
Steve yang tadinya iba dengan Alexa karena merasa mereka memiliki kesamaan, mendadak menjadi serius. Dia memang sering datang untuk melihat keadaan Alexa sesuai dengan janjinya. Jika Alexa mau, maka akan dia jalani dan jika tidak pun tidak masalah. Dia tidak akan memaksa tapi sekarang, dia benar-benar serius menginginkan Alexa.
Selama ini dia tidak pernah berpikir akan menikah lagi, tidak semenjak istri dan bayinya meninggal. Dia lebih memilih hidup sendiri dan tenggelam dalam pekerjaannya tapi untuk pertama kali, dia merasa ingin memiliki seseorang yang spesial lagi dalam hidupnya.
Terus terang saja, dia lebih tertarik dengan wanita yang memiliki sifat seperti Alexa. Meski Alexa sempat membuat salah tapi dia bukan orang yang memperhitungkan hal seperti itu karena dia pun bukan orang yang begitu baik namun almarhum istrinya menerima dirinya dulu dan tidak mempermasalahkannya.
Steve belum pergi, lagi pula masih ada waktu. Kedatangannya tidak saja untuk melihat keadaan Alexa tapi ada yang hendak dia sampaikan pada Alexa. Suasana jadi canggung karena candaan Steve yang tidak lucu bagi Alexa. Terus terang saja, dia bukan orang yang suka digoda seperti itu tapi dia tidak bisa marah.
"Bisakah kau tidak memandangi aku seperti itu?" pinta Alexa.
"Tidak! Aku ingin memandangimu sedikit lama karena aku sedang mengumpulkan energi."
"Mengumpulkan energi?" Alexa mengerutkan dahi dan kembali bertanya, "Untuk apa?"
"Dengar, aku tidak bisa datang untuk menjengukmu untuk beberapa hari ke depan karena aku harus pergi untuk melakukan pekerjaan," itulah tujuannya datang. Jangan sampai Alexa menunggunya dan mengira dia tidak mau datang lagi nantinya sehingga timbul sebuah kesalahpahaman di antara mereka.
"Un-Untuk apa kau mengatakan hal ini padaku?" tanya Alexa sambil membuang wajahnya ke samping.
"Aku tidak ingin kau salah paham saja dan mengira aku sudah bosan. Aku harap kau tidak merindukan aku nantinya," ucap Steve sambil sedikit menggodanya.
"Si-Siapa yang akan merindukan dirimu?!" Alexa masih memalingkan wajah. Jadi Steve akan pergi beberapa hari? Entah kenapa ada rasa sedih di hatinya tapi tidak ada yang boleh tahu terutama Steve.
"Jadi kau tidak akan merindukan aku?"
"Tidak, tidak akan!" jawab Alexa dengan angkuhnya.
"Ck, aku jadi sedih dan kecewa!" ucap Steve.
"Jangan terlalu berlebihan. Kau tidak akan pergi lama, bukan?"
"Entahlah, dua atau tiga hari dan mungkin saja lebih dari itu."
"Jawab yang pasti. Kau pergi berapa lama?" tanya Alexa kesal.
__ADS_1
"Kau tidak akan merindukan aku jadi aku rasa kau tidak akan mempermasalahkan aku pergi berapa lama. Jangan katakan kau menunggu aku datang setiap hari oleh sebab itu kau ingin tahu kapan aku kembali?" Steve semakin sengaja menggoda Alexa. Dia ingin tahu, apakah Alexa menunggunya selama ini atau tidak.
"Ck, aku tidak mau terlalu lama berbicara denganmu lagi!" entah kenapa, dia merasa jika Steve sedang menggoda dirinya.
"Apa kau benar-benar tidak mau berbicara denganku lagi, Alexa? Apa selama ini kau tidak suka dengan kedatanganku?" tanya Steve.
"Kenapa kau jadi bertanya seperti ini?" Alexa memandangi Steve dengan ekspresi heran. Apa perkataannya sudah menyinggung perasaan Steve?
"Jawab aku, apa kedatanganku yang hampir setiap hari ini mengganggu dirimu? Apa kau tidak menyukainya?" Steve bertanya dengan ekspresi seriusnya.
"Tidak, jika kau mengganggu aku maka aku tidak akan mau menemui dirimu!"
"Jadi, apakah kau menantikan kedatanganku?" pertanyaan Steve membuat Alexa bungkam. Kenapa dia merasa Steve sengaja bertanya demikian untuk menjebak dirinya?
"Kenapa tidak menjawab aku, Alexa?" Steve meraih tangan Alexa dan menggenggamnya. Alexa jadi salah tingkah, rasanya ingin menarik tangannya tapi tidak bisa dia lakukan.
"Apa kau menunggu kedatanganku setiap hari? Apa kau akan merindukan aku jika aku tidak datang?" tanya Steve lagi.
"Biaklah, aku terima jawabanmu ini!"
"Apa yang sebenarnya kau inginkan? Kenapa kau seperti menjebak aku dengan pertanyaan-pertanyaanmu itu?" tanya Alexa.
"Menjebak apa? Aku hanya bertanya saja tanpa ada maksud apa-apa. Jangan terlalu menaruh curiga, aku hanya bertanya saja tanpa adanya niat buruk atau apa pun!"
"Maaf," Alexa menunduk, dia memang selalu seperti itu. Selalu menaruh curiga dan dia belum bisa menghilangkan kebiasaan buruknya itu. Akibat dendamnya dulu, jadi dia harus selalu waspada bahkan memikirkan semua tindakan yang harus diambil oleh sebab itulah dia selalu menaruh curiga dengan apa pun.
"Aku selalu mencurigai apa pun dan belum bisa menghilangkan kebisaan burukku ini!" ucap Alexa.
"Tidak apa-apa," Steve yang menggenggam tangan Alexa dengan satu tangan kini menggenggamnya dengan kedua tangan.
"Semua butuh proses, Alexa. Tidak ada orang yang bisa berubah dalam satu malam. Semua butuh proses dan kau pasti bisa menjadi lebih baik lagi apalagi kau mau mengakui kesalahan dan mau berubah sebelum semuanya terlambat. Aku lebih suka dengan orang yang mau berubah dan yang mau mengakui kesalahan dari pada tidak sama sekali!"
"Thanks," ucap Alexa sambil tersenyum tipis. Steve bagaikan kekuatan barunya untuk tidak putus asa selama berada di dalam penjara. Kini dia jadi ingin segera bebas. Entah bagaimana caranya, dia harap dia bisa bebas sebelum enam tahun masa hukuman yang harus dia jalani.
__ADS_1
"Lihatlah, aku lebih suka kau tersenyum seperti ini jadi kau harus banyak tersenyum. Bukankah kau ingin berdamai dengan dirimu sendiri? Senyuman bisa mengubah perasaan jadi lebih baik jadi kau harus sering tersenyum!"
"Tiba-Tiba kau pandai menasehati aku dan menjadi cerewet. Apa terjadi sesuatu padamu saat di jalan? Kepalamu tidak terbentur, bukan?" tanya Alexa.
"Tidak, tapi anggap saja aku terkontaminasi oleh kebaikan Nona Marien."
Alexa terkekeh, apa yang Steve katakan sangat benar. Pengaruh baik adiknya bisa menular pada siapa pun tapi dia rasa Steve hanya bercanda saja.
"Bagaimana dengan keadan Marien? Apa dia baik-baik saja?" sudah berapa hari tidak melihat adiknya, dia harap adiknya dan baik-baik saja.
"Nona Marien baik-baik saja. Apa ada pesan yang hendak kau sampaikan untuknya? Aku akan menyampaikannya nanti karena setelah ini, mungkin aku akan bertemu dengannya!"
"Tidak, terima kasih. Aku sudah sangat senang mendengar keadaannya!"
"Alexa, aku?" ucapan Steve terhenti karena sipir sudah mengetuk pintu.
"Waktunya habis, Alexa!"
"Waktu berkunjung sudah habis, Steve. Apa yang hendak kau bicarakan?" tanya Alexa.
"Tidak ada. Kembalilah, aku pun sudah mau pergi!"
"Terima kasih sudah menjenguk aku dan membelikan makanan untukku!" Alexa menarik tangannya dari genggaman tangan Steve lalu beranjak.
"Tidak perlu dipikirkan. Jangan memikirkan aku dan jangan merindukan aku!" ucap Steve sebelum Alexa melangkah pergi.
"Siapa yang akan merindukanmu? Jangan terlalu percaya diri!"
"Sayang sekali!" ucap Steve.
"Bye!" Alexa melambai sebelum keluar dari ruangan itu.
Steve pun keluar dari ruangan itu, dia sudah harus pergi dan tidak bisa datang untuk beberapa hari ke depan untuk menjenguk Alexa.
__ADS_1