
Marien tidak seperti biasanya, dia terlihat lesu dan kedua matanya terlihat sedikit membengkak dan memerah akibat terlalu banyak menangis. Marien pun lebih banyak diam dan terlihat termenung seperti sedang memikirkan sesuatu. Biasanya Marien tidak seperti itu, meski ada masalah tapi hari ini dia sangat berbeda.
Marien memang melakukan apa yang selalu dia lakukan. Dia melayani William seperti biasanya tapi sikap yang dia tunjukkan tidak seperti biasanya bahkan Marien sudah berbaring di atas ranjang seperti mau tidur padahal waktu baru saja menunjukkan pukul delapan malam. Karena ingin tahu apa yang terjadi apalagi tidak biasanya Marien seperti itu, William menghampiri Marien dan berbaring di sisinya.
"Apa kau sudah tidur?" tanya William seraya memeluknya.
"Tidak, aku belum mengantuk.. Apa kau menginginkan sesuatu?"
"Tidak, aku hanya mengira kau sudah tidur padahal masih awal. Ada apa denganmu hari ini? Apa kau sedang sakit? Kau terlihat lesu dan kedua matamu membengkak seperti habis menangis. Apa yang terjadi?"
Marien menggeleng, dia merasa malu untuk mengatakan apa yang terjadi pada suaminya. Sungguh, kali ini dia sangat malu karena tindakan ayahnya yang mengecewakan meski dia rasa William sudah mengetahui beberapa hal jika betapa hancurnya keluarga yang dia miliki.
"Ayolah, aku tidak suka melihatmu seperti ini. Sudah aku katakan jangan memendam apa pun sendirian, aku akan selalu menjadi tempatmu untuk berbagi jadi jangan ragu untuk mengatakan apa yang telah terjadi padaku. Apa kau jadi seperti ini karena ayah dan kakakmu? Oh, aku lupa. Bagaimana, apa kau sudah apa penyebab kematian ibu kakakmu?" dia hampir melupakannya akibat terlalu sibuk.
Marien tidak menjawab, perasaan sedih dan kecewa kembali memenuhi hati. Air mata hampir tumpah oleh sebab itu, Marien memeluk William dan menyembunyikan wajahnya. Baju yang dipakai oleh William basah akibat air mata Marien, William bisa menebak jika kenyataan yang Marien dengar pasti menyakitkan dan jangan katakan semua yang terjadi memang kesalahan ibunya.
"Menangislah sampai perasaanmu membaik tapi setelah ini, kau harus mengatakan padaku apa yang sebenarnya kau dengar dari ayahmu," usapan lembut diberikan, usapan tangannya membuat tangisan Marien semakin menjadi. Dia membutuhkan tempat untuk melampiaskan kesedihannya dan dia terpaksa menjadikan William tempat untuk menangis padahal dia tidak mau memperlihatkan kesedihan dan air matanya pada William yang bisa membuat pria itu khawatir.
"Aku malu, Will. Aku malu mengatakannya," ucap Marien di sela isak tangisnya.
"Bodoh, tidak perlu malu padaku. Aku suamimu, jadi kau tidak perlu malu denganku. Kau tidak lupa dengan janji pernikahan kita, bukan? Aku harap aku tidak menyembunyikan apa pun dan jangan melupakan janji pernikahan kita."
"Apa suatu saat nanti kau akan mengkhianati aku, Will?" pertanyaan Marien yang tiba-tiba itu membuat William terkejut.
"Hei, apa yang sedang kau katakan?" tanya William tidak mengerti.
"Aku hanya takut saja kau akan mengkhianati aku suatu saat nanti."
__ADS_1
"Bodoh, aku tidak seperti itu. Keluargaku sangat menjunjung tinggi pernikahan, aku tidak mungkin berkhianat meski pernikahan kita diadakan dengan sebuah perjanjian. Meski ada sepuluh wanita cantik berdiri di depan mataku pun, aku tidak akan tertarik sama sekali!"
"Benarkah?"
"Tentu saja, untuk apa aku berbohong!"
"Baiklah, aku percaya padamu," ucap Marien.
"Bagus, apa sekarang sudah mau mengatakan padaku apa yang telah terjadi? Tidak perlu khawatir, apa pun itu aku tidak akan menertawakan dirimu."
"Aku ingin seperti ini sebentar, aku sungguh malu dengan apa yang terjadi pada keluargaku. Aku kecewa dengan kelakuan ayahku dan gara-gara dirinyalah Alexa jadi benci padaku tapi sialnya, dia diam saja."
"Baiklah, bicarakan pelan-pelan. Aku akan mendengarkan apa yang kau katakan dan air mata ini?" William mendorong tubuh Marien dengan pelan lalu menghapus air mata istrinya dengan perlahan, "Aku tidak suka melihatnya jadi jangan menangis lagi, jangan memendam apa pun sendirian karena ada aku yang akan menjadi tempatmu berbagi," William menghapus air mata istrinya kembali dan memberikan kecupan di dahi.
"Maaf telah membuatmu khawatir," ucap Marien.
Marien mengangguk dan berusaha tersenyum. Lagi-Lagi dia menangis padahal dia sudah mengambil keputusan untuk tidak menangis dan dia pun sudah mengambil keputusan untuk tidak memperlihatkan kesedihannya pada William tapi kesedihan karena tidak dianggap oleh ayah sendiri, sangat menyakitkan.
Meski dia malu tapi pada akhirnya Marien mengatakan pada William apa yang dia dengar dari ayahnya mengenai kebenaran akan kematian ibu Alexa. William sempat terkejut, dia tidak menyangka ada kejadian seperti itu. Meski Marien mengatakannya sambil menangis, tapi semuanya dia beri tahu dengan perasaan kecewa yang tentu bercampur aduk dengan perasaan malu karena memiliki keluarga kacau akibat keegoisan ayahnya yang mempertahankan cinta lamanya.
"Jadi semua itu karena gara-gara ayahmu?" tanya William.
"Yeah, aku kecewa pada ayahku yang menjadikan aku dan ibuku sebagai kambing hitamnya atas kekecewaan yang dia dapatkan karena pengkhianatan"
"Jadi sebab itu kau bertanya padaku apakah aku akan berkhianat atau tidak?" tanya William lagi dan Marien menjawab dengan anggukan.
"Baiklah, aku tahu kau kecewa dan mara tapi ingatlah jika kau sudah tidak sendirian lagi. Sudah ada aku yang bersama denganmu jadi jangan bersedih lagi untuk hal ini. Mulai sekarang jangan mempedulikan mereka lagi. Aku bukannya meminta kau untuk tidak mempedulikan ayahmu untuk selamanya, tapi aku ingin kau tidak terlalu menuruti apa pun yang dia inginkan apalagi untuk Alexa. Kau harus tegas meski dia ayahmu, jangan mau diperintah oleh ayahmu dan jangan terlalu menuruti perkataannya."
__ADS_1
"Aku memang sudah tidak mau, dia memang ayahku tapi aku tidaklah berarti baginya jadi aku tidak akan mempedulikan dirinya lagi!"
"Bagus, kau memang harus melakukannya. Apa sekarang sudah membaik? Aku tidak suka kau bersedih seperti ini jadi jangan menangisi orang yang tidak pantas kau tangisi!"
Marien kembali mengangguk, meski malu tapi perasaannya jadi membaik setelah berbagi dengan William. Terserah ayahnya mau seperti apa, dia pun tidak peduli lagi dengan Alexa tapi yang paling dia harapkan hanya satu yaitu ayahnya mengatakan kebenarannya pada Alexa agar permusuhan di antara mereka segera selesai.
"Bagaimana dengan kabar kedua orangtuamu, Will?" tanya Marien basa basi. Dia ingin tahu bagaimana dengan kedua orangtua William karena dia khawatir kedua orangtua William tidak bisa menerima dirinya.
"Mereka baiak-baik saja. Aku tahu yang kau pikirkan tapi percayalah, kedua orangtuaku sangat baik dan mereka tidak seperti yang lainnya. Mereka juga tidak pilih kasih antara aku dan adikku meski adikku sedang belajar berbisnis di London."
"Kau punya adik?" tanya Marien, dia tidak pernah tahu akan hal ini dan memang William baru mengatakannya.
"Tentu saja, aku bukan anak tunggal."
"Baiklah, baik. Adikmu perempuan atau laki-laki?" tanya Marien lagi.
"Laki-Laki, aku akan mengenalkan dirinya nanti saat dia pulang tapi ingat, jangan menyentuhnya."
"Oh, Tuhan. Aku jadi gugup. Aku belum pernah bertemu dengan kedua orangtuamu dan kini kau ingin mempertemukan aku dengan adikmu."
"Apa kau tidak mau bertemu dengan mereka?"
"Tentu saja aku mau, Will. Aku sudah sangat tidak sabar bertemu dengan keluargamu tapi aku yang seperti ini, lahir dari keluarga yang sedikit kacau, apakah aku pantas?"
"Bodoh, tentu saja kau pantas. Tidak lama lagi, kau pasti akan bertemu dengan mereka."
"Aku sudah sangat tidak sabar!" Marien memeluk William. Kini senyuman menghiasi wajahnya. Meski dia memiliki keluarga dan tidak dianggap tapi dia berharap dia mendapatkan keluarga yang baik dari William.
__ADS_1