
Gavin datang mengunjungi Marien siang itu. Dia sudah tidak bisa menahan perasaan rindunya pada Alexa karena mereka sudah tidak bertemu selama beberapa bulan. Dia sangat berharap Marien mau membawanya ke penjara supaya dia bisa bertemu dengan Alexa karena dia sangat ingin tahu keadaan putrinya.
Marien yang memang ingin pergi mengunjungi Alexa karena ada yang hendak dia sampaikan tak keberatan pergi bersama dengan ayahnya. Dia pun sangat berharap Alexa mau memaafkan ayahnya dan berdamai dengan keadaan. Ayahnya terlihat sangat kurus, dia pun mulai sakit-sakitan karena terlalu memikirkan Alexa dan merindukan putrinya.
Kesehatannya menurun dengan cepat, itulah yang membuat Marien tidak tega dengan ayahnya. Jangan sampai kesehatan ayahnya semakin memburuk hanya karena dia tidak mau mempertemukan ayahnya dengan Alexa. Dia percaya Alexa pasti akan memaafkan ayahnya tapi semua diluar dugaan karena begitu melihat ayahnya bersama dengan Marien, Alexa justru marah karena dia belum siap untuk bertemu dengan ayahnya yang sangat mengecewakan dirinya.
"Kenapa kau datang dengannya, Marien?!" teriak Alexa yang tidak bisa menerima kedatangan ayahnya.
"Alexa, Daddy datang ingin bertemu denganmu," Gavin melangkah mendekati putrinya tapi Alexa justru melangkah mundur sebagai penolakan yang dia lakukan.
"Jangan menyentuhku, aku tidak mau bertemu denganmu karena aku membenci dirimu!" teriak Alexa.
"Daddy minta maaf, Alexa. Daddy minta maaf!" Gavin jatuh berlutut di atas lantai, dia bahkan menangis karena putrinya benar-benar membenci dirinya.
"Daddy telah berbuat salah padamu, Daddy sangat minta maaf padamu!" ucapnya.
"Tidak perlu menunjukkan sandiwara murahan itu, aku tidak akan tertipu. Sebaiknya kau keluar dari ruangan ini!" teriak Alexa penuh emosi.
"Alexa, Daddy begitu mengkhawatirkan dirimu selama ini. Apa kau tidak mau memaafkannya?" Marien meminta ayahnya untuk berdiri karena dia iba dengan ayahnya yang harus berlutut seperti itu.
"Tidak, Marien. Tidak. Kenapa kau membawanya serta? Seharusnya kau bertanya padaku terlebih dahulu. Aku tidak akan tertipu dengan drama palsu yang dia tunjukkan padaku!" ucap Alexa.
"Aku tidak yakin Daddy sedang memainkan sebuah drama. Jika denganku mungkin Daddy akan melakukannya tapi tidak denganmu karena kau pun tahu jika Daddy sangat menyayangi dirimu."
"Tapi aku tidak ingin bertemu untuknya saat ini, Marien. Tidak untuk sekarang!"
__ADS_1
"Alexa, Daddy yang telah mencelakai dirimu, Daddy sangat menyesal. Saat persidangan untuk meringankan hukumanmu, aku akan memberikan kesaksian atas apa yang telah Zack lakukan padamu. Aku akan menjadi saksinya dan mengatakan jika kau membunuh Zack untuk membela diri. Sekali pun kau menolak, Daddy tetap akan tetap melakukannya!" ucap ayahnya.
"Aku benar-benar tidak butuh bantuanmu!" ucap Alexa sinis.
"Kakak, bukankah sudah aku katakan? tidak ada salahnya memaafkan Daddy karena dia benar-benar menyayangi dirimu meski caranya saja yang salah!" ucap Marien dengan harapan kakaknya mau memaafkan perbuatan ayahnya agar perselisihan mereka segera berakhir.
"Aku tidak seperti dirimu, Marien. Aku tidak bisa memaafkan dirinya dengan mudah!"
"Kau tidak perlu menjadi aku, Alexa. Jadilah dirimu sendiri, dan berdamailah dengan dirimu. Jika kau ingin memaafkan orang lain, kau harus melihat kebaikan yang telah dilakukan oleh orang itu padamu. Jangan sampai satu kesalahan justru menutup semua kebaikan yang telah kita terima dari orang yang sama!"
"Tapi aku tidak bisa menjadi dirimu!" Alexa yang masih kecewa dengan ayahnya merasa tidak akan bisa memaafkan ayahnya begitu saja.
"Daddy minta maaf padamu, Alexa. Daddy benar-benar menyesal tapi Daddy melakukan hal itu karena Daddy sangat menyayangi dirimu!" ucap ayahnya.
Alexa diam, tidak menjawab. Haruskah dia memaafkan ayahnya? Dia memang bisa melihat jika ayahnya semakin kurus dan juga terlihat tidak begitu sehat. Apa gara-gara memikirkan dirinya membuat ayahnya jadi seperti itu?
"Bukankah kau berkata ingin seperti aku?" Marien masih membujuk karena dia ingin hubungan kakaknya dengan ayah mereka kembali membaik hari ini juga.
"Tapi aku bukan pemaaf seperti dirimu," ucap Alexa pelan.
"Apa kau tahu kenapa aku bisa begitu mudah memaafkan, Alexa?" tanya Marien dan Alexa menjawabnya dengan sebuah gelengan.
"Aku bisa memaafkan karena aku tidak memandang kesalahan orang itu tapi aku mengingat apa yang telah aku lewatkan dengan orang itu. Aku bisa memaafkan Daddy karena aku sadar, aku tidak akan mendapatkan apa pun dengan membenci Daddy. Meski Daddy berperilaku tidak adil tapi dia ayah yang sangat bertanggung jawab karena dia tidak membuang aku dan membesarkan aku hingga aku bisa seperti ini. Aku pun bisa memaafkan dirimu karena aku mengingat masa kecil kita yang indah meski sesaat apalagi kau hanya korban saja oleh sebab itu aku bisa memaafkan dirimu. Kau bisa melihatnya, bukan? Dengan memaafkan, hidupku sangat damai karena aku tidak perlu membenci siapa pun di setiap detik yang aku lewati!"
Alexa memandangi adiknya dengan lekat. Dia tahu apa yang dimaksudkan oleh Marien. Ketika dia masih membenci adiknya, hanya ada dendam saja dan yang dia pikirkan setiap hari adalah bagaimana dia bisa membalas Marien. Seperti yang Marien katakan, hidup seperti itu tidaklah menyenangkan karena setiap detik yang dipikirkan hanya bagaimana dia bisa membalas dendam.
__ADS_1
"Aku tidak akan memaksa karena semua keputusan ada padamu tapi aku rasa lebih baik kita sudahi saja perselisihan yang terjadi dan kembali hidup sebagai keluarga. Belum terlambat untuk memperbaiki semuanya, kakak. Kali ini kita bisa menjadi keluarga pada umumnya. kita harus menunjukkan pada orang-orang jika kita bisa kembali bersama sebagai keluarga."
"Daddy benar-benar menyesal, Alexa. Benar-benar menyesali apa yang telah Daddy lakukan padamu. Daddy terlalu egois sehingga melakukan perbuatan yang tidak boleh Daddy lakukan tapi Daddy melakukan hal itu karena Daddy takut dibenci olehmu!" sela ayah mereka seraya melangkah mendekat.
"Sudahlah, Daddy sudah mengatakannya selama beberapa kali jadi tidak perlu diulangi lagi!" ucap Alexa.
"Daddy akan mengatakannya secara berulang kali sampai kau memaafkan Daddy!"
"Aku maafkan, Dad. Seperti yang Marien katakan, memang tidak baik menyimpan kebencian karena aku sudah menyimpan perasaan dendam dan benci pada Marien selama belasan tahun jadi aku sudah tahu bagaimana dengan rasanya saat membenci orang."
"Apa kau benar-benar ingin memaafkan Daddy?" tanya ayahnya yang tidak percaya dengan perkataan putrinya.
"Tentu saja, Marien memaafkan aku jadi aku pun harus bisa memaafkan dirimu!"
"Oh, aku sangat senang mendengarnya!" Gavin memeluk putrinya dengan erat. Perasaan bahagia tumpah karena putrinya sudah mau memaafkan dirinya bahkan air mata Gavin mengalir akibat rasa bahagia yang meluap dihati.
"Maafkan Daddy, Alexa. Daddy benar-benar minta maaf!"
"Kau harus meminta pada Marien karena kau lebih banyak berbuat salah padanya!"
"Tentu saja, tentu!" Gavin mengulurkan tangan ke arah Marien yang berdiri tidak jauh dari mereka, "Kemarilah, Marien. Daddy ingin memelukmu juga!" ucapnya.
Marien tersenyum dan mendekat, alangkah indahnya hubungan mereka yang seperti itu. Gavin memeluk kedua putrinya dengan erat. Air mata kembali mengalir akibat rasa bahagia yang memenuhi dada. Ini kali pertama dia memeluk kedua putrinya seperti itu.
"Terima kasih, terima kasih kalian bersedia memaafkan perbuatan Daddy. Daddy berjanji akan menjadi ayah yang baik untuk kalian berdua mulai sekarang!" ucap Gavin sambil menangis bahagia.
__ADS_1
"Kali ini, jangan kau rusak lagi dengan sikap egoismu, Dad!" ucap Marien.
"Tentu saja tidak. Daddy tidak akan mengulanginya lagi. Hari ini, Daddy sangat senang karena kita bisa kembali lagi menjadi keluarga!" pelukannya pun semakin erat, rasa syukur dia rasakan karena semua itu berawal dari Marien yang baik hati dan Alexa mau memaafkan dirinya pun berkat kebaikan hati Marien. Mereka berpelukan untuk waktu yang cukup lama, tak hentinya Gavin mengucapkan kata maaf pada kedua putrinya. Sekarang tidak ada lagi beban yang mereka rasakan karena mereka sudah berdamai dan saling memaafkan. Tidak terlambat untuk menjadi keluarga lagi, benar-benar tidak terlambat sama sekali.