Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Menemukan Berlian Berharga


__ADS_3

Fiona dan kekasihnya sedang pusing karena secara mendadak perusahaan mereka mendadak mengalami kerugian besar akibat kalah dalam sebuah tender. Kerugian yang mereka alami tidak main-main bahkan mereka harus membayar penalty yang cukup besar.


Ini kali pertama terjadi dan mereka kalah saing dengan perusahaan yang baru saja berdiri. Rasanya sangat kesal, Fiona bahkan berteriak kesal setelah kembali. Perusahaan yang mereka bangun dengan susah payah selama tiga tahun tentunya dari uang yang diberikan oleh William tapi kini, perusahaan itu berada di ujung tanduk.


"Bagaimana ini, Ridz. Kita mau dapat uang dari mana untuk membayar penalty itu?" tanya Fiona. Dia tidak menyangka akan mendapatkan masalah seperti itu setelah dia meninggalkan William demi kekasih yang sudah dia pacari selam lima tahun itu.


"Mau bagaimana lagi? Pergilah cari William dan perbaiki hubungan kalian. Hanya dia yang bisa membantu kita jadi pergilah perbaiki hubungan kalian lagi!" ucap Ridz dengan santai. Dia yakin Fiona bisa menghasilkan uang untuknya lagi.


"Tidak bisa, apa kau sudah gila?! Dia pasti tidak mau! Waktu itu dia mengusir aku dan sekarang, sudah pasti dia tidak mau menemui aku!" ucap Fiona.


"Jika begitu jual perhiasan yang dia berikan padamu!" ucap Ridz.


"Apa? Enak saja!" teriak Fiona tidak terima. Itu barang-barang miliknya, tentu saja dia tidak akan mau menjualnya.


"Kenapa? Aku akan menggantinya nanti setelah masalah ini selesai!" Ridz mencoba membujuk karena hanya Fiona yang bisa membantunya.


"Tidak mau, Ridz. Apa kau sudah gila? Aku tidak mau menjualnya!"


"Lalu bagaimana? Perusahaan yang kita bangun ini akan gulung tikar dalam sekejap mata lagi dan kau tahu apa yang akan terjadi nanti? Kita akan ditertawakan oleh mantanmu yang sudah cacat itu!"


"Sial, jangan membuat aku memohon padanya lagi untuk yang kedua kalinya!"


"Ayolah, jangan seperti ini. Pergilah perbaiki hubungan kalian dan manfaatkan dia kembali!"


"Sebenarnya kau mencintai aku atau tidak? Kenapa kau begitu mudah meminta aku berselingkuh dengan William?!" teriak Fiona tidak terima.


"Bukan begitu, aku hanya ingin kau menyelamatkan perusahaan ini, Sayang. Bagaimanapun kita sudah merintisnya selama tiga tahun jadi jangan sampai hancur dalam sekejap mata. Lagi pula jika kau berhasil membujuk William, kita bisa memanfaatkannya kembali!"


"Cih, kau sungguh menyebalkan. Seharusnya kau tidak mengadakan pesta ulang tahunku agar tidak ketahuan dan sekarang, kau mengacaukan semuanya!"


"Ayolah, aku minta maaf. Tidak seharusnya aku membuka kedok kita ketahuan tapi kau mau mendekatinya lagi, bukan? Demi perusahaan kita, ayolah!" Ridz membujuk karena pria kaya itu akan memberikan Fiona banyak uang seperti yang sudah-sudah.

__ADS_1


"Sepertinya aku sudah gila memilih dirimu! Apa kau mengira William bisa kau kau tipu untuk kedua kalinya?"


"Kau pasti bisa, jadi cobalah untuk mendekatinya lagi!"


"Baiklah, baik!" mau tidak mau dia harus menemui William lagi untuk membujuknya agar dia bisa memanfaatkan pria itu lagi tapi entah kenapa setelah dipikir-pikir, dia merasa sangat bodoh karena dia sudah memilih Ridz yang tidak memiliki apa-apa itu dan mencampakkan William yang memiliki segalanya. Apa dia sudah salah memilih? Bukankah seharusnya dia mencampakkan Ridz dari pada William?


Sial, mendadak dia merasa sangat bodoh karena telah menyia-nyiakan berlian yang ada di depan mata. Jika perusahaan yang sedang dalam masalah tidak bisa dia selamatkan maka habislah dia. Ridz bahkan tidak berguna karena tidak bisa melakukan apa pun dan dia pun bodoh mau bersama dengan pria tidak berguna itu.


Sesungguhnya keadaan perusahaan mereka sudah pasti ulah William yang akan membuat mereka menjadi gelandangan. Seperti yang Steve katakan, waktu mereka tidak akan lama lagi dan tentunya kabar akan perusahaan mereka sudah didengar oleh Steve.


Steve sedang bersantai di sisi danau sambil menunggu bosnya di sana. Pria itu berpaling, melihat ke arah bosnya di mana William masih bersama dengan Marien menikmati waktu mereka. Mereka baru saja selesai menikmati makanan yang dibawa oleh Marien lalu beristirahat.


William sedang duduk sambil bersandar di pohon sedangkan Marien berbaring di atas pangkuannya. Marien bahkan tertidur karena mengantuk apalagi dia bangun terlalu pagi untuk menyiapkan makanan pagi ini. Melihat itu, Steve menghampiri William dan duduk di sisi pohon yang lainnya.


"Sir, ada yang hendak aku sampaikan," ucap Steve.


"Katakan dengan pelan!" William memandangi Marien yang sedang tidur dan tak henti membelai rambutnya.


"Mereka sedang berada di dalam masalah saat ini. Mereka rugi ratusan ribu dan harus membayar penalty ratusan ribu dolar pula!" Steve mengucapkan perkataan itu dengan pelan agar tidak mengganggu Marien.


"Tapi aku rasa akan ada yang datang mencarimu, Sir."


"Tidak apa-apa, kita akan lihat apa yang dia inginkan. Apa dia masih berani memohon pada pecundang ini atau tidak!"


"Apa kau memiliki rencana, Sir?"


"Tidak ada, tidak ada yang perlu direncanakan. Beberapa hari lagi beri mereka serangan kedua sehingga mereka tidak memiliki jalan karena aku akan mengambil semuanya dari mereka. Aku ingin lihat sehebat apa pria yang dia banggakan itu!"


"Baik, Sir. Aku akan melakukan yang terbaik dan membantumu membalas mereka yang sudah memanfaatkan dirimu!"


"Terima kasih, Steve. Aku mengandalkan dirimu. Aku tidak menyesal telah dikhianati oleh Fiona," William kembali melihat Marien dan mengusap wajahnya, "Aku mendapatkan sesuatu yang berharga setelah pengkhianatan itu dan kecelakaan yang aku alami saat itu, merupakan teguran untukku sehingga aku bisa melihat siapa Fiona yang sebenarnya. Semua yang terjadi padaku sangat aku syukuri karena jika tidak, maka aku tidak bisa bertemu dengan Marien," tangannya tak juga berhenti bermain di wajah Marien.

__ADS_1


"Jika kau tidak datang ke hotel itu aku yakin kau tidak akan bertemu dengannya, Sir. Aku rasa dia akan memberikan tawaran itu pada pria lain yang kebetulan dia jumpai!"


"Apa ini yang namanya takdir, Steve? Apa kami berjodoh oleh sebab itu aku bisa bertemu dengannya?"


"Anggap saja begitu, Sir!"


"Jika begitu aku adalah pria paling beruntung karena setelah aku dicampakkan jal*ng yang tak pantas aku perjuangkan itu, aku menemukan berlian berharga yang tak akan pernah aku sia-siakan!"


"Kau benar, Sir. Selamat untukmu!"


William tersenyum, mungkin dia memang pria paling beruntung. Dia jadi ingin tahu bagaimana hubungan Marien dengan dua kekasihnya dulu tapi jika dia bertanya itu tandanya dia tidak sopan sama sekali.


"Hm!" Marien bergerak pelan akibat sentuhan tangannya. Steve buru-buru beranjak dan melangkah pergi karena dia tidak mau mengganggu kebersamaan bosnya dengan istrinya.


Marien membuka kedua mata dengan perlahan dan melihat sekitarnya dan setelah itu Marien melihat William yang sedang tersenyum.


"Kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Marien seraya bangun dari atas paha William.


"Kau begitu nyenyak, aku tidak mungkin mengganggu dirimu!"


"Jam berapa sekarang? Apa kita belum mau kembali?" Marien mengucek matanya dan menguap, jujur saja dia masih mengantuk.


"Jam empat, apa sudah mau pulang?"


"Kita pulang saja, sudah sore dan sudah mau hujan. Aku harus membuat makan malam dan aku pun mengantuk jadi ingin tidur lebih cepat!"


"Baiklah, tapi kemari sebentar!" Willam menepuk kedua pahanya.


Marien mendekat lalu duduk di atas pangkuan William. Tatapan mata mereka saling beradu, tangan William sudah berada di pipi Marien dan mengusapnya perlahan.


"Kau bagaikan malaikat penolongku, Marien."

__ADS_1


"Apa itu? Jangan berkata seperti itu. Aku bukan malaikat!"


"Bagiku kau adalah malaikat!" William mengecup bibir Marien dengan lembut. Mereka berdua kembali saling pandang sebelum kembali berciuman. Rasanya tidak ingin berakhir, rasanya ingin tetap seperti itu tapi sebentar lagi akan datang badai yang akan menguji hubungan mereka berdua.


__ADS_2