Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Semua Masih Bisa Diperbaiki


__ADS_3

William membawa Marien ke rumah sakit agar Marien segera mendapatkan perawatan akibat pukulan yang dia dapatkan di wajahnya. Beruntungnya tidak ada satu pun giginya yang patah akibat pukulan itu. Meski rambut indahnya harus dipangkas dan mungkin saja akan lebih pendek dari pada rambut William nantinya tapi itu tidak jadi soal karena yang dia pikirkan saat ini adalah keadaan Alexa.


Wajah Marien sudah seperti orang yang baru saja melakukan operasi plastik akibat membengkak. Rahangnya bahkan sedikit bergeser akibat pukulan itu sehingga mau tidak mau wajahnya harus diperban. William yang melihat itu merasa tidak tega karena dia tahu bagaimana sakitnya. Meski Marien berusaha tersenyum, tapi dia bisa melihat ada sebuah kecemasan di balik senyumannya itu.


"Apa yang sedang kau pikirkan, Marien? Masalah rambutmu tidak perlu dipikirkan, kau tetap cantik seperti itu. Lagi pula rambutmu akan tumbuh lagi nantinya!"


"Aku sedang memikirkan keadaan Alexa, William."


"Untuk apa kau memikirkan orang yang sudah berbuat jahat padamu, Marien. Dia bahkan tidak ragu untuk mencelakai dirimu jadi untuk apa lagi kau memikirkan keadaannya?"


"Dia memang jahat, Will. Tapi kejahatannya itu ada sebab. Apa kau tidak bisa melihat betapa marahnya Alexa ketika tahu kenyataannya? Aku yakin dia tidak akan menyimpan dendam jika dia tahu kebenaran yang terjadi lebih cepat tapi diamnya ayahku justru memperburuk keadaan jadi ayahkulah yang harus menanggung semua yang terjadi karena gara-gara dirinya, Alexa jadi menyimpan dendam padaku padahal jika ayahku mengatakan yang sebenarnya, aku yakin Alexa tidak akan seperti itu walaupun tadinya aku tidak mau peduli dengannya tapi setelah melihat amarahnya ketika dia tahu apa yang terjadi, aku yakin Alexa juga korban dari keegoisan ayahku yang takut akan dibenci namun rasa takut itu justru menghancurkan Alexa. Bukankah dia lebih menyedihkan dari pada aku? Aku hanya luka fisik yang mudah sembuh tapi aku yakin, Alexa mengalami luka batin akibat kebohongan yang dilakukan oleh ayah kami!"


"Kenapa kau begitu baik, Marien? Kau bahkan tidak terlihat menyimpan dendam padanya!"


"Bagaimanapun Alexa adalah kakakku dan kami bersaudara tanpa bisa dipungkiri. Kami hanya berselisih paham saja dan aku yakin semua masih bisa diperbaiki lagi."


"Dia sudah menganiaya dirimu dan menusuk ayahmu, dia juga sudah membunuh Zack. Aku yakin dia tidak akan lolos dari penjara!"


Marien diam, dengan ekspresi sedih. Seharusnya ayahnya yang menanggung itu semua. Seharusnya ayahnya yang bertanggung jawab atas apa yang Alexa lakukan. Dia mungkin tidak akan menuntut apa yang telah Alexa lakukan padanya tapi kejahatannya yang lain? Entah bagaimana Alexa bisa lolos dari hukum tapi dia tidak berharap Alexa bisa bebas. Mungkin saja Alexa akan intropeksi diri selama berada di dalam penjara.


"Bolehkah aku meminta bantuan, Will?" tanya Marien. Mungkin permintaannya ini agak sedikit gila padahal dia sudah disakiti sedemikian rupa tapi sungguh, dia tidak tega pada Alexa yang menjadi korban atas keegoisan ayahnya.


"Apa yang kau ingin, katakan padaku!"

__ADS_1


"Mungkin ini sedikit gila, tapi apakah kau bisa membantu Alexa agar dia mendapatkan hukuman yang sedikit ringan?" pinta Marien.


"Tidak, apa kau sudah gila?" William terlihat tidak senang karena permintaan Marien. Dia akan melakukan apa pun yang Marien inginkan kecuali hal itu karena dia tidak terima dengan apa yang telah Alexa lakukan pada Marien.


"Aku memang sudah gila tapi aku tidak tega dengannya, Will. Dia juga korban!"


"Tidak, Merien. Tidak. Aku masih sangat bermurah hati tidak mengirimnya ke California dan melemparnya ke dalam kandang binatang peliharaan keluargaku, aku tidak akan melakukannya setelah apa yang telah dia lakukan padamu. Kau lihat dirimu? Kau terlalu memikirkan orang lain tanpa memikirkan diri sendiri jadi aku tidak akan melakukannya. Kau mungkin bisa memaafkan dirinya tapi aku tidak!"


"Jadi kau tidak mau membantu aku?"


"Tidak, Sayang. Jadi jangan paksa aku!" jawab William karena dia tidak mau memberikan bantuan untuk orang yang telah menyakiti Marien.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Aku hanya iba dengannya saja. Jika kau tidak mau, tidak apa-apa," ucap Marien. Dia tidak mungkin memaksa, lagi pula permintaan itu dia lontarkan karena dia iba dengan Alexa.


"Aku tahu, terima kasih telah datang menolong aku. Aku percaya kau pasti datang tapi bagaimana dengan asistenku? Apa dia baik-baik saja?"


"Tentu saja, sekarang aku ingin kau berbaring karena kau butuh istirahat!" pinta William.


Marien berbaring seperti yang suaminya perintahkah tapi dia tidak bisa menutupi apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Rasa cemas justru memenuhi hatinya, William menghela napas melihat ekspresi cemasnya.


"Sudah aku katakan jangan dipikirkan, Sayang. Alexa baru saja dibawa oleh pihak berwajib, kita ikuti saja perkembangannya jadi jangan terlalu khawatir karena yang kau butuhkan adalah tidur."


"Maaf," entah kenapa dia sangat memikirkan Alexa, dia benar-benar iba. Ayahnya dia tidak peduli karena ayahnyalah sumber masalah yang telah membuat mereka jadi seperti itu. Semoga saja setelah ini, tidak ada lagi dendam dan kebencian di antara dirinya dan Alexa.

__ADS_1


Setelah keadaannya membaik nanti, dia akan pergi untuk melihat keadaan Alexa dan dia berharap Alexa bisa berdamai pada dirinya sendiri lalu melupakan dendam yang tak seharusnya ada. Marien yang gelisah karena banyak yang dia pikirkan pada akhirnya tertidur ditemani oleh suaminya.


William memperhatikannya dalam diam, dia tidak mengerti kenapa istrinya begitu baik padahal Alexa sudah membuatnya babak belur seperti itu. Apa pun alasannya, seharusnya Marien marah tapi kenapa dia justru iba dengan Alexa dan ingin meringankan hukuman kakaknya?


Tapi seperti itulah wanita yang dia nikahi, luar biasa baginya. Jika Marien tidak memiliki hati yang baik, dia rasa mereka tidak akan seperti ini bahkan dia rasa mereka akan berpisah seperti perjanjian awal tapi bisa dia lihat, jika Marien selalu apa adanya dan selalu mengikuti alur. Apa dia benar-benar harus mengabulkan permintaan Marien dan membantu Alexa?


William memilih keluar, untuk mencari Steve karena dia ingin tahu apa yang telah terjadi setelah mereka pergi, Tanpa diduga, Steve sudah berada di luar dan menunggunya. Steve tidak berani mengganggu, oleh sebab itu dia menunggu di luar sampai bosnya keluar.


"Apa yang terjadi setelah kami pergi?" tanya William.


"Wanita itu, sepertinya tidak sejahat yang kita lihat," ucap Steve yang mendadak iba dengan Alexa.


"Oh, yeah? Apa setelah aku tinggal wanita itu meracuni pikiranmu?" tanya William sambil menatap Steve dengan tatapan curiga.


"Bukan begitu, Sir. Dia tidak meracuni pikiranku. Semua yang terjadi sudah pasti kesalahan Gavin Douglas yang telah menutupi kebenarannya dari putrinya sehingga dendam itu ada!"


"Baiklah, sekarang katakan padaku apa mereka sudah ditangani?"


"Tentu, ada pesan untuk Nona Marien dari kakaknya. Apa kau ingin mendengarnya atau kau ingin aku langsung menyampaikannya pada Nona Marien?"


"Apa yang dia sampaikan? Katakan padaku!"


"Dia meminta maaf pada Nona Marien dan ingin mengajak Nona Marien minum kopi setelah keluar dari penjara."

__ADS_1


Tatapan mata William tak lepas dari Steve, apa benar Alexa mengatakan hal itu? Dia bisa membantu Alexa sehingga mendapatkan hukuman ringan tapi apa dia harus melakukannya setelah apa yang wanita itu lakukan pada Marien? Tanpa berkata apa-apa, William masuk ke dalam ruangan dan sekarang, dia jadi memikirkannya.


__ADS_2