
Setelah mengunjungi ayahnya, Marien pun mengunjungi kakaknya yang berada di dalam penjara karena dia ingin melihat keadaan kakaknya. Marien menunggu di ruang tunggu yang sudah disediakan, dia pun membawa makanan kesukaan kakaknya. Mendengar jika adiknya datang menjenguk, tentu saja Alexa sangat senang karena dia memang sedang menunggu kedatangan Marien.
Meski keadaannya sedikit berantakan akibat berada di dalam penjara tapi kini Alexa selalu tersenyum saat bertemu adiknya. Marien beranjak dari tempat duduk untuk menyambut kedatangan kakaknya yang baru saja di antar oleh dua sipir penjara. Sikap Alexa yang begitu baik di dalam penjara membuat para sipir itu menyukainya apalagi Alexa cukup bersahabat dan bisa diajak bicara.
"Bagaimana dengan kabarmu, kakak?" tanya Marien seraya memeluk kakaknya.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Kau sendiri, bagaimana dengan keadaanmu?" Alexa pun memeluk adiknya dengan penuh kehangatan.
"Tentu saja aku baik, keponakanmu juga baik."
"Apa? Jadi kau sedang hamil?" Alexa terlihat sangat senang mendengar kabar itu.
"Yes, kakak menyukai kabar ini, bukan?"
"Tentu saja, ayo duduk. Kau tidak boleh banyak berdiri," Alexa mengajak adiknya untuk duduk agar Marien tidak terlalu lelah.
"Aku membawakan makanan kesukaanmu, makanlah sebelum dingin dan sebelum waktu kita habis."
"Tidak apa-apa, mereka akan memberikan kita waktu lebih. Benar, bukan?" Alexa bertanya pada sang sipir yang belum keluar dari ruangan.
"Tentu saja, kami akan memberikan waktu tambahan setengah jam untuk kalian berdua."
"Terima kasih!" ucap Alexa.
"Sepertinya kau mulai akrab dengan mereka?" tanya Marien setelah kedua sipir itu keluar.
"Aku sedang mengubah diriku agar bisa akrab dengan siapa saja, Marien. Aku ingin seperti dirimu yang mudah akrab dengan siapa saja. Aku ingin membuang sikap egoku yang selalu aku pertahankan selama ini."
"Itu bagus kakak, tapi jadilah dirimu sendiri dan jangan memaksakan dirimu."
"Aku tahu, tentu saja. Aku tahu batasannya dan aku tidak akan berlebihan."
__ADS_1
"Baiklah, sekarang nikmati makanannya sebelum dingin."
"Kita makan bersama!" ajak Alexa.
Marien mengangguk, makanan yang dia bawa pun dikeluarkan agar bisa mereka nikmati bersama. Meski tidak memiliki tempat yang memadai dan hanya ada satu sendok dan garpu tapi mereka bisa saling berbagi makanan bersama.
"Bagaimana dengan kandunganmu? Apa kau sudah tahu jenis kelaminnya?" tanya Alexa.
"Baik-Baik saja. Baru dua bulan jadi kami belum bisa memastikan."
"Aku turut bahagia, Marien. Seandainya bayiku?" Alexa menunduk dan mengusap perutnya. Exspresi wajahnya pun terlihat sedih. Seandainya bayinya baik-baik saja, dia pasti akan menjadi ibu saat ini.
"Kau pasti akan mendapatkannnya kembali, Kakak. Setelah kau bebas, kau bisa menikah dan memiliki bayi lagi," Marien mengusap lengan kakaknya untuk menghibur.
"Wanita seperti aku, siapa yang mau? Lagi pula aku akan bebas belasan tahun lagi dan pada saat aku bebas, aku sudah tidak muda lagi."
"Pasti akan ada yang mau denganmu, jangan putus asa seperti itu karena kau pasti akan menemukan seseorang yang akan menerima dirimu apa adanya."
"Banyak cara, kakak. percayalah dengan keajaiban. Aku dan William sedang berupaya untuk meringankan masa hukumanmu jadi bersabarlah menunggu," dia dan William memang sedang mengupayakannya agar hukuman yang dijalani oleh kakaknya bisa sedikit lebih ringan sehingga dia cepat bebas dari penjara.
"Kau tidak perlu melakukan hal itu, Marien. Aku benar-benar tidak keberatan berada di dalam penjara."
"Tidak kakak, Kau harus menerima bantuan dari kami. Aku tidak bisa membiarkan kau terlalu lama berada di dalam penjara apalagi Daddy kesepian di rumah tanpa dirimu."
"Biarkan saja dia sendirian, Dia memang pantas mendapatkan ganjarannya dan kau tidak perlu berbaik hati lalu memaafkan dirinya begitu mudah. Daddy harus mendapatkan hukuman atas apa yang telah dia lakukan pada kita jadi jangan pedulikan dia!"
"Apa kau masih membenci Daddy?" Marien memandangi kakaknya dengan serius. Dia harap kakaknya mau memaafkan ayah mereka meski dia rasa sulit bagi Alexa.
"Tentu saja karena aku tidak akan pernah memaafkan dirinya!" amarah terpancar dari tatapan matanya bahkan kebencian memenuhi hati.
"Aku tidak memaksamu untuk memaafkan Daddy tapi aku rasa kita tidak perlu menyimpan dendam terlalu lama. Dari pada aku, Daddy lebih menyayangi dirimu itulah kenapa dia melakukan hal itu. Dia melakukannya karena dia tidak ingin dibenci olehmu. Daddy sangat menyayangi dirimu hanya saja caranya yang salah jadi aku rasa, dari pada maaf dariku, aku yakin yang paling dia harapkan adalah maaf darimu."
__ADS_1
"Apa kau memaafkannya, Marien? Dia tidak pernah menganggapmu bahkan gara-gara dia aku hampir membunuh dan merusak wajahmu. Apa kau bisa memaafkan perbuatannya?" sungguh dia tidak mengerti dengan apa yang adiknya pikirkan.
"Tentu saja aku memaafkan dirinya karena bagaimana pun dia adalah ayahku. Aku bukan orang yang suka menyimpan dendam begitu lama. Aku lebih suka hidup dengan damai. Setelah kekacauan yang terjadi, bukankah lebih indah jika kita menjalin hubungan dengan damai tanpa adanya dendam? Aku memaafkan dirimu, aku pun tidak mau mempermasalahkan apa yang telah terjadi di antara kita karena aku ingin kita memiliki hubungan yang baik antara kakak dan adik jadi aku harap kau pun bisa memaafkan Daddy."
Alexa menunduk, dia seperti memikirkan perkataan adiknya. Dia tahu apa yang Marien maksud tapi dia tidak bisa melakukannya karena dia tidak memiliki hati sebaik Marien. Mungkin ini yang membedakan mereka berdua, oleh sebab itulah dia tidak bisa menjadi Marien.
"Pikirkanlah pelan-pelan, kakak. Aku ingin hubungan kita sebagai keluarga yang selama ini terjalin tidak baik bisa berubah sehingga kita memiliki keluarga yang jauh lebih baik lagi."
"Baiklah," Alexa mengangkat wajah dan tersenyum, "Akan aku pikirkan nasehatmu," ucapnya lagi.
"Aku senang mendengarnya, makan ini. Bukankah ini makanan kesukaanmu?" Marien mengambil makanan manis yang ada di dalam paper bag lalu memberikannya pada Alexa. Dua botol minuman pun dikeluarkan untuk mereka.
"Makanlah, ini enak!" Alexa menyendok makanan manis itu untuk Marien terlebih dahulu.
"Kakak makan saja."
"Ayolah, jangan menolak!" ucap Alexa.
Marien yang tidak suka dengan makanan itu pun akhirnya menerima suapan pertama yang kakaknya berikan. Meski dia hampir memuntahkannya tapi dia berusaha menikmatinya agar kakaknya tidak kecewa lalu marah dengannya.
"Terima kasih, sekarang kakak habiskan. Aku bisa membelinya lagi nanti jika aku mau."
"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, Marien. kau benar-benar adik yang luar biasa dan aku sangat beruntung memiliki adik seperti dirimu."
"Sudahlah, kita kakak adik. Kau pernah mendengar darah lebih kental dari pada air, bukan? Jadi mau semarah apa pun dan kesalahan apa pun yang telah kita lakukan, sebaiknya saling memaafkan karena saudara tetaplah saudara begitu juga dengan hubungan kita dengan ayah kita."
"Baiklah, aku mengerti" ucap Alexa.
Marien tersenyum, berharap kakaknya mau memaafkan ayah mereka agar hubungan mereka kembali seperti keluarga setelah kakaknya bebas bahkan mereka bisa menjadi keluarga yang jauh lebih baik lagi. Mereka menikmati waktu mereka bersama dan menghabiskan makanan yang Marien bawa bersama sampai waktu jenguk berakhir. Meski singkat tapi mereka melewatkan waktu yang menyenangkan dan tak akan terlupaka.
Marien keluar dari penjara dan mendapati suaminya sudah menunggu karena mereka diminta pulang oleh kedua orangtua William. Marien mendekati suaminya sambil tersenyum, sekarang keajaiban sedang terjadi di dalam keluarganya dan dia percaya semua akan menjadi lebih baik dari pada sebelumnya.
__ADS_1