
Setelah menjalankan beberapa perintah, Steve pergi untuk mengambil sup sesuai dengan perintah bosnya. Silvia tidak saja membuat sup, beberapa makanan pun dibuat karena dia jadi memikirkan apakah putranya sudah makan atau belum. Meski dia marah tapi dia tetap mengkhawatirkan keadaan William apalagi kedua kakinya belum bisa dia gunakan.
Beberapa makanan sudah berada di dalam keranjang saat Steve datang. Silvia tidak langsung memberikannya karena ada beberapa pertanyaan yang hendak dia tanyakan pada Steve tentu saja dia ingin tahu bagaimana keadaan William dan wanita yang dia nikahi.
"Jangan terburu-buru, duduklah terlebih dahulu karena ada yang ingin aku bicarakan denganmu!" ucap Silvia.
"Baik, Nyonya," Steve dipersilahkan untuk masuk bahkan segelas kopi dibuatkan untuknya.
"Bagaimana dengan keadaan William?" tanya Silvia.
"Baik-Baik saja."
"Apa dia tidak melakukan pengobatan untuk kedua kakinya?"
"Sedang dilakukan, Nyonya. Dokter yang menanganinya berkata mereka akan menggunakan alat bagus agar kedua kaki Tuan Muda cepat sembuh."
"Baiklah, sekarang jawab aku baik-baik. Apakah wanita yang dinikahi oleh Wiliam adalah wanita baik? Aku tidak akan bertanya dia siapa, aku hanya ingin tahu wanita itu wanita baik atau tidak. Apakah dia benar-benar bisa menjadi istri Wiliam atau tidak karena aku tidak mau William tertipu untuk kedua kalinya. William memang hebat dalam berbisnis tapi dia payah dalam percintaan seperti ayahnya."
"Sejauh ini yang aku lihat Nona Marien sangat tulus, Nyonya. Bahkan aku merasa dia jauh lebih baik dari pada kekasih-kekasih Tuan Muda sebelumnya."
"Benarkah? Aku harap kalian tidak tertipu dengan perhatian dan kebaikan yang wanita itu berikan pada William seperti yang Fiona lakukan karena selain Fiona, banyak yang memanfaatkan situasi untuk tujuannya."
"Kali ini aku berani bertaruh, Nyonya. Kau bisa melihatnya sendiri setelah bertemu dengannya nanti."
"Baiklah, habiskan kopi dan kuenya. Ini makanan yang William inginkan dan aku harap kau menjaga mereka berdua dengan baik selama kedua kaki William belum sembuh. Jika William bertanya katakan itu makanan untuk menantuku!" Silvia mendorong keranjang yang sudah penuh dengan makanan kesukaan William, "Jangan katakan pada William jika aku bertanya seperti ini padamu," sebagai seorang ibu tentu dia tidak mau William tertipu untuk kedua kalinya. Jangan sampai ada Fiona-Fiona kedua yang memanfaatkan William.
"Baik, Nyonya. Terima kasih," Steve menikmati kopi dan kue yang sudah terhidang untuknya terlebih dahulu barulah dia pergi untuk mengantar makanan yang diinginkan oleh bosnya sebelum melakukan perintah yang lainnya.
William yang menjaga Marien sudah menyelesaikan proposal milik Marien. Dengan begini Marien bisa bertemu dengan ayahnya lebih cepat untuk mendapatkan kerja sama itu. Saat bangun nanti, dia akan memberikan proposal itu agar Marien senang.
William mendekati Marien dan menyentuh dahinya. Sudah tidak sepanas tadi pagi, sepertinya keadaan Marien sudah jauh lebih baik dari pada sebelumnya. Bagus, Marien akan segera sembuh jika dia beristirahat tanpa melakukan apa pun hari ini.
"Sudah jam berapa?" Marien terbangun akibat sentuhan tangan suaminya.
__ADS_1
"Jam satu, apa kau mau minum? Apa sudah lapar?"
"Hm," Marien bangun dengan perlahan, beruntungnya kepalanya sudah tidak sakit lagi.
William mengambil minuman yang ada di atas meja lalu memberikannya pada Marien yang sudah bersandar di tumpukan bantal yang cukup tinggi.
"Bagaimana dengan keadaanmu, Honey? Apa sudah lebih baik?"
"Tentu saja, Will. Aku akan membuat makan siang untuk kita setelah ini."
"Tidak perlu, sebentar lagi Steve akan tiba dan membawakan makanan yang dibuatkan oleh ibuku untuk kita."
"Aku belum bertemu dengan ibumu tapi aku sudah merepotkan dirinya."
"Tidak perlu dipikirkan, kalian akan bertemu nantinya dan ini?" William mengambil dokumen dari atas meja lalu memberikannya pada Marien, "Semua sudah selesai, aku yakin Abraham tidak akan menolak proposal ini," ucapnya.
"Kau sudah menyelesaikannya?" Marien tampak tidak percaya namun dia terlihat senang.
"Yes, besok buatlah janji dengan Abraham Archiles agar kau segera mendapatkan kerja sama ini."
"Thanks, Will. Aku benar-benar terbantu."
"Tidak. Akulah yang harus berterima kasih padamu, Sayang. Apa yang aku lakukan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang kau lakukan untukku. Aku banyak berhutang budi padamu dan aku bersumpah akan mencintaimu untuk seumur hidupku bahkan aku akan mengucapkan sumpah ini setiap hari agar kau percaya padaku," William memeluk Marien dengan erat, sudah pasti dia akan mencintai Marien untuk seumur hidupnya dan tidak akan pernah menyia-nyiakan Marien.
"Terima kasih," Marien tersenyum, senyum kebahagiaan. Pria yang dianggap pecundang oleh orang-orang ternyata tidak mengecewakan dirinya sama sekali.
"Bagaimana dengan? Apa masih sakit?" tanya William.
"Hm," wajah Marien memerah karena dia tahu apa yang William maksudkan.
"Tentu saja. Aku hanya kehilangan keperawanan saja, bukannya melahirkan yang akan lebih sakit dari pada apa yang aku rasakan semalam jadi sudah tidak sakit lagi."
"Baiklah," William mendorong sedikit tubuh Marien lalu mengangkat dagu istrinya. Mereka berdua saling tatap sebelum William mendekatkan bibir mereka berdua.
__ADS_1
"I love you," perkataan itu terucap sebelum William mencium bibir Marien.
Marien sedikit terkejut namun itu pernyataan yang membuatnya bahagia. Kedua mata Marien sudah terpejam, William menciumnya dengan lembut dan dengan penuh perasaan. Pelukan mereka pun semakin erat. Meski tanpa ungkapan pun, bahasa tubuh mereka sudah cukup menunjukkan jika mereka berdua sudah saling jatuh cinta dan saling mencintai.
Ciuman William harus terhenti saat Steve mengetuk pintu kamar karena dia sudah tiba dan akan memberikan makanan yang dia bawa.
"Sir, makanan dari ibumu sudah aku bawakan!" ucap Steve tanpa tahu sudah mengganggu kegiatan Marien dan William.
"Simpan saja di dapur, Steve!" perintah Abraham.
Marien menutupi bibirnya dengan tangan, wajahnya jadi sedikit merona karena dia jadi ingat dengan apa yang dia lakukan pada William semalam. Meski itu kenangan buruk yang tidak mau dikenang tapi dia jadi malu jika mengingat dia yang bermain sendiri. Entah kenapa dia jadi merasa jika dia sudah memperkosa suaminya sendiri.
"Marien, kau ingin makan di kamar atau di dapur?" tanya William.
"Tentu saja di dapur, aku akan membantumu!" Marien sudah turun dari atas ranjang. Kepalanya sudah tidak sakit lagi meski dia masih merasa tidak begitu sehat tapi hanya untuk membantu William dia masih bisa.
Steve mengeluarkan semua makanan yang ada di dalam keranjang dan menghidangkannya ke atas meja agar bosnya tidak repot. Dia pikir Marien belum bisa bangun dari atas ranjang oleh sebab itu dia melakukannya.
"Kenapa begitu banyak, Steve?" tanya William.
"Nyonya membuatkan semua ini untuk Nona."
"Baiklah, apa kau sudah mengerjakan semua yang aku perintahkan?"
"Belum, masih ada yang harus aku lakukan!" jawab Steve.
"Makanan begitu banyak, bagaimana jika kita makan bersama, Steve?" tanya Marien.
"Terima kasih atas tawarannya, Nona. Aku sudah makan."
"Jika begitu terima kasih sudah membawakan makanan ini untuk kami, Steve."
"Tidak perlu berterima kasih, Nona. Aku permisi karena ada yang harus aku pekerjaan," Steve pamit pergi namun dia berpaling sebentar untuk melihat William dan Marien.
__ADS_1
Marien mendorong William mendekati meja makan lalu mengambilkan makanan untuk William. Dia rasa bosnya tidak salah memilih kali ini karena dia bisa melihat apa yang dilakukan oleh Marien begitu tulus. Sekarang waktunya pergi untuk membereskan Fiona dan setelah ini, Fiona tidak akan berani menganggu William dan Marien lagi.