
Gavin kembali ke rumah dengan perasaan kecewa karena hari ini dia gagal menemui kedua putrinya lagi. Dia hanya bisa pasrah saja karena dia sudah berusaha untuk berdamai dengan mereka tapi bukan berarti dia akan menyerah untuk meminta maaf. Dia tidak akan menyerah sama sekali.
Masa tua yang seharusnya dia nikmati dengan indah justru tidak bisa dia nikmati karena kesalahan yang dia lakukan. Gavin duduk di sofa dengan pikiran yang kacau. Dia justru teringat dengan masa lalu, di mana kedua putrinya masih kecil dan di mana ibu Marien masih hidup begitu juga dengan ibu Alexa.
Meski ibu Marien dan ibu Alexa memiliki hubungan yang tidak baik karena kebencian ibu Alexa yang tidak terima posisinya telah diganti tapi hubungan Marien dan Alexa masih baik-baik saja di kala itu di mana kebencian belum di tanamkan oleh ibunya ke dalam hati Alexa.
Dia masih mengingat bagaimana dulu kedua putrinya masih bermain bersama di dalam rumah dengan akrabnya. Tawa ceria mereka, anak-anak yang masih polos dan tidak memiliki dendam. Bukankah hubungan kedua putrinya dulu sangat indah? Bukankah mereka berdua sangat akrab tapi dia justru menghancurkan hubungan kedua putrinya begitu juga dengan mantan istrinya.
Dia tahu kebenarannya tapi dia diam saja tanpa memberikan penjelasan sehingga kebencian semakin tumbuh subur di hati Alexa pada adiknya. Hubungan indah kedua putrinya benar-benar hancur dan dia adalah ayah yang paling tidak berguna. Tanpa terasa air mata Gavin jatuh perlahan setelah mengingat kebersamaan kedua putrinya yang kala itu masih baik-baik saja.
Menyesal, dia sangat menyesal telah menghancurkan keluarganya sendiri dan sekarang, tidak ada lagi yang peduli dengannya dan dia ditinggal sendirian. Rasa bersalah dan rasa sepi yang dia rasakan benar-benar bisa membunuhnya dengan perlahan. Gavin menghapus air matanya dengan perlahan, masa tua yang sangat menyedihkan. Apakah dia akan benar-benar mati sendirian tanpa keberadaan kedua putrinya?
Gavin menangisi kesalahannya cukup lama, dia benar-benar orangtua tidak berguna. Pelayan yang hendak menyampaikan pesan padanya pun jadi enggan mendekat karena pria tua itu tenggelam dalam kesedihan dan penyesalannya. Mau tidak mau pelayan itu mendekati telepon yang baru saja dia letakkan tadi karena sesungguhnya dia ingin menyampaikan pesan pada Gavin jika Marien menghubunginya.
"Nona, Tuan tidak bisa diganggu," ucap sang pelayan.
"Apa yang terjadi dengannya?" Marien menghubungi ayahnya setelah dia memutuskan untuk berdamai dengan ayahnya.
"Tuan seperti tenggelam dalam kesedihan karena dia seperti sedang menangis dan mengungkapkan kesalahannya yang dia lakukan tiada henti jadi aku tidak bisa mengganggunya," mendengar perkataan pelayan di rumah ayahnya, Marien merasa jika itu bukan sebuah tipuan yang dilakukan oleh ayahnya.
Dia tahu ayahnya tidak mungkin menangis tanpa alasan karena itu memalukan apalagi di rumah ada beberapa pelayan yang akan melihat. Sepertinya ayahnya benar-benar telah menyesali perbuatan yang dia lakukan jadi memang tidak baik membuat ayahnya tenggelam dalam penyesalan begitu lama karena hal itu bisa membuat kesehatannya memburuk. Jangan sampai dia menyesal setelah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada ayahnya.
"Baiklah, setelah keadaannya membaik katakan aku dan William akan datang malam ini untuk mengunjunginya dan mengajaknya makan malam bersama," ucap Marien.
"Akan aku sampaikan padannya nanti, Nona."
"Terima kasih, tolong jaga ayahku baik-baik," pinta Marien pada sang pelayan.
__ADS_1
"Baik, Nona. Akan aku sampaikan pesan Nona dan kami akan menjaga Tuan dengan baik."
"Terima kasih," setidaknya ada pelayan yang menjaga ayahnya sehingga dia bisa tenang.
Setelah berbicara dengan pelayan. Marien keluar dari kamar karena ada yang hendak dia lakukan. Dia ingin meminta pelayan membuatkan makanan bergizi untuk ayahnya dan membawanya nanti. Semoga setelah ini ayahnya tidak lagi berbuat tidak adil dan benar-benar menyesali perbuatan yang telah dia lakukan padanya dan pada Alexa.
Gavin tidak memiliki semangat hidup sama sekali. Dia benar-benar tenggelam dalam penyesalan. Jika dia mati sekarang, dia harap Marien mau datang untuk memakamkan dirinya dan mau memaafkan perbuatannya. Mungkin memang sudah saatnya dia menyusul kedua istrinya yang sudah meninggal dan jika diberi kesempatan, dia ingin bertemu dengan ibu Marien untuk meminta maaf padanya.
"Tuan, ada pesan untuk anda," sang pelayan pun memberanikan diri untuk menghampirinya untuk menyampaikan pesan pada Gavin meski keadaannya tidak sedang baik-baik saja.
"Aku tidak ingin mendengar pesan apa pun jadi pergilah!" ucap Gavin yang tidak memiliki semangat untuk hidup lagi karena dia merasa kematian mungkin bisa menebus kesalahan yang telah dia lakukan.
"Tapi ini dari nona Marien."
"Apa kau bilang?" Gavin terkejut mendengar perkataan pelayannya.
"Nona Marien mencari Tuan tapi melihat keadaan Tuan jadi aku tidak berani mengganggu."
"Maaf, Tuan. Aku tidak mau mengganggumu yang sedang menangis!" jawab pelayannya.
"Aku harus menghubunginya lagi, aku harus menghubunginya!" Gavin melangkah menuju telepon tapi dia tidak tahu harus menghubungi ke mana.
"Tuan, Nona Marien berkata akan datang dengan suaminya untuk makam malam denganmu," perkataan pelayannya membuat langkah Gavin terhenti. Dia seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Apa kau tidak sedang membohongi aku?"
"Tidak, Tuan. Nona Marien berkata akan datang bersama dengan suaminya untuk makan malam bersama denganmu!"
__ADS_1
"Apa lagi yang kau tunggu? Segera siapkan makan malam!" perintahnya. Perasaan sedih dan putus asa berubah menjadi perasaan bahagia karena putrinya mau datang untuk makan malam dengannya. Bukankah dengan demikian Marien sudah memaafkan dirinya? Semoga saja, semoga putrinya datang untuk memaafkan dirinya sehingga dia tidak memiliki masa tua suram seperti yang dia takutkan.
Gavin memerintahkan semua pelayan yang ada di rumahnya untuk membuat makanan kesukaan Marien. Kali ini dia benar-benar ingin meminta maaf karena dia ingin mendapatkan maaf dari putrinya. Mendadak dia merasa jika hari ini adalah hari yang sangat berarti baginya. Gavin menunggu dengan tidak sabar, entah jam berapa Marien akan datang karena dia tidak diberi tahu tapi dia menunggu dengan tidak sabarnya tentu dengan perasaan gelisah.
Marien dan William pun sudah tiba, Gavin yang sudah tidak sabar bergegas keluar untuk menyambut kedatangan mereka. Rasa bahagia memenuhi hati ketika melihat putrinya yang baru saja keluar dari mobil. Gavin tak kuasa menahan air matanya akibat rasa bahagia memenuhi hati.
Tidak membuang waktu, Gavin bergegas menghampiri putrinya yang sedang mengambil barang karena dia sudah tidak sabar untuk memeluk putrinya.
"Hy, Dad," sapa Marien namun dia terkejut karena ayahnya memeluknya secara tiba-tiba.
"Maafkan Daddy, Marien. Maafkan Daddy yang telah menyia-nyiakan dirimu," ucap ayahnya.
"Sudahlah, Dad. Kau sudah mengatakannya berulang kali."
"Tapi kau tidak mau memaafkan Daddy oleh sebab itu Daddy akan meminta maaf padamu sampai kau mau memaafkan Daddy!"
"Dad, kau tahu aku bukanlah orang yang bisa menyimpan kebencian begitu lama. Aku pun tidak suka berselisih begitu lama denganmu oleh sebab itulah aku berada di sini untuk mengakhiri semua perselisihan kita."
"Jadi kau benar-benar mau memaafkan Daddy?"
"Yes, asal Daddy tidak mengulanginya dan bisa menerima aku dan William dengan baik."
"Tentu saja, tentu akan Daddy lakukan. Daddy sudah merenungkan semua kesalahan yang telah Daddy lakukan, Daddy sangat menyesal. Daddy pun meminta maaf padamu dan Daddy tidak akan mengulanginya. Daddy harap kita bisa kembali seperti dulu lagi di mana kau dan kakakmu bisa hidup dengan rukun."
"Semua belum terlambat, Dad. Kita bisa memperbaikinya."
"Kau benar, ayo kita masuk ke dalam karena di luar dingin!" ajak ayahnya seraya melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Marien mengangguk dan tersenyum namun Gavin lagi-lagi memeluknya dan meminta maaf padanya. Gavin sampai menangis sehingga membuat Marien bingung. Gavin menumpahkan semua penyesalannya saat itu juga, Marien benar-benar senang dengan sikap ayahnya yang berubah.
Meski sempat kecewa pada ayahnya tapi semua orang memang pernah memiliki salah dan semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Gavin meminta mereka untuk masuk ke dalam, kali ini dia menyambut mereka dengan sangat baik dan untuk pertama kalinya William disambut tanpa adanya penghinaan dan tanpa melihat statusnya sebagai menantu kaya karena malam ini dia disambut sebagai seorang menantu di rumah itu dan malam ini, hubungan mereka kembali membaik dan semua itu berkat kebaikan hati Marien yang membuat William bangga dan semakin jatuh cinta padanya.