
Steve mencari Marien hari itu, tidak seperti biasanya karena dia sangat serius sampai memohon pada William untuk mempertemukan dirinya dengan Marien. Karena mereka sudah tinggal di rumah orangtuanya, membuat Steve tidak bisa lagi datang lalu bertemu dengan mudah karena Abraham dan Silvia melarang Marien melakukan pertemuan dengan siapa pun tanpa seijin mereka.
Mereka melakukan hal itu karena mereka tidak mau Marien bertemu dengan klien sehingga dia harus kembali sibuk di kantor. Mungkin agak berlebihan tapi selama keadaan Marien belum membaik, mereka ingin Marien benar-benar fokus pada kesehatannya dan bayinya tanpa memikirkan pekerjaan. Sebab itulah yang ingin bertemu dengan Marien harus mendapatkan ijin kecuali ayahnya.
Lagi pula perusahaan Marien sudah diambil alih oleh William. Segala sesuatu dia yang mengerjakan agar istrinya tenanf. William bahkan tidak pernah membahas pekerjaan agar Marien tidak memikirkan urusan kantor. Marien boleh kembali ke kantor setelah dia melahirkan tapi dengan syarat tidak boleh terlalu sering karena dia harus menjaga bayinya nanti.
Steve mengikuti William pulang sesuai dengan permintaannya. Entah ada urusan apa tapi William rasa Steve memiliki tujuan yang serius dan dia menebak ada hubungannya dengan Alexa. Jangan katakan pula jika Steve serius dengan kakak Marien.
"Mom, di mana Marien?" tanya William pada ibunya.
"Di kamar, ada apa?"
"Steve ingin bertemu dengannya!"
"Steve?" Silvia melihat ke arah asisten puranya yang menyapa.
"Aku akan memanggil Marien sebentar. Kau duduk saja dulu!" perintah William pada Steve.
"Baik, Sir!"
William melangkah pergi menuju kamar untuk memanggil istrinya yang sedang beristirahat. Padahal dia bosan tapi apa boleh buat, dia tidak mau membuat kedua orangtua William kecewa. Marien sedang berbaring sambil memeluk boneka beruang besar yang dibeli oleh ayah mertuanya waktu itu sambil menonton drama dari ponsel. Hanya itu saja yang bisa dia lakukan karena dokter berkata dia tidak boleh stres agar dia tidak gelisah saat malam supaya dia bisa tidur. William mendekati istrinya dan duduk di sisi ranjang. Marien berpaling, namun dia kembali menonton drama.
"Marien, Steve ingin bertemu," ucap William seraya mendekati istrinya.
__ADS_1
"Steve, untuk apa?" kini Marien berusaha untuk bangun dari tempat tidur.
"Katanya ada yang hendak dia bicarakan denganmu. Coba tebak, apa yang akan dia bicarakan padamu?" William membantu istrinya sampai duduk di atas ranjang.
"Apa mengenai Alexa atau?" Marien menghentikan perkataannya. Apakah tebakannya benar?
"Ayo kita cari tahu. Keadaanmu baik-baik saja, bukan?"
"Hm, tentu saja. Yang aku lakukan hanya tidur saja. Aku bosan, Will. Rasanya ingin kembali bekerja."
"Bersabarlah, kau boleh kembali bekerja setelah melahirkan."
"Aku sudah tidak sabar karena aku benar-benar bosan."
"Tidak akan lama lagi jadi bersabar saja. Ayo temui Steve, dia sudah menunggu."
"Untuk apa kau mencari aku, Steve?"
"Aku ingin meminta ijin padamu, Nona."
"Meminta ijin, untuk apa?" tanya Marien sambil duduk.
"Hm, mulai sekarang bolehkan aku saja yang mengantarkan makanan untuk Nona Alexa?" walau dia bisa pergi sesuai keinginan tapi dia tetap butuh ijin.
__ADS_1
"Wah, sepertinya kau jadi serius dengan kakakku. Ada apa, Steve? Kau tahu masa lalu kakakku, dia pernah menikah dan keguguran. Sifatnya juga kurang baik selama ini, aku rasa kau tahu semuanya tapi kenapa kau jadi peduli seperti itu dengannya? Padahal kau bisa menemukan wanita yang lebih baik dari pada Alexa tapi kenapa kau jadi serius dengannya?" meski dia sangat mendukung Steve mendekati Alexa tapi dia ingin tahu kenapa Steve bisa tertarik dengan Alexa.
"Aku juga tidak tahu," Steve menghela napas, jangan tanya kenapa karena dia juga tidak tahu.
"Apa maksudmu tidak tahu? Jangan katakan kau terpaksa atau kau iba dengannya sehingga kau ingin mendekatinya. Aku akan marah padamu jika kau mendekatinya hanya karena iba karena Alexa tidak membutuhkan rasa iba darimu!" Marien mengatakannya dengan cukup tegas. Meski kakaknya pernah membuat kesalahan tapi dia tidak butuh rasa iba siapa pun.
"Tidak, tentu saja tidak. Tidak ada yang memaksa aku, Nona. Aku juga tidak merasa iba padanya karena sejak awal tidak ada rasa iba di hatiku untuknya. Aku bahkan berniat menonton dirinya dipukuli oleh Zack waktu itu tapi ketika dia mengatakan jika dia sudah hancur akibat kehilangan bayinya dan tidak memiliki tujuan lagi setelah bebas, tanpa sadar aku menawarkan pernikahan karena aku tahu apa yang dia rasakan. Aku sudah pernah kehilangan istri dan bayiku, aku tahu saat kehilangan mereka di mana tidak ada lagi tujuan hidup. Apa pun yang aku lakukan terasa hampa, aku kehilangan semangat hidup sebab itulah, bolehkah aku mendekati kakak Nona? Aku mendekatinya bukan untuk mempermainkan dirinya tapi aku peduli. Maaf, jika alasanku sangat sederhana. Jika Nona mengijinkan, aku akan selalu mendatanginya di penjara."
"Bagaimana jika aku tidak mengijinkan?" tanya Marien sengaja.
"Aku akan tetap mendatanginya secara diam-diam!"
"Baiklah, memang tidak butuh hal spesial untuk mencintai seseorang. Aku tidak akan melarang karena kau benar-benar tulus dan ini keinginanmu sendiri tapi ingat satu hal. Kau sudah tahu kakakku di penjara selama enam tahu, kau pun tahu sifatnya. Jangan sampai kau semangat di awal tapi mengecewakan di akhir akibat tidak sanggup lagi menunggunya bebas selama enam tahun. Aku tidak mau kau mengangkat kakakku sebentar lalu menghempaskannya begitu saja!"
"Aku tidak akan melakukannya, waktu enam tahun tidaklah terlalu lama. Asalkan Nona dan ayah Nona mengijinkan maka aku tidak akan ragu," ucap Steve.
"Tentu saja aku mengijinkan. Aku justru lebih tenang kakakku bersama denganmu dari pada dia menjadi biarawati hanya karena untuk menebus dosa karena keinginan itu bukan sebuah panggilan murni. Jika kau bisa memenangkan hatinya, itu sangat bagus dan aku akan mendukung niatmu itu!" jika Steve serius, maka itu sangat bagus bahkan dia tidak perlu bersusah payah untuk mendekatkan mereka.
"Sayang sekali, bukan? Peranmu jadi hilang padahal kau memang berniat menjodohkan mereka!" goda William. Padahal istrinya sangat bersemangat tapi sepertinya tanpa dia turun tangan pun, Steve sudah tertarik dengan Alexa.
"Hei, jika Steve gagal maka aku yang akan turun tangan!" ucap Marien.
"Aku tidak mungkin gagal, Nona. Aku akan berusaha!" ucap Steve dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Bagus, aku tahu kau bisa!" ucap Marien tapi dia yakin kakaknya tidak mudah untuk ditaklukkan setelah semua hal yang tidak menyenangkan yang telah dia lalui. Sepertinya dia harus pergi menemui Alexa, berbicara dengannya dan memberikan sedikit nasehat. Mungkin dengan begitu Alexa akan membuka hati dan berpikir dengan jernih untuk menerima ketulusan Steve. Dia juga berharap, Steve tidak berhenti di tengah jalan lalu meninggalkan Alexa akibat bosan menunggu.
"Terima kasih untuk ijin yang Nona berikan!" Steve jadi bersemangat. Besok dia akan datang lagi ke penjara untuk menjenguk Alexa. Suka tidak suka, Alexa harus menerima kedatangannya dan dia akan membawakan makanan yang Alexa inginkan juga untuk rekannya yang ada di dalam penjara. Jangan tanyakan kenapa karena cinta itu memang buta.