Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Jangan Terlalu Memuji


__ADS_3

Semua berkas yang William inginkan sudah berada di atas meja dan semua berkas itu adalah dokumen kerja sama yang dibuat oleh ayahnya bersama dengan Zack Erson dulu dan sekarang dia berniat menyudahi kerja sama di antara mereka. William melihat surat perjanjian itu, ternyata memberikan keuntungan yang tidak main-main. Semua pengusaha pasti tidak akan menolak kerja sama yang memberikan keuntungan tapi dia tidak keberatan untuk kehilangan satu rekan bisnis.


Lagi pula kerja sama mereka sudah berjalan terlalu lama, sudah saatnya mengakhiri dan memberikan kesempatan pada pengusaha lain yang lebih kompeten. Banyak yang menginginkan kesempatan itu dan kesempatan untuk Zack akan berakhir hari ini juga.


"Steve, kumpulkan para pengusaha yang terlibat dengan proyek ini termasuk Zack, aku akan mengadakan rapat dadakan dan carikan aku sebuah topeng agar dia tidak mengenali aku. Aku ingin memperbaharui semua kerja sama ini dan menghentikan semua kerja samaku dengan Zack Erson!" Wiliam melemparkan berkas yang sudah dia lihat. Dia sudah mempelajarinya dan menemukan celah dari perjanjian itu yang bisa dia gunakan untuk menendang Zack keluar dari kerja sama itu.


"Baik, Sir. Jam berapa rapat akan kau adakan?" Steve mengambil berkas yang ada di atas meja. Kali ini dia tahu jika bosnya serius.


"Jam tiga, aku sudah berjanji akan makan siang dengan Marien."


"Baik, Sir. Akan aku kerjakan!" Steve keluar dari ruangan untuk menjalankan perintah sedangkan William  menghubungi ayahnya yang ada di perusahaan lain untuk melihat keadaan. Ayahnya harus tahu akan hal ini karena dia butuh kerja sama dari sang ayah. Zack pasti tidak akan terima dan pergi mencari ayahnya dan meminta pada ayahnya untuk mengembalikan kerja sama itu lagi dengannya oleh sebab itu ayahnya harus tahu.


"Daddy sedang mogok bicara denganmu, untuk apa kau menghubungi Daddy?" tanya ayahnya yang masih kesal dengan sikap putranya yang sudah menyembunyikan keadaan kedua kakinya.


"Ayolah, Dad. Aku minta maaf. Apa masih kurang?"


"Kurang sebelum kau menikah dan memberikan aku cucu. Sebelum itu terjadi, aku malas berbicara denganmu!" ucap ayahnya.


"Wow..., aku baru saja putus dari Fiona. Mana bisa secepat itu?"


"Siapa bilang tidak bisa! Jika kau tidak cinta mati pada Fiona maka kau bisa menemukan wanita yang jauh lebih baik dari pada dirinya yang bisa kau jadikan istri!"


"Baiklah, baik. Aku butuh bantuan Daddy, jadi nanti saja mogok bicaranya!"


"Enak saja, apa kau kira amarahku bisa dinegosiasi?!"


"Please, Dad. Serius!" pinta William.


"Cepat katakan!" ucap Ayahnya yang masih kesal pada putranya.

__ADS_1


"Dengar, aku ingin mengakhiri kerja sama dengan Zack Erson jadi jika pria itu mencari Daddy dan menanyakan kenapa kerja sama dengannya disudahi, Daddy tahu apa yang harus Daddy katakan, bukan?"


"Kenapa kau mengakhiri kerja sama dengannya? Apa dia membuat ulah?"


"Daddy mau punya cucu tidak?"


"Tentu saja mau tapi apa hubungannya dengan Zack Erson?"


"Sudah, ikuti saja. Kita sudah memberikan banyak keuntungan padanya dan sekarang, aku ingin dia turun dari kursi panasnya!"


"Baiklah, jangan hubungi aku lagi karena aku masih mogok bicara. Jika kau sudah memberikan aku cucu maka barulah aku mau berbicara denganmu lagi!" setelah berbicara demikian, Abraham mengakhiri pembicaraan mereka. Awas saja putranya jika tidak segera menikah, dia tidak mau berbicara lagi dengannya.


William hanya menggeleng. Ayahnya benar-benar marah dengannya, ini gawat karena kedua orangtuanya pasti akan semakin marah saat tahu pernikahan rahasianya dengan Marien. Semoga saja hubungan satu tahun mereka dapat mereka sembunyikan dengan baik tanpa diketahui oleh kedua orangtuanya dan semoga saja hubungan mereka bisa berubah.


William meminta Steve mengantarnya ke restoran, di mana dia dan Marien akan makan siang bersama. Marien datang terlebih dahulu, sambil menunggu Marien mengerjakan pekerjaannya oleh sebab itu dia tidak menyadari tatapan mata William yang tidak berpaling darinya.


Dia sudah mendapatkan istri yang baik tanpa dia duga meski mereka terikat dengan perjanjian. Apakah dia harus mengikat Marien untuk seumur hidup dan menjadikan pernikahan mereka menjadi nyata? Dia akan menunggu jawaban dari Marien dan memutuskannya setelah mendengar jawaban dari Marien.


"Kenapa kau tidak menghubungi aku jika kau sudah tiba?" Marien menutup laptop dan menyimpan benda itu ke dalam tas.


"Apa aku harus melakukannya?" William menghentikan kursi rodanya di sisi Marien.


"Tentu saja, agar aku bisa mendorongmu dari luar ke dalam. bagaimana dengan harimu?" Marien mengusap lengan William, usapan yang William sukai karena baginya usapan itu memberikan semangat meski dia sedang bersemangat.


"Tentu saja bagus, bagaimana denganmu? Apa ada kendala di perusahaanmu?"


"Kendala sudah pasti ada, tidak ada bisnis yang berjalan dengan mulus tapi aku masih bisa menanganinya."


"Bagus, aku senang mendengarnya!" William memegangi tangan Marien yang berada di atas lengannya.

__ADS_1


"Kau terlihat senang hari ini, apa telah terjadi hal yang bagus?" tanya Marien.


"Tentu, setelah bertemu dan mengenalmu, banyak kejadian bagus yang aku alami dalam hidupku!"


"Gombal!" Marien memalingkan wajahnya yang tersipu. Kenapa dia jadi malu? Entah kenapa dia merasa William jadi sering menggodanya beberapa hari belakangan.


"Aku serius, Steve berkata jika kita pasangan yang serasi. Apa kau tidak merasa demikian?" sepertinya dia harus menebar jaring jika menginginkan jawaban yang bagus dari Marien atas pertanyaan yang dia berikan pagi itu.


"Benarkah? Apa hubungan kita yang sementara ini lebih baik dari pada hubunganmu dengan mantan kekasihmu itu?"


"Sepertinya, aku merasa kau lebih memahami aku dari pada Fiona."


"Tolong jangan terlalu memuji atau menyanjung aku, William. Aku memiliki banyak kekurangan dan aku rasa aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan jadi jangan terlalu memuji aku. Aku takut jadi besar kepala dan merasa di atas angin!" bagaimanapun yang dia lakukan memang tanggung jawabnya sebagai istri walau mereka hanya menikah di atas kertas.


"Aku memuji dirimu dan kau istriku saat ini jadi tidak akan ada yang mencegah. Apa yang aku lakukan sangat pantas bahkan aku akan memujimu untuk seumur hidup jika kau mau!"


"Apa artinya itu?" Merien menatap suaminya dengan lekat dan mencerna apa yang William maksudkan dari perkataan yang baru saja dia ucapkan.


"Pikirkanlah, Marien!" William mengangkat tangan Marien dan mengecup punggung tangannya, "Aku menantikan jawaban darimu jadi jangan terlalu lama memutuskannya!" sebuah kecupan kembali diberikan di tangan Marien.


"Hm, a-aku lapar. Boleh aku memesan makanan sekarang?" Marien menarik tangannya dan mengambil buku menu. Sebaiknya dia mengalihkan pembicaraan karena dia belum memikirkan dua pertanyaan dari William.


"Tentu, aku juga tidak bisa terlalu lama!" ucap William tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Marien.


"Ke-Kenapa kau menatap aku seperti itu? Apa wajahku kotor?"  Marien mencoba menyeka wajahnya.


"Tidak, aku tidak bisa melepaskan pandanganku darimu karena kau sangat cantik!" puji William.


"Go-Gombal!" Marien mengangkat buku menu lebih tinggi untuk menutupi wajahnya. Sial, jantungnya jadi berdebar tapi dia rasa William hanya bercanda dan ingin menggodanya saja. Sebaiknya dia tidak terlalu terbuai dengan gombalan William karena dia takut jadi salah paham nantinya.

__ADS_1


Memesan makanan untuk mereka berdua harus segera dia lakukan karena mereka tidak memiliki banyak waktu. Karena mereka sudah bersama beberapa waktu jadi Marien sudah tahu apa makanan yang tidak disukai dan makanan apa yang disukai oleh William. William merasa hubungan mereka yang terjadi secara tanpa sengaja bisa membawa mereka berdua ke suatu hubungan yang tanpa mereka duga.


Meski Marien tidak sadar dengan kebersamaan mereka sudah layaknya suami istri sungguhan tapi Marien selalu melakukan perannya dengan baik dan entah kenapa dia merasa jika dia harus memperjuangkan wanita baik dan tulus seperti Marien. Meski belum ada cinta di antara mereka tapi tidak menutup kemungkinan mereka berdua akan jatuh cinta nanti dan dia tidak boleh menyia-nyiakan wanita baik seperti Marien karena pasti banyak pria yang mau. Di bandingkan pengkhianat itu, wanita yang baru dia jumpai sungguh jauh lebih baik oleh karena itu, dia tidak ragu untuk memperjuangkan Marien dan menumbuhkan perasaan di antara mereka berdua.


__ADS_2