Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Kau Lagi!


__ADS_3

Alexa lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berolahraga selama berada di dalam sel tahanannya. Terkadang dia juga berbincang dengan sesama tahanan karena dia di penjara bersama dengan beberapa napi wanita. Mereka baik, tidak melakukan keributan meski Alexa adalah tahanan baru.


Seorang sipir penjara mendekati sel tahanan, tentu saja sipir itu hendak menyampaikan pesan pada Alexa jika ada yang ingin menemui dirinya. Alexa kira itu adalah adalah adik atau ayahnya tapi ketika melihat pemuda yang sedang menunggu membuatnya jadi gusar.


Lagi-Lagi pria itu. Padahal dia sudah meminta Steve untuk tidak datang tapi sepertinya pria itu tidak mendengarkan permintaannya. Steve beranjak dari tempat duduk, ketika Alexa dibawa masuk oleh dua sipir yang mengiringnya. Mereka ditinggalkan karena para sipir itu sudah terbiasa tapi mereka tetap berjaga di luar sana.


"Kau lagi! Apa kau tidak memiliki pekerjaan sehingga kau selalu datang?" ucap Alexa sinis.


"Aku mendapat tugas untuk mengantar makanan ini untukmu!" ucap Steve.


"Tugas? Dari siapa?" Alexa duduk sambil melotot ke arah Steve.


"Tentu saja dari Nona Marien. Dia meminta aku mengantarkan makanan yang dibawa oleh ayahmu!" Steve mendorong makanan yang ada di atas meja ke arah Alexa. Dia juga membeli minuman untuk Alexa meski dia tidak tahu Alexa suka atau tidak.


"Terima kasih, sekarang kau bisa pergi!" Alexa mengambil makanan itu karena dia ingin menikmatinya tapi Steve yang dia minta untuk pergi tidak pergi sama sekali. Pria itu bahkan tak memalingkan tatapan matanya dari Alexa.


"Kenapa kau tidak juga pergi? Apa yang kau tunggu?!" Alexa memandangi Steve dengan tatapan tidak senang.


"Aku harus memastikan semua itu kau habiskan sebelum kau pergi!" ucap Steve.


"Apa? Aku bukan anak kecil yang harus ditunggui saat makan jadi pergilah. Tidak perlu menunggu aku seperti itu. Aku pasti akan menghabiskan semua makanan ini!"


"Maaf, aku harus menjalankan perintah apalagi ayahmu ingin tempat itu dibawa kembali supaya bisa dia gunakan lagi!"


"Apa?" dia tidak percaya jika ayahnya begitu perhitungan hanya untuk sebuah tempat makan saja tapi memang selama ini dia selalu menghabiskan makanan sebelum ayah atau adiknya pergi.


"Jadi aku tidak akan pergi sebelum Nona selesai!" ucap Steve.


"Terserah kau saja!" ucap Alexa yang tidak mau berdebat lagi. Alexa menikmati makan yang dibawakan oleh Steve, mendadak dia jadi murung dan sedih karena makanan yang dia makan adalah makanan kesukaannya sejak kecil dan makanan itu sudah tentu dibuatkan oleh ibu Marien.

__ADS_1


Dia yakin pasti ayahnya yang membuat makanan itu. Sekarang dia jadi teringat dengan masa lalu di mana hubungannya sangat baik dengan Marien sebelum kebencian di tanamkan di dalam hatinya oleh ibunya yang ternyata seorang ja*ang.


Alexa menikmati makanan itu dengan terburu-buru, air mata menetes tanpa dia inginkan. Steve sampai heran dibuatnya. Alexa menunduk sambil menikmati makanannya agar Steve tidak melihat tangisannya. Menyebalkan, dia tidak suka dengan tatapan mata Steve karena dia tidak mau pria itu menganggapnya menyedihkan.


"Pakai ini!" Steve memberikan sapu tangannya pada Alexa.


"Pergilah, aku akan menyimpan tempat makan milik ayahku jadi pergilah!" pinta Alexa.


"Aku akan di sini menemanimu sampai selesai jadi pakai sapu tangan ini!" Steve masih memberikan sapu tangannya.


"Pergilah, jangan sampai William memecatmu!" ucap Alexa seraya menyambar sapu tangan yang ada di tangan Steve untuk mengusap air matanya.


"Aku sudah mendapat ijin jadi tidak perlu mengkhawatirkan hal itu!"


"Hm, terserah kau saja!" tidak mau yang sudah, dia tidak bisa mencegahnya. Sebaiknya dia segera menghabiskan makanan itu lalu kembali ke dalam sel tahananya agar dia tidak terlalu lama berduaan dengan Steve di ruangan yang sempit itu.


"Untuk apa kau tahu kehidupanku selama di penjara? Aku rasa kau tidak berhak!"


"Aku hanya ingin tahu saja, jika tidak mau mengatakannya maka tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa," ucap Steve.


"Hng!" Alexa mendengus dan kembali makan. Entah apa tujuan Steve, semoga saja pria itu berada di sana bukan karena perihal percakapan mereka waktu itu apalagi dia sudah meminta Steve untuk tidak menganggapnya serius. Seharusnya dia tidak memberikan tantangan pada Steve namun ucapan waktu itu dia lontarkan tanpa maksud apa-apa. Lagi pula dia tidak menduga jika Steve menanggapinya dengan serius sampai mengatakan pada adiknya jika ingin menikahinya setelah keluar dari penjara. Sungguh lucu!


"Jangan datang lagi setelah ini!" Alexa menutup kotak makan yang sudah kosong lalu mendorongnya ke arah Steve. Sapu tangan pun diletakkan ke atas meja dengan kasar. Semoga tindakannya itu membuat Steve kesal lalu tidak datang lagi.


"Aku sudah selesai, jadi pergi!" usirnya.


"Kau belum menghabiskan minumannya, Nona. Jadi aku belum bisa pergi!"


"Apa?" Alexa semakin melotot dengan ekspresi tidak senang. Apa untungnya melihatnya makan dan minum? Dia bukan selebriti, bukan juga seorang penguasa yang harus disegani.

__ADS_1


"Lain kali jangan hanya bawa satu. Bawa juga untuk teman-temanku yang ada di dalam penjara!" ucapnya tanpa menyadari jika ucapannya itu akan menjadi masalah lagi setelah perkataan yang dia ucapkan waktu itu karena tidak boleh membawa makanan ke dalam sel tahanan dan dia tidak tahu akan hal itu.


"Baiklah jika itu yang kau mau. Katakan padaku berapa orang teman yang kau miliki? Aku akan membawanya nanti saat aku datang," ucap Steve mengiyakan.


"Ada sepuluh. Ingat, jangan meminta adikku yang membelikannya tapi kau harus membelinya sendiri menggunakan uangmu!" dia ingin lihat seberapa tahan Steve menghadapi sikap menyebalkannya. Dia tidak percaya pria itu bisa  lmemiliki kesabaran seperti Marien bahkan dia yakin sulit untuk menemukan orang yang sabar seperti Marien.


"Akan aku lakukan!" Steve cuek saja, seolah-olah tidak mempermasalahkan hal itu. Untuk kesekian kali, Alexa mendengus. Minuman yang ada di dalam gelas besar pun hendak dihabiskan tapi dia sudah cukup kekenyangan dan merasa tidak sanggup lagi apalagi minuman itu sangat manis baginya.


"Siapa yang membeli minuman seperti ini?" tanya Alexa.


"Aku, apa kau tidak suka?"


"Sudah aku duga. Aku tidak suka dengan minuman seperti ini jadi jangan beli lagi!" sudah dia duga bukan ayah dan adiknya yang beli.


"Baiklah, minuman apa yang kau sukai dan makanan apa yang kau sukai, katakan padaku!"


"Untuk apa kau tahu, hah? Pacar bukan, calon suami juga bukan!" Alexa kembali menyeruput minuman manis yang seperti boba itu sambil menatap Steve dengan tajam.


"Apa kau tidak ingin menjadikan aku pacarmu? Atau langsung jadi calon suamimu pun aku tidak keberatan!"


Alexa terkejut dan tersedak minuman yang hendak dia telan. Alexa tampak panik sedangkan Steve terlihat cuek dengan ekspresi datarnya. Alexa buru-buru menyeka bibirnya setelah batuknya terhenti, apa yang sebenarnya yang terjadi dengan asisten William itu? Semoga saja pria itu masih waras sehingga menyadari apa yang dia ucapkan barusan.


"Aku tidak mau lagi berbasa-basi denganmu!" Alexa beranjak dari tempat duduk. Sebaiknya dia tidak banyak bicara dengan Steve dan membuat keadaan semakin kacau.


"Besok aku akan datang lagi!" Steve pun beranjak dari tempat duduknya.


"Jangan datang!" ucap Alexa sebelum keluar dari ruangan.


Steve tidak menjawab, tempat makanan dan minuman yang tersisa setengah dibereskan. Dia pasti akan datang lagi. Sepertinya dia harus menemui Marien dan meminta Marien untuk selalu memintanya datang ke penjara setiap kaliningin mengantarkan makanan untuk Alexa. Jangan tanya kenapa, dia juga tidak tahu.

__ADS_1


__ADS_2