidak bisa menemanimu makan siang dan malam karena mungkin saja aku akan pulang sedikit malam."
"Tidak perlu kau pikirkan hal itu, Will. Lagi pula aku sedang sibuk dengan pekerjaanku jadi tidak bisa selalu pergi."
"Oh, yeah? Bagaimana dengan yang waktu itu? Apa kau mendapatkannya?" dia belum mendengar hasil dari pertemuan yang Marien lakukan waktu itu.
__ADS_1
Marien tersenyum tipis, dia juga terlihat murung. William menggenggam tangan Marian dengan erat, dia bisa melihat jika yang waktu itu gagal.
"Jangan menyerah, kau hanya kehilangan kesempatan satu kali. Pasti akan ada kesempatan yang lainnya jadi jangan sedih hanya karena kau tidak bisa mendapatkan bisnis itu," ucap William.
"Terima kasih, Will. Aku tahu tidak akan mudah. Siang ini aku ingin menemui seseorang untuk mengajukan kerja sama, doakan agar aku berhasil."
"Tentu saja, siapa yang hendak kau temui?"
"Abraham Archiles," jawab Marien tanpa tahu jika yang akan dia temui adalah ayah mertuanya sendiri.
"What?" William terkejut, Marien menatapnya dengan ekspresi heran karena keterkejutan William.
"Kenapa?" tanyanya,
"Hm, tidak. Tidak ada apa-apa!" semoga ayahnya tidak curiga, Mendadak dia jadi khawatir padahal ayahnya tidak mungkin tahu meski mereka bertemu.
"Ini kesempatanku yang paling besar, semoga yang kali ini berhasil aku dapatkan!" ucap Marien. Yang kemarin tidak masalah lepas tapi yang kali ini dia berharap dia bisa menjalin kerja sama dengan Abraham Archiles karena jika dia berhasil, jalannya akan terbuka lebar.
"Yeah," jawab William. Haruskan dia menghubungi ayahnya lalu meminta ayahnya untuk menerima tawaran kerja sama dari Marien? William berpikir sejenak dan jawabannya adalah tidak. Sebaiknya dia tidak ikut campur meski dia bisa melakukannya bahkan dia bisa memberikan bantuan sejak awal tapi dia tidak boleh melakukan hal itu. Dia harus percaya pada Marien dan dia yakin Marien mampu memajukan perusahaan yang dia berikan meski dia harus mendapatkan penolakan berkali-kali karena itu memang jalan yang harus dilewati oleh Marien agar dia bisa maju.
"Aku yakin kau pasti bisa, Marien. Berusahalah!" ucap William.
"Aku juga yakin kau pasti bisa. Mari kita berusaha bersama!"
"Sudah pasti!" William menarik Marien mendekat, lalu memberikan ciuman di bibirnya, "Kita akan berusaha bersama dan apa pun yang terjadi, aku harap kau selalu mempercayai aku, Marien!" ucapnya.
"Kau selalu mengatakannya, Will. Aku pasti akan percaya padamu. Kita maju bersama lalu kita balas orang-orang yang meremehkan kita berdua!"
"Yes, kita berdua pasti bisa melakukannya!"
Marien mengangguk dan memeluknya. Saling mendukung memang sangat diperlukan dalam hubungan mereka dan mereka berdua akan maju bersama serta menghadapi situasi apa pun meski jalan tidak semulus yang mereka harapkan.
__ADS_1