Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Bukan Dari Keluarga Yang Harmonis


__ADS_3

Mereka sudah berada di meja makan, Marien tersenyum canggung karena Abraham dan Silvia melihat ke arahnya sesekali. Malam yang tak terduga, pertemuan yang tak terduga dan yang pasti semua terjadi tanpa terduga malam ini apalagi dia sempat berpikir buruk tentang ayah dan ibu mertuanya. Sungguh dia sangat malu tapi beruntungnya tidak ada yang tahu apa yang dia pikirkan.


Dia sudah menghubungi kedua orangtuanya dan membicarakan masalah itu. Tentunya mereka terkejut dan berkata mereka akan datang secepatnya bersama dengan kakaknya serta istrinya. Gara-Gara William menikah secara diam-diam lalu mempertemukan mereka secara mendadak tanpa adanya pemberitahuan membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk menyambut menantunya dengan baik tapi dia sangat puas dengan wanita yang putranya nikahi secara diam-diam itu.


"Kenapa diam saja? Apa kau tidak suka dengan makanannya?" tanya Silvia.


"Bukan begitu, Nyonya," Marien benar-benar gugup.


"Kenapa kau masih memanggil aku Nyonya? Apa kau tidak mau menganggap aku sebagai ibu mertuamu?"


"Bu-Bukan begitu, Mom. Aku hanya merasa sedikit aneh."


"Kau lihat itu? Semua gara-gara dirimu!" ucap Abraham pada putranya.


"Benar, kau membuat kami semua menjadi canggung!" ucap ibunya pula.


"Padahal aku sudah bertemu dengannya beberapa kali tapi gara-gara kau, aku tidak tahu sama sekali jika yang aku temui dan aku tawari untuk berbisnis ternyata menantuku sendiri!"


"Bagaimana, Daddy menawarkan bisnis padanya karena dia memiliki potensi, bukan?"


"Aku akui, memang seperti itu."


"Maafkan sikapku yang tidak sopan, ayah mertua. Aku juga tidak tahu," ucap Marien.

__ADS_1


"Sudahlah, yang paling bersalah sudah pasti William tapi ingat, kami masih merasa kesal pada kalian berdua. Pertama kau, kau begitu berani membeli putraku dengan uang satu juta dolarmu yang tak seberapa itu dan kau, William," Kini Abraham melotot ke arah putranya, "Kau menipu kami dan kau menyembunyikan keadaan kedua kakimu serta pernikahan kalian berdua jadi jangan harap aku akan memaafkan kalian begitu saja. Aku masih marah dan kecewa tapi jika kalian bisa mengabulkan apa yang aku inginkan maka aku tidak akan marah lagi!" ucap Abraham.


"Apa yang ayah mertua inginkan?" tanya Marien. Jika dia bisa mengabulkannya maka akan dia lakukan agar amarah ayah mertuanya pada mereka berdua surut.


"Aku mau cucu, astaga. Aku ingin memiliki cucu!" ucap Abraham.


"Kalian sudah menjadi suami istri dan seharusnya itu bukan hal yang sulit!" ucap Silvia.


"Ka-Kami akan berusaha," ucap Marien.


"Bagus, sekarang mari kita makan. Makanannya sudah dingin," Silvia mengambil makanan untuk Marien terlebih dahulu. Marien berusaha mencegah karena dia tidak enak hati, meski ibu William baik tapi dia tidak boleh memanfaatkan keadaan.


Jamuan makan yang seharusnya untuk rekan bisnis justru berubah menjadi perjamuan untuk menyambut kedatangan menantu. Marien memang canggung tapi semakin lama bersama dengan mereka, dia sudah bisa berbaur karena tanpa dia duga, ternyata kedua orangtua William sangat baik meski di awal dia dikejutkan oleh sikap angkuh yang sengaja Silvia tunjukkan untuk mencobainya tapi semakin dia mengenal ibu William, ternyata mereka tidaklah mirip dengan orang kaya pada umumnya yang biasanya sombong dan akan bertanya dengan latar belakangnya. Apakah belum ataukah sebentar lagi? Tiba-tiba dia jadi takut karena dia memiliki keluarga yang tidak harmonis.


"Ngomong-Ngomong, kapan kami bisa bertemu dengan kedua orangtuamu?" tanya Silvia. Mendengar pertanyaan ibu William membuat Marien terkejut dan hampir saja tersedak oleh makanan.


"Hm, ya," Marien melirik ke arah William. Inilah yang dia khawatirkan, jangan katakan jika mereka akan berubah pikiran setelah mendengar jika dia hanya anak tak dianggap oleh ayahnya.


"Aku rasa kalian tidak perlu menemuinya, Dad," Ucap William. Dia bisa melihat apa yang Marien khawatirkan padahal kedua orangtuanya tidak mungkin menghakimi Marien hanya karena ayahnya tak menganggap dirinya.


"Kenapa tidak perlu? Kita tidak boleh berlaku tidak sopan seperti itu dan harus bersilaturahmi pada orangtua Marien," ucap Silvia.


"A-Aku rasa kalian memang tidak perlu menemui ayahku," ucap Marien. Dia bisa membayangkan bagaimana nanti reaksi ayahnya saat bertemu dengan kedua orangtua William. Ayahnya pasti akan mencari muka lalu berpura-pura menawarkan bisnis untuk mencari keuntungan dan lain-lainnya. Membayangkannya saja sudah membuatnya muak.

__ADS_1


"Katakan pada kami, kenapa kau tidak memperbolehkan kami bertemu dengan ayahmu. Apa terjadi masalah antara kau dan ayahmu?" tanya Silvia.


"Maaf, Mom. Aku bukan dari keluarga yang sempurna. Jika setelah mendengar ini kalian ingin aku meninggalkan William maka aku tidak bisa melakukan apa pun. Aku bisa menolak tawaran uang yang kau berikan tapi untuk kali ini, aku hanya bisa pasrah saja karena aku sadar aku tidak pantas berada di antara kalian dan aku pun tidak pantas untuk William."


"Kenapa kau berbicara seperti itu, Marien?" tanya William.


"Kau tahu bagaimana keluargaku, Will. Dan aku merasa tidak pantas karena hal ini!"


"Hei!" William meraih tangan Marien dan menggenggamnya, "Jangan berkata seperti itu hanya karena ayahmu itu. Kami memang memiliki uang tapi kami sama seperti yang lain dan kami hanya manusia biasa. Lagi pula kau tidak seperti ayahmu dan mereka tidak akan menghakimi dirimu hanya karena kau tidak dicintai oleh ayahmu saja!"


"Benarkah?" Marien menatap ke arah Silvia dan Abraham.


"Apa hanya karena kau tidak diterima oleh ayahmu lalu kau menganggap dirimu tidak pantas?" tanya Silvia.


"Maaf, aku tahu kalian memiliki keluarga yang sempurna sebab itu aku merasa tidak pantas karena aku anak yang tidak diinginkan. Aku pun tidak ingin kalian bertemu dengan ayahku karena aku tidak mau kalian dimanfaatkan oleh ayahku yang hanya mementingkan kepentingan pribadinya saja jadi aku harap kalian tidak marah karena aku benar-benar tidak mau ayahku memanfaatkan kalian berdua untuk kepentingan pribadinya," dari pada mertuanya dimanfaatkan oleh ayah yang tidak menganggapnya lebih baik mereka tidak perlu bertemu sama sekali.


"Baiklah, aku tahu niatmu tapi kami tetap harus bertemu dengannya karena bagaimanapun kau adalah putrinya. Soal dimanfaatkan atau tidak, kau tidak perlu khawatir karena ayahmu tidak akan bisa memanfaatkan kami. Sekarang kembali makan dan menginaplah. Besok kita pergi untuk menemui ayahmu karena kami harus bersilaturahmi dengannya!"


Marien melihat ke arah William, sungguh dia tidak mau mempertemukan ayahnya dengan kedua orangtua William karena dia tahu bagaimana jadinya nanti apalagi dia pasti akan malu namun William mengangguk yang menandakan jika orangtua mereka memang harus bertemu.


"Tidak perlu khawatir, ayahmu tidak akan bisa memanfaatkan kami!" William menenangkan istrinya yang terlihat khawatir.


"Aku harap demikian, Will. Jujur saja, kalian belum bertemu tapi aku sudah malu."

__ADS_1


"Jangan dipikirkan, itu urusan orangtua kita!"


Marien mengangguk dan menghela napas berat, sepertinya besok dia harus membeli sebuah topeng agar dia tidak terlalu malu dengan kelakuan ayahnya bahkan dia benar- benar membayangkan bagaimana ayahnya saat bertemu dengan kedua orangtua William. Bolehkah ayahnya diganti untuk sebentar saja? Sungguh dia tidak mau mempertemukan ayahnya dengan kedua orangtua William.


__ADS_2