Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Sebuah Kejujuran


__ADS_3

William selesai menjalani terapi saat waktu menunjukkan pukul setengah enam sore. Melakukan terapi bukanlah hal yang menyenangkan, dia benar-benar sangat lelah tapi dia tahu tidak boleh menyerah karena dia sudah sangat ingin cepat sembuh.


Permintaan ibunya yang ingin dia kembali tidak bisa dia abaikan. William yang tidak tahu jika rahasianya sudah ketahuan karena Fiona tentu saja tidak curiga dengan permintaan ibunya apalagi ibunya memintanya pulang tanpa menunjukkan emosi atau apa pun meski sesungguhnya ibunya sangat marah.


Sebelum pulang ke rumah, dia harus menghubungi Marien terlebih dahulu dan mengatakan dia akan pulang terlambat agar Marien tidak menunggunya. Padahal dia sudah berkata akan pulang untuk makan malam bersama dengan Marien tapi sepertinya tidak bisa. Dia harap Marien tidak kecewa karena dia tahu Marien pasti sudah menunggu.


"Apa kau sudah mau pulang, Will?" tanya Marien yang sedang menjawab panggilan darinya.


"Sorry, Honey. Sepertinya aku tidak bisa makan malam denganmu," ucap William. Walau berat tapi dia harus mengatakannya.


"Kenapa? Apa kau sudah makan?"


"Tidak, aku belum makan. Aku sangat ingin pulang dan makan denganmu tapi ibuku meminta aku pulang jadi aku tidak bisa menolak."


"Baiklah, aku akan makan sendiri. Jangan khawatirkan hal ini."


"Sorry, Honey. Aku akan menebusnya lain kali."


"Tidak masalah, jangan dipikirkan. Lagi pula aku belum membuat makanan."


"Baiklah, jangan tunggu aku jika aku pulang terlalu malam. Aku akan mengabarimu lagi nanti."


"Oke," jawab Marien singkat. Meski William akan pulang malam dia akan tetap menunggu asalkan Wiliam memberinya kabar.


Setelah berbicara dengan istrinya, William meminta Steve untuk mengantarnya pulang. Dia memang sudah tidak pulang sejak hari itu, ibunya pasti ingin bertemu tapi ketika dia tiba di rumah, yang dia dapatkan adalah wajah tidak menyenangkan kedua orangtuanya.


Abraham yang mendengar apa yang telah disembunyikan olah putranya tentu saja sangat marah. Setelah menyembunyikan keadaan kedua kakinya, beraninya William menyembunyikan hal serius yaitu pernikahan? Sepertinya dia harus memberikan pelajaran pada putranya yang begitu berani menipu mereka.


William yang sudah tiba tentu saja sangat heran melihat ekspresi kedua orangtuanya yang tidak seperti biasanya. Apa yang telah terjadi dengan mereka? Jangan katakan sesuatu yang tidak menyenangkan telah terjadi sehingga mereka berekspresi seperti itu.


"Ada apa dengan kalian berdua? Kenapa ekspresi wajah kalian begitu tidak menyenangkan?" tanya William.


"Kau tanya kenapa? Seharusnya itu adalah pertanyaan kami, William!" ucap ibunya.

__ADS_1


"Ada apa, Mom?" William benar-benar tidak mengerti.


"Kau benar-benar mengecewakan aku, William. Bahkan sampai sekarang pun kau tidak ingin mengatakan kebenarannya. Apa begitu menyenangkan menipu kami, kedua orangtuamu ini?" tanya ayahnya.


"Dad, tolong bicara yang jelas!" pinta William.


"Bicara yang jelas? Kau yang harus menjelaskan pada kami dengan siapa kau menikah dan kenapa kau menyembunyikan pernikahanmu, William?" teriak ayahnya lantang. Rasanya ingin mendekati putranya dan memukul wajahnya sampai babak belur.


"Abraham," Silvia menenangkan suaminya yang marah sedangkan William terkejut mendengar ucapan ayahnya.


"Dari mana kalian tahu?" tanya William. Pantas saja ekspresi wajah kedua orangtuanya seperti itu. Ternyata rahasianya ketahuan tapi bukankah ini hal yang sangat bagus? Dengan begitu dia tidak perlu kesulitan untuk menjelaskan pernikahan rahasianya pada kedua orangtuanya.


"Kau benar-benar keterlaluan, William. Selain menyembunyikan keadaan kedua kakimu itu, kau juga menyembunyikan pernikahanmu. Jika Fiona tidak datang dan mengatakannya padaku, sampai berapa lama lagi kau akan menyembunyikannya? Kenapa kau selalu melakukan hal ini pada kami?" tanya ibunya yang memendam perasaan kecewa pada putranya sendiri.


"Mom, dengarkan penjelasanku!" pinta William.


"Sekarang kau baru ingin menjelaskan, selama ini ke mana saja?" ayahnya tak kalah kecewa dengan istrinya.


"Aku memang menikah dan aku terpaksa melakukannya waktu itu oleh sebab itu aku tidak bisa mengatakannya pada kalian berdua!" teriak William lantang.


"Apa Mommy tidak tahu kenapa hubunganku dengan Fiona berakhir? Karena kedua kakiku, Mom!" ucap William.


"Keadaan kedua kakimu itu apa hubungannya dengan pernikahan rahasiamu?"


"Hari itu aku pergi melamar Fiona dengan keadaan kedua kakiku yang sudah lumpuh. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya, apakah dia mau menerima atau tidak tapi apa kalian tahu apa yang aku dapatkan?" William berhenti sejenak, mengingat pengkhianatan yang dilakukan oleh Fiona waktu itu.


"Kalian tahu kami sudah menjalin hubungan begitu lama, aku begitu mencintai dirinya tapi penghinaan dan pengkhianatan yang aku dapatkan saat itu, benar-benar membuat aku kecewa. Fiona menertawakan aku dengan kekasih serta para sahabatnya, mereka menganggap aku pecundang saat melihat keadaanku tapi seorang wanita yang aku temui tanpa sengaja membantu aku dan membela aku. Dia pun menawarkan pernikahan padaku dan aku melakukannya untuk menyelamatkan harga diriku yang tersisa. Apa Mommy dan Daddy mengira aku menyukai hal ini? Tidak, Mom. Aku bersedia menikah kontrak untuk satu tahun lamanya dan menerima cek yang diberikan oleh wanita itu agar harga diriku yang sudah dihina oleh Fiona tidak semakin terhina!" semoga saja kedua orangtuanya mengerti kenapa dia mau menerima tawaran Marien waktu itu.


"Tapi kau tidak perlu menyembunyikan hal ini pada kami, bukan?" tanya ibunya.


"Jadi Mommy ingin aku menghubungi Mommy dan mengatakan pernikahan kontrak kami? Aku tahu keluarga kita selalu menjunjung tinggi pernikahan dan ini salah satu alasan kenapa aku tidak bisa mengatakannya pada kalian apalagi dia tidak mau ada yang tahu pernikahan kontrak di antara kami. Aku pikir hanya satu tahun saja, itu tidak akan menjadi masalah dan kalian tidak perlu tahu!"


"Bodoh!" Abraham melemparkan sesuatu ke arah putranya namun ditangkap oleh William.

__ADS_1


"Kau bermain-main dengan pernikahan apa pun alasan yang kau lakukan. Saat nenek dan kakekmu tahu, maka habislah kau!" ucap ayahnya lagi.


"Aku benar-benar minta maaf, Dad. Saat itu aku melakukannya tanpa pikir panjang tapi aku tidak menyesali pernikahanku dengannya karena dia begitu berbeda."


"Katakan siapa yang menjadi istrimu? Katakan padaku wanita mana yang begitu berani menawarkan pernikahan kontrak padamu?" tanya ibunya.


"Menurutku, dia wanita yang luar biasa. Dia tidak saja menyelamatkan harga diriku tapi dia begitu tulus berperan sebagai istriku meski kami hanya terikat kontrak. Semua yang dia lakukan tanpa tipuan, kami berdua saling mendukung satu sama lain untuk mencapai tujuan kami oleh sebab itu, aku tidak bisa mengatakan pada kalian siapa wanita yang aku nikahi."


"Apa kau bilang?!" teriak ayahnya sambil memukul meja.


"Dad, tolong jangan marah. Aku tidak bisa membawanya langsung dan mengenalkannya pada kalian. Aku harus meminta persetujuan darinya terlebih dahulu tapi percayalah, aku pasti akan memperkenalkan dirinya nanti saat waktunya sudah tiba karena saat ini kami berdua sedang berusaha menumbuhkan perasaan di antara kami agar pernikahan kami menjadi nyata, tidak terikat dengan kontrak lagi!"


"Apa arti dari perkataanmu itu?" tanya ibunya.


"Seperti yang kau dengar, Mom. Pernikahan kami memang terikat kontrak saat awal tapi semakin kami sering bersama, semakin kami saling mengenal, aku merasa aku sudah menemukan wanita hebat yang tidak boleh aku sia-siakan karena kami memiliki banyak kecocokan. Kami pun saling mendukung dan saling memahami. Karena itulah, kami berdua sepakat untuk menjadikan pernikahan kontrak kami menjadi nyata tapi kami sedang melakukan prosesnya oleh sebab itu, aku tidak bisa mempertemukan kalian karena aku khawatir dia jadi merasa canggung atau kecil hati. Aku memang sudah memiliki perasaan tapi aku tidak tahu dengan istriku karena dia tidak pernah mengatakan hal ini. Aku harap kalian tidak marah dan mau mengerti, lagi pula kami sedang berusaha menjadikan pernikahan kontrak kami menjadi pernikahan yang sesungguhnya!"


Silvia dan Abraham saling pandang, napas berat pun dihembuskan oleh mereka berdua. Mereka sangat kecewa dan ingin marah dengan apa yang putra mereka lakukan tapi apa boleh dikata, jika William tidak mengatakan pernikahannya akan dijadikan sebagai pernikahan sesungguhnya, Silvia akan memukul putranya sampai babak belur dan membantingnya sampai remuk.


"Tolong maafkan aku, Mom. Aku tahu aku salah dan Daddy boleh marah padaku tapi setelah bertemu dengannya, aku merasa kehidupanku berubah. Aku merasa jika aku harus melindungi dirinya dan ingin menjadi pria yang sempurna untuknya. Pertemuan kami yang tanpa sengaja itu, benar-benar mengubah kehidupanku."


"Baiklah, baik. Jadi kau serius dengannya?" tanya ibunya.


"Yeah, sudah aku katakan kami sedang berusaha. Dia tidak pernah bertanya siapa aku, dia pun tidak pernah bertanya aku memiliki uang atau tidak tapi dia selalu mendukung aku dan selalu memberikan semangat untukku.  Dia jauh berbeda dengan Fiona dan dia begitu istimewa bagiku!"


"Baiklah, baik. Perbuatanmu memang tidak bisa aku maafkan, tapi karena kau ingin mempertahankan pernikahan kontrakmu itu, aku akan mengampunimu tapi ingat, jika sampai terjadi perceraian, aku akan mematahkan kedua kakimu itu agar kau benar-benar tidak bisa berjalan. Jangan kau kira aku bercanda. Aku tidak segan meskipun kau adalah putraku!" ancam ibunya.


"Terima kasih, Mom. Aku berjanji pada kalian tidak akan mengecewakan dan aku akan memperkenalkan dirinya pada kalian saat dia sudah siap."


"Baiklah, jangan terlalu lama!" ucap ibunya.


"Dan sebelum waktu itu tiba, aku tidak mau berbicara denganmu dan jangan pulang jika kau tidak membawa wanita yang kau nikahi itu dalam keadaan mengandung cucuku. Ingat perkataanku ini, jika ada rahasia lagi maka aku akan mencoret namamu dari kartu keluarga!" ucap ayahnya seraya beranjak.


"Astaga, Dad. Aku dan istriku belum?"

__ADS_1


"Itu hukuman untukmu, William. Kali ini aku berada di pihak Daddy. Masih bersyukur kami tidak memukulmu sampai babak belur dan menjadikanmu sebagai samsak untuk melampiaskan rasa kecewa dan amarah kami jadi lakukan apa yang kami inginkan!" ibunya pun beranjak dan meninggalkan dirinya setelah berkata demikian.


William menggeleng dan memijit pelipis, mendadak dia mendapatkan misi agar ayah dan ibunya mau memaafkan dirinya. Padahal misi itu tidak sulit tapi entah kenapa mendadak jadi terasa sulit.


__ADS_2