
Alexa diam di sisi ruangan dan terlihat termenung karena dia sedang memikirkan nasehat yang diberikan oleh adiknya. Dia memang tidak pernah jatuh cinta dan mencintai siapa pun selama ini. Pernikahannya dengan Zack juga terpaksa waktu itu tapi pernikahannya dengan Zack juga akibat ulahnya sendiri.
Dia tidak menyesal, semua memang salahnya tapi dia termenung bukan karena hal itu. Dia termenung karena memikirkan nasehat adiknya dan juga pemuda bernama Steve yang selalu mendatanginya. Jujur saja dia tidak tahu cara mencintai seseorang dan tidak tahu bagaimana rasanya dicintai.
Akibat sibuk dengan dendamnya terhadap Marien dan sibuk mencari posisi nyaman di perusahaan ayahnya agar Marien tidak mendapatkan bagian nantinya membuatnya tidak pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun. Dulu baginya menyingkirkan Marien dan membuatnya menderita adalah tujuan hidupnya tapi semua itu gagal bahkan dendamnya sangat tidak berdasar.
Sekarang, apakah dia harus menjalin kasih dan menikmati hidupnya seperti yang adiknya sarankan? Alexa menghela napas, jujur saja dia tidak tahu seperti apa rasanya jatuh cinta karena selama ini yang dia miliki hanya dendam dan kebencian saja.
"Alexa, ada yang menjengukmu!" mendengar perkataan sang sipir tentu membuat Alexa bersemangat. Dia bisa menebak siapa yang datang untuk menjenguknya.
"Akhir-Akhir ini kau terlihat senang, Alexa," ucap salah seorang tahanan yang ditahan bersama dengannya.
"Tidak, apa aku terlihat seperti itu?" tanya Alexa,
"Yeah, kau seperti orang yang sedang jatuh cinta," ucap yang lain.
"Apa? Aku tidak seperti itu. Yang menjenguk aku anggota keluarga!" dusta Alexa.
"Wah, kami kira kau dijenguk oleh kekasihmu!"
"Tidak ada yang seperti itu!" Alexa melangkah keluar karena pintu penjara sudah dibuka oleh sipir. Sekarang dia tidak dijaga terlalu ketat lagi karena sikap baiknya selama ini. Alexa bahkan tidak pernah mencari perkara dengan siapa pun. Hubungannya dengan sesama tahanan lain bahkan baik-baik saja karena dia tidak pernah mencari perkara dengan napi yang lainnya. Sikap angkuhnya benar-benar sudah tidak ada lagi karena dia sudah belajar dari kesalah yang telah terjadi.
Alexa dibawa masuk ke dalam ruangan yang diperuntukkan para napi bertemu untuk dengan keluarga yang menjenguk. Alexa tersenyum ketika melihat seorang pemuda yang sedang berdiri membelakangi dirinya karena ada yang dilihat oleh pemuda itu. Tidak perlu ditanya lagi, pemuda itu sudah pasti Steve yang datang seperti biasanya.
"Hm, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Alexa.
"Oh, tidak ada!" Steve berbalik dan tertegun karena ini kali pertama Alexa menyambutnya dengan senyuman. Steve berdiri di tempat, tatapan mata tak lepas dari Alexa yang masih tersenyum namun senyuman Alexa semakin pudar karena Steve justru menatapnya dengan ekspresi datar dan dinginnya.
"Apa yang kau lihat?!" tanyanya dengan sinis.
"Oh, tidak. Aku hanya terkejut saja karena kau tersenyum dan ini untuk pertama kalinya," ucap Steve.
__ADS_1
"Apa aneh?" tanya Alexa. Apa selama ini dia tidak pernah tersenyum? Dia bahkan lupa apakah dia pernah tersenyum atau tidak selama ini.
"Tidak, tidak aneh. Aku merasa kau lebih cantik tersenyum seperti itu!"
"Apa?" wajah Alexa merah padam mendengar pujian yang Steve berikan.
Steve melangkah maju, Alexa jadi salah tingkah dan melangkah mundur. Dia tampak kebingungan karena Steve tidak seperti itu sebelumnya apalagi dia tampak serius dengan ekspresinya.
"Ma-Mau apa kau?" tanya Alexa gugup namun Steve tak menjawab dan masih saja melangkah mendekati Alexa yang masih memundurkan langkahnya.
"Ji-Jika mau main-main sebaiknya aku pergi saja!" Alexa berbalik, jantungnya tidak kuat. Dari pada mati di tempat, lebih baik dia kembali ke penjara dalam keadaan hidup. Steve yang sengaja meraih tangan Alexa lalu menarik Alexa dengan kuat.
Alexa berteriak dan terkejut tapi yang lebih membuatnya terkejut adalah, dia sudah berada di dalam pelukan Steve dalam sekejap mata saja.
"Apa yang kau lakukan?!" teriaknya.
"Sttss!" Satu tangan Steve berada di pinggang Alexa, sedangkan satu tangannya lagi sudah berada di dagu Alexa. Kedua mata Alexa melotot, tanpa dia sadari napasnya sampai tertahan.
Steve masih tidak menjawab, wajahnya yang semakin mendekat hampir membuat Alexa memekik. Alexa semakin panik saja, dia bahkan jadi salah tingkah apalagi wajah Steve semakin dekat. Bagaimana ini? Steve semakin serius saja, sedangkan Alexa kalang kabut dibuatnya.
Steve mendekatkan bibir mereka berdua, Alexa bahkan bisa merasakan napas pria itu. Kedua mata Alexa terpejam, napas Steve semakin terasa membelai wajah tapi dia rasa dia tidak bisa melakukan hal seperti itu.
"He-Hentikan!" teriak Alexa seraya memukul dan, Plakkk! Satu pukulan mendarat di wajah Steve. Tidak ada teriakan, Steve diam dan menghentikan aksinya. Percobaan pertamanya gagal.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Alexa seraya melangkah mundur karena Steve sudah melepaskan tangannya dari pinggangnya.
"Tidak melakukan apa-apa, aku hanya ingin melihat keadaanmu dengan teliti saja!" alasan yang simpel dan setelah mengatakan hal itu, Steve melangkah menuju meja.
"Apa?" Alexa tertegun, apa maksudnya? Apa Steve sedang mempermainkan dirinya dengan cara melakukan hal itu?
"Apa maksudmu? Apa kau mempermainkan aku?" Alexa melangkah mendekati Steve dengan cepat. Dia tidak terima jika Steve mempermainkan dirinya.
__ADS_1
"Tidak, tentu saja tidak. Apa kau mengharapkan sesuatu dari kejadian tadi sehingga kau marah?" Steve berbalik secara tiba-tiba, Alexa terkejut dan buru-buru menghentikan langkahnya. Hampir saja dia menabrak Steve tapi beruntungnya dapat dia kendalikan.
"Jangan berhenti secara tiba-tiba!" ucapnya dengan nada kesal.
"Kenapa? Tidak suka berdekatan denganku?"
"Bu-Bukan seperti itu. Sebaiknya jangan menggoda aku lebih dari pada ini karena aku tidak akan mau bertemu denganmu lagi jika kau menggoda aku lagi dengan cara seperti ini!"
"Baiklah, lain kali aku akan langsung menciummu tanpa ragu!" ucap Steve.
"What?" Alexa terkejut dengan mulut menganga. Jadi Steve benar-benar ingin menciumnya tadi?
"Aku bercanda, tapi tidak juga!"
"Jadi kau bercanda atau tidak?" tanya Alexa yang merasa jika Steve tidak sedang bercanda.
"Kau ingin bercanda atau serius, tergantung dirimu!"
"Menyebalkan, sama sekali tidak lucu!" Alexa melangkah menuju meja dan duduk di sana. Entah kenapa Steve melakukan hal itu, dia rasa pemuda itu memang ingin menggodanya saja.
"Lain kali akan langsung aku cium agar jadi tidak lucu!" Steve juga mendekati Alexa dengan makanan yang dia bawa.
"Awas jika kau berani melakukannya. Aku akan menarikmu masuk ke dalam penjara denganku!" ancam Alexa.
"Apa kau ingin aku peluk sehingga kau juga menginginkan aku berada di dalam penjara bersama denganmu?"
"A-Apa kau bilang?" Alexa melotot tapi Steve justru memperlihatkan wajah tanpa ekspresinya seolah-olah yang dia ucapkan serius.
"Sa-Sama sekali tidak lucu. Apa kau membawa makanan yang aku inginkan?" Alexa mengalihkan pembicaraan dan mengambil makanan yang ada di atas meja. Dia terlihat sudah terbiasa dan tidak ragu lagi.
"Seperti yang kau mau!" Steve duduk di dekatnya namun Alexa tidak peduli. Setelah makan lebih baik dia melarikan diri karena dia tidak mau Steve menggoda dirinya lagi.
__ADS_1
Alexa bahkan pura-pura tidak tahu jika Steve sedang memandangi dirinya. Entah kenapa dia merasa semakin lama, dia semakin tidak kuat bersama dengan pria itu. Jantungnya jadi berdebar dibuatnya. Jangan sampai dia pingsan hanya gara-gara di goda dan ditatap oleh Steve yang selalu memperlihatkan ekspresi menyebalkannya.