
Fiona yang sudah melempar kue ke wajah Marien untuk melampiaskan kekesalan hati karena perkataan William yang pedas serta penolaknya bergegas menuju mobilnya untuk pergi. Jangan sampai Marien melihat dirinya dan tahu apa yang dia lakukan namun aksi yang dia lakukan justru sudah tertangkap tangan.
Tanpa Fiona sadari, Marien sudah berlari ke arahnya. Meski sebelah wajahnya dipenuhi oleh cream kue tapi dia tidak peduli. Dia baru saja datang tapi sudah mendapatkan kesialan. Sekalipun itu seekor burung yang membuang kotoran ke wajahnya lalu terbang, akan dia tangkap dan dia balas apalagi pelaku yang sudah terlihat itu, tidak akan dia biarkan pergi begitu saja. Fiona yang sudah akan masuk ke dalam mobilnya dicegah. Fiona terkejut saat seseorang memegangi bahunya dan menariknya hingga mundur ke belakang beberapa langkah.
"Sialan, siapa yang menarikku?!" teriak Fiona seraya berbalik namun dia terkejut melihat Marian dan Marien pun sedikit terkejut namun senyuman menghiasi wajah. Tak menyangka yang melemparnya adalah si mantan. Sepertinya pukulan waktu itu kurang untuknya. Jangan katakan wanita itu ketagihan dengan rasa pukulannya sehingga kembali menantangnya agar mendapatkan pukulan.
"Mau apa kau?" teriak Fiona yang sesungguhnya ingin menertawakan keadaan Marien yang dipenuhi oleh cream dari kue yang dia lempar.
"Orang yang suka melempar batu lalu sembunyi tangan itu tidak baik!" ucap Marien namun senyuman masih menghiasi wajahnya.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan, lepas!" teriak Fiona sambil menepis tangan Marien dari bahunya.
"Oh, tidak tahu? Jika begitu aku juga tidak tahu apa yang akan aku lakukan padamu setelah ini!" satu tangan sudah mengepal erat. Setelah melempar tapi pura-pura tidak tahu, sungguh lucu.
"Apa?" Fiona belum mengerti namun, Dhukk! Fiona terkejut dan berteriak saat Marien menghantamkan kepalanya ke badan mobil.
"Sialan, apa yang kau lakukan? Beraninya kau membenturkan kepalaku?" Fiona berteriak sambil memegangi kepalanya yang sakit.
"Ups, tanganku licin. Aku tidak tahu apa yang kau katakan!" ucap Marien namun untuk kedua kali, Marien memukul wajah Fiona dengan kepalan tinjunya yang sedari tadi sudah siap. Marien tidak berhenti karena dia tidak terima dilempar dengan kue padahal dia tidak tahu apa pun dan kembali memberikan tamparan di kedua pipi Fiona sambil menjambak rambutnya lalu sebuah pukulan kembali mendarat di hidung Fiona. Fiona hanya bisa berteriak tentunya banyak yang melihat keributan yang mereka lakukan bahkan William keluar dari restoran bersama dengan Steve karena dia menduga Fiona yang membuat keributan dan benar saja,
"Apa yang kalian berdua lakukan?" tanya William. Pemandangan macam apa ini? Kenapa seperti drama rendahan yang tak pantas dilihat? Tapi entah kenapa dia sangat puas melihat apa yang Marien lakukan pada Fiona.
"William, istrimu sudah gila jadi tolong aku!" teriak Fiona. Darah segar mengalir dari hidung dan kedua pipinya memerah akibat tamparan.
"Marien?" William pura-pura memanggil istrinya untuk mencegah. Pasti ada sebab barulah ada akibat dan benar saja, saat Marien berbalik, dia terkejut melihat cream kue yang mengotori wajah Marien.
__ADS_1
"Sorry, William. Tanganku gatal jadi aku tidak tahan untuk memukul wajah orang yang telah melemparku seenak hatinya!" Marien justru tidak terlihat takut dengan apa yang baru saja dia lakukan.
"Aku tidak melakukannya!" teriak Fiona yang sudah babak belur akibat pukulan dari Marien. Rambut lurusnya bahkan sudah acak-acakan karena dijambak oleh Marien.
"Memang dia yang melempar!" teriak seorang saksi.
"Jangan asal menuduh!" teriak Fiona. Kurang ajar, dia tidak menduga wanita itu cukup berani memukulnya di depan umum. Sekarang ingin membuat perhitungan dengannya pun sulit karena banyak saksi apalagi dia tahu William pasti akan membela istrinya dan tidak akan tinggal diam.
"Sial, jika aku tahu dia pandai bersikat lidah sudah aku ambil kue penuh kerikil itu untuk menyumpal mulutnya yang kurang ajar!" ucap Marien yang merasa kurang memberikan pelajaran untuk Fiona.
"Kemarilah, anjing yang bergonggong tidak perlu dipedulikan!" William sudah mengambil sapu tangannya. Tangan Marien ditarik hingga Marien sedikit membungkuk. William mengelap cream yang ada di wajah Marien sampai bersih. Tentunya Fiona sangat kesal melihatnya, seharusnya wanita itu yang malu tapi justru dia yang malu apalagi dia jadi cibiran beberapa orang yang melihat mereka.
"Ayo masuk ke dalam, tidak perlu pedulikan dia," ucap William.
"Apa cream di wajahku sudah bersih?" tanya Merien sambil mengusap wajahnya. Tentunya dia sengaja untuk memanasi suasana.
"Aku akan percaya jika kau memberikan ciuman di pipiku!" ucap Marien.
"kemari!" William memintanya dengan isyarat tangan. Marien mendekati William lalu sebuah kecupan mendarat di wajahnya. Marien tersenyum, sedangkan Fiona seperti kompor yang akan mengeluarkan asap tebal sebentar lagi
"Sudah bersih, bukan?"
"Sekarang aku percaya!" Marien melihat ke arah Fiona dengan ekspresi wajah puas. Fiona mengepalkan kedua tangan, dia merasa Marien sedang memanasi dirinya dan mengejeknya dengan melakukan hal itu.
"Ayo kita ke dalam!" Marien mendorong William untuk masuk ke dalam restoran namun sebelum itu, jari tengahnya diangkat ke atas.
__ADS_1
Fiona semakin dibakar oleh api amarah, dia tidak menduga jika istri William begitu berani memukul dan menghina dirinya dengan apa yang dia lakukan. Jujur saja hatinya panas melihat William mencium pipi Marine. Secepat itukah William berpaling dan melupakan cinta mereka berdua? Dia mengira William masih menyimpan perasaan padanya tapi nyatanya? William begitu peduli dengan wanita yang dia nikahi secara mendadak itu dan dia masih saja mengira William masih memiliki cinta untuknya.
Tunggu saja, dia tidak akan tinggal diam karena sudah dipermalukan seperti itu apalagi cibiran untuknya tak henti terdengar. Sebaiknya dia pergi karena dia benar-benar malu apalagi wajah dan kepalanya sakit akibat wanita gila itu.
"Bagaimana dengan drama yang aku mainkan?" tanya Marien setelah mereka duduk bersama di restoran.
"Bagus, sepertinya kau pantas mendapatkan piala Oscar," William meraih tangan Marien lalu mengusap telapak tangan dan punggung tangannya di mana buku jarinya memerah akibat memukul Fiona, "Apa sakit?" tanyanya.
"Tidak, tidak perlu khawatir!"
"Aku tidak menduga dia akan melemparmu," William mendaratkan ciumannya, dia tidak menduga Fiona seberani itu.
"Tidak perlu khawatir, aku sudah membalasnya. Aku bukan orang bodoh yang akan diam saja. Dia berani melempar maka aku berani memukul. Lagi pula lemparan yang dia berikan tidak seberapa tapi aku yakin dia tidak akan melupakan pukulan yang aku berikan jadi yang sial adalah dirinya yang bertemu denganku!"
William terkekeh, dia pun tidak menduga Marien cukup berani memukul Fiona secara langsung. Sepertinya dia tidak menikahi orang yang salah karena Marien bukan wanita penakut.
"Kenapa dia bisa berada di sini? Apa dia membuntuti dirimu?"
"Anggap saja begitu, aku sendiri tidak tahu kenapa dia bisa datang tapi yeah, dulu kami sering makan di tempat ini."
"Baiklah, apa ada yang dia bicarakan seperti menghina dirimu lagi?" Marien kembali bertanya karena dia khawatir Fiona kembali menghina William.
"Tentu saja tidak tapi dari pada membicarakan dirinya, aku lebih suka kita makan lalu kau bisa mewawancarai aku di rumah nanti!"
"Jika dia berani menghina dirimu maka lain kali aku akan memukulnya lebih keras lagi agar dia tidak berkutik karena pukulanku ini!" Marien menekuk kepalan tangan namun dia bisa merasakan sakit di buku-buku jarinya akibat memukul wajah Fiona yang keras.
__ADS_1
"Aku tahu kau akan melakukannya!" William kembali meraih kedua tangan Marien dan menggenggamnya. Meski tidaklah pantas dilindungi oleh seorang wanita tapi sejauh ini mereka benar-benar partner yang sempurna karena mereka saling membantu untuk masalah yang mereka alami tapi untuk yang Marien lakukan saat ini, dia benar-benar wanita keren yang tidak takut apa pun. Sekarang dia benar-benar merasa jika dia sangat beruntung dapat bertemu dengan Marien.