
Gavin Douglas terkejut saat mendengar perkataan Zack jika dia mencurigai William sebagai William Archiles, sang penguasa di kota itu. Perkataan yang dilontarkan oleh Zack tentu membuat Gavin tertawa terbahak-bahak seperti yang dilakukan oleh Alexa. Entah dapat persepsi dari mana yang pasti dia tidak percaya jika menantunya yang lumpuh dan pecundang itu adalah orang terkaya nomor satu di kota itu.
Siapa yang tidak mengenal William Archiles, putra dari konglomerat yang ada di kota itu? Semenjak Abraham Archiles menikah dengan Silvia Smith, putra dari Michael Smith yang sangat berpengaruh di kota itu meski mereka sudah pindah namun nama sang nenek Ellen Smith, disegani banyak orang. Kerajaan bisnis mereka semakin meraja lelah karena perpaduan dua konglomerat yang sempurna sulit dikalahkan oleh siapa pun.
Meski jarang yang melihat wajah asli William karena dia jarang tampil tapi dia yakin, menantu sampahnya itu tidak mungkin William yang dimaksudkan oleh Zack. Sepertinya Zack terlalu berlebihan hanya karena namanya yang sama.
"Entah atas dasar apa kau mengira mereka orang yang sama Zack, tapi aku yakin mereka bukanlah orang yang sama!" ucap Gavin.
"Benar atau tidaknya, aku rasa aku akan tahu nanti setelah dia datang dan ingat, tidak ada keributan!" ucap Zack. Dia berkata demikian karena dia tahu Alexa pasti akan membuat ulah akibat dendamnya.
"Aku tahu! Aku tidak akan membuat kekacauan!" ucap Alexa. Meski dia kesal karena kesempatannya untuk membalas Marien hilang tapi dia sangat berharap tebakan Zack akan pecundang itu salah. Sangat tidak menyenangkan jika Marien benar-benar menikah dengan pria terkaya di kota itu. Bukan tidak menyenangkan lagi tapi sangat mengesalkan karena Marien tidak boleh lebih bahagia dari pada dirinya.
William dan Marien sudah tiba dan seperti biasa, dia membantu William terlebih dahulu. Jika bukan karena permintaan ayahnya, maka dia tidak akan mau datang apalagi rumah itu bagaikan markas musuh. Bagaimanapun dia sayang dengan ayahnya meski ayahnya lebih mementingkan Alexa dan lebih mendengarkan perkataan Alexa tapi dia tetap menyayangi ayahnya.
"Berhati-hatilah, aku khawatir ada maksud terselubung dalam acara makan malam ini!" ucap William.
"Aku harap tidak, aku harap ayahku tidak mengecewakan aku."
"Baiklah, saatnya menemui mereka."
Marien mengangguk tanda setuju, pintu pun diketuk dengan perlahan. Dia sangat berharap tidak ada maksud terselubung dengan acara makan malam mereka. William bahkan membawa sebotol anggur untuk ayah Marien namun ketika melihat Alexa yang membuka pintu, Marien terlihat tidak senang karena dia tahu akan terjadi hal yang tidak menyenangkan.
"Tidak perlu memasang wajah seperti itu, aku tidak sedang ingin membuat keributan!" ucap Alexa seraya membuka pintu dengan lebar, "Masuklah!" ucapnya lagi.
"Tidak biasanya kau baik seperti ini!" Marien mendorong William masuk ke dalam rumah dan melewati Alexa yang menatap William sedari tadi. Apakah benar pria itu adalah William Archiles seperti yang Zack duga? Semoga saja bukan karena dia tidak terima.
"Sudah aku katakan, aku tidak mau berdebat denganmu!"
"Ya sudah!" Marien melangkah pergi. Bagus jika kakaknya tidak mau membuat keributan karena dia pun malas berdebat dengan kakaknya.
__ADS_1
"Dad, aku sudah datang!" Marien memanggil ayahnya karena dia kembali memang untuk bertemu dengan ayahnya.
"Akhirnya kau datang juga!" ayahnya menyambut mereka dengan sangat baik, Zack pun melakukannya. Marien dan William sangat heran dengan tingkah mereka berdua yang tidak seperti biasanya.
"Ada apa dengan kalian?" tanyanya dengan penuh selidik. Mereka tidak pernah begitu ramah apalagi pada William. Sebaiknya mereka waspada.
"Tidak perlu curiga seperti itu, Zack ingin mengajak suamimu untuk berbisnis. Benar bukan, Zack?" ucap Alexa yang melangkah mendekati mereka.
"Bisnis? Aku tidak menyangka kalian begitu baik pada kami!" ucap Marien.
"Sesungguhnya aku sedang menangani proyek baru. Bukankah suamimu berkata sedang mencari pekerjaan? Bagaimana jika bahas hal ini sambil duduk, mungkin saja kau tertarik!" Zack mulai memancing untuk melihat reaksi William.
"Boleh saja, tapi aku bukan orang yang pandai berbisnis," William mulai mengerti, sepertinya pria tua itu mulai mencurigai dirinya.
"Jangan merendah seperti itu, aku rasa kau paling paham akan bisnis. Benar bukan, William?" kini Zack menekan perkataannya. Dia sangat yakin jika pria itu adalah William Archiles. Instingnya tidak mungkin salah oleh sebab itu, dia tidak boleh menyia-nyiakan ikan yang ada di depan mata.
"Jangan bersikap sombong, seharusnya kau bersyukur suamiku sudah baik padamu!" ucap Alexa.
"Kebaikan yang kalian tunjukkan ini, sangat mencurigakan. Sebaiknya tidak bermain trik licik untuk mencelakai suamiku!"
"Marien, Zack sudah berbaik hati ingin mengajak suamimu berbisnis. Seharusnya kau berterima kasih. Mungkin dengan begini, kalian akan memiliki masa depan yang lebih baik!" ucap sang ayah.
"Baiklah, tidak perlu bertengkar!" William menyentuh tangan Marien lalu memberikan usapan dengan perlahan sebagai tanda agar Marien tidak perlu bertengkar dengan mereka. Jika Zack memang ingin mengajaknya berbisnis, maka dia akan mengikuti permainan mereka.
"Kau ingin mengajak aku berbisnis? Aku sangat berterima kasih tapi aku tidak yakin dengan kemampuan yang aku miliki namun tidak ada salahnya aku mencoba. Mungkin yang ayah mertua katakan sangat benar, mungkin dengan demikian aku bisa menghasilkan uang untuk membahagiakan Marien," ucap William.
"Senang mendengarnya. Aku yakin kau memiliki kemampuan dan aku yakin kau bisa mendapatkan banyak keuntungan!" Zack tersenyum penuh arti. Akhirnya pria itu masuk ke dalam permainannya karena dengan terlibatnya William, dia bisa membuka kedok pria itu dengan mudah. Lagi pula jika dia benar-benar William Archiles, maka dia harus mendapatkan muka agar bisnis barunya diterima oleh pria itu.
"Terima kasih sudah memberikan kesempatan ini!" ucap William. Dia ingin lihat apa yang hendak dimainkan oleh pria tua itu.
__ADS_1
"Bagus! Bagaimana jika besok kita pergi menemui seorang rekan bisnis?" ajak Zack.
"Apa ini tidak terlalu cepat, Zack?"
"Tidak, lebih cepat lebih bagus. Bisnis tidak boleh menunggu karena jika kau lambat sedikit, peluang kita akan hilang!"
"Boleh saja," jawab William mengiyakan.
"Bagus!" senyuman kembali menghiasi wajah Zack, dia ingin lihat bagaimana William bisa menghindar besok karena dia berniat mengajak William untuk bertemu dengan William Archiles. Jika mereka adalah orang yang sama, maka pria itu tidak akan bisa menghindar.
"Kabar yang sangat bagus, jika begitu malam ini kalian menginaplah!" ucap Gavin.
"Aku tidak mau menginap, Dad!" Tolak Marien.
"Kenapa? Apa setelah menikah kau tidak mau menginap di rumah lagi, Marien?" ayahnya terlihat kecewa.
"Bukan begitu, Dad. Aku dan William?"
"Tidak apa-apa, Marien. Ikuti saja kata ayahmu!" ucap William.
"Apa kau serius?" Marien terlihat ragu dengan keputusan William.
"Tentu saja, aku tidak keberatan!"
"Baiklah jika itu yang kau inginkan!"
"Bagus! Alexa, siapkan makan malamnya!" perintah sang ayah.
"Cih!" Alexa melenggang pergi dengan perasaan dongkol. Ayahnya sungguh mengesalkan sampai meminta mereka untuk menginap. Jika bukan karena permintaan dari Zack, sudah dia balas kedua pecundang itu tapi dia harus menahan diri. Hanya malam ini saja, lain kali dia tidak akan sungkan apalagi jika tebakan Zack benar bahwa suami Marien adalah pria terkaya nomor satu di kota itu, dia harus bisa memisahkan mereka karena bagaimanapun Marien tidak boleh bahagia dan tidak boleh lebih beruntung dibandingkan dirinya.
__ADS_1