
Abraham sedang bermain dengan cucunya karena William dan Marien mengajak putrinya pulang. Mereka ingin menitipkan Emely sebentar karena mereka hendak pergi. Emely sudah bisa mereka tinggal apalagi Emely suka bermain dengan kakeknya meski pun Emely begitu aktif.
Marien dan Wiliam hendak pergi bukan tanpa alasan, mereka ingin pergi ke rumah sakit karena hari ini Alexa akan melahirkan anak pertamanya. Waktu begitu cepat berlalu, Alexa dan Steve menjalani rumah tangga mereka seperti pasangan yang lainnya. Meski sempat keguguran tapi hal itu tidak menghalangi Alexa untuk hamil lagi.
Setelah menjalani rumah tangga mereka selama beberapa bulan, kabar baik datang darinya karena Alexa hamil. Sebagai pasangan yang sama-sama pernah kehilangan bayi, Alexa dan Steve tentu saja menjaga bayi mereka dengan begitu penuh kehati-hatian sampai akhirnya saat bersalin pun tiba.
Steve menunggu dengan perasaan takut, dulu dia juga berada di posisi itu. Menanti istrinya melahirkan buah hati mereka. Dia menunggu dengan tidak sabar tapi sayangnya, yang dia dapatkan bukanlah kebahagiaan karena yang dia dapatkan justru kesedihan.
Steve bahkan hampir tidak mau menemani Alexa karena takut tapi dia tidak tega meninggalkan Alexa yang menahan rasa sakit seorang diri. Dia justru menginginkan teman yang bisa menenangkan dirinya tapi William belum juga datang. Alexa menahan rasa sakit sedangkan Steve mencoba melawan rasa takut. Bayang-Bayang istri pertamanya yang meninggal setelah melahirkan beserta bayinya menghantui dirinya. Steve justru terlihat tidak berdaya dibandingkan Alexa yang sedang menahan sakit setiap kali kontraksi terjadi.
"Ada apa denganmu?" tanya Alexa sambil menahan rasa sakitnya. ternyata melahirkan tidak mudah. Dia benar-benar harus berjuang untuk melahirkan anak pertamanya apalagi dia sudah menahan sakit itu selama berjam-jam. Sebab itu juga yang membuat Steve takut luar biasa.
"Bagaimana jika kau menjalani operasi saja? Aku lebih suka kau menjalani operasi untuk melahirkan bayi kita!" pinta Steve. Dulu istrinya juga mengalami apa yang Alexa alami, dia takut kejadian buruk itu kembali terulang dan dia tidak mau kehilangan istrinya untuk kedua kalinya.
"Tidak, aku lebih suka melahirkan secara normal!" tolak Alexa.
"Please, untuk kali ini dengarkan permintaanku. Aku pernah berada di situasi ini, dulu almarhum istriku juga menolak menjalani operasi tapi apa yang terjadi? Dia meninggal beserta bayi kami dan aku tidak ingin kejadian buruk itu terulang kembali!" tangan Alexa dicengkeram dengan erat, Alexa dapat melihat rasa takut dan khawatir dari ekspresi wajah Steve.
"Please, jangan memaksakan diri. Kau yang menahan rasa sakit dan aku sedang menahan rasa takut. Tolong jangan membuat aku kehilangan istri dan bayiku lagi untuk yang kedua kalinya. jalani operasi agar aku bisa tenang dan agar bayi kita cepat lahir!" pinta Steve lagi dengan nada memohon. Dia harap Alexa tidak keras kepala dan mendengarkan permintaannya.
"Baiklah, aku akan mengikuti perkataanmu jadi lakukan sekarang juga!" pinta Alexa.
"Bagus!" Steve bergegas meminta perawat untuk melakukan tindakan lain yaitu melakukan operasi. Jika Alexa tidak menahan rasa sakit itu begitu lama maka dia tidak akan meminta Alexa menjalani operasi. Dia sungguh tidak mau kejadian sama kembali terulang.
Alexa dipindahkan ke ruangan lain, Steve mengikutinya dengan ekspresi takut dan cemas. Gavin yang menunggu sedari tadi tentu saja sangat cemas, dia melangkah mengikuti karena dia ingin tahu apa yang terjadi dengan putrinya.
"Apa yang terjadi? Apa yang terjadi dengan Alexa?" tanyanya.
"Aku ingin Alexa menjalani operasi!" ucap Steve.
"Apa? Apakah telah terjadi sesuatu?" Gavin mulai panik mendengar perkataan Steve.
"Tidak perlu khawatir, Dad. Aku akan baik-baik saja!" ucap Alexa. Meski dia berkata demikian, Steve masih tetap merasa takut karena bayi mereka belum dilahirkan.
__ADS_1
Alexa dibawa masuk ke dalam ruang operasi diikuti oleh Steve. Semua perlengkapan sudah siap, Alexa segera dioperasi tanpa membuang waktu yang lama. Marien dan William pun sudah datang. Marien menebak jika Alexa sudah melahirkan oleh sebab itu dia melangkah dengan tergesa-gesa namun sakit kepala yang mendadak menyerang membuat langkah Marien terhenti.
"Ada apa denganmu" William bergegas menghampiri istrinya dan menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Kepalaku mendadak pusing. Aku sepertinya butuh duduk sebentar!" ucap Marien.
"Itu akibatnya kau terlalu terburu-buru. Jangan terlalu cepat, kau pun tidak akan mengubah apa pun jadi jangan terlalu terburu-buru!"
"Baiklah, tapi sekarang aku ingin duduk sebentar agar kepalaku tidak terlalu sakit lagi."
"Kemarilah!" William menarik tanganĀ Marien menuju sebuah kursi lalu mengajaknya untuk duduk. Marien bersandar sambil memejamkan mata. Sebenarnya dia sudah merasakan pusing selama beberapa hari belakangan tapi dia tidak pernah merasakan pusing yang teramat sangat seperti itu.
"Bagaimana, apa sudah lebih baik?"
"Beri aku waktu!" pinta Marien.
"Jika tidak juga membaik lebih baik melakukan pemeriksaan agar keadaanmu segera pulih," William memijit tengkuk Marien agar keadaannya cepat pulih.
"Apa kau yakin?"
"Tentu saja, sekarang aku baik-baik saja," Marien berusaha tersenyum, dia tidak boleh mengacaukan keadaan apalagi ini hari bahagia kakaknya. Dengan hati-hati, William membawa istrinya di mana Alexa sedang menjalani persalinan dengan cara operasi. Selama mereka menuju ruangan itu, William justru memikirkan sesuatu akan keadaan istrinya.
Hanya Gavin yang ada di sana saat mereka tiba. Marien sangat heran ketika dia tiba ternyata kakaknya sudah berada di ruang operasi namun penjelasan yang ayahnya berikan membuatnya paham. Marien pun menunggu seperti ayahnya namun William masih memikirkan sesuatu sampai akhirnya dia mendapatkan jawaban dari rasa ingin tahunya sedari tadi.
"Marien, ayo ikut denganku!" ajaknya.
"Hah? Untuk apa?" tanya Marien tidak mengerti.
"Ikut saja, Sayang. Aku ingin tahu sesuatu!"
"Baiklah. Aku tinggal sebentar, Dad."
"Pergilah, Daddy yang akan menunggu."
__ADS_1
Marien mengikuti William yang ternyata membawanya untuk menjalani pemeriksaan. Tentu saja Marien sangat heran dengan keinginan suaminya apalagi seorang perawat justru memberikan test pack.
"Apa maksudnya ini, Will?" tanya Marien tidak mengerti.
"Aku ingat, sudah lama kau tidak datang bulan. Mumpung di rumah sakit, sekalian jalani pemeriksaan. Siapa tahu kau sedang hamil," ucap William.
"Benar juga. Akibat sibuk dengan Emely aku melupakan hal ini."
"Jadi?"
"Akan aku periksa!" Marien mencium suaminya lalu mengambil test pack yang ada masih berada di tangan seorang perawat. Tanpa membuang waktu, Marien melakukan tes di kamar mandi. Semula dia tidak yakin dan menganggap jika keadaannya akibat lelah saja mengurus Emely yang sedang aktif-aktifnya tapi ketika melihat garis dua di alat test pack, Marien hampir melompat karena girang.
"Bagaimana?" tanya William tidak sabar ketika istrinya sudah keluar.
"Seperti yang kau duga!" Marien memperlihatkan alat yang ada di ada di tangannya.
"Yes!" William menggendong istrinya lalu memutarnya beberapa kali, "Kali ini harus laki-laki!" ucapnya. Marien tertawa bahagia, dia tidak menduga jika mereka justru mendapatkan kabar bahagia itu di saat kabar bahagia yang lain sudah menunggu.
Untuk memastikan lebih jauh, mereka meminta dokter untuk memeriksa keadaan Marien dan memang Marien sudah hamil minggu. Mereka menahan diri untuk tidak membagikan kabar gembira itu terlebih dahulu dan bergegas menghampiri Gavin yang masih menunggu.
Alexa yang menjalani operasi sudah melahirkan bayinya dengan lancar. Seorang bayi laki-laki lahir dengan keadaan sehat tentunya membuat Steve yang tadinya takut meneteskan air mata bahagia saat menggendong putranya untuk pertama kali. Gavin yang sudah diperbolehkan masuk pun sangat senang melihat keadaan putri dan cucunya.
Alexa yang baru saja melewati proses panjang tentu saja bahagia karena anaknya sudah lahir. Kebahagiaan terlihat dari ekspresi Alexa dan Steve tentunya pada mereka semua. Marien dan William pun memberikan selamat pada mereka berdua. Semua sudah terasa lengkap, satu anggota baru lagi datang pada keluarga mereka tapi akan ada anggota lainnya lagi. Kabar itu disampaikan pada ayahnya dan yang lainnya, kabar mendadak yang semakin membuat mereka bahagia.
Putra Steve dan Alexa diberi nama Dallas. Mereka berencana memiliki bayi lagi tentunya setelah Dallas sudah sedikit dewasa. Marien dan William masih berada di rumah sakit untuk beberapa saat tapi setelah itu mereka pulang untuk memberikan kabar bahagia lain pada kedua orangtua William.
Silvia dan Abraham yang mendengar kabar kehamilan kedua Marien tentu saja terkejut dan sangat senang. Sungguh kabar bahagia yang tak terduga di saat kabar bahagia lainnya sedang dinantikan. Mereka sungguh tidak menduga apalagi Marien dan William. Sebentar lagi, akan ada anggota baru bagi keluarga mereka. Setelah melewati banyak hal, mereka mendapatkan kehidupan mereka masing-masing.
Alexa dan Steve mendapatkan kehidupan mereka bersama dengan putra yang baru saja dilahirkan. Tidak ada kata terlambat untuk orang yang mau bertobat dan berubah. Alexa menyadari kesalahannya dan memperbaiki diri sehingga dia mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Gavin yang hampir mencelakai kedua putrinya pun menyadari kesalahannya dan berusaha memperbaiki dirinya. Meski dia ditinggalkan oleh kedua putrinya tapi kedua putrinya justru sangat menyayangi dirinya dan semua itu karena kebaikan hati Marien yang telah mengubah hubungan mereka yang tidak baik menjadi keluarga yang harmonis.
Marien dan William yang menikah secara mendadak dalam ketiaksempurnaan dan sepakat untuk berpisah satu tahun kemudian ternyata menjadikan pernikahan mereka menjadi pernikahan nyata. Mereka benar-benar tidak menyangka dan sekarang, mereka justru menjadi keluarga sempurna yang bahagia dan sebentar lagi mereka akan menyambut kehadiran anak kedua mereka yang akan semakin melengkapi dan menyempurnakan kehidupan rumah tangga mereka.
End
__ADS_1