
Amarah semakin memenuhi hati William ketika melihat keadaan Marien yang berantakkan dan babak belur. Gavin pun terkejut melihat apa yang telah putrinya lakukan. Dia tidak menyangka Alexa akan begitu brutal pada adiknya sendiri.
"Beraninya kau melakukan hal itu pada Marien?" William melangkah maju sambil menembaki Alexa.
Alexa berteriak karena timah panas mengenai bahunya. Alexa melangkah mundur dengan cepat untuk mengambil gunting yang ada di atas lantai namun William kembali melepaskan tembakan ke arah Alexa dan kali ini timah panas itu mengenai bahu sisi yang lainnya.
"Jangan menembak, jangan menembak lagi!" teriak Gavin yang sudah berlari ke arah Alexa.
"Beraninya kau, aku tidak akan memaafkan perbuatanmu!" William melemparkan pistolnya kepada Steve sebelum menghampiri Marien. Kini Steve yang mengambil kendali, pria itu sudah menghampiri Alexa juga ayahnya.
"Tembak jika mereka berani lari!" perintah William seraya melepaskan ikatan yang mengikat kaki dan kedua tangan Marien.
"Will?" Marien berusaha membuka kedua matanya yang membengkak. Meski babak belur tapi dia sangat bersyukur William datang membawa ayahnya. Dengan begini ayahnya tidak akan lari lagi.
"Sorry, Honey. I'm sorry," ucapnya dengan nada bersalah.
"Tidak apa-apa, bukan salahmu," Marien tersenyum meski wajahnya terasa sangat sakit.
"Ayo kita pergi, biarkan Steve yang membereskan mereka!" William sudah akan menggendongnya namun Marien menahan.
"Tidak, Will. Aku ingin semua selesai hari ini juga. Bantu aku berdiri, aku tidak mau permasalahan ini berlarut lama sehingga kejadian ini berulang kembali!"
"Apa kau yakin?" sungguh dia tidak tega melihat keadaan istrinya yang berantakan. Rambutnya berantakan, wajah Marien benar-benar babak belur.
"Yeah, abaikan rambutku yang kacau dan wajahnya yang babak belur. Jangan menertawakan keadaanku!" pinta Marien. Sesungguhnya dia malu tapi dia ingin semuanya selesai hari ini juga.
"Aku tidak akan menertawakan dirimu, Sayang," William membuka jas yang dia gunakan lalu memakaikannya ke bahu Marien, "Aku tidak akan pernah menertawakan dirimu apa pun yang terjadi," ucapnya lagi.
Marie kenbali tersenyum lalu senyuman itu sirna karena tatapan mata Marien sudah tertuju pada ayahnya yang berusaha menahan darah di bahu Alexa. Ayahnya benar-benar tidak peduli dengan keadaannya dan lebih mempedulikan Alexa. Sungguh menyedihkan tapi dia merasa sudah terbiasa.
"Apa kau baik-baik saja, Alexa. Apa kau baik-baik saja?" Gavin terlihat mengkhawatirkan putrinya yang tertembak tanpa peduli dengan Marien.
"Sekarang katakan padanya akan kebenarannya, Dad?!" ucap Marien.
"Tidak, Marien!" tolak ayahnya,
__ADS_1
"Sudah seperti ini tapi kau pun tidak mau mengatakan padanya? Kau sungguh keterlaluan!" teriak Marien marah. Akibat teriakannya itu membuat Marien meringis karena mulutnya terasa sakit.
"Sudah Daddy katakan Daddy tidak mau mengatakan!"
"Apa yang kau sembunyikan dariku, Dad? Kenapa hanya aku yang tidak tahu?" tanya Alexa.
"Bukan hal penting, jangan dipikirkan," ucap ayahnya.
"Steve, paksa dia sampai dia berbicara!" perintah William.
"Baik, Sir!" Steve mengarahkan pistolnya ke arah kaki Gavin karena dia akan memulainya dari sana.
"Jangan! Apa kau sudah gila?" teriak Gavin.
"Katakan apa yang tidak aku tahu, Dad!" teriak Alexa.
"Daddy tidak ingin kau mendengarnya, Alexa!"
"Steve, kenapa kau belum menembak?" William sengaja menakuti karena hanya dengan cara itu saja yang akan membuat Gavin buka mulut.
"Jangan, akan aku lakukan!" teriak Gavin. Mau tidak mau dia harus mengatakan kebenarannya.
"Sekarang!" teriak William karena dia sudah tidak sabar membawa Marien ke rumah sakit.
"Apa yang kau sembunyikan dariku, Dad?" tanya Alexa.
"Dengarkan Daddy, ibumu bunuh diri karena keinginannya sendiri."
"Tidak mungkin!" teriak Alexa seraya memundurkan tubuhnya, "Jangan menipuku hanya karena kau diancam!"
"Daddy tidak menipumu. Apa yang Daddy katakan adalah benar. Daddy dan ibumu sudah bercerai tapi karena dirimu, Daddy membiarkan ibumu tinggal di sini. Lagi pula aku masih mencintai ibumu tapi dia justru berselingkuh dengan banyak pria dan tidak ragu membawanya di depan matamu. Aku menikahi ibu Marien hanya untuk pelarian atas rasa kecewaku pada ibumu. Sebab itu aku membawa mereka pulang setelah Marien besar!"
"Tidak, tidak mungkin!" Alexa masih tidak mempercayai apa yang ayahnya ucapkan.
Air mata Marien menetes mendengarnya, mendengar kenyataan itu secara langsung dari ayahnya benar-benar begitu menyedihkan karena ibunya hanyalah pelarian.
__ADS_1
"Daddy yang salah, seharusnya Daddy kembali pada ibumu dan mencegahnya bunuh diri tapi karena rasa kecewa yang aku rasakan pada ibumu, aku membiarkannya dan menganggap ibumu hanya bercanda saja tapi nyatanya dia benar-benar bunuh diri. Seandainya aku mencegahnya, seandainya aku mau kembali dengannya maka dia tidak akan bunuh diri. Aku menyesal oleh sebab itu, aku ingin menebus kesalahanku dengan mencurahkan semua perhatianku padamu!"
"Kau ayah yang egosi, Dad!" teriak Marien. Meski sudah mendengarnya tapi perasaannya masih saja tetap sakit.
"Jadi kau membiarkan ibuku mati?" teriak Alexa.
"Maafkan Daddy, Alexa. Daddy akan menebusnya!" Gavin berusaha menenangkan putrinya dan memeluknya.
"Kau tahu kebenarannya selama ini tapi kenapa kau diam saja?" teriak Alexa lagi sambil mendorong ayahnya menjauh.
"Daddy tidak ingin dibenci olehmu. Bagaimanapun kau adalah putri dari wanita yang sangat aku cintai jadi aku tidak ingin kau membenci aku!" perkataan Gavin benar-benar mengoyak hati Marien karena dia benar-benar tidak dianggap selama ini. Rasanya sangat sakit, meski dia tahu ayahnya hanya mementingkan Alexa saja.
"Tapi kenapa kau menyembunyikan kebenarannya dariku? Kenapa kau tidak mengatakan apa yang terjadi?" Alexa masih tidak terima ayahnya menyembunyikan kebenaran yang seharusnya dia tahu. Kedua matanya terasa panas, Alexa bahkan melihat ke arah Marien yang sudah babak belur karena ulahnya dan dia sudah salah menyimpan dendam selama ini.
"Sudah Daddy katakan, Daddy tidak ingin dibenci olehmu!" Gavin mendekati putrinya, dia harus menenangkan putrinya dan meminta maaf.
"Dan aku sangat benci denganmu sekarang!" begitu Gavin mendekat, tanpa ragu Alexa menusukkan guntingnya ke perut ayahnya. Gavin terkejut namun Alexa kembali menusuknya dengan membabi buta akibat kecewa.
"Seharusnya kau mengatakannya padaku jika ibuku hanya seorang ja*ang. Seharusnya kau mengatakan padaku jika dia mati akibat ulahnya sendiri!" teriaknya setiap kali Alexa menusukkan guntingnya.
"Hentikan, apa yang kau lakukan!" Gavin mendorong Alexa dan mundur ke belakang sambil memegangi perutnya yang terluka.
Marien diam saja, entah kenapa dia tidak mau melerai atau mencegah apa yang Alexa lakukan. Dia merasa ayahnya pantas mendapatkan kemarahan itu dari putri kesayangannya.
"Gara-Gara kau, aku menyimpan dendam tak berdasar pada adikku sendiri. Gara-Gara kau yang diam saja, aku membencinya untuk waktu yang lama!" Alexa mendekatinya lagi namun Steve sudah mencegahnya. Alexa memberontak, dia pun berteriak dengan kerasnya. Marien dan William benar-benar tidak mencegah mereka, orang yang sedang marah sunggu mengerikan.
"Aku rasa kita harus memanggil polisi," ucap Marien.
"Aku berencana melempar mereka ke kolam buaya!" ucap William yang tidak terima dengan apa yang Alexa lakukan pada Marien.
"Jangan, Will. Bagaimanapun mereka keluargaku, penjara sudah cukup. Aku rasa Alexa juga tidak akan berbuat apa pun lagi karena dia sudah tahu kebenarannya."
"Baiklah jika itu yang kau mau. Ayo kita pergi, sebaiknya kau segera mengobati wajahmu dan serahkan semuanya pada Steve!"
Marien mengangguk, dia pun sudah tidak mau melihatnya lagi. Anak buah yang dipanggil Steve untuk datang pun masuk ke dalam saat Marien dan William pergi. Alexa masih memberontak dan ingin menusuk ayahnya lagi akibat kecewa karena ayahnya tidak mengatakan kebenarannya lebih cepat. Jika dia tahu, dia tidak akan membenci Marien sampai seperti itu. Gavin berbaring bersimbah darah dengan penyesalan yang teramat sangat, dia benar-benar sudah salah dan dia sangat menyesal.
__ADS_1