
Sudah beberapa hari Alexa tidak terlihat bersemangat karena tidak ada Steve. Yang menjenguk ayahnya saja, itu pun tidak setiap hari karena ayahnya sibuk menangani permasalahan di kantor. Biasanya dia akan keluar dari penjara karena ada yang menjenguk tapi kini, sudah beberapa hari Alexa hanya termenung saja tanpa berminat melakukan apa pun. Mendadak dia merasa sedikit hampa. Apa semua itu ada hubungannya dengan tidak datangnya Steve?
Tidak benar, dia merasa jadi aneh gara-gara pria itu. Jangan katakan jika dia merindukannya. Tidak benar, lagi-lagi dia menyangkal dengan apa yang dia rasakan. Wajah Alexa bersemu, karena mendadak dia justru teringat dengan wajah Steve meski ekspresi yang selalu dia tunjukkan hanya ekspresi datar dan menyebalkan.
Sial, dia benar-benar semakin aneh saja. Sebaiknya dia tidur tanpa perlu memikirkan pria itu. Semoga saja dengan tidur dia tidak perlu memikirkannya tapi sayangnya, Alexa tidak bisa menutupi rasa gelisahnya. Teman satu selnya saja tahu apa yang terjadi dengan Alexa. Mereka tidak pernah melihat Alexa seperti itu sebelumnya dan mereka menebak jika Alexa sedang jatuh cinta.
"Sial!" Alexa mengumpat. Perasaannya bukannya tambah membaik tapi dia merasa perasaannya semakin kacau saja dari pada sebelumnya.
"Ada apa denganmu, Alexa?" rekan satu selnya mendekati Alexa dan duduk di sisinya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu!"
"Biasanya akan ada yang menjenguk saat makan siang, tapi kenapa tidak ada lagi yang datang untuk menjengukmu? Kau dan dia tidak bertengkar, bukan?" rekan satu selnya sengaja mengatakan hal itu untuk memancing.
"Apa? Tentu saja tidak. Kami tidak bertengkar!" jawab Alexa.
"Lalu, kenapa dia tidak datang untuk menjengukmu?"
"Dia sedang pergi untuk melakukan pekerjaannya, hanya itu."
"Oh, pantas saja kau terlihat gelisah seperti itu. Ternyata dia tidak bisa datang sehingga kau merindukan dirinya."
"Apa? Aku tidak merindukan dirinya!" ucap Alexa yang lagi-lagi menyangkal apa yang dia rasakan saat ini tapi dia memang tidak sadar dengan perasaan yang dia rasakan.
"Kau tidak bisa menyangkal, Alexa. Kami bisa melihatnya dengan jelas."
"Memangnya apa yang kalian lihat?"
"Tentu saja melihatmu yang sangat merindukan seseorang!"
"Apakah benar?"
"Apa kau tidak menyadarinya?"
Alexa menjawab dengan gelengan, dia memang merasa aneh dan merasa gelisah. Apa benar dia sedang merindukan Steve yang tidak datang selama beberapa hari belakangan?
__ADS_1
"Sepertinya kau sedang jatuh cinta, Alexa," tebak salah satu rekan satu selnya.
"Apa? Mana mungkin!"
"Jangan menyangkal. Selama ada yang menjenguk, kau kembali dengan ekspresi wajah bahagia tapi sekarang, kami tidak pernah melihatmu begitu murung sebelumnya. Kau pasti telah jatuh cinta dan sangat merindukan pria itu yang kami tebak, orang yang selalu menjengukmu saat siang hari," ucap yang lainnya.
"Tapi aku tidak sedang jatuh cinta."
"Ayolah, coba lihat wajahmu itu? Sayangnya tidak ada cermin di sini sehingga kau tidak bisa melihat ekspresi wajahmu sendiri!" ucap rekannya.
"Memangnya ada apa dengan wajahku?" tanya Alexa.
"Ekspresimu menunjukkan jika kau sedang jatuh cinta!"
"Benar, meski kau menyangkal tapi kau tidak bisa membohongi kami!"
Para napi yang lain menggodanya sampai membuat wajah Alexa merah padam tapi dia tidak marah. Mungkin dia akan marah jika waktu itu karena dia tidak akan membiarkan siapa pun menertawakan dan menggoda dirinya seperti itu tapi kini berbeda, mereka adalah teman-temannya yang sangat baik.
"Sudah jangan menggodanya, nanti dia akan semakin tidak sabar menunggu sang pujaan hatinya datang."
"Kau menunggunya, Alexa!"
"Ck, kalian semua menyebalkan. Aku mau tidur saja!" Alexa kembali berbaring meski dia tidak bisa tidur. Tatapan matanya menerawang, isi kepalanya dipenuhi oleh Steve dan Steve. Sepertinya dia benar-benar sudah gila karena dia tidak bisa menyingkirkan pria itu dalam pikirannya.
"Oh, aku bisa gila!" ucap Alexa.
"Kau tidak akan gila, keluarlah karena ada yang menjenguk!" ucap seorang sipir yang sudah berada di depan pintu.
"Wah, semoga itu pujaan hatimu agar kau tidak gila akibat menahan rasa rindu terlalu lama!" goda rekannya.
"Berisik, yang datang sudah pasti ayahku atau adikku."
"Sayang sekali, sepertinya kau akan gila sebentar lagi!"
"Kalian cerewet!" ucap Alexa seraya melangkah keluar dari penjara.
__ADS_1
Sudah pasti yang menjenguknya adalah ayah dan adiknya karena Steve selalu datang saat makan siang. Alexa mengikuti sipir dengan perasaan kacau, jujur saja dia sangat berharap yang datang adalah Steve tapi dia rasa pria itu belum kembali. Sekarang dia semakin aneh saja, jangan sampai dia benar-benar gila gara-gara hal ini dan jika yang datang bukan Steve, dia yakin dia akan semakin menjadi orang yang tidak waras.
Alexa masuk ke dalam ruangan dengan tidak bersemangat karena dia kira ayahnya yang datang tapi ketika melihat pemuda yang sedang berdiri menunggunya, Alexa menghentikan langkah dengan kedua mata melotot. Ekspresi wajahnya antara mau tersenyum dan tidak karena dia tidak bisa mengekspresikan perasaan yang dia rasakan saat ini.
"Kenapa hanya berdiri di sana? Apa benar tidak merindukan aku?" tanya Steve karena Alexa diam saja.
"Ka-Kau?" Alexa tak sanggup melanjutkan perkataannya. Air matanya mendadak mengalir akibat perasaan yang meluap di hati.
"Hei, kenapa kau menangis seperti itu?" Steve melangkah mendekat. Dia tampak panik karena Alexa tiba-tiba menangis padahal dia tidak melakukan apa pun. Alexa yang sudah tidak tahan tentu saja berlari ke arahnya tanpa menunggu Steve sampai padanya.
Alexa melompat ke dalam pelukan Steve tanpa pikir panjang sampai membuat Steve terkejut dan hampir terjatuh. Kedua kakinya melingkar erat di pinggang Steve. Dia tidak peduli dengan apa pun lagi karena yang dia rasakan saat ini adalah rasa bahagia. Benar yang dikatakan oleh rekan-rekannya, dia sudah jatuh cinta dan merindukan pria itu.
"Kenapa begitu senang? Apa begitu merindukan aku?" kedua tangan Steve sudah menumpu tubuhnya agar tidak jatuh.
Alexa menjawab dengan anggukan, senyuman pun menghiasi wajahnya. Dia sadar sekarang, dia benar-benar merindukan pria itu sebab itulah perasaan bahagia memenuhi hatinya setelah bertemu dan melihat wajah pria itu.
"Bukankah kau berkata tidak akan merindukan aku? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" Steve sangat senang tapi dia ingin tahu kenapa Alexa bisa merindukan dirinya.
"Itu waktu itu sebelum kau pergi dan sekarang berbeda!"
"Apa itu berarti aku boleh menganggap jika kau sudah memiliki perasaan padaku, Alexa?" tanya Steve lagi.
"Tawaranku waktu itu?" Alexa melepaskan pelukannya agar dia dapat memandangi wajah Steve, "Tawaranmu waktu itu apakah masih berlaku?" tanyanya lagi.
"Tawaran yang mana?"
"Tawaran menjadi istrimu, apakah masih berlaku?"
"Tentu saja, tawaran itu masih berlaku. Apa kau sudah berminat?"
"Sangat, asal kau tidak keberatan dengan wanita seperti aku maka aku sangat berminat!" kali ini dia tidak menolak karena dia tahu apa yang dia rasakan saat ini.
"Aku senang mendengarnya!" kali ini tidak perlu menunggu Steve dan tidak menunggu siapa yang harus bertindak karena mereka berdua saling mendekatkan bibir mereka.
Alexa masih berada di dalam pelukan Steve saat mereka berciuman. Tidak bertemu selama beberapa hari ternyata mengubah hubungan mereka berdua dan sekarang, mereka melepaskan kerinduan mereka dengan ciuman yang mereka lakukan.
__ADS_1