Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Perintah


__ADS_3

Karena keadaan Marien yang mendadak tidak enak badan, William meminta Steve untuk membawa seorang pelayan ke rumah untuk membuatkan sarapan. Dia jadi merasa bersalah karena keadaan Marien gara-gara dirinya yang dijebak oleh Fiona.


Marien jadi tidak enak badan setelah mereka melewati malam pertama yang tidak menyenangkan apalagi keadaan Marien memang sudah kurang sehat saat dia kembali. Meski begitu, dia tetap melakukan tanggung jawabnya dengan membantu William mandi setelah dia merasa sudah lebih membaik.


William menjaga Marien yang sedang menggigil di bawah selimut. Dia benar-benar merasa bersalah. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain memegangi kompres Marien dan menjaganya. Segala pekerjaan akan dia lakukan di rumah karena dia ingin menjaga Marien bahkan dia akan segera menyelesaikan proposal milik Marien har itu juga.


"Will, kenapa kau tidak pergi bekerja?" Marien bertanya tanpa membuka kedua matanya yang terasa berat.


"Aku akan menjagamu, Honey. Aku tidak mungkin bisa meninggalkan dirimu dalam keadaan seperti ini."


"Tapi bagaimana dengan terapi yang harus kau jalani?"


"Tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, alat sudah canggih dan aku bisa segera kembali berjalan."


"Padahal kau bisa meninggalkan aku dengan semangkuk sup hangat saja, itu sudah cukup."


"Baiklah, kau tidak perlu memikirkan hal itu," William menunduk dan memberikan kecupan lembut di dahinya, "Kau akan mendapatkan supnya tidak lama lagi."


"Thanks," Marien tersenyum meski dia tidak membuka kedua matanya. Rasanya kepalanya pun mulai sakit, keadaan yang cukup menyebalkan. Tapi apa boleh dibuat, semua terjadi tanpa mereka duga.


"Sir, sarapan untukmu dan obat yang kau inginkan." ucap Steve yang diminta oleh William untuk membeli obat untuk Marien.


"Masuk saja!" perintah William.


Steve membuka pintu kamar, dia terlihat canggung karena William sedang duduk di atas ranjang dan Marien berbaring di sisinya. Meski Marien memakai selimut tapi dia tetap merasa tidak sopan.


"Masuk saja dan berikan sarapannya padaku!" ucap William.


"Baik, Sir. Maaf jika aku lancang," Steve melangkah masuk dan memberikan sarapan yang dia bawa pada bosnya.


"Aku butuh bantuanmu nanti, jadi jangan pergi karena ada yang hendak aku bicarakan denganmu!"


"Baik, Sir. Aku berada di luar jadi panggil saja aku."


"Kau boleh keluar sekarang!"


Steve mengangguk lalu keluar dari kamar. William mengusap wajah Marien dengan perlahan karena dia ingin membangunkan Marien agar dia sarapan dan meminum obatnya.


"Merien, bangun sebentar untuk sarapan."

__ADS_1


"Aku sedang malas, Will. Biarkan aku tidur."


"Ayolah, tidak baik tidur dalam perut kosong. Setelah sarapan minum obat. Aku akan meminta ibuku membuatkan sup untukmu."


"Jangan merepotkan ibumu, Will. Aku tidak mau."


"Tidak apa-apa, sekarang sarapan terlebih dahulu lalu minum obat agar kau cepat sembuh. Duduk saja, aku akan menyuapimu makan."


"Hm," mau tidak mau Marien bangun dari tidurnya. Dia hampir jatuh akibat tidak bertenaga namun William menahan tubuhnya. Beberapa bantal ditumpuk agar Marien dapat bersandar, itu lebih baik dari pada dia harus duduk dalam keadaannya yang seperti itu.


"Kau seperti ini gara-gara aku, maaf. Padahal kau sudah berkorban dan kau masih dalam keadaan sakit tapi kau masih saja membantu aku mandi."


"Tidak perlu berkata demikian. Itu memang tugasku sebagai istrimu. Lagi pula aku memang sudah tidak begitu enak badan saat aku kembali."


"Baiklah, aku akan melakukan tugasku sebagai suamimu yaitu menjagamu tapi aku lupa dengan tanganmu," William meraih kedua telapak tangan Marien lalu melihatnya dengan teliti. Beruntungnya tidak ada luka sama sekali akibat memukul Fiona.


"Apa yang kau cari?" tanya Marien.


"Aku ingin melihat apakah tanganmu ini ada lukanya atau tidak. Aku tidak mau ada luka akibat memukul Fiona."


"Tentu saja tidak ada meski tanganku sempat kaku akibat memukul wajahnya."


"Aku sudah kenyang," tolak Marien setelah makan beberapa suap.


"Tapi belum habis, Marien."


"Aku sudah kenyang, Will. Sisanya kau saja yang habiskan."


"Jika begitu, minum obatnya terlebih dahulu!"


Marien mengangguk, dia ingin cepat tidur agar keadaannya kembali sehat. Dia tidak mau merepotkan William lebih dari pada itu. Lagi pula banyak pekerjaan yang harus dia lakukan di kantor jadi dia tidak bisa terbaring seperti itu terlalu lama.


William tidak langsung memanggil Steve, dia menemani Marien sampai istrinya tertidur.  Sebelum memanggil Steve, William memberikan ciuman di dahi Marien. Semua gara-gara Fiona, dia tidak akan bermurah hati. Steve masuk ke dalam untuk membantu William setelah dipanggil untuk masuk dengan sebuah pesan.


Jari William berada di bibir sebagai tanda agar Steve tidak berisik hingga membangunkan Marien. Tanpa menimbulkan suara, Steve membantu William untuk berpindah di kursi rodanya. Bosnya pasti begitu menyayangi istrinya, dia bisa melihat itu. Tidak menyangka bosnya sangat beruntung tepat di hari sialnya.


"Apa ada yang hendak kau perintahkan, Sir?" tanya Steve yang sudah tahu jika ada tugas untuknya.


"Fiona menjebak aku dengan obat par*angsang sehingga terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan antara aku dan Marien. Menurutmu, apa yang harus aku lakukan padanya, Steve?" dia sengaja bertanya demikian untuk melihat apakah Steve memiliki ide untuk memberikan Fiona hukuman atau tidak.

__ADS_1


'"Dia melakukan hal itu? Jika aku, maka akan aku patahkan satu kaki dan tangannya. Dengan begitu dia tidak akan bisa melakukan apa pun dan dia akan menghabiskan uangnya untuk mengobati tangan dan kakinya yang tak bisa sembuh!" ucap Steve. Dia tidak menyangka ada kejadian seperti itu.


"Ide bagus, perintahkan orang untuk melakukannya dan mengenai kekasihnya, aku ingin dia sudah bangkrut esok pagi!"


"Baik, Sir. Aku akan melakukannya hari ini."


"Jangan sampai gagal, Steve. Kau tahu, bukan? Bermain cantiklah agar mereka tidak tahu sehingga mereka tidak bisa balas dendam!"


"Baik, Sir. Aku pastikan mereka tidak akan bisa membalas atau apa pun itu dan aku akan pastikan mereka akan berada di jalanan."


"Bagus, lakukan. Satu hal lagi, cari seseorang yang pandai bela diri tapi seorang wanita. Aku ingin dia menjadi asisten istriku agar ada yang menjaganya."


"Apa ada yang lain lagi, Sir?" tugasnya begitu banyak dan akan dia lakukan dengan baik.


"Nanti siang pergi ke rumah ibuku untuk mengambil sup. Hanya itu, segera kerjakan."


"Baik, Sir. Aku pergi dulu!"


Steve pamit pergi untuk menjalankan perintah. Fiona sungguh bodoh, padahal dia bisa bisa hidup dengan nyaman tapi dia sendiri yang menghancurkannya. Wanita yang benar-benar bodoh dan sekarang, dia hanya perlu menikmati hasil dari apa yang dia lakukan. Setelah Steve pergi, William menghubungi ibunya karena dia ingin meminta ibunya membuatkan sup untuk Marien.


"Aku masih mogok bicara padamu jadi untuk apa kau menghubungi aku?" tanya ibunya.


"Bisakah mogok bicaranya ditunda? Aku ingin Mommy membuatkan sup dan Steve akan mengambilnya nanti siang."


"Tidak mau!" tolak ibunya.


"Please, Mom. Istriku sedang sakit dan dia ingin semangkuk sup. Istriku sudah tidak memiliki ibu, oleh sebab itu Mommy mau membuatkannya, bukan?" bujuk William.


"Ck, tidak perlu menipu!"


"Sudah aku katakan aku tidak akan menipu Mommy lagi. Please, Mom. Tolong buatkan."


"Baiklah, baik. Mommy melakukannya untuk menantu Mommy, bukan untukmu."


"Aku tahu, thanks Mom."


"Ya sudah, Mommy masih mogok bicara denganmu!"


William tersenyum meski ibunya mengakhiri percakapan mereka begitu saja tapi ibunya masih mau membuatkan sup yang dia minta. Tidak lama lagi, dia pasti akan memperkenalkan Marien pada kedua orangtuanya dan pada saat itu, dia yakin mereka pasti akan menerima Marien karena Marien benar- benar wanita luar biasa dan wanita luar biasa itu adalah miliknya.

__ADS_1


__ADS_2