Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Serangan Mendadak


__ADS_3

Marien bersiap-siap untuk pergi menemui Becky bersama dengan asisten yang ditugaskan William untuk menjaga Marien. Semua berkas yang sudah mereka selesaikan disimpan karena sebentar lagi dia akan pergi ke restoran di mana dia akan menemui Becky. Semoga saja pertemuan cepat selesai agar dia bisa bersama dengan William. Dia akan mempelajari proposal itu sebentar lalu mengambil keputusan tapi entah kenapa, dia merasa was-was dan tidak tenang sedari tadi.


Entah apa yang dia rasakan, tapi dia merasa akan ada sesuatu yang terjadi yang pasti tidak menyenangkan. Semoga itu hanya perasaannya saja, semoga pula tidak terjadi hal yang tidak dia inginkan. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam ketika Marien dan sang asisten pergi dari kantor. Mereka telah memastikan semuanya sebab itu mereka segera pergi namun Marien tidak lupa menghubungi William terlebih dahulu untuk memberikannya kabar.


William masih berada di kantor ketika Marien menghubunginya. Dia malas pulang karena tidak ada Marien. Lagi pula dia sudah berjanji akan menjemput Marien dan mengajaknya makan malam bersama oleh sebab itu, dia enggan pulang. Senyuman menghiasi wajahnya ketika melihat Marien menghubunginya. Padahal mereka belum bertemu untuk beberapa saat saja tapi dia begitu merindukan istri tercintanya.


"Apa kau sudah selesai?" tanya William.


"Aku baru pergi, Will. Sekarang aku sedang berada di jalan."


"Aku kira kau sudah mau pulang, Sayang. Aku sudah sangat ingin menjemputmu karena aku begitu merindukan dirimu!"


"Tapi kita baru beberapa jam tidak bertemu."


"Jadi kau tidak merindukan aku?" tanya William.


"Bukan begitu, aku juga merindukan dirimu. Aku hanya sebentar dan setelah itu, aku ingin kita melewatkan malam kita berdua."


"Tentu saja, aku sudah tidak sabar!" ucap William. Seperti Marien, dia pun merasakan perasaan aneh yang sulit diungkapkan. Entah kenapa rasanya ingin mencegah Marien agar tidak pergi menemui rekan bisnis barunya itu tapi dia tahu itu adalah kesempatan Marien dan dia tidak mau mencegat langkah Marien.


William merasa kesepian hanya karena tidak ada Marien. Padahal biasanya tidak seperti itu karena dia selalu bersama dengan Marien. Sekarang dia baru sadar, hari-harinya selalu dia lewati dengan Marien meski lebih banyak dia habiskan di kantor dan menjalani terapi. Semenjak mereka menikah, Marien benar-benar mengisi harinya dan semua yang mereka lewati terasa begitu berharga.


William justru termenung, mengingat hal-hal indah yang telah mereka lewati bersama. Sekali lagi akan dia katakan, jika dia sangat beruntung bahkan dia akan mengatakannya berkali-kali jika dia adalah pria yang sangat beruntung meski dia dibeli oleh Marien.

__ADS_1


Mendapatkan istri yang luar biasa tidak mudah dan dia mendapatkannya di saat dia mengalami penghinaan dan pengkhianatan. Setiap kali dia memikirkan hal ini, dia selalu berkata betapa beruntungnya dia tapi perasaan tidak menyenangkan yang sedari tadi dia rasakan tidak juga hilang.


Agar tidak selalu merasa seperti itu, William melakukan banyak hal tapi perasaan tidak nyaman itu justru semakin membuatnya gelisah. Wanita yang hendak menemui Marien, dia lupa menanyakan siapa namanya. Sebaiknya dia mencari tahu agar perasaannya tenang oleh sebab itu, William menghubungi Marien agar dia tahu siapa yang akan ditemui oleh Marien.


"Ada apa, Will? Aku baru saja tiba!"


"Aku hanya ingin tahu, wanita yang hendak kau temui itu siapa namanya?' tanya William.


"Becky, ada apa?"


"Tidak ada apa-apa, Sayang. Aku hanya bertanya saja. Setelah selesai, segera hubungi aku!" ucap William.


"Pasti, aku sudah melihatnya dan aku akan menyelesaikan ini," ucap Marien karena dia sudah melihat Becky.


Yang William hubungi sudah pasti pemilik perusahaan karena mereka memang saling mengenal karena mereka menjalin bisnis sudah cukup lama. Pemilik perusahaan itu juga dia undang jadi dia rasa pemilik perusahaan itu pasti tahu jika dia mengutus Becky.


"Tuan Sharon, ini aku William Archiles. Maaf jika kau mengganggu waktumu," ucap William saat sang pemilik perusahaan menjawab panggilan darinya.


"Tuan Archiles, aku sungguh tidak menyangka kau akan menghubungi aku. Itu berarti kau tidak marah denganku karena aku tidak bisa hadir di acara pernikahanmu. Aku sempat was-was, jangan-jangan kau akan berhenti menjalin kerja sama denganku!" ucap pria yang dia panggil Sharon.


"Apa maksud yang kau katakan, Tuan Sharon? Bukankah kau mengirimkan seorang utusan untuk hadir?" tanya William. Kini dia semakin curiga dan was-was.


"Utusan? Aku tidak melakukan hal itu!"

__ADS_1


"Bisa dijelaskan?" pinta William yang sudah terlihat cukup tegang.


"Aku kehilangan kartun undangan di restoran oleh sebab itu aku tidak bisa datang. Aku sudah menghubungi ayahmu dan dia berkata tidak masalah jadi aku harap kau juga tidak mempermasalahkan ketidakhadiranku."


"Tunggu, jadi kau tidak mengutus siapa pun untuk menggantikan dirimu untuk hadir?"


"Tidak sama sekali, Tuan Archiles. Aku kehilangan kartu undangan itu jadi aku tidak bisa datang karena aku tahu aku tidak akan diperbolehkan masuk ke dalam."


"Jadi kau tidak mengenal Becky?" William sudah beranjak, sial.


"Becky? Aku tidak mengenalnya dan tidak ada satu karyawanku yang bernama Becky!" ucap Sharon.


"Baiklah, terima kasih Tuan Sharon!" William melangkah cepat dan memanggil Steve. Dia juga berusaha menghubungi Marien tapi tidak dijawab begitu juga dengan asisten yang dia utus untuk menjaga Marien. Tidak ada yang menjawab sama sekali.


Jika Sharon tidak mengenal Becky, berarti Becky adalah utusan seseorang untuk menjebak Marien. Undangan milik Sharon pasti sudah dicuri dan orang itu sengaja menyusup untuk menjebak Marien. Selain Alexa, tidak ada lagi pelaku yang lainnya.


William dan Steve pergi ke restoran di mana Marien melakukan pertemuan dengan Becky. Mereka dituntun ke dalam sebuah ruangan tapi begitu mereka ke dalam ruangan itu, mereka sangat terkejut begitu juga pelayan restoran. Ruangan yang berantakan, beberapa botol pecah berada di atas lantai. Potongan rambut milik Marien juga berada di atas sofa. Tidak hanya itu saja, sang asisten yang ditugaskan untuk menjaga Marien terbaring di atas lantai dengan sebuah luka tusuk. Semua tampak kacau dan mulai menjadi heboh tapi satu hal yang pasti, Marien tidak ada di mana pun dan hal itu membuat Marien marah.


"Apa yang terjadi?" tanya William pada bodyguard istrinya yang sedang dievakuasi.


"Nona Merien diculik dan dibawa pergi!" luka tusuk itu dia dapatkan secara tiba-tiba dari belakang begitu dia dan Marien masuk ke dalam ruangan itu mengikuti Becky. Serangan mendadak membuatnya tidak bisa melawan untuk menyelamatkan Marien apalagi begitu banyak orang yang berada di dalam ruangan.


William berjalan menuju sofa dan mengambil potongan rambut dari sana. Itu sudah pasti milik Marien karena warnanya yang sama. Potongan rambut di genggam dengan erat, amarah memenuhi hatinya.

__ADS_1


"Cari mereka sampai ketemu, Steve. Cari sampai ketemu!" ucapnya dengan amarah tertahan. Tidak akan dia maafkan, dia tidak akan memaafkan orang yang telah menyakiti Marien. Meski itu kakak Marien atau siapa pun, akan dia kirim ke California jika perlu.


__ADS_2