Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Lamaran


__ADS_3

Marien diminta pulang oleh ayahnya karena ada hal penting yang harus dia tahu. Tentu saja semua mengenai keinginan Alexa yang mendadak. Gavin yang mengunjungi putrinya semalam sangat terkejut dengan apa yang diutarakan oleh putrinya apalagi hari ini, ada tamu yang harus dia sambut. Sebab itulah dia meminta Marien untuk pulang ke rumah.


Perut Marien sudah begitu besar karena dua bulan lagi dia akan melahirkan. Marien tidak pergi seorang diri, dia selalu di temani oleh William. Marien sangat penasaran dengan apa yang hendak ayahnya bicarakan. Dia jadi cemas dan berharap semua baik-baik saja.


Marien justru mengira ayahnya sedang sakit tapi ketika dia sudah tiba bersama dengan suaminya, dia justru mendapati ayahnya sedang sibuk mempersiapkan sesuatu dan memerintahkan pelayan untuk segera mempersiapkan makanan lezat. Marien sangat heran, dia jadi semakin penasaran kenapa ayahnya memintanya untuk pulang.


"Aku kira kau sedang sakit sehingga kau meminta aku untuk pulang, Dad," ucap Marien.


"Apa yang kau katakan? Aku tidak sedang sakit!" ucap ayahnya.


"Lalu?" Marien semakin tidak mengerti.


"Sudah, kau akan tahu nanti. Ajak istrimu beristirahat, William. Aku akan mencari kalian setelah aku selesai."


"Baik, Ayah mertua."


"Tunggu sebentar!" Gavin buru-buru melangkah menuju kulkas lalu mengambil puding yang sudah dia siapkan untuk putrinya. Setelah mendapatkan puding untuk Marien, Gavin kembali menghampiri Marien yang terlihat sangat penasaran.


"Ini untukmu, tunggu Daddy sebentar," ucapnya seraya memberikan puding pada Marien.


"Baik, Dad," Marien mengambil puding itu, sedangkan ayahnya melangkah pergi karena dia harus menyelesaikan semuanya sebelum tamunya datang.


"Sepertinya Daddy akan kedatangan tamu," ucap Marien.


"Ya, sepertinya tamu yang sangat istimewa," William membantu Marien untuk duduk di sofa dan meletakkan beberapa bantal agar Marien dapat bersandar dengan nyaman.


"kira-Kira siapa tamu yang diundang oleh Daddy?" tanya Marien.


"Entahlah, kita akan melihatnya nanti. Sekarang makan pudingnya, tidak perlu memikirkan yang lainnya."


Marien mengangguk, dengan rasa penasaran yang semakin dia rasakan. Ayahnya masih sibuk untuk beberapa saat sampai akhirnya ayahnya selesai dan bergabung dengan mereka.


"Apa sudah selesai?" tanya Marien.


"Tentu saja sudah, maaf membuat kalian menunggu," Gavin segera duduk, dia tampak lelah.


"Siapa yang sedang Daddy sambut? Kenapa begitu sibuk?" tanya Marien.


"Orang yang tidak asing bagi kalian dan ini permintaan kakakmu."


"Alexa, apa yang dia inginkan?" Marien semakin penasaran. Apa seseorang yang bisa membantu meringankan hukuman Alexa lagi? Sungguh dia sangat ingin tahu.

__ADS_1


"Kau akan tahu nanti saat orangnya datang."


"Please, Dad. Aku sangat penasaran!"


"Sebentar lagi, tunggu saja!"


"Ck, Daddy menyebalkan. Hanya jawab saja!"


"Ayolah, bersabarlah."


"Baiklah," mau tidak mau dia harus sabar menunggu tamu yang sedang ditunggu ayahnya. Beruntungnya tidak lama karena seseorang sudah membunyikan bel di pintu. Marien yang sudah tidak sabar buru-buru beranjak sampai membuat William dan ayahnya terkejut karena dia bergerak begitu cepat dengan perut besarnya.


"Marien!" mereka bahkan berteriak bersama.


"Sorry, efek tidak sabar!" ucap Marien.


"Ck, kau benar-benar membuat aku takut!" ucap William.


"Cepat, pergi buka pintunya!" perintah Marien.


"Daddy yang akan membukanya," Gavin melangkah melewati mereka untuk membuka pintu. Marien dan William mengikuti, itu karena Marien yang sangat ingin tahu siapa yang datang tapi ketika melihat Steve yang datang, mereka justru tidak terkejut karena mereka mengira Steve datang untuk mengantarkan sesuatu untuk William.


"Ternyata kau, Steve. Dasar penghancur suasana!" ucap Marien.


"Apa maksudmu, eh tunggu?" Marien menatapnya lalu melihat ke arah suaminya.


"Aku tidak memintanya untuk datang," ucap William.


"Apa? Jangan-Jangan?"


"Daddy memang menunggunya datang, Marien. Masuklah," Gavin mempersilahkan Steve untuk masuk.


"Apa ini? Jangan-Jangan kau dan kakakku?"


"Untuk itulah aku datang, Nona."


"Wah, cepat masuk. Aku kira bukan kau tamunya. Aku sungguh tidak menduga."


"Maaf jika aku tidak mengatakan hal ini padamu, Sir," Steve jadi tidak enak hati karena ada William di sana.


"Tidak perlu dipikirkan, ini akhir pekan jadi kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan!"

__ADS_1


"Terima kasih, Sir."


"Ayo masuk, aku sudah tidak sabar mendengar kabar baik darimu!" ucap Marien yang mulai menerka-nerka tujuan Steve datang ke rumah ayahnya.


Steve jadi canggung karena ada Marien dan William. Tapi keberadaan mereka memang wajar, karena yang hendak dia bicarakan ini sangat penting. Gavin sudah pasti akan memanggil putrinya agar mereka dapat membahas hal itu secara bersama-sama.


"Mari, silahkan duduk. Aku sudah mendengarnya dari Alexa tapi aku ingin mendengarnya darimu juga!" ucap Gavin seraya mempersilahkan Steve untuk duduk.


"Terima kasih, Tuan. Aku senang karena Tuan Douglas sudah tahu tujuan kedatanganku, dengan begini aku tidak perlu lagi menjelaskannya dengan panjang lebar."


"Jadi kau benar-benar akan menikahi Alexa?" tanya Gavin. Ucapan ayahnya tidak membuat Marien terkejut sama sekali karena dia sudah bisa menebaknya. Ini benar-benar kabar yang sangat dia nantinya.


"Apa kau sudah memikirkan hal ini dengan baik, Steve?" tanya Marien.


"Tentu saja sudah, Nona. Aku sudah memikirkannya dengan sangat baik. Aku benar-benar serius ingin menikahi Nona Alexa, aku ingin menikahinya bukan karena apa yang dia miliki tapi karena kemiripan yang ada pada kami berdua."


"Itu bagus, aku harap kau benar-benar serius dengan putriku tapi apa kau sanggup menunggunya? Masa tahanan yang harus dia jalani masih cukup lama!" ucap Gavin.


"Tentu saja aku serius, aku tidak akan main-main untuk hal ini sebab itulah aku berniat menikahinya dalam waktu dekat!" Steve mengatakannya dengan ekspresi wajah serius.


"Apa?" Marien dan ayahnya terkejut mendengar perkataan Steve. Gavin memang sudah mendengar jika Steve mau menikahi Alexa tapi dia tidak tahu akan secepat itu.


"Apa itu tidak terlalu cepat?" tanya Gavin.


"Aku rasa tidak, aku ingin segera menikahinya untuk menunjukkan pada kalian jika aku serius ingin menikahi Nona Alexa. Aku pasti akan menunggunya sampai bebas dan aku tidak akan berpaling darinya."


"Jika kau serius, aku tidak akan keberatan!" ucap Marien.


"Tapi, Marien?" ayahnya terlihat ragu.


"Dad, jangan memulai. Jangan menghalangi Alexa untuk bahagia. Apa Alexa belum mengatakan hal ini sebelumnya pada Daddy? Dia pasti sudah memutuskan dan aku rasa dia tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Lagi pula Steve pria yang baik, dan aku rasa Alexa tidak akan menemukan pria baik lainnya jadi jangan menghalangi keinginan mereka berdua. Aku harap Daddy mendukung keinginan mereka untuk menikah!" ucap Marien.


"Daddy tidak melarang, tapi apa tidak terlalu cepat?"


"Cepat atau tidak, hanya masalah waktu saja. Lagi pula Steve begitu serius, jadi jangan menghalangi niat mereka!"


Gavin memandangi Steve lalu menghela napas. Sepertinya apa yang dikatakan oleh Marien sangat benar. Meski dia merasa berat karena keputusan yang mendadak tapi dia tidak bisa mencegahnya sama sekali.


"Baiklah, aku tidak akan melarang!" ucap Gavin.


"Terima kasih, aku berjanji akan menunggunya dan setia menunggunya sampai bebas."

__ADS_1


"Aku percaya padamu," ucap Gavin.


Meski mendadak tapi ini benar-benar kabar baik untuk mereka. Meski mereka akan menikah dalam waktu dekat dan terkesan mendadak tapi Steve benar-benar serius untuk menikahi Alexa dan hal baik itu tidak boleh ditolak sama sekali.


__ADS_2